Hujan di Semarang malam itu bukan sekadar air yang jatuh dari langit. Ia adalah tirai cair, tebal dan berbau logam, yang memisahkan Terminal Terboyo dari sisa dunia yang waras.
Bram berdiri di sudut peron yang paling gelap. Punggungnya menempel pada beton lembab. Dingin merembes menembus jaket kulit sintetis murahan yang ia kenakan, menyengat kulit, tapi itu tak sebanding dengan dingin yang menjalar di ulu hatinya. Tangannya mencengkeram pegangan tas kanvas lusuh dengan tenaga berlebih. Buku-buku jarinya memutih, kaku seolah rigor mortis telah menyerang tangannya lebih dulu daripada tubuhnya.
Di dalam tas itu, masa depannya bersemayam. Atau mungkin, vonis matinya. Tumpukan rupiah hasil manipulasi anggaran kantor cabang, angka-angka yang digelembungkan, tanda tangan palsu yang ia goreskan dengan tangan gemetar seminggu lalu.
"Sial," desisnya. Uap putih keluar dari mulutnya, langsung ditelan kegelapan.
Ia melirik arloji. Pukul 23.45. Jarum detik berdetak terlalu keras di telinganya, bersaing dengan deru hujan yang menghantam atap asbes terminal yang bocor di sana-sini. Tidak ada bus yang berangkat tengah malam begini. Seharusnya tidak ada. Terminal Terboyo di tahun 1985 biasanya sudah mulai mati suri menjelang tengah malam, menyisakan preman-preman mabuk tuak dan anjing kurap yang mengais sisa nasi bungkus.
Tapi Bram tidak bisa menunggu pagi. Jakarta sudah tahu. Telepon dari rekan kerjanya sore tadi—suara panik yang terputus-putus—adalah lonceng kematian. Polisi mungkin sudah menyebar di stasiun kereta. Bandara terlalu berisiko. Jalan raya, dengan segala kekacauannya, adalah satu-satunya lubang tikus yang tersisa untuk melarikan diri ke kampung halamannya di timur Jawa.
Ia butuh tumpangan. Apa saja. Truk ayam, mobil sayur, peti mati berjalan sekalipun.
Matanya yang liar menyapu area parkir bus. Genangan air bercampur minyak solar memantulkan cahaya lampu merkuri yang berkedip sekarat. Sepi. Kosong. Hanya ada bayangan bus-bus tua yang terparkir mati, bangkai-bangkai besi yang tertidur.
Rasa paranoid itu datang lagi. Ia merasa diawasi. Bukan oleh manusia. Ada sesuatu di balik pilar beton di seberang sana. Atau mungkin di celah gelap antara dua kios rokok yang sudah tutup. Sensasi itu merayap di tengkuknya, seperti kaki serangga basah. Ia menoleh cepat.
Nihil. Hanya spanduk "Sukseskan Repelita IV" yang robek tertiup angin, melambai seperti tangan orang tenggelam.
Bram mengeratkan pelukan pada tasnya. Uang itu baunya apek, tapi baginya, itu bau kebebasan. Ia harus keluar dari Semarang malam ini juga. Jika tidak, penjara Cipinang—atau parit pinggir jalan dengan peluru di kepala—akan menjadi rumah barunya.
Suara itu muncul sebelum wujudnya.
Bukan deru mesin diesel biasa yang kasar dan meledak-ledak. Ini adalah geraman rendah. Frekuensinya begitu dalam hingga Bram merasakannya di rongga dada, bukan di telinga. Getaran yang membuat gigi-giginya ngilu. Lantai peron yang retak-retak bergetar halus.
Dari balik tirai hujan yang pekat di gerbang masuk terminal, sepasang lampu kuning kusam menembus kegelapan. Cahayanya sakit, seperti mata hewan purba yang menderita katarak.
Sebuah bus merayap masuk.
Bram menyipitkan mata. Bus itu besar, tipe lama dengan moncong yang menonjol. Bodinya yang seharusnya gagah kini tampak bungkuk, seolah memikul beban yang tak kasat mata. Catnya—mungkin dulunya merah marun atau cokelat tua—kini tertutup lapisan debu tebal dan karat yang mengelupas seperti koreng.
Kendaraan itu meluncur tanpa suara decit rem yang wajar, berhenti tepat di jalur keberangkatan yang kosong, sepuluh meter dari tempat Bram bersembunyi.
Di sisi lambung bus, samar-samar tertulis dengan cat emas yang sudah pudar dan tergores: LAJU SANJAYA.
Bram mengernyit. Ia pernah mendengar nama itu. Samar. Mungkin dari obrolan sopir-sopir di warung kopi dekat kantornya dulu, atau dari koran usang yang ia jadikan alas tidur saat pertama kali merantau. Ingatannya kabur, tertutup oleh urgensi pelariannya.
