BUKAN SURGA YANG KU CARI Langkah Di Tanah Dendam
2/14
Bab 2

Langkah Di Tanah Dendam

Azzam tiba di depan pintu kamar. Elzhan membuka pintu tersebut, tampak ruangan sederhana berukuran 2x3 meter, dengan dinding kayu tua yang warnanya mulai memudar. Jendela kecil menghadap ke kebun kopi di belakang asrama, dan tikar pandan tergelar di atas lantai semen. Di sisi kanan tikar terdapat sebuah kasur dengan dua bantal dan satu guling, di ujung tepinya terlipat satu selimut besar berbulu berwarna hitam. Di sudut kiri kamar, berdiri sebuah lemari kayu tua, engselnya berderit ketika dibuka.

“Maaf kalau seadanya. Disini kami hidup sederhana,” kata Elzhan pela.

Azzam mengangguk. “Tidak apa-apa, ini sudah lebih dari cukup, saya senang.”

Senyuman Elzhan samar. Ia pamit setelah memastikan kunci jendela tidak macet dan lampu kamar berfungsi. Tinggalah Azzam sendiri.

Ia menurunkan ranselnya perlahan, lalu duduk di atas tikar. Kepalanya menoleh ke arah jendela, memperhatikan pepohonan rindang di luar yang sesekali bergoyang ditiup angin.

Dengan nafas tertahan, Azzam membuka ranselnya dan mengeluarkan sebuah benda yang dibungkus kain putih. Hati-hati, ia membukanya. Buku harian itu muncul, kulitnya sudah lusuh, tapi isinya masih terjaga rapi. Ia menatap sampulnya sejenak. Mata Azzam menerawang.

“Bu... aku sudah di sini,” gumamnya nyaris tak terdengar.

Dibukanya halaman-halaman itu, membaca kembali potongan kisah ibunya, Nur. Tentang malam-malam gelap yang menyesakkan. Tentang pesantren ini. Tentang lelaki bernama Zimraan. Tidak ada foto. Hanya nama, cerita, dan bekas tinta air mata.

Azzam menutup buku itu kembali, lalu menyimpannya di balik laci meja kecil dekat bantal. Ia menarik napas panjang, mencoba mengendalikan gelombang emosi yang hampir meledak.

Langkah-langkah kaki terdengar dari luar. Suara ketukan lembut.

Tok. Tok.

“Assalamualaikum.” Suara perempuan. Halus, tapi mantap.

Azzam segera berdiri. “Waalaikumsalam.”

Pintu dibuka perlahan. Seorang perempuan muda muncul. Wajahnya teduh, jilbabnya terikat rapi. Senyum sopan menghiasi bibirnya.

“Saya Shanum. Ummi Farah yang suruh saya antar makan malam ke sini, Ustadz.”

Azzam menerima nampan berisi nasi, telur dadar, dan sayur bening.

“Terima kasih,” katanya.

Shanum mengangguk. Matanya sempat memperhatikan wajah Azzam lebih lama dari seharusnya.

“Kalau, Ustadz butuh apa-apa, tinggal bilang saya. Kamar saya di seberang sana,” kata Shanum sambil menunjukkan sebuah bagunan kecil di sebelah rumah, Zimraan.

Azzam hanya tersenyum singkat. “Baik.”

Shanum pun berlalu. Tapi sebelum pintu tertutup sepenuhnya, sebuah suara lain menyusul.

“Shanum, ayo cepat. Ummi nunggu.”

Gadis lain muncul di ujung lorong. Wajahnya berbeda. Lebih tajam. Lebih dewasa.

Dia adalah, Azura.

Untuk beberapa detik, mata Azzam dan Azura beradu. Azzam segera menunduk.

Azura hanya diam, lalu berbalik tanpa sepatah kata. Suasana kembali hening.

Azzam duduk kembali. Tangannya mengangkat sendok, tapi pikirannya tidak di sana. Ia teringat satu kalimat dalam buku harian ibunya:

“Ada seorang lelaki, bersorban putih, suaranya berat dan berwibawa. Tapi dialah yang menghancurkan hidupku.”

Dan tadi pagi… Azzam telah bertemu lelaki itu.

Zimraan.

Tanpa tahu wajahnya. Tanpa tahu masa lalunya. Tapi insting Azzam tak pernah salah. Saat suara berat itu terdengar, tubuhnya menggigil tanpa sebab. Tatapan mata yang tajam. Senyum yang penuh kuasa. Azzam tahu… dialah orangnya.

Malam itu angin masih bertiup agak kencang. Jendela kamar Azzam berderik pelan. Ia bangkit dari duduknya dan mengancingkan daun jendela agar tidak terbuka. Sambil berdiri di dekatnya, matanya tertumbuk pada kebun kopi yang terhampar sunyi, gelap, hanya terlihat sedikit remang lampu dari serambi dapur.

“Pesantren ini menyimpan terlalu banyak luka…” bisiknya lirih.

Kembali ia duduk, namun kali ini bukan untuk makan. Nasi di hadapannya sudah mulai dingin. Ia malah mengambil Al-Qur’an kecil dari dalam ransel, membuka halaman pertama yang telah ditandai. Di sana, terselip secarik foto kecil. Foto seorang perempuan muda dengan senyum yang rapuh.

