Antara Kucing, Kripto, dan Cinta Bab 3 Meminjamkan Uang
3/30
Bab 3

Bab 3 Meminjamkan Uang

Uyan selalu percaya bahwa niat baik, jika dilakukan cukup cepat, akan berubah menjadi kebenaran. Ia percaya itu sejak lama, jauh sebelum kripto, jauh sebelum Terra Luna rungkad sampai ke akar-akarnya, yang kemudian ia sematkan nama kripto itu kepada dua putri kecilnya, sayangnya.

Ia percaya sebelum grafik hijau, sebelum meme kucing memenuhi layar ponselnya. Ia percaya sejak ia meminjamkan catatan kuliah pada teman yang tidak pernah mengembalikannya. Sejak ia membayarkan kopi untuk orang-orang yang lupa dompet. Sejak ia meminjamkan uang seratus ribu saja kepada kawannya. Sejak ia berkata iya lebih sering daripada seharusnya.

Hari itu, kepercayaan itu kembali mengunjunginya dalam bentuk pesan singkat.

Arif mengirimnya lewat WhatsApp, tanpa basa-basi, tanpa emoji.

Yan, kapan cairnya? Aku benar-benar kepepet.

Hari itu Arif masuk shift sore.

Uyan membaca pesan itu di meja kerjanya. Laporan keuangan bulan berjalan terbuka di layar komputer, angka-angka rapi berbaris seperti pasukan yang menunggu perintah. Ia menatapnya lama, lalu kembali ke ponsel.

Ia tahu seharusnya ia menolak. Ia tahu aturan perusahaan jelas. Ia tahu meminjamkan uang perusahaan bukan bagian dari empati, tapi pelanggaran. Tapi ia juga tahu bagaimana rasanya ketika semua pintu terasa tertutup dan hanya satu orang yang bisa membuka sedikit celah.

Ia mengetik balasan, menghapusnya, mengetik lagi.

Asal bayar tepat waktu.

Balasan datang cepat. Terlalu cepat untuk sebuah keputusan yang seharusnya dipikirkan. Jumlahnya tidak kecil, tapi juga tidak cukup besar untuk langsung terasa sebagai bencana. Jumlah yang berada di wilayah abu-abu—cukup untuk dianggap kesalahan, tapi sering dianggap bisa “diatur nanti”.

Uyan bersandar di kursinya. Ia memikirkan grafik kripto yang semalam turun, lalu naik lagi pagi ini. Ia memikirkan bagaimana uang bisa bergerak, berpindah, kembali. Ia memikirkan kata sementara dengan keyakinan yang terlalu besar.

“Cuma sebentar,” katanya pada dirinya sendiri, pelan. Seperti meyakinkan kucing agar tidak kabur.

Di luar ruangan, suara mesin fotokopi berdengung. Kantor berjalan seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda bahwa hari ini akan dicatat sebagai awal dari sesuatu yang buruk.

Uyan berdiri, berjalan ke ruang arsip, membuka laci besi yang jarang diperiksa siapa pun. Ia melakukan semuanya dengan tenang, seperti orang yang sudah memutuskan jauh sebelum bergerak. Tangannya tidak gemetar. Yang gemetar hanya keyakinannya, itu pun sebentar.

Ia mencatat transaksi itu dengan keterangan yang rapi. Ia menambahkan tanggal pengembalian. Ia bahkan menyimpan tangkapan layar percakapan dengan Arif, seolah bukti digital bisa menggantikan izin yang tidak pernah ada.

Sore harinya, Arif menepuk bahunya. “Aku utang nyawa, Yan,” katanya.

Uyan tersenyum. Ia merasa ringan. Perasaan itu mirip dengan sensasi ketika grafik naik tiba-tiba—lega, cepat, dan tidak bertahan lama.

Di rumah, Dewi bercerita tentang tetangga yang anaknya masuk rumah sakit. Luna bertanya kenapa uang sekolah harus dibayar tiap bulan. Terra murung karena COD-nya di-cancel. Uyan mendengarkan semuanya dengan sisa perhatian yang tersisa.

Malam itu, grafik kripto naik sedikit. Uyan menatapnya lama. Ia merasa dunia seperti sedang membalas kebaikannya. Ia tidak sadar bahwa dunia jarang bekerja seperti itu.

Beberapa hari kemudian, pesan dari Arif berubah nada. Tidak lagi cepat.

Masih diusahain, Yan.

