Resonansi di Jalan Buntu Spion Kanan, Spion Kiri
4/30
Bab 4

Spion Kanan, Spion Kiri

Langit Jakarta tidak pernah memberi peringatan yang sopan. Satu menit matahari masih menyengat tengkuk, menit berikutnya awan hitam bergulung-gulung dari arah selatan seperti ombak raksasa yang siap menelan gedung-gedung pencakar langit.

Banyu baru saja keluar dari kawasan perumahan elite Pondok Indah ketika tetes air pertama jatuh menghantam kaca helmnya. Tik.

Satu tetes itu diikuti oleh ribuan lainnya dalam hitungan detik. Hujan turun bukan dengan malu-malu, tapi dengan kemarahan. Aspal yang tadinya abu-abu panas seketika berubah menjadi hitam legam dan licin. Aroma tanah basah dan bensin menguap ke udara, menciptakan bau khas hujan ibu kota yang menyesakkan.

Bagi pengendara motor biasa, hujan adalah ketidaknyamanan. Mereka harus berhenti, memakai jas hujan, lalu melaju lagi dengan hati-hati karena jalan licin.

Bagi Banyu, hujan adalah musuh bebuyutan.

Hujan merampas dua pertahanan utamanya: Penglihatan dan Getaran.

Air yang deras membuat kaca spionnya—mata ketiganya—menjadi buram penuh titik air. Visor helmnya mengembun dari dalam karena napasnya sendiri, dan basah dari luar. Dunia visualnya yang tajam menjadi kabur, seperti lukisan cat air yang luntur.

Lebih parah lagi, hantaman air ke aspal dan genangan air meredam getaran mesin kendaraan lain. Jika biasanya Banyu bisa merasakan "gemuruh" truk besar yang mendekat dari getaran di stang motornya, hujan menghapus sinyal halus itu.

Banyu menepi di bawah halte bus yang sudah penuh sesak oleh pemotor lain. Ia tidak membuka jaket abu-abunya. Di balik jaket itu, menempel di dadanya, ada amplop cokelat berisi dokumen tender Pak Hendra. Dokumen "keramat" yang tidak boleh basah, tidak boleh lecek. Banyu mendekapnya erat, melindunginya seperti melindungi bayi. Ia lebih rela kulitnya sendiri yang basah kuyup daripada kertas itu yang rusak.

Ia mengeluarkan jas hujan ponco plastiknya yang sudah ada beberapa tambalan selotip. Ia memakainya dengan cepat, memastikan bagian depan jas hujan menutupi dadanya dua lapis.

"Aman," batinnya. "Dokumen aman."

Ia kembali memacu motornya ke jalanan yang kini berubah menjadi sungai kecil.

Lalu lintas Jakarta saat hujan adalah definisi dari kekacauan. Mobil-mobil mewah menyalakan lampu hazard yang menyilaukan mata, motor-motor kecil menyelip di antara celah sempit demi menghindari cipratan air. Semua orang ingin cepat sampai, semua orang egois.

Banyu melaju di lajur kiri. Kecepatannya hanya 40 km/jam. Matanya bekerja tiga kali lipat lebih keras.

Spion kanan. Buram. Banyu mengusapnya dengan sarung tangan yang basah. Terlihat bayangan lampu mobil sedan.

Spion kiri. Kosong. Tapi ada genangan air dalam.

Depan. Lampu rem angkot menyala merah.

Setiap sepuluh detik, Banyu melakukan ritualnya: mengusap visor helm dengan punggung tangan, lalu mengusap spion. Ia tidak boleh lengah. Di dunia tanpa suara ini, jika ia tidak melihat bahaya, maka bahaya itu akan membunuhnya.

Jalan Arteri Pondok Indah sedang padat-padatnya. Di depan Banyu, sebuah truk kontainer hijau besar melaju lambat. Asap hitam mengepul dari knalpotnya yang tinggi, menyatu dengan kabut hujan. Banyu menjaga jarak aman. Ia tahu aturan mainnya: Jangan pernah berada di titik buta (blind spot) truk.

