Ledakan di area parkir lapas itu bukan sekadar gangguan kecil. Guncangannya terasa hingga ke fondasi bangunan, menyebabkan debu-debu semen jatuh dari langit-langit ruang kunjungan. Suasana yang semula tenang berubah menjadi neraka dalam hitungan detik. Alarm tanda bahaya menderu nyaring, memekakkan telinga dan memicu kepanikan masal. Para sipir segera menghunus senjata, berteriak memerintahkan semua tahanan untuk kembali ke sel masing-masing, namun arus manusia yang ketakutan tidak bisa lagi dibendung.
Barra melihat Arunika dari kejauhan. Gadis itu terjepit di antara kerumunan orang yang berlari menuju pintu keluar. Kursi rodanya tersangkut pada kaki meja besi yang terbalik. Wajahnya yang pucat nampak sangat rapuh di tengah kekacauan itu. Barra merasakan amarah yang luar biasa membakar dadanya. Ia tidak peduli lagi pada prosedur, ia tidak peduli jika ia harus ditembak mati oleh penjaga karena dianggap mencoba melarikan diri. Baginya, satu helai rambut Arunika jauh lebih berharga daripada nyawanya sendiri.
"Minggir!" teriak Barra sambil menyikut seorang narapidana yang mencoba menghalangi jalannya.
Seorang sipir mencoba menahan bahu Barra, namun dengan gerakan refleks yang masih tersisa dari masa lalunya sebagai petarung, Barra memutar tangan petugas itu dan merebut kunci sel yang tergantung di pinggangnya. Ia tidak menggunakan senjata itu untuk melukai, ia hanya mem dorong petugas itu ke samping agar ia bisa berlari menuju pintu kaca yang memisahkan area steril dengan ruang kunjungan.
Langkah Barra terasa berat. Luka di bahunya berdenyut hebat seolah ingin pecah, namun ia terus berlari. Setiap jengkal jarak yang ia tempuh terasa seperti ribuan mil. Di depannya, ia melihat pria asing bertopi rendah tadi sudah berada hanya beberapa meter di belakang Arunika. Pria itu merogoh sesuatu dari balik jaketnya, sebuah pisau lipat yang berkilat terkena pantulan lampu darurat yang berwarna merah.
"NIKA! MERUNDUK!" Barra berteriak dengan seluruh kekuatan paru-parunya.
Arunika mendengar suara itu. Tanpa berpikir panjang, ia menjatuhkan tubuhnya dari kursi roda, merayap di lantai yang kotor dan penuh dengan pecahan kaca. Pisau pria itu menebas udara kosong tepat di atas tempat Arunika tadi duduk. Pria itu menggeram, hendak menghujamkan pisaunya kembali, namun Barra sudah sampai di sana.
Barra menerjang pria itu dengan seluruh berat badannya. Mereka berguling di lantai, di antara kaki-kaki orang yang berlarian. Barra mencengkeram pergelangan tangan pria itu, mencoba menjauhkan mata pisau dari tubuhnya. Meskipun tenaganya belum pulih sepenuhnya, amarah dan keinginan untuk melindungi memberi Barra kekuatan tambahan yang tidak masuk akal.
"Kalian tidak akan menyentuhnya selama aku masih bernapas!" geram Barra di depan wajah pria itu.
Pria itu meludahi wajah Barra. "Kau sudah lemah, Barra! Kau sudah jadi budak agama! Kau bukan lagi raja kami!"
Barra tidak membalas dengan kata-kata. Ia menghantamkan dahinya ke hidung pria itu hingga terdengar bunyi tulang yang patah. Di tengah pergulatan itu, ia melihat Hendra dan tim taktisnya mulai masuk ke dalam ruangan melalui pintu depan yang hancur. Gas air mata mulai ditembakkan, membuat pandangan semua orang menjadi kabur dan napas terasa sesak.
Barra segera melepaskan pria yang sudah lemas itu, lalu merangkak menuju Arunika. Ia menemukan gadis itu meringkuk di balik meja beton, tangannya menutupi wajahnya yang berdarah karena terkena serpihan kaca.
