Guntur menggelegar di langit yang pekat, seolah ikut mengamuk melihat kebiadaban yang terpampang di layar laptop Hendra. Di dalam ruang interogasi yang pengap, Barra tidak lagi merasa seperti seorang narapidana yang terikat. Ia merasa seperti seorang laki-laki yang dunianya baru saja dicabik habis. Di hadapannya, melalui video kiriman Rio, Kyai Abdullah sedang duduk terikat dengan bom waktu di dadanya. Pria yang telah memberikan Barra sehelai sajadah untuk bersujud itu kini berada di ambang maut karena bayang-bayang masa lalu Barra yang tak kunjung usai.
"Buka ini, Hendra," suara Barra rendah, namun mengandung getaran yang bisa membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. "Aku tidak akan lari dari hukummu setelah ini semua berakhir. Aku hanya ingin menyelamatkan beliau. Kyai Abdullah adalah satu-satunya alasan kenapa Arunika masih memiliki senyum. Beliau memberikan aku jalan untuk pulang saat seluruh dunia menginginkan aku mati. Aku tidak akan membiarkan beliau hancur karena dosaku."
Hendra menarik napas panjang, menatap borgol di pergelangan tangan Barra yang mulai lebam. Perwira itu tahu bahwa membebaskan Barra adalah risiko terbesar bagi kariernya, namun melihat mata Barra yang memerah dengan kehancuran yang begitu nyata, Hendra tahu hukum manusia tidak lagi cukup untuk menghakimi momen ini. Dengan gerakan cepat, Hendra memutar kunci. Klik. Logam itu terlepas. Barra segera meraih jaket hitamnya, menutupi baju koko putihnya yang kini ternoda debu dan sedikit rembesan darah dari luka bahunya yang kembali terbuka sejak menyelamatkan Arunika di ruang kunjungan tadi.
"Pergilah, Barra. Tim taktisku sudah bergerak menuju pesantren secara rahasia, namun Rio sangat licik. Jika kau melakukan kesalahan sedikit saja di dermaga, mereka tidak akan ragu menarik pelatuknya," Hendra memperingatkan dengan nada berat.
Barra berhenti sejenak di ambang pintu, menatap Hendra tanpa emosi. "Katakan pada Arunika untuk terus berdoa di atas sajadahnya. Doanya adalah satu-satunya alasan kenapa aku masih ingin menjadi manusia."
Barra membelah hujan yang tumpah seperti air bah di jalanan kota menggunakan motor besar milik kepolisian. Angin dingin menusuk tulang, namun Barra tidak merasakannya. Pikirannya dipenuhi oleh wajah Arunika yang baru saja ia lepaskan ke dalam ambulans lapis baja. Ia tahu Arunika dalam pengamanan polisi, namun ia juga tahu bahwa Rio tidak akan berhenti sebelum melihat Barra hancur berkeping-keping.
Dermaga lama di pinggiran kota itu nampak mengerikan di bawah cahaya kilat yang menyambar. Di sanalah Rio berdiri dengan payung hitam dan senyum iblisnya. Di tengah dermaga, sebuah monitor besar diletakkan, menampilkan siaran langsung Kyai Abdullah yang masih terikat dengan bom yang terus berdetak di perpustakaan pesantren. Di sekeliling Barra, selusin laras senjata otomatis kini membidik jantung dan kepalanya.
"Lepaskan dia, Rio!" teriak Barra, suaranya bersaing dengan deru ombak yang menghantam tiang dermaga.
"Selamat datang, Barra!" Rio tertawa parau. "Kau nampak sangat menyedihkan dengan baju koko itu. Mana Barra yang dulu memerintah dengan tangan besi? Kau sekarang hanyalah anjing peliharaan seorang wanita bercadar dan kyai tua yang tidak tahu apa-apa soal dunia kita!"
Barra menatap monitor itu. Kyai Abdullah nampak begitu tenang. Bibir beliau bergerak perlahan, nampaknya beliau sedang berzikir, menyerahkan seluruh hidupnya pada Sang Khalik tanpa rasa takut sedikit pun. Barra merasakan perih yang luar biasa di dadanya. Pria di layar itu adalah ayah dari wanita yang ia cintai, pria yang membantunya bersujud untuk pertama kali saat ia terbangun dari koma di rumah sakit.
"Aku punya tawaran untukmu, Rio," suara Barra kini terdengar sangat stabil, jauh lebih tenang dari sebelumnya. "Kau ingin akun Swiss itu, bukan? Aku membohongi polisi. Masih ada satu rekening cadangan yang hanya aku yang tahu kodenya. Ambil nyawaku sekarang, tapi biarkan Kyai Abdullah hidup. Biarkan dia tetap ada untuk menjaga Arunika. Aku yang bersalah padamu, bukan mereka."
