Tunangan Palsu Mr. Billionaire Last but Not Least, Tawaran
5/30
Bab 5

Last but Not Least, Tawaran

“Bapak dan Ibu sekalian, sesi terakhir untuk proses penerimaan beasiswa sudah berakhir. Dan untuk pengumuman akan diberitakan melalui portal situs resmi perusahaan 3 minggu ke depan. Silakan untuk meninggalkan Grup Jasper.”

Leona tersentak, dia tak memahami sedikit pun. Dia melamun.

“Bu, silakan masuk.”

Lamunan Leona pun buyar, isi kepalanya pun berkecamuk. Tidak bisa membaca dan memahami situasi.

“Baik, Bu, terima kasih,” jawab Leona disaat kepalanya belum menyadari keanehan yang terjadi.

Meskipun bingung, Leona tetap saja duduk di kursi dengan meja panjang. Matanya pun mengedar, meneliti setiap detail ruangan. Dan dia duduk di tempat yang berbeda.

“Meja rapat harusnya ada di posisi tengah, kan? Kenapa posisi meja ini tidak ada di tengah?” Leona memeriksa sekeliling ruangan. “Kenapa tiga kursi itu ada di sana? Dan kenapa aku duduk di sini?”

Saat isi kepalanya dipenuhi banyak tanda tanya, 2 orang pria berseragam bertuliskan cleaning service masuk dan memberikan hormat pada Leona. Dengan sungkan, Leona pun membalas dengan cara yang sama juga disertai senyuman.

“Permisi ya, Bu, kami mau mengambil kursi-kursi ini karena wawancaranya sudah selesai,” kata salah satu petugas itu.

“Hah?!” Leona tidak mengerti, tidak juga tahu harus menjawab apa.

Dia semakin bingung dengan keadaan saat ini. Keraguan mulai menyergap. Dia ingin sekali beranjak dari duduk dan pergi, pulang saja.

“Selamat datang, Leona Iris.”

Tiba-tiba saja suara yang masih menempel di benaknya sejak 3 tahun lalu menyapa. Leona menoleh dan mendapati 2 pria tampan, gagah, berpakaian mewah berdiri di pintu yang lain.

Leona berdiri dan membalas dengan suara pelan. “Selamat pagi, Bapak-Bapak.”

Kevin yang menyapanya tadi, dia berdiri di belakang pria yang paling tampan dan jelas juga paling kaya.

“Silakan duduk, Nona Leona.” Noah Jasper yang berbicara.

Noah pun duduk diikuti Kevin, lalu Leona yang menatap mereka dengan bingung pun ikut untuk duduk juga.

“Anda banyak berubah ya sejak 3 tahun terakhir,” kata Kevin berbasa-basi.

Leona tidak menjawab, hanya menatap dengan penuh tanda tanya.

“Kulit Anda lebih hitam sekarang ini, ya walaupun warna kulit asli Anda sawo matang.” Kevin bicara seperti mengenal Leona saja.

“Itu karena saya bekerja di terik matahari, Pak,” jawab Leona spontan dan jujur.

Noah meneliti wajah Leona. Gadis ini bukan tipikal wanita cantik, tapi wajahnya sangat manis. Enak dipandang, tidak berdandan berlebihan, menata rambut dengan gaya sederhana, mengenakan parfum dengan aroma lembut. Raut wajahnya pun sangat lembut. Semua terlihat sangat alami dan sederhana.

“Kevin, langsung saja,” ucap Noah memerintah.

Meskipun sempat menolak ide Kevin untuk melibatkan gadis ini, tapi Noah tetap saja melakukan. Kesan pertamanya untuk wanita ini cukup baik. Tidak tahu nanti, setelah mendengar apa yang akan dikatakan oleh Kevin.

“Baik, Pak,” jawab Kevin patuh.

“Nona Leona, sebenarnya, Anda kami undang hari ini bukan untuk wawancara sebagai calon penerima beasiswa-”

“Maksud Anda? Saya tidak mengerti, Pak?” potong Leona dengan cepat. “Jadi, saya diundang ke sini hanya untuk jadi bahan bercandaan perusahaan Anda, Tuan Muda?”

Tanpa peduli, Leona langsung menyerang Noah.

Noah tersenyum dan mulai ada sedikit ketertarikan pada Leona. “Bukan saya, tapi dia yang mengundang kamu,” tunjuknya pada Kevin.

Kevin yang dituduh hanya bisa menarik napas.

“Tolong dengarkan dulu, Nona Leona,” pinta Kevin serius dan ada permohonan dari nada bicaranya.

Leona yang pada dasarnya bukanlah seorang pemarah pun luluh ketika mendengar permintaan itu. Tanpa mengeluarkan suara dia pun menunggu dan mendengar.

“Kami ingin menawarkan-” Kevin menjeda sendiri, bingung harus memilih kata yang tepat, antara pekerjaan atau bantuan.

“Kevin, kenapa?” Noah merasa heran melihat reaksi Kevin.

“Ah, maafkan saya, Pak Noah dan Nona Leona.”

Baru kali ini Kevin merasa tidak percaya diri pada pekerjaannya. Selama ini, dia selalu dikenal sebagai sekretaris eksekutif terbaik di negara ini.

“Nona Leona, tujuan kami mengundang Anda adalah untuk menawarkan satu kerja sama untuk jangka 2 tahun saja.”

“Kerja sama?” Mendengar penjelasan dari Kevin membuat kening Leona berkerut. “Saya tidak memiliki keahlian khusus yang bisa bekerja sama dengan grup sebesar ini.”

“Apa tidak bisa didengar saja dulu, lalu didebatkan?” tanya Noah yang tidak bisa memahami gadis di depannya ini.

“Karena ini tidak masuk akal, Tuan Muda Jasper. Saya hanya lulusan SMA saja dan saat ini saya bekerja kasar di beberapa tempat. Satu-satunya pekerjaan yang saya tekuni hanya pelayan di kafe, selainnya hanya pekerjaan serabutan. Tidak ada keahlian khusus untuk bisa dibanggakan!” tegas sekali Leona menjelaskan tentang pekerjaannya.

“Saya juga tahu itu,” balas Noah dengan sengit.

Kevin diam saja dan membiarkan dua orang di depannya berdebat dengan sengit. Yang wanita menolak dan yang pria berusaha untuk meyakinkan. Keduanya berdebat cukup lama. Mereka bahkan tidak sadar, kalau Kevin sudah menyiapkan 2 cangkir teh untuk pasangan itu dan 1 cangkir kopi untuknya.

‘Sepertinya perdebatan sengit mereka pun sudah seperti pasangan asli saja,’ kata Kevin dalam hati dan memutuskan untuk menonton saja.

“Saya rasa tidak ada yang bisa kita bicarakan lagi, Tuan. Anda mengundang saya dan saya melakukan banyak pekerjaan sia-sia karena beasiswa palsu Anda ini!” Leona berdiri, menatap dengan marah pada Noah Jasper tanpa sungkan.

Dengan ringan kaki Leona melangkah dan akan meninggalkan ruangan interview.

“Jadilah tunangan saya!”