“Carikan calon tunangan untukku!” perintah Noah pada asisten pribadinya begitu mereka memasuki ruang kerja. “Yang bersedia menerima bayaran untuk berakting sebagai tunangan dengan masa perjanjian selama 2 tahun saja.”
“Maaf, Pak, saya tidak paham maksud Anda.” Kevin Dorian, mengerutkan kening. Baru kali ini dia tidak paham perintah dari bosnya itu. Berpikir keras dan berusaha memahami jalan pikiran Noah untuk kali ini. “Tunangan palsu?”
“Tentu saja bukan!” Noah menolak kesimpulan yang ditarik sendiri oleh Kevin. “Akan ada pertunangan sekaligus pesta yang besar dan mewah. Setelah masa perjanjian berakhir, akan ada pengumuman putusnya hubungan kami.”
“Maksudnya bagaimana sih, Pak?” Kevin semakin bingung dengan apa yang dimaksudkan oleh Noah. Noah Jasper, 39 tahun, menoleh dan menatap heran pada Kevin. “Masa itu saja kau tidak mengerti?” “Kalau yang seperti Anda maksudkan tadi, sama saja dengan tunangan palsu, Pak.” Kevin bersikeras. Memahami betul kalau atasannya ini tidak akan pernah mau kalah. Tapi, untuk hal konyol seperti ini, tidak harus pria kaya itu yang menjadi paling benar.
Duduk dengan berwibawa di kursi kebanggaannya dan melemparkan beberapa lembar foto perempuan yang juga dikenal dengan baik oleh Kevin. Bahkan, lebih dari setengah penghuni negara ini mengenal wajah wanita ini.
“Dia semakin lama semakin tidak bisa dikasih peringatan. Jadi, menurut hematku, tunangan adalah jalan satu-satunya.” Sudah seperti kehilangan semangat hidup saja Noah menggambar kan keadaannya sekarang.
Memahami situasi, membuat pria yang terkenal dingin dan tak berperasaan itu paham akan situasi sang bos. Wanita di foto membuat semuanya jelas. Memang, sudah banyak yang tahu kalau Noah memiliki banyak penggemar wanita, bahkan sampai terobsesi.
Kevin kembali berpikir dan merasa menemukan hal yang jauh lebih baik daripada berstatus sebagai tunangan palsu.
“Saran saya, sebaiknya Bapak langsung saja cari wanita untuk dinikahi. Jangan cuma cari tunangan palsu, tidak baik,” jelas Kevin mengingatkan.
“Jangan sok tahu, saya tidak akan menikah sama siapa pun!” tegas Noah tanpa ada bantahan.
“Lalu, mau diberikan pada siapa semua harta yang Anda miliki ini?” Kevin membentangkan kedua tangan.
Mata Noah ikut mengedar ke semua arah yang dimaksud oleh tangan Kevin. “Kenapa aku ikuti arah tanganmu bergerak?” protesnya.
“Karena apa yang saya ucapkan adalah kebenaran.” Kevin membalas dengan sengit. Noah sudah siap berdebat, panjang dan memastikan dirinya menang.
Benar!
Dia harus selalu menang dari Kevin dan dari siapa pun manusia di muka bumi ini.
“Ah, sudahlah, Pak. Kita kembali ke topik tadi. Saya tidak menyarankan Bapak untuk mencari tunangan palsu karena akan berisiko besar. Dan menghindari yang namanya perebutan warisan.” Kevin masih tetap memberikan nasihatnya.
“Sudah jelas, kalau warisan pasti akan jatuh pada keponakanku dan juga yayasan amal milikku. Sudah jelas semua, 'kan?” Noah berdalih.
“Bapak tahu, apa yang Anda rencana ini benar-benar berisiko besar.” Kevin menolak ide yang dianggap gila.
“Sudahlah, bahas itu nanti-nanti saja. Sekarang, aku mau kau carikan aku perempuan yang akan menjadi tunanganku untuk 2 tahun saja.” Noah memutuskan perdebatan mereka. “Jangan bantah saya lagi, Kevin!”
Kevin yang berniat melanjutkan saran dan nasihat terpaksa menghentikan niat. “Baiklah kalau begitu. Kriteria seperti apa yang Anda mau?”
Noah diam, tak tahu akan mengajukan kriteria yang seperti apa dia inginkan. Bahkan, untuk menentukan kriteria yang diinginkan pun dia tidak tahu.
“Sepetinya Anda butuh waktu banyak untuk menentukan pilihan. Silakan berpikir saja dulu, saya akan lanjutkan pekerjaan di ruangan saya.” Kevin sudah tidak tahan menunggu Noah yang terlalu lama berpikir.