Rio terhenti, matanya berkilat penuh keserakahan yang menjijikkan. "Kau berani bertaruh dengan nyawamu sendiri?"
"Nyawaku sudah lama mati, Rio. Aku hanya ingin memastikan mereka yang tidak mengerti dunia kita tetap hidup," Barra melangkah maju, membiarkan moncong pistol Rio menempel di dahinya. "Tekan tombolnya sekarang. Matikan bom di pesantren, maka aku akan memberikan kodenya padamu."
Rio ragu sejenak. Keserakahannya mulai mengalahkan keinginan untuk sekadar membunuh. Sementara itu, di markas polisi, Arunika mendengarkan pembicaraan itu melalui alat penyadap frekuensi radio. Ia meremas tasbihnya hingga butirannya pecah berserakan di lantai, air matanya membanjiri cadarnya. Ia ingin berteriak agar Barra tidak melakukan kegilaan itu, namun suaranya seolah tercekat di tenggorokan oleh rasa takut yang luar biasa.
"Baiklah," Rio akhirnya setuju. Ia menekan sebuah tombol di ponselnya.
Beberapa menit yang terasa seperti ribuan tahun berlalu. Di layar monitor, Barra melihat tim penjinak bom kepolisian akhirnya berhasil merangsek masuk ke perpustakaan pesantren. Mereka segera menjauhkan Kyai Abdullah dari maut. Saat sang Kyai berhasil diamankan, beliau nampak lemas namun selamat. Beliau menatap ke arah kamera dengan mata yang berkaca-kaca, seolah beliau bisa merasakan pengorbanan yang sedang dilakukan muridnya di dermaga ini.
Barra mengembuskan napas panjang. Beban di pundaknya seolah luruh seketika. Ia menatap Rio dengan senyum yang sangat damai, senyum yang belum pernah Rio lihat selama mereka bersama di dunia hitam.
"Kodenya adalah kematianku, Rio. Kau tidak akan pernah mendapatkan uang itu karena aku memang sudah memberikannya pada mereka yang membutuhkan," bisik Barra dengan nada yang sangat jernih.
Rio yang menyadari dirinya telah ditipu mentah-mentah, menjadi kalap. Amarahnya memuncak hingga wajahnya memerah padam. Tanpa peringatan lagi, ia menarik pelatuk pistolnya dengan penuh kebencian.
Dor!
Suara tembakan itu memecah sunyinya malam. Tubuh Barra tersentak hebat, peluru menembus dada kirinya, tepat di atas jantungnya. Darah merah segar muncrat ke baju koko putihnya, menciptakan noda yang sangat lebar dalam hitungan detik. Barra jatuh ke belakang, melewati pagar dermaga yang rapuh, dan langsung tercebur ke dalam air laut yang dingin, pekat, dan gelap.
"BARRA! TIDAK!" teriakan Arunika pecah, mengguncang seluruh ruang kendali polisi di markas. Suaranya yang penuh kepedihan dan menyayat hati, sebuah teriakan yang mengandung seluruh cintanya bagi pria yang baru saja menukar napas demi ayahnya.
Tubuh Barra perlahan tenggelam ke dasar laut yang sunyi. Di sisa kesadarannya sebelum kegelapan benar-benar menelannya, ia merasakan kedamaian yang aneh. Ia merasa telah menunaikan janjinya. Ia merasa tangannya yang dulu kotor kini telah dicuci bersih oleh air laut dan darahnya sendiri.
Di atas dermaga, tim taktis Hendra akhirnya menyerbu. Rio mencoba melarikan diri, namun ia segera dilumpuhkan oleh hujan peluru di kakinya. Hendra berlari menuju tepi dermaga, menatap pusaran air yang ganas tempat Barra menghilang.
Hendra meraih radio panggilnya dengan tangan yang bergetar hebat. Ia melihat ke arah laut yang hanya menyisakan buih-buih merah samar.
"Semua unit penyelamat, masuk ke air sekarang! Temukan Barra! Aku ulangi, temukan Barra!" teriak Hendra dengan suara yang serak oleh emosi.
Arunika, di markas polisi, jatuh tersungkur dari kursi rodanya ke atas lantai yang dingin. Ia bersujud di sana, menempelkan dahinya ke lantai sambil terus meraung menyebut nama Barra di antara isak tangisnya yang tak terbendung.
"Ayah... Ayah selamat," bisik Arunika lirih saat melihat visual ayahnya di evakuasi di layar lain, "tapi Barra... Barra menjemput mautnya untukmu, Ayah."
Di dermaga, hujan mulai mereda, menyisakan keheningan yang mencekam. Hendra menatap laut yang tetap diam, seolah tidak mau mengembalikan apa yang sudah diambilnya. Ia berbisik pelan ke arah radio yang masih terhubung dengan Arunika.
"Nika, bersiaplah untuk segala kemungkinan terburuk."