Surat di Balik Terali

05 February 2026

Satu tahun adalah waktu yang singkat untuk semesta, namun terasa seperti keabadian bagi mereka yang menghitung detik di balik jeruji besi. Bagi Arunika, satu tahun terakhir adalah masa di mana ia belajar bahwa tinta dan doa memiliki kekuatan yang sama, keduanya mampu menembus tembok beton paling tebal sekalipun.

Pagi itu, Lapas Kelas I Jakarta nampak lebih muram dari biasanya. Gerimis tipis membasahi pelataran parkir, menyisakan aroma tanah basah yang mengingatkan Arunika pada malam di dermaga itu, malam di mana segalanya hancur sekaligus dimulai kembali.

Arunika duduk di ruang tunggu pengunjung. Di tangannya, ia memeluk sebuah buku jurnal bersampul kulit cokelat dan sebuah bungkusan kecil berisi sajadah baru. Cadar hitamnya bergerak pelan saat ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan debar jantung yang tak pernah absen setiap kali ia datang ke tempat ini.

"Pengunjung atas nama Arunika Cahaya, silakan masuk ke bilik nomor lima," suara petugas melalui pengeras suara memecah lamunan.

Arunika berdiri, melangkah dengan anggun namun pasti. Di balik kaca pembatas yang tebal, seorang pria sudah duduk menunggu.

Barra.

Pria itu tak lagi mengenakan kemeja sutra atau jam tangan mewah yang harganya bisa membeli satu rumah mewah. Ia mengenakan seragam binaan berwarna biru kusam. Rambutnya dipotong lebih pendek, rapi, dan wajahnya meski nampak lebih tirus namun memancarkan sesuatu yang dulu tak pernah ada: kejernihan. Tidak ada lagi gumpalan asap rokok yang mengelilinginya, tidak ada lagi amarah yang meluap-luap di matanya.

Barra mengangkat gagang telepon di sisinya. Arunika melakukan hal yang sama.

"Kamu datang lagi," suara Barra terdengar melalui lubang-lubang kecil di gagang telepon. Suaranya masih bariton, masih dalam, namun kini terasa lebih teduh.

"Aku sudah berjanji, bukan? Aku tidak akan berhenti menunggumu di jalan pulang," jawab Arunika lembut.

Barra menatap tangan Arunika yang menempel di kaca pembatas. Di pergelangan tangan gadis itu, melingkar sebuah gelang sederhana yang terbuat dari satu butir tasbih kayu hitam, satu-satunya butiran yang tersisa dari peristiwa dermaga setahun lalu.

"Bagaimana kabarmu di dalam, Barra? Apa kau masih... berlatih?" tanya Arunika.

Barra tersenyum tipis. "Lapas ini bukan tempat yang ramah, Nika. Tapi di sini, untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, aku merasa bebas. Tidak ada transaksi yang harus kupikirkan, tidak ada musuh yang harus kutembak. Hanya ada aku, dinding empat persegi ini, dan... buku-bukumu."

Barra menggeser sebuah Al-Qur'an kecil yang ujung-ujungnya sudah mulai menguning karena sering dibuka. "Aku sudah sampai di Surah Al-Furqan. Ayat tujuh puluh. Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan."

Arunika merasa matanya memanas. Kebahagiaan luar biasa membuncah di dadanya. "Masya Allah... Kau benar-benar melakukannya, Barra."

"Aku melakukannya karena kata-katamu, Nika. Setiap malam, saat sel dikunci dan kegelapan datang, aku selalu teringat ucapanmu bahwa setiap pendosa punya masa depan. Aku mulai menyadari bahwa penjara yang sebenarnya bukanlah bangunan ini, tapi hidupku yang dulu."

Mereka terdiam sejenak dalam keheningan yang penuh makna. Namun, di tengah momen haru itu, Arunika menyadari ada sesuatu yang berbeda pada Barra hari ini. Ada kegelisahan yang tersembunyi di balik ketenangannya. Tangan Barra yang memegang gagang telepon nampak mencengkeram lebih kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Nika," panggil Barra, suaranya tiba-tiba merendah, menjadi sangat serius. "Ada alasan kenapa aku memintamu datang hari ini, selain untuk melihatmu."

"Ada apa, Barra? Kau terlihat cemas."

Barra melirik sekilas ke arah petugas penjaga yang berdiri beberapa meter di belakangnya dengan tangan bersedekap. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke kaca, suaranya nyaris berbisik.

"Sisa-sisa sindikat pusat... mereka tidak membiarkanku pergi begitu saja. Mereka menganggap aku adalah saksi kunci yang bisa meruntuhkan seluruh jaringan internasional mereka. Di dalam sini, aku sudah menghadapi tiga percobaan pembunuhan dalam satu bulan terakhir."

