OPERASI PALIMPSEST BAB I — RED ALERT
1/4
Bab 1

BAB I — RED ALERT

Hujan turun sudah sejak dua malam lalu. Ajeg. Tidak deras, tetapi rutin. Nyaris tanpa jeda. Seolah di setiap lapisan udara yang rapat, ada tekanan yang menunggu untuk membuka jalur airnya sendiri. Data kebencanaan dari Aceh, mengabarkan bahwa ribuan warga terkena dampak banjir dan tanah longsor akibat hujan berkepanjangan.

Di sepuluh dari dua puluh tiga kabupaten di ujung Sumatra, hingga Jabodetabek, dilumat banjir. Pada beberapa wilayah, status darurat bencana telah diumumkan. Puluhan ribu orang mengungsi dan rumah tumbang akibat tanah yang tidak lagi bisa menahan air.

Lunara berdiri di depan cermin besar di dalam kosnya di Jakarta Selatan. Ia merasa beruntung, teman-temannya mengenal dirinya sebagai wartawan di majalah gaya hidup. Media yang bertabur wangi parfum dan seolah berjarak dari problema sosial. Konflik yang terlihat dari luar: hanya persaingan jumlah kepemilikan tas Hérmes. Sesungguhnya, ia agen intelijen di sebuah lembaga pemerintah.

Lunara tahu betul, tugasnya bukan membantah hujan, bukan juga sebagai wartawan pembela pemerintah. Ia hanya memegang teguh cintanya pada negaranya. Salah satunya dengan “membaca momentum’: bahwa banjir bukan sekadar bencana hidrometeorologi. Melainkan juga ruang yang bisa dimanipulasi oleh narasi, yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum hujan turun.

Ia berjalan menuju lemari kecil penuh gadget. Perangkat intelijen yang pernah dipakainya, untuk memetakan alur opini politik di berbagai kota besar Indonesia. Ia memilih salah satu modul analisis lanjutan.

Di layar, grafik lini masa bergerak seperti denyut nadi. Ia menarik satu garis data menjauh: komunikasi media yang muncul setelah peringatan badai, sebelum banjir besar terjadi. Ia menarik garis lain: komentar publik yang memuncak sebelum penyebab ilmiah cuaca sempat dipublikasikan. Dan, kemudian ia melihatnya!

Koalisi saraf di otaknya berorkestrasi, seolah merayakan demokrasi naluri dan kerja otak. Korteks prefrontal, terutama dorsolateral prefrontal cortex (DLPFC) di otaknya, menimbang fakta. Seperti umumnya agen intelijen, wilayah DLPFC di otak Lunara, memisahkan kebetulan dari sinyal, saat membaca pola. Bagian Anterior cingulate cortex (ACC)-nya mengendus kecurigaan. Lunara bisa merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan data cuaca semata.

Ada ritme, di balik berita. Sebuah pola yang terasa terlalu … terpola. Sedangkan bagian parietal di otaknya mengukur ingatan-ingatan yang disajikan “perpustakaan” hipokampus. Lalu amigdalanya memperingatkan: ada yang berbahaya, ada yang mendesak.

“Ada yang salah,” gumam Lunara kepada dirinya sendiri. Yang “salah” bagi Lunara, bukan soal curah hujan. Melainkan pola respons (terutama negatif) yang muncul di linimasa. Tidak hanya di Jakarta, Sumatera Utara. Tapi dari sekujur (netizen) di Indonesia

Fokusnya terputus, ketika layar ponsel menyala, Fendy, sahabatnya sekaligus design grafis di kantornya, mengundangnya untuk video call.

“Berapa korban sekarang, Lun?” tanya Fendy, dari seberang.

Lunara mengusap rambut hijau ikalnya yang masih sedikit basah oleh sisa gerimis dari luar. “Ribuan,” jawabnya singkat.

“Aku tahu,” jawab Fendy. “Bagaimana nggak ribuan. Ada tragedi dari Sumatera sampai Jabodetabek. Malah ada yang terdampak banjir hingga setinggi empat meter, gara-gara hujan deras meluapkan air sungai di Bogor,’ lanjut Fendy.

