Kegelapan yang menyelimuti ruang bawah tanah penjara itu terasa lebih pekat daripada malam mana pun yang pernah dialami Barra. Di depannya, layar ponsel yang dipegang oleh salah satu narapidana itu menampilkan wajah Arunika yang terpejam. Gadis itu nampak rapuh di bawah todongan senjata pria dengan bekas luka di pipi.
Barra merasakan hantaman di dadanya yang lebih menyakitkan daripada tusukan pisau mana pun. Selama bertahun-tahun ia hidup tanpa rasa takut karena ia tidak memiliki apa pun untuk kehilangan. Namun sekarang, ia menyadari bahwa kelemahannya adalah satu-satunya cahaya yang pernah menyinari hidupnya yang kelam.
"Waktumu tidak banyak, Barra," ucap narapidana bertubuh besar itu sambil menempelkan pisau ke tenggorokan Barra hingga tetesan darah mulai merembes keluar. "Katakan kunci enkripsinya, atau kita semua akan menonton bagaimana penulis kesayanganmu ini berhenti bernapas."
Barra memejamkan mata. Ingatannya melesat ke momen di ruang kunjungan tadi. Ia telah memberikan data itu kepada Arunika karena ia percaya gadis itu adalah tempat paling aman untuk sebuah kebenaran. Ia ingin sisa hidupnya digunakan untuk menebus dosa, bukan untuk kembali ke kubangan yang sama. Namun, melihat Arunika dalam bahaya membuat keyakinannya goyah.
"Jika aku mengatakannya, kalian akan membunuhnya juga," suara Barra terdengar parau dan rendah. "Kalian tidak pernah membiarkan saksi tetap hidup."
Pria di layar ponsel tertawa. Suaranya pecah melalui speaker kecil itu. "Setidaknya jika kau bicara, dia akan mati dengan cepat tanpa rasa sakit. Tapi jika kau diam, aku akan memastikan dia menderita di setiap detik terakhir hidupnya."
Barra menunduk. Di dalam hatinya, ia menjerit memanggil nama Tuhan yang baru saja ia pelajari kembali maknanya. Ia merasa terjebak di persimpangan yang mustahil. Jika ia bicara, sindikat itu akan kembali berkuasa dan ribuan nyawa akan hancur oleh narkoba mereka. Jika ia diam, Arunika yang akan menjadi kurban.
"Ya Allah, beri aku jalan," bisiknya dalam hati.
Di dalam van yang terus melaju, kesadaran Arunika mulai kembali secara perlahan. Kepalanya terasa sangat berat dan aroma zat kimia masih menusuk hidungnya. Ia merasakan getaran mesin di bawah tubuhnya dan hawa dingin yang menusuk kulit.
Saat ia mencoba menggerakkan tangannya, ia menyadari bahwa ia terikat erat. Arunika membuka matanya sedikit, mencoba mengamati situasi tanpa menarik perhatian. Di sampingnya, duduk pria dengan bekas luka itu, masih menatap layar ponsel yang menunjukkan sosok Barra di dalam penjara.
Arunika melihat Barra. Ia melihat luka di leher pria itu dan ancaman yang mengepungnya. Air mata Arunika menetes tanpa suara. Ia tidak peduli pada nyawanya sendiri, namun melihat Barra ditekan sedemikian rupa membuat hatinya hancur. Ia tahu Barra sedang berjuang untuk tetap setia pada jalan tobatnya.
"Jangan bicara, Barra," bisik Arunika dalam hati, seolah-olah pikirannya bisa sampai ke telinga pria itu. "Jangan biarkan mereka menang."
Arunika melirik ke lantai van. Sajadah yang berisi data rahasia itu tidak ada di sana. Apakah benda itu tertinggal di parkiran? Ataukah mereka sudah mengambilnya? Ia mencoba mengingat momen terakhir sebelum pingsan. Ia ingat sajadah itu jatuh ke kubangan air.
Tiba-tiba, van itu mengerem mendadak. Pintu terbuka dan Arunika diseret keluar menuju sebuah gudang di tepi dermaga yang nampak sangat akrab. Ini adalah tempat yang sama dengan peristiwa setahun lalu. Seolah-olah takdir sedang membawanya kembali ke titik nol.
"Bawa dia ke depan kamera!" perintah pria itu.