Pintu lipat bus itu terbuka dengan desisan hidrolik yang menyerupai helaan napas panjang orang sekarat.
Hhhhuuuussshhhh.
Bau aneh seketika menyeruak keluar, melawan bau amis hujan dan solar. Bau itu manis, tapi menyengat. Seperti campuran bunga melati busuk, kemenyan bakar, dan... formaldehida? Bau ruang jenazah yang disamarkan dengan parfum murah.
Bram mundur selangkah. Insting purbanya berteriak. Jangan naik.
Setiap sel di tubuhnya menolak. Ada yang salah dengan geometri bus ini. Jendelanya tampak terlalu gelap, hitam pekat yang menyerap cahaya lampu terminal alih-alih memantulkannya. Roda-rodanya tampak tenggelam sedikit ke dalam aspal, seolah bus itu memiliki bobot yang jauh melampaui kapasitas fisiknya.
Namun, di pintu bus yang terbuka, sesosok figur muncul.
Seorang pria, mungkin tiga puluhan, mengenakan seragam kondektur berwarna abu-abu yang kucel. Topinya miring. Wajahnya keras, dengan tulang pipi menonjol dan kulit yang warnanya seperti kertas koran lama—abu-abu kekuningan. Ia tidak turun ke aspal. Ia hanya berdiri di tangga terbawah, mematung.
Matanya menatap lurus ke arah Bram. Tatapan kosong. Mati. Seperti boneka porselen yang retak.
"Jurusan mana, Bang?" Suara Bram terdengar asing di telinganya sendiri. Serak, gemetar. Ia membenci betapa lemahnya ia terdengar.
Kondektur itu—Jaka, begitu nametag kusam di dadanya tertulis—tidak segera menjawab. Kepalanya miring sedikit, gerakan patah-patah seperti mekanisme jam yang karatan.
"Timur," jawab Jaka. Suaranya parau, seperti gesekan dua batu nisan. Tidak ada intonasi. Tidak ada "Mas", tidak ada keramahan standar kondektur Pantura yang biasanya berisik mencari penumpang.
Hanya satu kata. Timur.
Bram menelan ludah. Timur berarti Solo, Surabaya, atau Banyuwangi. Itu arah yang ia tuju. Itu jalan pulangnya.
Tapi kakinya menolak melangkah. Ada aura kelam yang menguar dari pintu terbuka itu, sebuah kehampaan yang menjanjikan sesuatu yang lebih buruk daripada penjara. Bram melirik ke arah gerbang terminal lagi.
Di kejauhan, di jalan raya luar terminal, sirine meraung. Sayup-sayup, tapi mendekat.
Jantung Bram berhenti berdetak sesaat. Polisi. Mereka pasti melacaknya ke terminal. Logika itu menghantamnya lebih keras daripada ketakutan irasionalnya terhadap bus rongsokan ini. Ia adalah buronan. Ia membawa uang negara. Jika tertangkap, hidupnya tamat.
Bus ini adalah satu-satunya sekoci di tengah lautan badai.
"Berangkat sekarang?" tanya Bram, mendesak. Kakinya mulai bergerak, mengkhianati instingnya demi logika bertahan hidup.
Jaka tidak mengangguk. Ia hanya memutar tubuhnya, memberi jalan. Gerakannya mengundang, tapi juga mengancam. Seolah berkata: Masuklah, dan serahkan sisanya.
Bram melihat ke dalam bus. Gelap. Hanya ada lampu pijar redup berwarna kuning sakit-sakitan yang berkedip di langit-langit kabin. Ia melihat beberapa kepala menyembul dari balik sandaran kursi. Penumpang lain.
Ada orang lain di sana. Fakta itu memberi sedikit kenyamanan palsu. Jika ada orang lain, berarti ini bus sungguhan. Mungkin bus antarkota ilegal, atau bus cadangan yang dipaksakan jalan demi setoran. Peduli setan. Yang penting bergerak.
"Tunggu," kata Bram pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan kakinya yang berat. "Ini cuma bus tua. Jangan jadi penakut."
Ia meraba saku celananya, memastikan pisau lipat kecilnya masih ada di sana. Besi dingin itu memberinya sedikit rasa berdaya. Ia menarik napas panjang, menghirup udara malam yang basah bercampur aroma aneh dari dalam bus, lalu membuangnya kasar.
Dengan tas berisi uang haram menempel erat di dada, Bram melangkah maju. Menuju mulut besi yang menganga itu.
Langkah pertama menapaki tangga bus terasa ganjil. Logam pijakan itu tidak berbunyi klontang seperti besi biasa. Bunyinya gedebuk tumpul, seperti menginjak kayu basah yang dilapisi seng.
Dingin di dalam kabin jauh lebih menusuk daripada udara malam di luar. Ini bukan dingin AC. Ini dingin yang diam. Hening. Seperti udara yang terperangkap di dalam gua bawah tanah selama berabad-abad.