"Nika, ini aku. Aku di sini," bisik Barra sambil mendekap tubuh Arunika. Ia tidak peduli lagi pada aturan penjara atau hukuman tambahan yang akan ia terima. Ia hanya ingin memastikan gadis ini aman.
Arunika memeluk leher Barra dengan sangat erat. Tubuhnya gemetar hebat. "Barra... aku takut... jangan tinggalkan aku."
"Aku tidak akan pergi. Kita keluar dari sini sekarang," Barra menggendong Arunika dengan gaya bridal style. Ia mengabaikan rasa sakit yang luar biasa di bahu kirinya yang mulai mengeluarkan darah kembali. Ia berjalan menembus asap tebal gas air mata, menggunakan instingnya untuk menemukan jalan keluar.
Hendra menemukan mereka di koridor belakang, dekat dengan pintu evakuasi darurat. Wajah perwira itu nampak sangat tegang, namun ia merasa lega melihat Barra masih memegang Arunika dalam pelukannya.
"Barra! Apa yang kau lakukan? Kau bisa dituduh mencoba kabur!" teriak Hendra sambil mengarahkan timnya untuk mengamankan area.
"Persetan dengan tuduhan itu, Hendra! Lihat apa yang terjadi pada ruang kunjunganmu! Mereka ada di dalam sini!" Barra berteriak balik dengan mata merah karena gas air mata dan amarah. "Amankan Arunika. Bawa dia ke tempat paling rahasia yang kau punya. Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan menghancurkan sistemmu dari dalam sel ini!"
Hendra segera mengambil alih Arunika, memberikannya kepada tim medis yang sudah menunggu di dalam mobil ambulans lapis baja. Sebelum pintu ambulans ditutup, Arunika memegang ujung baju koko Barra yang kini sudah kotor oleh debu dan darah.
"Barra, ikutlah dengan kami," pinta Arunika dengan mata yang berkaca-kaca.
Barra menggeleng perlahan. Ia mengusap dahi Arunika dengan ibu jarinya yang kasar. "Aku tidak bisa, Nika. Jika aku keluar sekarang tanpa prosedur yang benar, aku akan menjadi buronan dan aku tidak akan bisa melindungimu dengan sah. Aku harus tetap di sini sebentar lagi, menyelesaikan urusan dengan para pengkhianat ini."
"Tapi mereka akan membunuhmu di dalam sini!"
"Mereka sudah mencoba, dan mereka gagal," Barra memberikan senyum tipis yang penuh keyakinan. "Pergilah. Doakan aku. Aku akan menyusulmu besok subuh sesuai rencana awal."
Pintu ambulans tertutup, meninggalkan Barra yang berdiri sendirian di bawah guyuran hujan yang mulai turun di halaman lapas. Ia menatap mobil itu menjauh hingga hilang di balik gerbang besi yang besar. Ia merasa separuh jiwanya ikut pergi bersama mobil itu.
Malam itu, lapas berada dalam kondisi siaga satu. Barra tidak dikembalikan ke selnya, melainkan dibawa ke ruang interogasi khusus yang dijaga oleh tim Hendra. Ia duduk di sana dengan tangan yang kembali diborgol ke meja, namun kali ini ia tidak merasa sebagai pesakitan. Ia merasa seperti seorang jenderal yang sedang menunggu laporan medan perang.
Hendra masuk ke ruangan dengan membawa sebuah laptop. Ia membukanya di depan Barra. "Kau benar, Barra. Ledakan itu hanyalah pengalihan. Tujuan utama mereka adalah menculik Arunika untuk memaksamu bicara. Pria yang kau hajar tadi adalah mantan anak buahmu sendiri yang menyamar menjadi pengunjung."
Barra menatap layar laptop yang menunjukkan rekaman CCTV. "Siapa yang menggerakkan mereka, Hendra? Aku butuh nama."