Arunika dipaksa berlutut di depan sebuah tripod yang memegang ponsel. Kini, Barra bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"Nika," bisik Barra di seberang sana. Matanya memancarkan rasa bersalah yang tak terhingga.
Arunika menatap lurus ke arah kamera. Meskipun bibirnya bergetar, ia mencoba memberikan senyum tipis di balik cadarnya yang sudah sedikit miring.
"Barra, jangan berikan apa pun pada mereka," suara Arunika terdengar jernih meski lemah. "Ingat apa yang kau katakan padaku. Kau ingin mencuci nodamu. Jangan kotori lagi tanganmu demi aku. Aku sudah ikhlas."
"Diam kau!" pria itu menghantam wajah Arunika dengan punggung tangannya.
Barra menggeram di dalam penjara, ia meronta namun penjaga yang berkhianat itu memeganginya dengan kuat. "Berhenti menyakitinya! Aku akan bicara! Aku akan bicara!"
Arunika menggeleng keras. "Tidak, Barra! Jika kau melakukannya, kau mengkhianati Tuhanmu! Kau mengkhianati semua orang yang sudah kau rugikan dulu! Biarkan aku jadi saksi cintamu pada jalan yang benar!"
Barra terisak. Pria yang dulu dikenal sebagai monster tanpa perasaan itu kini menangis di hadapan para musuhnya. Ia menatap Arunika, lalu menatap butiran tasbih yang masih melingkar di pergelangan tangan gadis itu.
"Kunci enkripsinya adalah..." Barra memulai dengan suara gemetar.
Para narapidana itu mendekat, memasang telinga dengan saksama. Pria di dermaga juga mendekatkan wajahnya ke layar ponsel dengan penuh kemenangan.
"Kuncinya adalah... Al-Furqan ayat tujuh puluh," ucap Barra pelan.
Pria itu segera mengetikkan kata-kata itu ke sebuah laptop yang terhubung dengan data curian mereka. Namun, layar itu tetap menunjukkan warna merah. Access Denied.
"Kau menipuku, Barra?!" teriak pria itu sambil menodongkan pistol ke pelipis Arunika.
"Itu kuncinya! Aku bersumpah!" Barra berteriak histeris. "Mungkin kau salah mengetiknya!"
Di saat ketegangan memuncak, tiba-tiba suara sirine kembali membelah malam. Namun kali ini bukan dari satu arah. Puluhan lampu biru dan merah mengepung gudang dermaga itu. Di dalam penjara, pintu ruangan bawah tanah didobrak oleh tim taktis kepolisian yang dipimpin langsung oleh Perwira Hendra.
Rupanya, Barra tidak benar-benar menyerahkan data itu dalam sajadah. Ia telah bekerja sama dengan Hendra sejak sebulan lalu sebagai bagian dari rencana pembersihan besar-besaran. Sajadah yang dibawa Arunika hanyalah umpan yang berisi pelacak sinyal yang sangat kuat. Saat sajadah itu jatuh dan diambil oleh para penculik, polisi sudah mulai membayangi mereka.
"Jatuhkan senjata!" teriak petugas yang masuk ke gudang dermaga.
Kekacauan pecah di dua tempat sekaligus. Di penjara, para narapidana yang menyerang Barra berhasil dilumpuhkan. Namun, di gudang dermaga, pria dengan bekas luka itu tidak mau menyerah begitu saja. Ia menarik Arunika, menjadikannya perisai hidup sambil berjalan mundur menuju bibir dermaga.
"Mundur! Atau gadis ini mati!" teriaknya kalap.
Arunika merasakan dinginnya moncong pistol di kepalanya. Ia menatap ke arah laut yang gelap. Di dalam hatinya, ia sudah menyerahkan segalanya pada takdir. Ia melihat Perwira Hendra mencoba bernegosiasi, namun pria itu sudah kehilangan akal sehatnya.
"Barra tidak akan mendapatkan apa yang dia inginkan! Jika aku hancur, dia juga harus hancur!"
Pria itu menarik pelatuknya.
Duar!
Suara tembakan itu memecah kesunyian malam. Tubuh Arunika limbung dan jatuh ke arah air laut yang dingin. Namun, di saat yang sama, tim penembak jitu polisi juga melepaskan peluru yang tepat mengenai dada pria itu.