Bram berdiri di samping Jaka. Kondektur itu menjulang tinggi, baunya apek, seperti pakaian yang disimpan di lemari lembab terlalu lama.
"Tiket," pinta Jaka. Tangannya terulur. Kuku-kukunya hitam, panjang, dan kotor.
Bram merogoh saku, mengeluarkan lembaran sepuluh ribuan. "Sampai Solo."
Jaka tidak mengambil uang itu segera. Matanya yang mati menatap lembaran merah bergambar Kartini itu seolah benda asing yang tak berharga. Namun, akhirnya tangannya menyambar uang itu dengan gerakan secepat kilat. Kasar.
Sebagai gantinya, ia menyerahkan secarik kertas tebal ke telapak tangan Bram.
Bram menerimanya. Keningnya berkerut. Tekstur tiket ini aneh. Bukan kertas buram tipis seperti tiket bus biasanya. Ini tebal, agak berminyak, dan... hangat? Permukaannya memiliki pori-pori halus. Bram menekan rasa mual yang tiba-tiba naik ke tenggorokan. Ia tidak ingin memikirkan terbuat dari apa tiket itu. Ia memasukkannya asal-asalan ke saku jaket.
Ia berjalan menyusuri lorong sempit di antara kursi-kursi.
Lantai bus dilapisi karpet merah tua yang sudah botak dan lengket. Setiap langkah kakinya seperti diredam.
Ia melihat penumpang lain.
Di baris ketiga sebelah kiri, seorang wanita muda duduk memeluk buntalan kain jarik. Siti. Wajahnya pucat pasi, tanpa darah, kontras dengan kebaya lusuh berwarna hijau lumut yang ia kenakan. Ia menunduk, menggumamkan sesuatu pada buntalan itu.
"Sshhh... tidur ya, Le... tidur..."
Suaranya lirih, tapi di keheningan bus yang tidak wajar ini, suara itu terdengar jelas di telinga Bram. Buntalan itu diam. Tidak bergerak. Tidak bernapas.
Di baris agak belakang, seorang pria paruh baya dengan setelan jas safari yang kekecilan duduk gelisah. Darma. Keringat sebesar biji jagung mengalir di pelipisnya meski udara sedingin es. Ia terus menerus mengetuk-ngetukkan jari ke kaca jendela yang gelap, matanya terpaku pada jam tangan emas di pergelangan tangannya.
"Telat... telat... mereka bakal nagih..." gumamnya berulang-ulang, matanya melotot tapi tidak fokus.
Bram memilih kursi di deretan tengah, sisi kanan. Jauh dari mereka berdua. Kursinya terbuat dari vinil merah yang sudah pecah-pecah. Busanya menyembul keluar seperti daging dari luka yang menganga.
Saat ia mendudukkan pantatnya, ia merasakan kursi itu mendesah. Bukan suara per, tapi suara udara yang keluar dari paru-paru yang terhimpit.
Bram bergidik. Ia meletakkan tas uangnya di pangkuan, memeluknya seperti pelampung. Ia menatap ke depan, ke arah kursi pengemudi.
Pak Tua duduk di sana. Diam tak bergerak. Topi pet-nya menutupi seluruh wajah bagian atas. Hanya terlihat rahang yang tirus dan sebatang kretek yang menyala di bibirnya. Asapnya mengepul tebal, tidak menyebar, tapi menggumpal di sekitar kepalanya seperti awan badai pribadi.
Tidak ada suara mesin dinyalakan.
Tiba-tiba, pintu bus tertutup.
BUM.
Suaranya final. Seperti pintu makam yang digeser menutup.
Bus mulai bergerak. Tidak ada sentakan. Laju Sanjaya meluncur begitu saja.
Bram menoleh ke jendela, ingin melihat terminal untuk terakhir kalinya. Ingin melihat apakah polisi benar-benar ada di sana.
Tapi yang ia lihat membuatnya membeku.
Di luar kaca jendela, Terminal Terboyo sudah lenyap. Tidak ada lampu neon. Tidak ada aspal basah. Tidak ada spanduk Repelita.
Hanya ada kabut.
Kabut abu-abu pekat yang berputar-putar, menempel pada kaca seperti wajah-wajah hantu yang ingin masuk. Dunia di luar sana telah dihapus. Ditelan mentah-mentah.
Bram ingin berteriak, ingin berdiri dan bertanya apa yang terjadi. Tapi suaranya terkunci di tenggorokan. Tubuhnya berat, seolah gravitasi di dalam bus ini dua kali lipat lebih kuat dari bumi.
Dari spion tengah yang retak, ia melihat pantulan mata Pak Tua. Di balik bayangan topi itu, sepasang mata merah menyala menatap lurus ke arahnya melalui cermin.
Bus Laju Sanjaya telah berangkat. Dan Bram sadar, dengan kengerian yang meremukkan tulang, bahwa ia tidak sedang menuju kampung halaman.