Namun, bahaya tidak selalu datang dari apa yang kita hindari di depan. Bahaya seringkali datang dari apa yang mengejar kita di belakang.

Tanpa Banyu dengar, di belakangnya—berjarak sekitar lima puluh meter—sebuah truk pengangkut tanah (dump truck) sedang melaju kencang. Sopirnya panik. Rem anginnya bermasalah. Klakson kapal truk itu meraung-raung: TOOOOOT! TOOOOOT!

Mobil-mobil di jalur kanan dan kiri truk itu menyingkir panik. Motor-motor yang mendengar raungan kematian itu segera melipir naik ke trotoar atau membanting setir menjauh. Suara klakson itu begitu keras hingga menembus derasnya suara hujan.

Tapi Banyu tidak mendengarnya.

Ia berada tepat di jalur tengah truk itu. Ia sedang fokus melihat lubang di aspal di depannya. Telinga kanannya hanya menangkap suara wushhh angin dan hujan yang konstan. Tidak ada peringatan audio. Tidak ada teriakan "Awas!".

Jarak truk semakin dekat. Empat puluh meter. Tiga puluh meter. Truk itu tidak bisa berhenti.

Banyu merasakan sesuatu yang aneh.

Bukan suara. Tapi cahaya.

Di tengah guyuran hujan, sebuah kilatan lampu yang sangat terang memantul di genangan air di depannya, berkedip cepat dan agresif. Bayangan itu datang dari belakang.

Insting purbanya menyala. Banyu langsung melirik spion kanan.

Di sana, di dalam cermin kecil yang basah itu, ia melihatnya.

Sepasang lampu depan yang besar dan menyilaukan, berkedip-kedip agresif (lampu dim). Bayangan truk itu membesar dengan kecepatan yang tidak wajar.

Otak Banyu memproses informasi visual itu dalam sepersekian milidetik: Lampu dim cepat + bayangan membesar + naluri bahaya = TABRAKAN.

Banyu tidak menoleh ke belakang untuk memastikan. Menoleh berarti membuang waktu satu detik, dan satu detik adalah nyawa.

Ia tidak punya waktu untuk melihat spion kiri untuk cek kosong atau tidak. Ia harus berjudi.

Dengan satu tarikan napas, Banyu membanting stang motornya ke kiri sekuat tenaga, tepat ke arah celah sempit antara trotoar dan tiang listrik.

WUSSSHHH!

Angin kencang menghantam sisi kanan tubuhnya. Truk tanah itu meluncur melewatinya dengan kecepatan tinggi, hanya berjarak beberapa sentimeter dari spion kanannya. Ban raksasa truk itu mencipratkan air lumpur setinggi satu meter, memandikan Banyu dan motornya.

Truk itu terus melaju, menyerempet spion sebuah mobil Innova di depannya hingga patah, sebelum akhirnya berhasil berhenti setelah menabrak pembatas jalan beton lima puluh meter di depan.

Banyu menghentikan motornya di atas trotoar. Kakinya turun menjejak tanah.

Lututnya gemetar hebat. Gemetar itu bukan dari getaran mesin lagi, tapi dari adrenalin yang membanjiri darahnya. Napasnya memburu, menciptakan kabut tebal di dalam helmnya.

Ia membuka kaca helm. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya yang Tuli seolah bisa mendengar detaknya sendiri. Dug. Dug. Dug.

Ia menoleh ke kanan. Jejak ban truk itu tercetak jelas di aspal basah, tepat di tempat motornya berada dua detik yang lalu. Jika ia terlambat melihat kilatan lampu di spion itu... jika ia tidak peka pada getaran stang itu...

Fajar akan menjadi yatim hari ini.

Banyu memejamkan mata sejenak, mengucap syukur tanpa suara. Orang-orang di sekitar kejadian mulai berkerumun. Beberapa pengendara motor lain menatap Banyu dengan wajah pucat.

Seorang bapak-bapak pengendara NMAX di sebelahnya membuka kaca helm dan berteriak—yang Banyu baca gerak bibirnya:

"Gila lu, Bang! Selamat! Itu klakson kenceng banget lu nggak denger?!"

