Nikah Siri Bab 3-Aduh
3/21
Bab 3

Bab 3-Aduh

"Aku yang menodaimu, ijinkan aku untuk bertanggung jawab, karena apa yang sudah kita lakukan tadi merupakan dosa besar," bujuk Arsen pada Emma.

Tak mungkin dia membiarkan gadis di depannya menanggung derita sendirian, apalagi dia memang mempunyai rasa sejak pertemuan pertama di kampus, tanpa Emma tahu.

"Tapi—"

Emma menggantung ucapannya. Dari kedua mata yang bergerak gerak, terlihat kalau saat ini dirinya ragu dan takut.

"Kamu tenang saja. Aku yang akan meminta ijin langsung pada keluargamu dan juga kepada .... Diandra," ujar Arsen, lagi. Terlihat penuh semangat.

Emma tampak kaget, mendengar satu nama yang di sebut oleh Arsen dengan mata membulat.

"Hei, kamu tak usah khawatir! Mulai saat ini, detik ini, turutkan aku dalam setiap masalahmu, please ...."

Lelaki itu sepertinya paham dengan apa yang di pikirkan oleh Emma saat ini, apalagi menyangkut dengan seorang perempuan yang bernama Diandra.

"Apa kamu juga akan mengatakan dengan jujur apa yang sudah terjadi di antara kita pada Diandra dan keluargaku?!" tanya Emma dengan sorot mata khawatir.

"Iya, kita lebih baik jujur dengan keluargamu, keluargaku dan Diandra," jawab Arsen, singkat.

"Tapi -"

"Kamu tak perlu khawatir, aku juga akan menceritakan kenapa kita sampai berbuat dosa besar ini," potong Arsen, yang langsung paham bagaimana perasaan Emma yang takut Diandra berpikir aneh aneh padanya.

Karena Diandra adalah orang yang sangat mempercayai Emma, dialah juga orang yang sangat banyak membantu Emma sejak awal dia kuliah, termasuk dengan mengijinkan Emma tinggal di salah satu kamar di rumah pribadinya, secara gratis.

"Aku belum siap untuk menikah, aku takut di bully jika ada yang tahu ternyata kita sudah menikah. Apalagi aku adalah perempuan miskin, tak sederajat denganmu., dan ini semua salahku, terlalu percaya pada lelaki itu!"

Emma berkata dengan pandangan menatap nanar ke arah lantai.

"Lelaki yang mengajak kamu ke kafe itu siapa?"

Mendengar pertanyaan Arsen, seketika itu pula Emma mendongakkan wajahnya. Tak menyangka jika lelaki di hadapannya itu bisa tahu.

"Bagaimana Kakak bisa tahu?"

Arsen hanya menarik nafas panjang mendengar perempuan di hadapannya malah kembali bertanya.

"Di—dia ...."

"Kamu tenang saja, pertanyaanku tak perlu kamu jawab kalau kamu tak mau menjawabnya, aku hanya ingin tahu status hubungan kalian, karena-“

Arsen terdiam sesaat, memandangi wajah perempuan cantik yang lebih cantik tadi saat berada dalam kungkungannya.

“Aargh!!” Arsen membuang napasnya dengan kasar.

“Karena aku sudah tahu, lelaki dan perempuan itu merupakan alasan mengapa kamu berbuat seperti siang tadi kepadaku-?!"

Arsen melanjutkan ucapannya sembari memalingkan wajahnya yang kini terlihat tak tenang.

"Bagaimana bisa kamu tahu apa yang sudah terjadi padaku?!" tanya Emma dengan mata membulat sempurna. Tak memedulikan perubahan sikap dan Bahasa tubuh yang di tunjukkan oleh lelaki tampan yang berdiri memunggunginya.

"Itu hal yang paling mudah kulakukan, karena kafe tempatmu tadi makan bersama dua orang brengsek itu adalah cafe milikku!!"

Tak ada jawaban, Arsen hanya bisa tersenyum saat melihat ekspresi lucu yang di tunjukkan oleh Emma yang sangat kaget, saat tahu siapa dirinya yang sebenar.

"Kamu serius?!" tanya Emma dengan tatapan mata tak percaya.

"Sudahlah, tidak usah terlalu kamu pikirkan, sekarang apa pun yang terjadi antara kamu dengan dua orang ja hat itu, aku mau kamu merasa tak sendiri, ingat!! Saat ini kamu punya aku, jadi untuk dua orang-"

"Biar aku yang akan menyelesaikannya, karena ini adalah urusan pribadi."

Dengan cepat, Emma memutuskan ucapan Arsen. Walau saat ini dia tak benar benar berani menghadapai Ibra, Namun dia lebih takut lagi jika terjadi sesuatu yang membuat penolongnya itu ada dalam bahaya.

"Terserah kamu ...."

