Hawa dingin dari pendingin ruangan rumah sakit seolah menembus hingga ke tulang belakang Barra. Ia berdiri di hadapan pengacara sindikat itu dengan sorot mata yang mampu membuat nyali siapa pun menciut. Barra tahu bahwa orang-orang ini tidak akan pernah berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Bagi mereka, nyawa Arunika atau kehormatannya hanyalah angka dalam neraca keuntungan.
"Syaratku sederhana saja," ucap Barra dengan nada suara yang sangat tenang namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan. "Kalian bersihkan nama Arunika secara total dari segala tuduhan konspirasi di media maupun di mata hukum dalam waktu dua puluh empat jam. Buat pernyataan resmi bahwa dia adalah korban yang sama sekali tidak tahu apa-apa. Jika itu dilakukan, aku akan memberikan kunci enkripsi itu secara langsung di hadapan hakim saat persidangan esok hari."
Pengacara itu terkekeh pelan sambil merapikan dasinya yang mahal. Ia merasa di atas angin karena memegang kartu mati dalam konflik ini. "Kau tidak dalam posisi untuk menawar, Barra. Kami bisa saja melenyapkan gadis itu di dalam ruang ICU ini jika kami mau."
"Lakukan saja," balas Barra sambil melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari pria itu. "Jika seujung kuku saja dia terluka lagi, kunci itu akan mati bersamaku di liang lahat. Kalian tahu aku tidak pernah menggertak. Aku sudah tidak punya beban. Aku sudah kehilangan duniaku, jadi aku tidak takut untuk menghancurkan dunia kalian juga."
Ketegangan di koridor itu memuncak. Perwira Hendra hanya bisa mengawasi dengan tangan yang siap menyentuh senjata di pinggangnya. Ia tahu Barra sedang melakukan pertaruhan besar. Pria itu sedang menari di atas tali tipis antara menjadi pahlawan atau kembali menjadi monster bagi mereka yang pernah menjadi sekutunya.
"Baiklah," pengacara itu akhirnya mengalah sambil melangkah mundur karena melihat keteguhan yang mengerikan di mata Barra. "Dua puluh empat jam. Tapi ingat, Barra, jika kau bermain api di persidangan nanti, tidak akan ada tempat persembunyian yang cukup aman bagi kalian berdua di bumi ini."
Setelah pria itu pergi, Barra bersandar di dinding koridor sambil mengembuskan napas panjang. Hendra mendekat dan menepuk bahu Barra dengan tatapan khawatir. "Kau tahu kau baru saja menyerahkan kartu asmu, bukan? Jika kau memberikan kunci itu, mereka akan memiliki akses kembali ke ratusan rekening gelap di luar negeri. Seluruh kerja keras kita selama setahun ini akan sia-sia begitu saja."
Barra menoleh ke arah Hendra dengan mata yang nampak sangat lelah namun bercahaya oleh sebuah keyakinan baru. "Ada hal-hal yang lebih berharga daripada uang atau kemenangan hukum, Hendra. Aku tidak akan membiarkan dunia meludahi nama Arunika. Dia sudah kehilangan suara dan kakinya karena kesalahanku. Aku tidak akan membiarkannya kehilangan kehormatannya juga. Aku akan memberikan kunci itu, tapi aku punya rencana lain yang tidak akan mereka duga."
Malam itu, Barra meminta izin untuk kembali menemani Arunika di dalam ruang ICU. Hendra memberikan dispensasi terakhir karena besok Barra akan dipindahkan ke sel isolasi sebelum persidangan besar itu dimulai. Barra duduk di kursi samping ranjang, memandangi wajah Arunika yang terlelap di bawah temaram lampu tidur. Bunyi mesin pendeteksi jantung menjadi irama yang mengisi keheningan di antara mereka, mengingatkan Barra betapa tipisnya batas antara kehidupan dan kematian.
