BERJODOH DENGAN RIVAL Bab 3 PERJODOHAN YANG MUSTAHIL
3/14
Bab 3

Bab 3 PERJODOHAN YANG MUSTAHIL

"Ck! jadi ini adalah wanita pilihan Papa yang papa bilang anggun dan mempesona itu?" ucap Arga saat itu dalam hati sembari menatap wajah Zoya di sana.

"Apanya yang spesial, anggun dari mananya?" ucap Arga lagi yang masih menggerutu di dalam hati hingga wanita itu terjaga kemudian mendorong tubuh lelaki itu agar menjauh darinya.

"Hya! kalau jalan itu lihat-lihat pakai mata jangan hanya pakai kaki!" teriak Zoya saat itu pada Arga seolah ia Tengah menyalahkan lelaki itu karena sudah menubruknya. namun Arga yang saat itu tidak mau berdebat hanya mengabaikan apa yang Zoya katakan dan berlalu begitu saja. Zoya yang memang merasa jika ia yang salah karena sudah menyenggol lelaki itu hanya bisa berlalu karena lelaki itu tidak mempermasalahkannya.

"Kamu itu tidak tahu atau pura-pura tidak tahu si Zoy? dia itu Putra rival keluarga kamu! bisa-bisanya kamu malah menubruknya!" ucap Moa saat itu pada sahabatnya tersebut.

"Kalaupun aku tahu pasti aku juga tidak akan dekat-dekat dengan dia jangankan menyenggol melihatnya pun aku tak sudi!" ucap Zoya dengan balasannya. di mana wanita itu sudah tidak bertemu dengan Arga selama kurang lebih sepuluh tahun lebih bahkan nyaris tidak bisa mengenali wajah Arga karena seolah hilang dari pencarian berita dan awak media.

Selama perjalanan menuju kembali ke rumah saat itu Zoya terus mengingatkan wajah tampan lelaki yang menjadi anak dari musuh bebuyutan papanya di mana ia benar-benar berubah begitu drastis dan luar biasa.

"Kalau tidak salah mungkin usianya sekarang 27 tahun kan tapi kenapa dia tampak begitu muda sekali dia melakukan perawatan apa untuk merawat wajah tampannya itu?" ucap gerutu Zoya saat itu dalam hati. Hingga ia tersentak saat Moa menabok salah satu lengan tangannya.

"Zoy ngelamun apaan si? dari tadi diem aja kamu itu, nggak kayak biasanya?" ucap Moa sembari terus melajukan mobilnya menuju ke rumah Zoya.

"Nggak tahu Mo... kenapa aku merasa nggak enak hati begini," ucap Zoya kemudian pada sahabatnya.

Sedangkan di tempat Arga dan juga asistennya.

"Se... selamat datang tuan muda... silahkan, maaf ada sedikit keributan di sini," ucap si pemilik tempat hiburan yang secara langsung menyapa Arga di sana.

"Apa yang mereka lakukan?" tanya Arga kemudian.

"Mereka memperebutkan nona muda keluarga Tama tuan," ucap si pemilik tempat hiburan tersebut.

"Menarik sekali," ucap Arga kemudian dengan gerutu lirihnya.

Dan setelah beberapa saat mobil yang Zoya tumpangi tiba di tempat. Ia langsung di sambut bibi asisten rumah tangganya tampak menangis.

"Ada apa bi kenapa bibi menangis?" ucap tanya Zoya kemudian.

"Emb... itu... anu non... tuan besar non..." ucap bibi sembari terbata-bata seaoan tidak sanggup mengatakan pada Zoya saat itu. Sedangkan Moa yang saat itu masih berada di dalam mobilnya dan melihat apa yang terjadi hanya bisa segera turun dari dalam mobil dan menghampiri Zoya di sana.

"Ada apa Zoy?" tanya Moa.

"Nggak ada apa-apa Mo... kamu pulang saja Mo, aku baik-baik saja kok," balas Zoya pada sahabat baiknya tersebut. Moa akhirnya mengikuti apa yang Zoya inginkan.