Arsen tersenyum, dengan sesekali menganggukkan kepalanya, mungkin dia membenarkan alasan yang di berikan Emma.

"Lalu ... Bagaimana sekarang apa yang mau kamu lakukan, pulang atau—"

"Pulang sekarang, tapi-"

Emma yang tadinya tampak bersemangat saat memilih pulang, tiba tiba meragu dan menggantung ucapannya

"Kenapa ragu? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Arsen, bingung dengan perubahan sikap Emma yang tiba tiba.

"A-ku ... aku sedang mencari alasan, apa yang harus aku katakan pada saat nanti ketemu ke dua orang tuamu ketika keluar dari kamar ini." Emma menjawab tanpa berani mengangkat kepalanya.

"Itu kan kalau kamu bertemu," ujar Arsen yang menyembunyikan senyum dengan membuang wajah ke arah yang berbeda.

Seolah tak peduli dengan kebingungan yang melanda Emma.

"Menurutmu, alasan apa yang harus aku katakan nantinya? Aku malu kalau harus jujur."

Dengan berat hati yang terlihat dari sikapnya yang menundukkan wajah, Emma meminta pertimbangan.

Arsen tersenyum, hatinya mencelos karena tersentuh saat mendengar betapa khawatirnya perempuan yang duduk di tepi ranjangnya ini tentang etika, sangat berbeda dengan perempuan perempuan yang selama ini mencoba mendekatinya, mereka berlomba untuk bisa ti dur di kamar ini dan pasti akan bangga mengatakan pada dunia kalau mereka sudah pernah bermesraan bersama Arsen.

"Kok malah diam?"

Emma yang sedang menunggu jawaban, tampak tak sabar

"Ya di pikir nanti sajalah kalau ketemu, sekarang kamu mau pulang apa tidak?"

Entah sudah berapa kali Arsen mengajukan pertanyaan yang sama.

"Pulang, tapi aku belum mendapatkan alasan yang bagus."

Dengan raut wajah sedih, Emma yang juga menjawab dengan jawaban yang sama pula.

"Apakah Kakak tak ingin memberikan usul? Please ....."

"Sudah, tak perlu dipikirkan lagi, karena sebenarnya, aku tinggal sendirian di sini, kedua orang tuaku sedang berada di luar negri! Ayo aku antar kamu pulang!"

Wajah cantik Emma seketika berubah kesal sekaligus lega, Namun tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

"Aduuh!"

Emma yang tiba tiba ingin berdiri, kembali terduduk saat merasakan sakit yang luar biasa di bagian intimnya.

"Kenapa ... masih terasa nyeri?!" desis Emma pelan, Namun masih bisa di dengar dengan sangat jelas oleh Arsen.

"Masih sakit? Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit saja ya? Atau kamu menginap di sini?!" Arsen yang hampir mendekat, kembali menjauh saat melihat gelengan kepala Emma.

"Tidak, kalau kamu tidak keberatan, aku ingin di antar kembali ke kostan saja!"

Emma tampaknya masih bersikeras, dia tak terbiasa berada di rumah asing hanya dengan seorang lelaki.

"Tapi bagaimana caranya? Sedangkan untuk jalan saja kamu terlihat sakit luar biasa?"

Arsen benar benar khawatir pada kondisi Emma, saat ini.

"Aku—"

"Sudahlah ..., kamu istriahat saja, aku janji tidak akan mengganggumu," ujar Arsen yang melangkah ke luar kamar dan tak lagi peduli dengan panggilan Emma yang berulang kali.

"Lelaki aneh!" umpat Emma yang kesal karena panggilannya tak di gubris Arsen.

Sendiri di kamar, perempuan cantik itu kembali merebahkan badannya yang terasa remuk saat ini, tanpa terasa mata Emma kembali basah, saat ia mengingat kejadian tadi siang, saat dirinya mendengar ucapan yang tak pernah dia sangka keluar dari mulut Ibra, lelaki yang selama ini dia anggap sebagai kekasihnya.


"Si Non sudah bangun?! Bagaimana, apakah sudah mendingan?!"

Emma seketika bangkit untuk duduk dari tidurnya saat mendengar suara pintu yang terbuka, menampakkan seorang wanita separuh baya yang membawa baki, masuk ke dalam kamar, mendekatinya sembari melontarkan sapaan pada Emma

"Anda siapa?" tanya Emma dengan senyum yang terlihat di paksakan.

"Saya yang menemani tuan Arsen," jawab wanita itu, sembari meletakkan baki yang dia bawa ke atas meja kecil di samping ranjang.

"Ini sarapannya sudah saya bawakan, dan obatnya juga."

Wanita tersebut membuka tudung saji, hingga Emma dapat melihat apa saja yang wanita itu bawa.

"Ini obat apa?!"