Mendadak Kawin Pertemuan Tak Terduga
2/30
Bab 2

Pertemuan Tak Terduga

Tiga hari sebelum syuting di mulai

“Selamat pagi, Tuan.”

Bisma bergeming. Suara dengkuran halus masih terdengar jelas. Bisma masih terlelap dalam tidurnya.

“Tuan, ada ibu Nia ingin bertemu dengan Tuan.”

“Sudahlah, biar aku yang akan membangunkannya,” ucap Nia sambil memberi isyarat agar asisten rumah tangga itu mundur.

Nia mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan meletakkannya tepat didepan wajah Bisma.

Nia menggoncangkan tubuh Bisma sambil berteriak tepat di telinganya, “Bisma, awas ada kecoak!!”

Spontan Bisma membuka matanya dan melihat kecoa itu tepat di depan matanya. Dia langsung bangun dan meloncat dari tempat tidurnya.

Bisma berteriak kuat sambil berlari menjauhi tempat tidurnya.

“Mbak Nia, ada kecoaa!!” teriaknya lagi.

Nia berdiri di sisi lain tempat tidur sambil bersedekap dan melihat ke arah Bisma dengan tersenyum. Beberapa menit kemudian Bisma sadar akan sesuatu.

“Mbak Nia ngapain disini?” tanya Bisma bingung.

“Seorang artis papan atas berumur 30 tahun. Penampilan maskulin dan macho. Digilai seluruh wanita se-Indonesia. Meloncat dari tempat tidur sambil berteriak karena sebuah kecoa plastik.” Nia menggelengkan kepalanya.

Bisma mengusap wajahnya, “Mbak Nia ngapain disini subuh-subuh?”

“Subuh? Ini sudah jam 12 siang Bisma. Kamu pasti mabuk lagi semalam kan?” Nia menghela napasnya, “Mbak tunggu dibawah.”

Nia berjalan menuju pintu keluar kamar Bisma dan segera keluar dari ruangan itu diikuti oleh asisten rumah tangga Bisma dari belakang.

Bisma mengacak rambutnya kemudian segera beranjak ke kamar mandi. Bisa bahaya jika dia kembali tidur dan membiarkan Nia menunggunya lebih lama lagi.

Nia turun dari tangga menuju lantai satu. Aji, suami Nia melihat istrinya turun dengan wajah yang kusut.

“Pasti kamu marahi lagi dia,” ucap Aji begitu Nia duduk di depannya.

“Dia masih tidur dan kamar itu bau minuman keras. Dia pasti pulang pagi dan mabuk-mabukkan lagi. Entah mau sampai kapan dia begitu.” Nia menghelakan napas.

“Dia sepertinya masih belum bisa menerima kepergian Om Suryo.”

“Aku tahu dan aku mengerti kesedihan dan trauma yang dialaminya. Kepergian ayahnya yang sangat di cintainya, perselingkuhan ibunya saat dia masih kecil dulu. Tapi mau sampai kapan dia begini terus. Umurnya terus bertambah dan kita juga bertambah tua, mas. Aku takut mati dan meninggalkannya sendirian.”

“Aku paham. Kamu sangat menyayanginya seperti anakmu sendiri sejak dulu. Bersabarlah sedikit lagi. Dia pasti berubah.”

“Bahkan perusahaan besar milik mendiang ayahnya pun tidak diurusnya. Bagaimana..”

“Dia sudah datang,” ucap Aji memutuskan kalimat Nia.

Nia dan Aji melihat Bisma turun dari tangga dan berjalan ke arah mereka.

“Pagi Mas, Mbak,” sapa Bisma kemudian duduk di sofa dekat Nia. Dia sudah lebih segar dari yang dilihat Nia di kamar tadi.

“Pagi Bisma,” jawab Aji sambil tersenyum.

Bisma terkekeh melihat wajah kecut Nia yang melihatnya dengan tatapan tajam.

“Ini naskah film baru. Baca dan pelajari.” Nia memberikan tumpukan kertas tebal pada Bisma, “Mbak sudah menghubungimu puluhan kali sejak semalam tapi tak ada jawaban sama sekali. Sekarang mbak sudah tahu alasannya,” lanjut Nia sambil terus menatap tajam ke arah Bisma

Bisma mengambil naskah itu dari Nia dan membukanya asal kemudian membacanya sekilas.

“Ini novel yang menang dari kerjasama mbak dengan penerbit itu ya?” tanya Bisma.

“Iya. Mbak mau kamu yang jadi pemeran utama prianya. Sore ini jam 3 kamu datang ke kantor mbak untuk pembacaan naskah dengan pemeran yang lainnya. Masih ada waktu tiga jam untuk bersiap-siap.” Nia menghelakan napasnya sambil melihat jam yang ada di dinding ruangan besar itu.

“Baik mbak.” Bisma menganggukkan kepalanya dan meletakkan naskahnya ke atas meja.

