Gerimis di Balik Jeruji

05 February 2026

Tiga bulan berlalu sejak peluru itu hampir menghentikan detak jantung Barra. Kini, ia tidak lagi berada di ruang ICU yang steril, melainkan kembali ke sel isolasi Lapas dengan status sebagai saksi mahkota. Meskipun lukanya belum sembuh total dan bahu kirinya sering kali terasa kaku saat udara dingin menyerang, ada ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Penjara ini tidak lagi terasa seperti kurungan, melainkan seperti tempat suci di mana ia bisa mencuci jiwanya yang kotor.

Setiap pagi setelah salat Subuh, Barra menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku kiriman Arunika. Ruangan sempit itu kini tidak lagi terasa sesak, melainkan seperti perpustakaan pribadi tempat ia merenungi setiap inci kesalahan masa lalunya. Dinding beton yang dingin kini menjadi saksi bisu atas setiap butir air mata penyesalan yang ia tumpahkan dalam setiap sujudnya. Ia telah melepaskan jubah kebesarannya sebagai pemimpin sindikat dan memilih untuk menjadi hamba yang merangkak mencari cahaya.

Pintu besi sel berdentang nyaring, memecah keheningan pagi yang berkabut. Seorang sipir berdiri di sana dengan raut wajah yang lebih lunak dari biasanya. Petugas itu tidak lagi memandang Barra sebagai penjahat berbahaya, melainkan sebagai pria yang telah menebus sebagian dosanya dengan cara yang heroik.

"Tuan Barra, waktu kunjungan Anda. Nona itu sudah menunggu sejak setengah jam yang lalu," ucap sipir itu sambil membukakan pintu sel.

Barra bangkit dari duduknya, merapikan baju koko putih pemberian Kyai Abdullah yang nampak bersih dan harum. Ia melangkah menuju ruang kunjungan dengan dada yang berdegup ringan, sebuah perasaan yang jauh lebih manusiawi daripada rasa tegang saat ia hendak melakukan transaksi terlarang dulu. Di balik kaca pembatas yang tebal, Arunika duduk dengan kursi rodanya. Wajahnya nampak lebih segar, dan matanya berbinar saat melihat sosok Barra muncul dari balik pintu besi.

"Assalamualaikum, Barra," suara Arunika terdengar melalui gagang telepon. Suaranya sudah jauh lebih jernih, meski masih ada sedikit getaran akibat proses pemulihan pita suara yang luar biasa.

"Waalaikumsalam, Nika. Kau nampak sangat bercahaya hari ini," jawab Barra sambil menempelkan telapak tangannya di kaca pembatas.

Arunika tersenyum di balik cadarnya. "Fisioterapiku berjalan jauh lebih cepat dari dugaan dokter. Mungkin dalam beberapa bulan lagi aku bisa mulai belajar berdiri tanpa bantuan kursi roda ini. Bagaimana dengan kondisimu? Apakah lukamu masih sering terasa nyeri?"

"Hanya sedikit berdenyut jika hujan turun dengan deras. Tapi itu adalah pengingat yang baik bahwa Allah masih mengizinkanku untuk merasakan sakit di dunia ini daripada di akhirat nanti," Barra tertawa kecil, sebuah tawa yang kini terdengar begitu tulus dan ringan di telinga.

Arunika menatap Barra dengan dalam. Ia melihat perubahan yang signifikan pada pria itu. Tidak ada lagi gurat kesombongan atau amarah yang tertahan di wajahnya. Yang ada hanyalah kedamaian seorang pria yang sudah berdamai dengan takdirnya sendiri.

"Aku membawakanmu buku baru, Barra. Ini tentang biografi para pendosa yang akhirnya menjadi wali Allah. Aku harap kau suka," ucap Arunika sambil menunjuk sebuah bungkusan yang sudah diperiksa petugas.

"Terima kasih, Nika. Buku-bukumu adalah satu-satunya jendela bagiku untuk melihat dunia yang lebih baik. Tanpa surat-suratmu dan buku-buku ini, mungkin aku sudah gila di dalam sini," jawab Barra dengan penuh rasa syukur.