"Yasudah, kalau begitu aku balik dulu, kalau ada apa-apa kasih kabar ya..." balas Moa kemudian. Akhirnya Zoya segera masuk ke dalam rumah dan menghampiri mamamya yang saat itu tampak menangis tersedu-sedu sembari duduk sendirian di sofa. Seakan wanita itu tengah menunggu putrinya di sana dan ketika Mama Zoya melihat kedatangan sang Putri maka wanita itu berhambur segera ke arah Zoya berada.

"Zoya Bagaimana sekarang?! papamu sudah berjam-jam berada di dalam ruang kerjanya dan pintunya terkunci dari dalam. Mama sudah berusaha mengetuknya dari tadi tetapi papamu tidak mau mama masuk ke dalam," ucap Mama Zoya saat itu yang bercerita pada Zoya di sana dan saat itu hanya bisa segera berhambur menuju ke arah ruang kerja papanya yang berada di lantai dua rumah mewah tersebut. Ia pun langsung mengetuk pintunya itu dari luar dan terlihat pintu itu pun segera terbuka setelah Zoya mengetuk sembari memanggil papanya beberapa kali.

Zoya pun langsung berhambur masuk ke dalam ruangan tersebut bersama dengan papanya begitu juga dengan Mama yang ikut masuk serta.

Papa Zoya segera mempersilahkan sang Putri untuk duduk di sofa yang ada di sampingnya dan wanita itu pun segera melakukan apa yang papanya inginkan.

"Maafkan Papa yang membuat kalian khawatir Papa tidak bermaksud seperti itu, Papa hanya merasa Papa sudah gagal menjadi seorang suami dan seorang ayah sekaligus pimpinan perusahaan," ucap Aditama pada putri dan juga istrinya di sana.

"Maksud papa bicara seperti itu apa?" ucap tanya Zoya kemudian pada papanya.

"Perusahaan Papa sudah hancur sayang Papa sudah tidak memiliki perusahaan itu lagi. Papa tidak bisa mempertahankan perusahaan kita lagi jadi selagi kita masih memiliki nama besar papa ingin minta sesuatu darimu," ucap Aditama pada putrinya yang membuat Zoya menatap sekilas ke arah mamanya berada.

"Papa bilang bangkrut? tidak mungkin! selama ini aku yang menjaga sistem bagian dalam perusahaan dengan caraku sendiri dan aku tahu perusahaan baik-baik saja kenapa Papa bilang bangkrut?" ucap Zoya saat itu dalam hati yang masih merasa ada kejanggalan yang papanya sembunyikan tetapi ia tidak tahu apa itu.

"Kau mau?" tanya Aditama lagi pada putrinya karena saat itu Zoya hanya terdiam saja.

"Memangnya papa mau apa? tunggu dulu! perusahaan nggak mungkin bangkrut papa percaya deh sama Zoy..." ucap Zoya kemudian.

"Kau tidak tahu nak, selama ini tampak perusahaan baik-baik saja tapi para tikus itu menggerogoti perusahaan dari dalam. Dan sebelum nama besar kita runtuh... lebih baik kamu menikah dengan orang yang sudah papa pilihkan. Tidak ada cara lain lagi dan tidak ada penolakan!" ucap papa Zoya yang membuat wanita itu tersentak bukan main.

"Menikah? kenapa harus? apa hubungannya bangkrut sama menikah? papa mau jual aku?" tanya Zoya dengan nada meningginya. Namun saat itu mama Zoya segera meraih putrinya dan menenangkannya.

"Jangan pakai nada tinggi sayang, papa sudah seperti ini, kasihan nak... jangan sampai papa jantungan dan jatuh sakit. Sekarang yang penting kamu iyakan saja apa mau papa ya... setelahnya nanti kita pikirkan cara yang terbaik lagi," ucap mama Zoya kemudian pada sang putri.

"Pah..." panggil Zoya yang membuat Aditama menyahutnya segera.

"Sayang maaf... ini satu-satunya cara papa menyelamatkanmu. Selama ini kau hidup bergelimangan harta, menurut ya... menikah dengan Putra keluarga Sanjaya," ucap papa lagi yang semakin membuat Zoya tersentak bahkan wanita itu langsung beranjak berdiri dari tempatnya.

"Apa! Putra keluarga Sanjaya!? Rival keluarga kita maksud papa?!" ucap Zoya dengan suara terkejutnya.