“Penulis novelnya juga akan hadir untuk memberikan pemahaman karakter dan alur dari ceritanya.”

“Tumben mbak mau ngambil cerita dari ajang perlombaan seperti ini,” tanya Bisma.

“Mbak pengen lihat aja tulisan dari penulis-penulis baru yang ternyata bagus-bagus loh. Mbak aja kemarin sempat bingung mau pilih yang mana. Mereka itu cerdas-cerdas dalam membuat plot dan menghidupkan karakter,” jawab Nia dengan menggebu-gebu.

Bisma menganggukkan kepalanya sambil menutup mulutnya yang tiba-tiba menguap.

Asisten rumah tangga Bisma datang dengan membawakan secangkir kopi yang biasa di minum Bisma. Asisten rumah tangga Bisma sudah puluhan tahun bekerja di keluarga Bisma. Dia sudah sangat hapal dengan kesukaan dan kebiasaan tuan rumah tempat dia bekerja.

Bisma meraih cangkir kopinya dan menyeruputnya pelan beberapa kali karena panas. Aroma kopi favoritnya itu mampu menyihir rasa kantuk dan bosan karena serangan mendadak dari Nia pagi itu.

“Kita syutingnya gak di Jakarta dan harus menginap dua bulan penuh di tempat syuting.”

“Apa mbak?!”

Bisma terkejut dan terbatuk beberapa kali karena tersedak. Dengan cepat diletakkannya cangkir kopi yang ada di tangannya ke atas meja.

Tepat pukul tiga sore, Bisma telah sampai di kantor Nia untuk pembacaan naskah.

“Sore, Mbak Nia.” sapa Bisma begitu Nia masuk ke ruangan rapat kantor yang didirikan Nia sejak masih muda dulu.

Nia merupakan produser senior yang sudah hampir 20 tahun aktif memproduksi berbagai film layar lebar. Tidak salah jika banyak artis dan pengusaha penerbitan novel antusias bekerjasama dengannya.

“Sore, Bisma,” balas Nia sambil duduk di kursi utama di ruangan rapat.

Nia menghelakan napas berat kemudian meletakkan beberapa buku dan naskah film yang akan digarapnya. Nia mengurut pelan pelipisnya sambil memejamkan matanya.

“Kenapa mbak? Ada masalah?”

“Sarah tidak bisa datang. Barusan manajernya menghubungi mbak dan mengatakan bahwa Sarah jatuh dari tangga rumahnya. Kakinya cedera lumayan parah jadi tidak memungkinkan untuk ikut syuting. Sarah adalah pemegang karakter utama perempuan dalam film yang akan kita jalankan, lawan main kamu, Bisma,” jelas Nia sambil terus menekan pelipis kepalanya agar rasa sakit di kepalanya sedkit berkurang.

“Mbak kan bisa mencari pengganti Sarah dengan aktris yang lain.”

“Casting lagi? Semua pemain disini ikut casting kecuali kamu. Dalam satu hari kemarin mbak dan casting director menyeleksi semua pemainnya. Mbak suka dengan wajah dan aura Sarah. Dia benar-benar cocok untuk peran ini.”

“Aktris lain pasti ada juga memiliki wajah dan aura yang cocok. Coba aja mbak cari dulu. Kita kan sedang tidak buru-buru,” jawab Bisma santai.

“Mau tidak mau ya harus begitu. Entah apakah bisa mbak menemukan seseorang yang mbak rasa cocok dan klop untuk peran ini selain Sarah.”

Para artis yang sudah didapuk untuk bergabung dalam project film ini pun mulai berdatangan.

“Pagi, Mbak Nia,” ucap Nadine yang baru saja masuk ke dalam ruangan.

“Pagi, Nadine.” Nia tersenyum manis pada Nadine.

“Apa aku terlambat?” Nadine melihat ruangan yang sudah ramai dengan artis yang menjadi pemain di film ini.

“No, Nadine. Tidak ada yang terlambat. Kalian semua datang hampir bersamaan,” jawab Nia sambil tersenyum.

“Hai Bisma.” Nadine menyapa Bisma sambil tersenyum dan duduk bersebrangan dengan Bisma.

“Hai,” jawab Bisma tersenyum sekilas setelah itu kembali berwajah datar.

“Sepertinya hanya tinggal sang penulis yang belum datang. Kita tunggu sebentar lagi ya.” Nia melihat ke arah jam yang ada di pergelangan tangannya.

Semua orang dalam ruangan itu sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang sedang membaca skrip, ada yang berbagi pesan teks di ponsel dan ada juga yang sedang scrolling media sosial.

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Seorang wanita dengan setelan blazer berwarna pink pastel masuk ke dalam.

“Selamat sore. Maaf saya terlambat,” ucap Sandra sambil menundukkan kepalanya sekejap untuk menghormati orang yang sedang ada di depannya sambil bernapas terengah-engah karena harus berlari menuju ke ruangan rapat itu.