Arunika nampak sudah lebih tenang, meskipun matanya masih menyiratkan rasa sakit yang dalam setiap kali ia mencoba menggerakkan bahunya yang terluka. Barra mengambil papan tulis kecil milik Arunika. Ia tidak memberikan papan itu kepada Arunika, melainkan ia sendiri yang mulai menulis di sana dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia menuliskan sebuah paragraf panjang yang diambil dari draf novel terbaru Arunika yang pernah ia baca secara sembunyi-sembunyi di penjara.
"Cahaya tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh kegelapan, karena bahkan titik cahaya terkecil pun cukup untuk menyingkirkan malam yang paling pekat."
Arunika terbangun dan membaca tulisan itu. Ia tersenyum tipis di balik masker oksigennya. Ia meraih spidol dengan tangan yang gemetar dan menuliskan sesuatu di bawah tulisan Barra dengan tenaga yang tersisa.
"Lalu mengapa kau nampak seperti orang yang sedang menyerah pada malam, Barra?"
Barra tertegun membaca tulisan itu. Ia menggenggam tangan Arunika yang terasa sedingin es. "Aku tidak menyerah, Nika. Aku sedang berusaha menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan. Besok aku akan melakukan sesuatu yang mungkin akan membuatmu kecewa, tapi ketahuilah bahwa aku melakukannya agar dunia tahu siapa kau sebenarnya. Aku ingin kau tetap menjadi cahaya bagi para pembacamu tanpa ada noda fitnah sedikit pun."
Arunika menatap mata Barra dengan saksama. Ia seolah bisa membaca keraguan dan beban berat yang menghimpit hati pria itu. Ia mengambil kembali papan tulisnya dan menulis dengan susah payah, mengabaikan rasa perih di tulang belakangnya.
"Jangan jual jiwamu untuk membelikan keadilan bagiku, Barra. Tuhan tidak butuh transaksi haram untuk menunjukkan kebenaran. Jika kau kembali ke jalan gelap itu demi melindungiku, maka pengorbananku benar-benar tidak ada artinya lagi."
Barra terisak pelan. Ia menyembunyikan wajahnya di telapak tangan Arunika yang mungil. "Aku hanya takut, Nika. Aku takut kehilanganmu. Aku takut melihatmu dihina oleh orang-orang yang tidak tahu betapa sucinya hatimu selama ini."
Arunika mengusap kepala Barra dengan lembut. Tidak ada suara yang keluar dari tenggorokannya, namun sorot matanya bicara lebih keras dari teriakan mana pun di dunia ini. Ia seolah berkata bahwa ia sudah rida dengan apa pun yang terjadi pada tubuhnya, asalkan jiwa Barra tetap terjaga dalam tobatnya yang tulus.
Keesokan harinya, suasana di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat nampak sangat riuh dan penuh sesak. Ratusan wartawan berkumpul di depan gedung, menunggu kehadiran Barra dan perkembangan kasus sindikat narkoba internasional yang melibatkan seorang penulis ternama. Sesuai janji sindikat yang ketakutan, pagi itu beberapa media besar memuat klarifikasi bahwa Arunika Cahaya adalah korban penculikan dan sama sekali tidak terlibat dalam organisasi kriminal tersebut.
Barra melangkah masuk ke ruang sidang dengan tangan dan kaki yang dirantai. Bunyi gesekan besi di lantai pengadilan menciptakan suasana yang mencekam. Di barisan kursi penonton paling depan, Arunika ada di sana di atas kursi roda, ditemani oleh ayahnya yang terus merapal doa. Wajah gadis itu tertutup cadar kembali, namun matanya yang jernih tetap menatap Barra dengan penuh dukungan tanpa syarat.