Hendra ragu sejenak, lalu ia memutar sebuah rekaman suara yang berhasil disadap dari ponsel pria asing tadi. Suara di seberang telepon itu terdengar sangat dingin, sebuah suara yang sangat dikenal oleh Barra. Itu adalah suara orang kepercayaannya dulu, orang yang ia anggap sebagai saudara sendiri sebelum ia memutuskan untuk bertobat.
"Rio..." bisik Barra. Nama itu terasa seperti duri yang menusuk tenggorokannya.
"Dia yang mengorganisir semuanya dari Singapura, Barra. Dia ingin mengambil alih seluruh kekuasaanmu dan dia tahu hanya kau yang punya kunci untuk mencairkan dana cadangan di bank Swiss yang belum tersentuh kepolisian," jelas Hendra.
Barra tertawa pahit. "Dana itu sudah tidak ada. Aku sudah menyumbangkannya secara anonim ke berbagai yayasan kemanusiaan di Palestina dan Afrika melalui sistem enkripsi otomatis sebulan yang lalu. Itulah yang tidak mereka ketahui. Aku sudah benar-benar membersihkan tanganku dari uang haram itu."
Hendra tertegun. "Kau menyumbangkannya? Triliunan rupiah?"
"Uang itu adalah darah, Hendra. Aku tidak ingin darah itu menempel di masa depanku bersama Arunika," Barra menatap Hendra dengan serius. "Rio tidak akan berhenti karena dia tidak percaya uang itu sudah habis. Dia akan terus mengejar Arunika karena dia pikir Arunika adalah kunci untuk meluluhkan hatiku."
Barra berdiri, bunyi rantai di tangannya bergema di ruang interogasi yang sunyi. "Besok subuh, jangan hanya menjadikanku umpan. Jadikan aku sebagai eksekutor untuk mengakhiri kegilaan Rio. Berikan aku izin untuk memimpin timmu menuju titik penjemputan yang mereka janjikan dalam pesan ancaman itu."
Hendra menatap Barra dengan ragu. "Itu melanggar hukum, Barra. Kau masih seorang narapidana."
"Dan kau adalah seorang perwira yang ingin menghentikan sindikat terbesar di Asia Tenggara," balas Barra tanpa ragu. "Pilihannya ada padamu. Kau ingin menangkap hantu, atau kau ingin aku menyerahkan kepala hantu itu padamu?"
Di luar sana, guntur menggelegar di langit malam. Di markas kepolisian yang aman, Arunika sedang duduk di atas sajadahnya, menghadap kiblat dengan air mata yang terus mengalir. Ia meremas butiran tasbih di tangannya, memohon pada Pemilik Semesta agar pria yang sedang berjuang di balik jeruji itu tetap dijaga hatinya.
Tiba-tiba, ponsel milik Hendra yang tertinggal di atas meja bergetar. Sebuah pesan video masuk. Hendra membukanya, dan wajahnya mendadak pucat pasi. Ia memutar layar itu ke arah Barra.
Dalam video itu, nampak sebuah ruangan gelap yang sangat familiar bagi Barra. Itu adalah perpustakaan di pesantren Kyai Abdullah. Di sana, Kyai Abdullah sedang duduk terikat di kursinya dengan sebuah bom waktu yang terpasang di dadanya. Angka digital di bom itu terus berjalan mundur.
Suara Rio terdengar dari balik kamera, tertawa penuh kemenangan.
"Waktumu tinggal enam jam, Sang Raja. Datanglah ke dermaga lama sendirian, atau kau akan melihat gurumu ini terbang menuju surga lebih cepat dari jadwalnya."
Barra merasakan dunianya seolah runtuh. Ia menatap angka di bom itu yang menunjukkan waktu lima jam lima puluh sembilan menit. Ia menatap Hendra dengan tatapan yang mematikan.
"Buka borgol ini sekarang juga, Hendra. Atau aku akan mematahkan tanganku sendiri untuk keluar dari sini," ucap Barra dengan nada yang begitu dingin hingga sang perwira pun tergetar.