“Tapi kayaknya ada yang salah, Fen,” kata Lunara.

“Apa tuh? Respons publik yang mengkritik pemerintah?” tanya Fendy. “Lun, ini cara paling cepat dari rakyat, untuk mengisi ruang kekosongan narasi. Rakyat nggak salah bila mengkritik pemerintah yang lalai, dan mungkin juga lemot. Mulai dari urusan mitigasi sampai komunikasi, semua seolah berantakan.”

Lunara hampir tersenyum. “Fen,” kata Lunara pelan. “Faktanya memang banjir di Sumatera menimpa hampir sepuluh kabupaten. Rumah rusak, ratusan ribu orang mengungsi, jutaan nyawa terpengaruh. Pun di Jabodetabek. Tapi aku merasa, ada hal lain. Sesuatu yang menunggu reaksi kita, Fen.”

“Ah, otak konspirasimu itu Lunara, tolonglah diajak berdamai dengan realita. Data Resilience Development Initiative Lembaga Kebencanaan bilang, hujan ini bagian dari bencana hidrometeorologi berkepanjangan. Dan pemerintah, seperti biasa, telat mengantisipasi,” sanggah Fendy.

“Fen, yang kupertanyakan: mengapa respons publik terlalu cepat menuju satu kesimpulan?” bantah Lunara. “Kamu amati deh, Fen, narasi yang beredar. Sekarang bukan lagi bicara tentang bagaimana membantu, tetapi tentang “siapa yang harus disalahkan”.” kata Lunara sambil menelusuri jejak digital yang masuk ke dalam linimasa sejak pagi.

“Lihat nih, Fen. Kata-kata “pembalakan hutan ilegal” bergaung cepat di komentar dan postingan. Sebagian akun mengklaim tanpa memeriksa sumber, bahwa deforestasi massif di Sumatera menyebabkan banjir ini.

Semua tampaknya sepakat bahwa ini adalah bukti pemerintah dipengaruhi oligarki industri yang rakus belaka. Kamu khan tahu aku. Manalah aku tak punya kepentingan untuk membela oligarki? Kenal pun enggak, sama mereka. Tapi jangan lupa, ini Symptom, bukan Penyebab Eksklusif.”

Fendy terdiam. “Jadi apa yang kamu lihat di sana?”

“Ada rahasia lain,” jawab Lunara sambil memasukkan beberapa data pola komunikasi ke dalam software analitiknya. “Polanya terlalu konsisten untuk dianggap spontan.” Ia menunjuk peta digital mereka. “Lihat ini. Kemarahan publik pada berita banjir di Sumatera, muncul dalam waktu yang persis sama di Jabodetabek sore ini.”

“Respons mereka itu bukan kebetulan, maksudmu?,” tanya Fendy.

“Iya. Itu berarti bukan hanya reaksi lokal terhadap bencana lokal. Ini seolah sudah siap diunggah bersamaan,” jawab Lunara.

“Apa kamu serius ini… semacam operasi persepsi?”

“Bukan semacam. Ini memang Operasi persepsi,” jawab Lunara. “Aku yakin ini sudah dibentuk.”

Ia menghela napas. Bahasanya yang halus menjadi tajam. “Red Alert sudah berbunyi, Fendy. Respons ini bukan sekadar kritik biasa.”

“Kalau itu benar…” Fendy mulai setuju, tetapi masih terlihat ragu. “…maka tugas kita untuk meyakinkan pembaca, baru dimulai?”

Setelah sambungan video call usai, Lunara berdiri. Matanya tidak lagi melihat hujan, tetapi pola di balik setiap tetesnya. Di benaknya, Red Alert bukan sekadar kebencanaan. Ia adalah indikator transformasi sosial—ketika tragedi alam dipakai untuk menggiring opini publik tanpa jeda berpikir.

Suatu pola ritme yang meresahkan: Bukan puncak kemarahan yang paling cepat mencapai garis tertinggi. Melainkan kecepatan narasi yang dipandu waktu. Apakah pola statistik ini kebetulan?