Sidang dimulai dengan pembacaan dakwaan yang panjang. Saat tiba waktunya bagi Barra untuk memberikan kesaksian dan kunci enkripsi yang dijanjikan, suasana ruangan menjadi sangat hening hingga suara napas pun terdengar jelas. "Saudara terdakwa," ucap Hakim Ketua sambil menatap Barra dengan tajam. "Apakah Anda siap memberikan kunci enkripsi itu sekarang sesuai dengan kesepakatan yang Anda sampaikan?"
Barra berdiri dengan tegap. Ia menoleh sejenak ke arah Arunika. Gadis itu memberikan anggukan kecil sebagai isyarat kepercayaan yang mutlak. Barra kemudian menatap ke arah pengacara sindikat yang duduk dengan senyum kemenangan di sudut ruangan. "Saya siap, Yang Mulia. Namun, kunci ini bukan berupa rangkaian angka atau huruf biasa. Kunci ini adalah sebuah pengakuan yang tertanam dalam sistem yang saya buat sendiri."
Barra mulai mengetikkan sesuatu di laptop panitera yang sudah disediakan. Saat ia menekan tombol enter dengan mantap, sebuah pesan muncul di layar besar ruang sidang. Access Granted.
Pengacara sindikat itu tersenyum puas, membayangkan kekayaan mereka akan kembali aman. Namun, sedetik kemudian, wajahnya berubah menjadi pucat pasi saat melihat data yang mulai bergulir di layar. Data yang terbuka bukan hanya aliran dana, melainkan seluruh riwayat perintah pembunuhan, daftar pejabat yang disuap, dan koordinat laboratorium rahasia mereka di seluruh penjuru negeri.
Barra telah menanam sebuah virus yang menyebarkan seluruh data tersebut ke server Interpol dan Mabes Polri secara serentak tanpa bisa dihentikan. "Apa yang kau lakukan, Barra?!" teriak pengacara itu dengan histeris hingga petugas keamanan harus menahannya. "Kau baru saja membunuh kita semua!"
"Aku tidak membunuh siapa pun," jawab Barra dengan suara yang mengguntur di ruang sidang. "Aku hanya sedang membukakan pintu tobat bagi kalian semua di penjara nanti. Kalian bilang kalian ingin kunci enkripsinya, bukan? Itulah kunci yang sebenarnya. Kebenaran yang tidak bisa lagi kalian sembunyikan dengan uang."
Kekacauan pecah di ruang sidang saat polisi mulai mengamankan beberapa orang yang namanya muncul di layar. Namun, di tengah kegaduhan itu, seorang pria asing di barisan belakang tiba-tiba berdiri. Ia melepaskan tembakan ke arah kursi roda Arunika, sebuah tindakan balas dendam terakhir dari sindikat yang merasa dikhianati.
Barra melihat kilatan senjata itu. Tanpa berpikir panjang, ia menerjang ke arah Arunika meskipun rantai di kakinya sangat berat menghambat langkahnya.
Duar!
Darah segar memercik di atas lantai pengadilan yang putih. Barra jatuh tersungkur tepat di depan kursi roda Arunika, menjadikan tubuhnya sebagai tameng hidup. Peluru itu menembus bahunya, nyaris mengenai organ vitalnya. Rantai di tangannya bergemerincing saat ia berusaha menggapai tangan Arunika yang gemetar hebat.
"Barra!" teriakan itu terdengar sangat lirih, namun nyata dan memecah keheningan setelah ledakan senjata tersebut.
Barra tertegun di tengah rasa sakit yang menghantam kesadarannya. Ia menatap Arunika yang kini memegangi wajahnya dengan tangis yang pecah. Suara itu. Arunika baru saja mengeluarkan suara untuk pertama kalinya sejak insiden dermaga. Barra tersenyum tipis di tengah napasnya yang mulai tersengal dan pandangannya yang mulai mengabur.
"Kini aku bisa pergi dengan tenang, Nika," bisik Barra sebelum matanya perlahan terpejam dalam pelukan gadis itu. "Kau sudah mendapatkan suaramu kembali, maka bicaralah untukku."