Banyak sekali kriteria yang ditulis, terlalu rinci dan terlalu sempurna untuk dimiliki oleh manusia. Benar-benar tidak masuk akal.
“Anda yang benar saja, Pak. Bagaimana mungkin ada wanita seperti ini hidup di dunia?” Kevin hanya geleng-geleng. “Manusia itu pasti ada cacatnya, tidak ada yang sempurna. Kriteria yang Bapak tulis ini hanya milik malaikat!” omelnya tanpa sungkan.
“Ya sudah, carikan malaikat untukku!” Noah tenang sekali menanggapi omelan Kcvin.
“Pak!”
“Oke, oke.” Noah mengaku kalah. “Kau carikan saja perempuan yang memiliki kompetensi, berpendirian kuat, tidak takut pada ancaman atau pun tekanan, tidak mudah diintimidasi. Yang paling utama, memiliki impian yang besar.” Noah menjelaskan.
Sangat mudah mengerti apa yang dimaksudkan oleh Noah, tapi ada yang aneh dengan kriteria lain.
“Kenapa harus yang memiliki impian? Bukannya lebih baik memilih dari salah satu dari wanita yang menyukai Anda?” usul Kevin demi memudahkan pekerjaan. “Pasti ada satu dari putri para pengusaha yang bersedia menerima tawaran ini.”
“Bukan cuma satu, akan ada banyak yang mau jadi calonku.” Noah menyombongkan diri.
“Lalu, untuk apa harus bersusah payah?” Kevin terlihat malas untuk melakukan pekerjaan ini. “Kita membuang waktu saja, Pak.”
“Tidak, jangan dari mereka. Aku tidak mau mengurusi permintaan keluarga mereka.” Tampak Noah sudah memprediksi masa depan. “Karena itu, carikan seseorang yang tidak memiliki pengaruh apa pun, tapi ada mimpi yang akan dikejar.”
“Jadi, Anda akan memberikan dukungan untuk usahanya, begitu?” Kevin hanya menebak saja.
“Ide menarik ternyata. Boleh juga,” komentar Noah tak menyangka yang dipikirkan oleh Kevin ternyata jauh lebih masuk akal dari yang dipikirkannya.
“Hah?! Anda tidak sampai memikirkan itu?” Ingin rasanya Kevin menyentil kening Noah. “Lalu, rencananya apa, Pak?”
“Aku hanya berpikir untuk memberikannya uang sebagai kompensasi. Ya, setiap bulan perempuan itu akan tetap mendapatkan bulanan dariku.” Noah menjelaskan rencana yang ada di kepala.
“Ah, begitu.” Kevin mulai paham. “Lalu, apakah saya bebas memilih sendiri kandidat yang akan menjadi calon untuk Anda? Keputusan terakhir akan jatuh pada Anda.”
“Baiknya seperti itu.” Noah mengangguk. “Dan jangan sampai ada yang tahu. Lakukan secara diam-diam. Masalah ini hanya kita berdua saja yang tahu ya.”
“Baik, kalau Anda mau seperti itu.” Akhirnya, Kevin menyetujui keinginan Noah. Ada banyak mata yang mengawasi gerak-gerik Noah. Banyak kamera yang siap mengabadikan semua gerak-gerik pria kaya itu. Dia bukan seorang artis, penyanyi atau apa pun itu yang memiliki kemiripan dan lingkup pekerjaan sama.
Namun, labelnya sebagai pria kaya raya pasti akan menjadi incaran banyak kalangan.
“Mudah sekali kau, Kevin, menerima perintah itu,” maki Kevin pada diri sendiri.
“Sekarang, apa yang akan kau lakukan, hah?” Kevin sendirian di ruang kerjanya. Mengabaikan beberapa pekerjaan penting dan mengutamakan perintah dari Noah.
“Harus mulai dari mana pencarian calon tunangan palsu itu, Tuan Muda Jasper?” Kevin bicara seolah-olah Noah ada di depannya. Tidak mengharapkan jawaban, Kevin kembali memutar otak untuk memenuhi permintaan dari Noah.
“Ada banyak wanita yang bisa diajak kerja sama dan berikan saja imbalan sesuai syarat mereka, tapi Tuan Muda Jasper tidak menyukai mereka semua.”
Mata Kevin melirik ke arah laci kabinet paling bawah. “Di dalam sana ada banyak biodata para wanita yang dikirimkan kediaman Jasper, tapi Tuan Muda itu menyentuhnya pun tidak.”
Kevin semakin sakit kepala, rasanya buntu sekali. Kepalanya sangat sakit memikirkan jalan keluar satu ini.
“Ah, benar! Ada dia!”