Jantung Arunika seolah berhenti berdetak. "Apa? Kenapa kau tidak lapor petugas?"

"Percayalah, Nika, uang mereka sampai ke dalam sini. Tidak ada tempat yang benar-benar aman," Barra menatap Arunika dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang merekam wajah gadis itu untuk terakhir kalinya. "Tapi bukan nyawaku yang kukhawatirkan. Mereka tahu tentangmu. Mereka tahu kaulah kelemahanku sekarang. Mereka akan menggunakanmu untuk membungkam mulutku sebelum persidangan banding bulan depan."

Arunika menggeleng keras, tangannya gemetar. "Aku tidak takut, Barra. Allah akan melindungiku."

"Jangan naif, Nika! Mereka bukan penjahat kacangan. Mereka adalah monster yang pernah kubangun sendiri!" Barra sedikit membentak, membuat pengunjung lain menoleh. Ia segera merendahkan suaranya kembali. "Dengarkan aku baik-baik. Di dalam sajadah yang kau bawa itu, aku sudah menyelipkan sebuah mikrofis, data semua rekening bank dan nama pejabat yang terlibat dalam sindikatku dulu. Aku berhasil mencurinya dari arsip rahasia mereka sebelum aku ditangkap."

Arunika terperangah. Ia menatap bungkusan sajadah di pangkuannya dengan ngeri.

"Bawa itu ke Perwira Hendra. Hanya dia yang bisa kau percaya. Jangan kembali ke rumahmu malam ini. Pergi ke pesantren ayahmu di Jawa Timur, sembunyi di sana sampai persidangan selesai."

"Lalu bagaimana denganmu? Jika mereka tahu kau memberikan data itu, mereka akan membunuhmu di sini!" air mata Arunika mulai mengalir deras di balik cadarnya.

Barra tersenyum, sebuah senyum yang mengandung kepasrahan sekaligus keberanian yang luar biasa. "Jika kematianku bisa menebus dosa-dosa yang kubuat dan memastikanmu tetap aman, maka aku akan menyambutnya dengan sujud syukur. Nika, terima kasih sudah mengajariku cara mencintai Tuhan sebelum aku kembali kepada-Nya."

"Waktu kunjungan habis!" teriak petugas penjaga.

Barra berdiri, meletakkan tangannya di kaca untuk terakhir kalinya. Arunika ikut berdiri, ia menempelkan telapak tangannya tepat di posisi tangan Barra. Mereka terhubung hanya oleh dinginnya kaca, namun panasnya emosi terasa membakar jiwa.

"Pergilah, Nika. Sekarang!" perintah Barra.

Arunika berjalan keluar dari ruang kunjungan dengan kaki yang terasa seberat timah. Ia memeluk sajadah itu seolah nyawanya bergantung di sana. Begitu ia keluar dari gerbang lapas dan melangkah menuju tempat parkir di bawah guyuran hujan yang semakin deras, sebuah mobil van hitam tanpa plat nomor mendadak berhenti tepat di depannya.

Pintu geser mobil itu terbuka dengan kasar.

Arunika mundur, hendak berteriak, namun sebuah tangan kekar membekap mulutnya dengan kain berbau menyengat. Pandangannya mulai kabur. Di sisa kesadarannya yang menipis, ia melihat seorang pria dengan bekas luka di wajahnya, pria yang seharusnya sudah mati di dermaga setahun lalu, tersenyum dingin ke arahnya.

"Halo, Nona Penulis. Sepertinya bab terakhir bukumu harus ditulis dengan darahmu sendiri," bisik pria itu.

Tubuh Arunika lunglai, jatuh ke dalam dekapan para penculik itu. Sajadah berisi data penting itu terlepas dari tangannya, jatuh ke kubangan air hujan yang kotor.

Di dalam penjara, di saat yang bersamaan, Barra sedang digiring kembali ke selnya oleh dua orang penjaga. Namun, alih-alih menuju blok huniannya, para penjaga itu membawanya ke sebuah ruangan sepi di lantai bawah yang gelap.

Pintu terkunci dari luar. Barra menatap ke depan. Di sana, tiga orang narapidana bertubuh besar sudah menunggu dengan senjata tajam buatan di tangan mereka. Salah satu dari mereka memegang ponsel yang sedang melakukan panggilan video.

Barra melihat layar ponsel itu. Di sana, ia melihat Arunika yang tak sadarkan diri di dalam van yang melaju kencang.

Salah satu narapidana itu maju, menodongkan pisau ke leher Barra.

"Pilih sekarang, Barra. Berikan kunci enkripsi datanya, atau saksikan gadis suci ini mati perlahan di depan matamu melalui layar ini."

Barra menatap layar ponsel, lalu menatap langit-langit ruangan yang kusam. Bibirnya bergerak tanpa suara, mengucapkan satu kalimat terakhir sebelum badai benar-benar menghantamnya.