Namun, suasana hangat itu mendadak berubah saat Barra melihat wajah Arunika yang tiba-tiba meredup. Gadis itu menoleh ke arah pintu ruang kunjungan sejenak, seolah memastikan tidak ada yang mendengarkan pembicaraan mereka. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil dari balik tasnya dan menempelkannya ke kaca agar Barra bisa melihatnya tanpa menyentuhnya.

"Hendra menitipkan ini untukmu. Ini mengenai sisa anggota sindikat pusat yang kabur ke luar negeri saat penggerebekan tempo hari. Mereka mulai bergerak lagi, Barra. Dan mereka mengirimkan pesan ancaman ke pesantren Ayah di Jawa Timur," suara Arunika mulai bergetar karena rasa takut yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.

Rahang Barra mengeras seketika. Ia mengira dengan penangkapan para pemimpin utama dan pembukaan data enkripsi itu, semuanya akan selesai. Ternyata, akar kejahatan yang ia tanam selama belasan tahun itu jauh lebih dalam dan sulit untuk dicabut sepenuhnya.

"Apa yang mereka katakan dalam pesan itu?" tanya Barra dengan nada suara yang kembali rendah dan berbahaya, mengingatkan pada sosoknya yang lama.

"Mereka yakin kau masih menyimpan satu kunci enkripsi cadangan untuk akun aset tersembunyi yang bernilai triliunan rupiah. Mereka memberi waktu satu minggu bagi kita untuk menyerahkannya, atau mereka akan meratakan pesantren dengan tanah," Arunika menghapus air mata yang mulai mengalir di pipinya. "Hendra sudah mengirim tim untuk berjaga, tapi mereka bergerak seperti hantu."

Barra terdiam, tatapannya kosong menembus kaca pembatas. Ia menyadari bahwa meski ia mendekam di dalam penjara yang paling ketat sekalipun, ia tetap menjadi pusat dari badai ini. Masa lalunya menolak untuk membiarkannya pergi menuju kedamaian. Ia merasa sangat tidak berdaya. Ia berada di dalam tempat yang aman, namun orang yang ia cintai justru berada di garis depan bahaya karena perbuatannya dulu.

"Aku tidak punya kunci cadangan apa pun, Nika. Semua sistem itu sudah hancur total saat aku membukanya di persidangan. Mereka hanya sedang menggertak karena mereka sudah bangkrut dan putus asa," Barra mencoba menenangkan Arunika, meski hatinya sendiri berkecamuk hebat.

"Tapi mereka sangat serius, Barra. Ayah tidak mau meninggalkan pesantren. Beliau bilang, menyerah pada ancaman sama saja dengan menyerah pada setan. Aku takut sekali sesuatu terjadi pada Ayah dan anak-anak santri di sana."

Barra memejamkan matanya, meresapi setiap rasa bersalah yang kini menghantamnya lebih keras daripada peluru manapun. Ia harus mengambil sebuah keputusan besar yang mungkin akan menyeretnya kembali ke dalam lumpur hitam yang sudah susah payah ia tinggalkan.

"Hendra punya sebuah rencana rahasia," bisik Barra, mendekatkan wajahnya ke kaca hingga napasnya meninggalkan embun. "Dia sudah mengajukan prosedur cuti bersyarat untukku dengan alasan medis dan keamanan nasional. Dia ingin aku keluar dari penjara ini sebagai umpan. Dia ingin aku memancing mereka keluar dari persembunyian sebelum mereka benar-benar melakukan serangan ke pesantren."

Arunika tertegun, matanya membelalak kaget. "Cuti bersyarat? Itu artinya kau akan keluar ke dunia luar sebagai target hidup, Barra? Itu sama saja dengan menyerahkan lehermu ke pisau jagal!"

"Ini satu-satunya cara untuk benar-benar mengakhiri ini, Nika. Aku yang memulai semua kekacauan ini, maka aku pula yang harus memutus rantai setannya. Aku tidak akan pernah bisa tenang bersujud di dalam sini jika aku tahu kalian sedang terancam nyawanya di luar sana."