Barra, yang masih terhubung melalui panggilan video yang belum terputus di lantai penjara, hanya bisa melihat pemandangan itu dengan mata terbelalak. Ia melihat tubuh Arunika menghilang di balik kegelapan air dermaga.
"ARUNIKA!" teriakannya mengguncang lorong penjara yang dingin.
Barra jatuh terduduk. Ia merasa dunianya runtuh untuk kedua kalinya. Ia telah memberikan segalanya untuk menjadi orang baik, ia telah mengkhianati duniaynya yang dulu demi sebuah cahaya, namun sekarang cahaya itu nampaknya telah padam ditelan ombak.
Tiga jam kemudian, Barra duduk di ruang interogasi kantor polisi dengan tangan masih diborgol, namun kali ini ia diperlakukan dengan lebih hormat. Perwira Hendra masuk ke ruangan dengan wajah yang sangat lelah.
"Bagaimana dia?" tanya Barra dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Hendra menarik kursi di depan Barra. Ia meletakkan sebuah kantong plastik transparan di atas meja. Di dalamnya terdapat butiran tasbih hitam yang putus, yang ditemukan mengambang di permukaan laut.
"Tim penyelam masih mencarinya, Barra. Arusnya sangat kuat malam ini karena hujan lebat," Hendra menghela napas panjang. "Tapi kami menemukan ini tersangkut di tiang dermaga."
Barra menatap butiran tasbih itu. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia merasa seolah-olah Tuhan sedang menghukumnya dengan cara yang paling kejam. Ia diberikan harapan hanya untuk direnggut kembali.
"Dia melakukan itu untukmu, Barra," ucap Hendra. "Dia tahu risiko sejak awal dia setuju membantuku meletakkan pelacak itu di sajadahnya. Dia bilang padaku bahwa jika sesuatu terjadi padanya, aku harus memastikan kau tetap berada di jalan yang benar."
Barra tidak menjawab. Ia hanya menatap butiran tasbih itu dengan pandangan kosong. Namun, tiba-tiba salah seorang petugas masuk ke ruangan dengan terburu-buru.
"Komandan, ada laporan dari tim medis di rumah sakit terdekat. Seorang nelayan baru saja membawa seorang wanita bercadar yang ia temukan tersangkut di jaringnya sekitar dua kilometer dari dermaga."
Barra tersentak. Jantungnya kembali berdetak dengan liar.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Hendra cepat.
Petugas itu nampak ragu-sejenak. "Wanita itu masih bernapas saat dibawa, tapi dia mengalami luka tembak di bahu dan hipotermia parah. Dia sedang dalam kondisi kritis di ruang operasi."
Barra memejamkan matanya, butiran air mata jatuh di pipinya. Ia tidak peduli jika ia harus menghabiskan sisa hidupnya di penjara, asalkan gadis itu tetap hidup. Ia bersujud di lantai ruang interogasi itu, sebuah sujud yang paling tulus yang pernah ia lakukan seumur hidupnya.
Namun, di saat Barra bersujud, Hendra menerima pesan lain di ponselnya. Wajah perwira itu mendadak berubah menjadi sangat pucat. Ia menatap Barra dengan tatapan yang penuh duka.
"Barra, kau harus kuat," ucap Hendra pelan.
Barra mengangkat kepalanya, perasaannya mendadak tidak enak. "Ada apa? Apa dia tidak selamat?"
Hendra menggeleng lemah. "Dia selamat, Barra. Tapi peluru itu mengenai saraf di tulang belakangnya. Dokter bilang... kemungkinan besar dia tidak akan pernah bisa berjalan atau bicara lagi."
Barra tertegun. Ia merasa seolah-olah oksigen di ruangan itu menghilang. Ia teringat suara lembut Arunika yang selalu membacakan ayat-ayat suci untuknya. Ia teringat langkah kaki Arunika yang selalu tenang saat mendatanginya. Sekarang, semua itu mungkin hilang selamanya karena dirinya.
"Ambil nyawaku saja, ya Allah," bisik Barra di tengah isak tangisnya yang pecah. "Jangan hukum dia atas dosa-dosaku."
Di luar ruangan, hujan semakin deras, seolah alam sedang ikut menangisi takdir dua insan yang terjebak di antara noda dan doa.