Azzam menyentuh ujung foto itu dengan jari telunjuk. “Bu, kau percaya padaku, kan?”

Suaranya pecah, nyaris hanya getaran napas.

“Aku nggak boleh gegabah,” gumamnya. “Aku harus cermat. Pelan, tapi pasti.”

Ia memejamkan mata. Dalam gelap pandangnya, wajah Shanum muncul. Gadis yang datang membawakan makan malam tadi. Ramah, lugu. Tapi terlalu cepat menyapa. Terlalu cepat membuka pintu hati. Azzam tahu, tak boleh ada perasaan tumbuh di tempat ini. Hatinya sudah dikunci oleh tujuan. Namun, ia tak bisa mencegah hati orang lain.

Lalu ada gadis kedua: Azura. Tatapan matanya mengintimidasi. Tegas dan tajam. Ada luka di balik sinarnya, Azzam bisa merasakannya. Seolah Azura menyimpan rahasia yang juga ingin dikubur dalam-dalam di pesantren ini. Rahasia yang mungkin bersinggungan dengan masa lalu ibunya.

Suara azan dari masjid pesantren menggema, menembus celah jendela dan menampar kesadarannya.

Ia segera mengambil air wudhu di kamar mandi bersama yang letaknya tak jauh dari asrama. Airnya dingin menggigit, tapi ia membiarkan wajahnya tersiram lama-lama. Seolah ingin meredakan panas di dadanya yang terus bergolak.

Sesudah shalat, ia duduk kembali di atas tikar. Tangannya meraih buku catatan kecil yang telah ia siapkan sejak dari rumah. Satu halaman kosong diisi malam itu dengan tulisan kecil:

Hari pertama …

Aku melihat lelaki itu, lelaki bernama, Zimraan itu ada di sini. Aku yakin itu dia. Tapi belum tahu bagaimana caranya mendekat. Anak-anak dan istri Zimraan pun ada di lingkungan ini. Salah satunya mungkin tahu lebih banyak dari yang lain. Aku harus cari celah. Tapi tetap hati-hati.

Malam ini aku akan mengamati siapa saja yang berlalu lalang di asrama. Mungkin aku bisa menemukan sedikit jawaban.

Dan satu hal lagi, Azura. Aku harus tahu siapa dia.

Tiba-tiba, dari balik dinding tipis kamar, terdengar suara tawa perempuan. Pelan, namun menyusup ke kamar Azzam. Suara Shanum, disusul oleh suara Azura yang terdengar lebih tegas. Mungkin mereka berbincang di kamar sebelah.

Azzam mematikan lampu, membiarkan kamar diselimuti gelap. Tapi matanya tetap terjaga. Ia ingin mengenal suara. Mengenal langkah. Bahkan bayangan. Semua informasi, sekecil apa pun, bisa jadi petunjuk.

Di sudut lain pesantren, di ruang tamu rumah utama, Zimraan duduk bersandar di kursi ukiran. Sorban putih masih melingkar di lehernya. Farah, istrinya datang membawa teh manis hangat.

“Anak baru itu, Azzam... tampaknya baik dan sopan,” kata Farah, meletakkan cangkir di meja.

Zimraan tak langsung menanggapi. Matanya menatap langit-langit.

“Dari Banda Aceh, ya?” tanyanya pelan.

“Katanya begitu. Elzhan yang bawa. Katanya dia lulusan kampus syariah. Cerdas juga.”

Zimraan mengangguk kecil. Tapi dalam benaknya, ada rasa yang mengganjal. Entah kenapa, ia merasa seperti punya getaran kecil di hati ketika nama itu di sebut. Tapi kenapa?

Ia menyeruput teh, lalu berkata lirih, “Tak semua yang tampak baik… betul-betul baik.”

Farah memandang suaminya heran. Tapi tak bertanya lebih lanjut.

“Apakah kamu lupa kejadian dua dekade silam, perempuan itu juga tampaknya baik, bahkan sangat baik sehingga kita sangat percaya padanya. Tapi nyatanya? Dia menghancurkan keluarga ini.” Zimraan melanjutkan ucapannya.

Farah sekali lagi menatap, namun tak bisa menjawab. Ia hanya bisa teringat tentang momok mengerikan saat itu. Tapi dalam hatinya ada perasaan sakit hati terhadap suaminya sendiri.

Sementara itu, Azzam masih terjaga di kamarnya, sembari menatap langit-langit. Dada yang semula panas perlahan mulai tenang. Tapi ia tahu, ini baru permulaan. Masih banyak malam yang harus dilewati, banyak wajah yang harus diamati, dan banyak kebenaran yang harus digali.

Ia menyentuh dada, lalu berdoa dalam hati:

“Ya Allah… jika tempat ini dulu menjadi neraka bagi ibuku, izinkan aku menjadikannya tempat di mana kebenaran ditegakkan. Biar aku yang menanggung perihnya. Tapi jangan biarkan kezaliman itu terus berkuasa.”

Lampu dimatikan lagi. Dan malam pun menelannya dalam diam, bersama tekad yang tak akan padam.