Uyan membaca pesan itu sambil berdiri di pantry kantor. Kopinya dingin. Ia mengangguk sendiri, meski tidak ada yang melihat. Ia masih percaya. Ia selalu percaya terlalu lama.

Laporan keuangan bulan berjalan mulai terasa berbeda di layar komputernya. Angka-angka yang dulu jinak kini seperti menatap balik. Ia menghindari beberapa kolom. Ia berkata pada dirinya sendiri bahwa semuanya akan beres begitu uang itu kembali.

Di luar jendela kantor, hujan turun. Bandung kembali abu-abu. Seekor kucing kampung berwarna oren melintas di parkiran, tubuhnya basah, langkahnya cepat. Ia berhenti sejenak di bawah mobil, lalu menghilang.

Uyan merasa ada sesuatu yang bergerak di dadanya—perasaan yang tidak ia kenali, tapi terlalu akrab untuk diabaikan. Seperti firasat yang belum berbentuk kata.

Sore itu, atasan memanggilnya untuk rapat kecil.

Bukan rapat resmi dengan proyektor dan notulen, melainkan pertemuan singkat di ruang kaca yang biasanya dipakai untuk menerima tamu penting. Kali ini tidak ada tamu. Hanya dua kursi, meja rendah, dan suara AC yang terlalu rajin bekerja. Di luar, langit Bandung berwarna abu-abu, seperti kertas yang sudah terlalu sering dihapus.

Ada audit internal, kata atasannya. Suaranya pelan, nyaris minta maaf. Perusahaan sedang diperiksa lebih ketat. Distribusi alat kesehatan tidak lagi seaman dulu. Tender-tender besar mulai ditunda. Rumah sakit menunggak pembayaran. Stok menumpuk lebih lama di gudang. Angka-angka tidak jatuh, tapi menolak naik.

“Ada pertanyaan soal aliran dana,” lanjutnya, sambil menyodorkan beberapa lembar kertas. Tangannya sedikit bergetar. Bukan marah—lelah.

Uyan menjawab seperlunya. Ia menyebut prosedur. Menyebut tanggal. Menyebut angka yang memang tercatat. Ia tidak bohong, tapi juga tidak membuka semua pintu. Ada bagian yang ia sisakan sebagai ruang bernapas, seolah dengan tidak mengucapkannya, masalah itu bisa tetap menjadi potensi, bukan fakta.

Atasannya mengangguk. Berkali-kali. Terlalu sering untuk sekadar formalitas.

“Kamu tahu,” katanya kemudian, menatap meja, bukan Uyan, “ini perusahaan kecil. Kita hidup dari kepercayaan. Dari hubungan lama.”

Ia berhenti sebentar. Menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Matanya berkaca, tapi ia cepat menunduk, seperti orang yang malu pada emosinya sendiri.

“Saya bukan marah,” katanya. “Saya cuma… sedih.”

Sedih karena kondisi sedang berat. Sedih karena ia tahu semua orang di ruangan itu hanya berusaha bertahan. Sedih karena ia tidak punya banyak pilihan selain berharap semua baik-baik saja.

Uyan mengangguk. Ia ingin mengatakan sesuatu—permintaan maaf, mungkin. Atau janji. Tapi kata-kata itu terasa tidak punya nilai tukar.

Rapat selesai tanpa keputusan. Tanpa ancaman. Tanpa hukuman.

Hanya kesepakatan diam-diam bahwa ada sesuatu yang mulai retak, dan semua orang memilih berjalan pelan agar suara itu tidak terdengar terlalu jelas.

Uyan duduk di luar ruangan sendirian. Ponselnya bergetar. Grafik bergerak naik sedikit, seolah mengejek.

Ia tidak membuka layar. Untuk pertama kalinya, ia membiarkannya gelap.

Ia pulang dengan perasaan seperti membawa sesuatu yang terlalu rapuh di dalam tas. Seekor kucing kampung oren tidur di atas kap mobil yang masih hangat. Kucing itu tidak bergerak ketika motorm Uyan lewat. Ia tampak percaya bahwa dunia akan membiarkannya beristirahat. Uyan berharap bisa seperti itu.

Malam itu, Dewi bertanya lagi, “Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?”

Uyan menggeleng. “Nggak.”

Jawaban itu terasa ringan di mulutnya, tapi berat di dadanya.

Ia membuka ponsel. Grafik bergerak pelan. Meme kucing itu masih tersenyum, seolah tidak ada yang berubah.

Uyan mulai curiga bahwa senyum itu bukan tanda harapan, melainkan kesabaran.

Kesabaran menunggu seseorang jatuh cukup dalam.