Arunika menatap mata Barra dengan lekat. Ia melihat keraguan yang tipis, namun tertutup oleh tekad yang membara. Ia tahu bahwa pria di depannya ini sedang berusaha menebus dosanya dengan cara yang paling berisiko: mempertaruhkan nyawanya sekali lagi.

"Jika itu memang jalan yang harus ditempuh, aku tidak akan melarangmu," ucap Arunika dengan suara yang kini lebih tegar. "Tapi berjanjilah satu hal padaku, Barra. Jangan pernah kembali menjadi orang yang kejam. Meski kau harus memegang senjata lagi untuk melindungi kami, jangan biarkan hatimu ikut menjadi gelap kembali. Tetaplah menjadi Barra yang kulihat dalam sujud tujuh hari yang lalu."

Barra mengangguk perlahan, sebuah janji suci terucap dalam hatinya. "Doakan aku, Nika. Doamu adalah satu-satunya perisai yang aku percayai sekarang. Aku akan keluar besok subuh bersama tim Hendra."

Waktu kunjungan berakhir dengan bunyi bel yang memekakkan telinga. Saat Barra berdiri dan hendak melangkah kembali ke selnya, ia melihat seorang pria asing yang baru saja masuk ke ruang kunjungan untuk mengunjungi tahanan lain. Pria itu mengenakan topi rendah, namun sesaat matanya bertemu dengan mata Barra. Ada sebuah kilatan ancaman yang sangat familiar di sana.

Barra segera mengangkat kembali gagang telepon sebelum Arunika beranjak jauh. "Nika! Tunggu!"

Arunika berhenti dan kembali menempelkan telepon ke telinganya. "Ada apa, Barra?"

Barra menatap pria asing itu yang kini duduk membelakangi mereka, namun tangan pria itu nampak sedang mengirimkan pesan singkat melalui ponsel yang diselundupkan. Barra merasakan firasat buruk yang sangat kuat merayap di tengkuknya.

"Jangan pulang ke rumah lamamu. Ikutlah dengan mobil Hendra sekarang juga. Jangan berhenti di mana pun sampai kau sampai di markas kepolisian," perintah Barra dengan nada yang sangat mendesak.

"Kenapa? Apa kau melihat sesuatu?" tanya Arunika dengan wajah pucat pasi.

Barra tidak menjawab secara langsung, matanya tetap tertuju pada punggung pria asing itu yang kini mulai berdiri dan meninggalkan ruang kunjungan tanpa menemui tahanan manapun. Barra menyadari bahwa sindikat itu tidak sedang menunggu di luar sana. Mereka sudah ada di sini, di dalam penjara ini, bahkan mungkin di ruang kunjungan ini.

Pria asing itu sempat menoleh sedikit ke arah Arunika sebelum menghilang di balik pintu keluar, lalu bibirnya bergerak tanpa suara yang hanya bisa dibaca oleh Barra yang sudah terbiasa dengan bahasa sandi dunia hitam.

Barra mencengkeram gagang telepon hingga buku jarinya memutih, ia berteriak pada Arunika sebelum sipir menariknya kembali ke sel.

"Lari, Nika! Keluar dari sini sekarang juga!"

Arunika yang kebingungan mulai memutar kursi rodanya dengan terburu-buru, namun tepat di ambang pintu keluar, sebuah ledakan kecil terdengar dari arah tempat parkir lapas, diikuti oleh kepulan asap hitam yang membubung tinggi. Suasana lapas mendadak menjadi sangat kacau.

Barra meronta di pelukan sipir, ia melihat Arunika tertahan di ambang pintu oleh kerumunan orang yang panik. Di tengah kekacauan itu, sebuah pesan masuk ke dalam layar monitor di meja penjaga yang bisa dilihat oleh Barra. Pesan itu hanya berisi satu kalimat pendek.

"Permainan sudah dimulai, Barra. Pilihlah: rahasiamu, atau nyawa penulis ini?"

Barra menatap ke arah Arunika yang kini nampak sangat ketakutan di kejauhan. Ia menyadari bahwa besok subuh mungkin akan terlambat. Ia harus keluar dari sini sekarang juga, bagaimanapun caranya.