Banyu hanya tersenyum tipis, senyum yang getir. Ia menunjuk stiker di belakang helmnya dengan jempol.

Si bapak NMAX melihat stiker itu: Saya Tunarungu. Matanya membelalak. Ia mengacungkan jempol tinggi-tinggi, kali ini dengan tatapan hormat, bukan kasihan. "Hebat! Reflek lu gila!"

Tapi Banyu tidak peduli dengan pujian itu. Pikirannya langsung tertuju pada satu hal.

Tangannya meraba dadanya. Meraba balik jaket abu-abunya.

Amplop cokelat itu. Dokumen Pak Hendra.

Ia membuka sedikit resleting jaketnya, mengintip ke dalam. Plastik pelindungnya basah terkena rembesan air hujan di leher, tapi amplop di dalamnya masih kering. Mulus. Tidak terlipat.

Banyu menghela napas lega. "Aman," bisiknya lagi.

Ironis. Nyawanya baru saja hampir melayang, tubuhnya gemetar ketakutan, tapi hal pertama yang ia periksa adalah selembar kertas milik orang kaya yang tadi menghinanya. Kertas itu lebih berharga daripada tulangnya sendiri saat ini, karena kertas itu bernilai Rp 45.000—harga token listrik untuk menerangi malam Fajar nanti.

Banyu tidak berlama-lama. Ia tahu ia tidak bisa ikut campur dalam urusan kecelakaan truk itu. Ia tidak akan bisa menjadi saksi mata yang baik bagi polisi karena ia tidak bisa mendengar kronologi suara. Ia hanya akan mempersulit diri.

Ia kembali menyalakan mesin motornya yang sempat mati.

Hujan mulai reda, menyisakan gerimis halus.

Perjalanan ke gedung perkantoran di Sudirman tinggal lima kilometer lagi. Banyu melajukan motornya dengan lebih pelan. Setiap kali melihat truk di spion, traumanya menyengat sedikit, membuatnya menepi terlalu jauh ke kiri.

Setengah jam kemudian, ia sampai di lobi gedung pencakar langit tujuan. Gedung itu megah, lantainya marmer mengkilap, AC-nya terasa menyembur dingin bahkan sampai ke area drop-off.

Banyu memarkir motornya di area khusus kurir. Ia melepas helm, melepas jas hujan ponconya yang kotor oleh lumpur cipratan truk tadi. Jaket abu-abunya lembap di bagian bahu, tapi bagian dada tetap kering.

Ia berjalan menuju meja resepsionis. Petugas resepsionis wanita yang cantik dan wangi menatapnya dengan sedikit kening berkerut—mungkin karena sepatu Banyu yang berlumpur mengotori lantai marmer mereka.

Banyu tidak peduli. Ia mengeluarkan amplop cokelat itu. Kering. Sempurna.

Ia meletakkannya di meja marmer itu.

"Paket untuk Ibu Sarah, Lantai 25. Dari Pak Hendra," ucap Banyu. Suaranya serak.

Resepsionis itu menerima paketnya, memeriksa kondisinya. "Oke. Mulus," gumam wanita itu. Ia menandatangani tanda terima digital di ponsel Banyu.

Orderan Selesai.

Saldo Bertambah: Rp 45.000.

Angka itu masuk ke dompet aplikasinya. Banyu menatap angka itu lama sekali.

Empat puluh lima ribu rupiah.

Nilai itu dibayar dengan risiko digilas truk seberat sepuluh ton. Dibayar dengan hinaan di pos satpam. Dibayar dengan dinginnya hujan Jakarta.

Tapi saat Banyu membayangkan wajah Fajar yang tersenyum karena nanti malam lampu kamarnya menyala terang, dan wajah Dina yang tidak perlu lagi cemas menghitung receh... rasanya impas.

Atau setidaknya, Banyu memaksakan diri untuk merasa impas.

Ia berjalan keluar dari gedung dingin itu, kembali ke parkiran yang panas dan pengap. Perutnya berbunyi. Ia belum makan siang. Uang sepuluh ribu pemberian Pak Hendra tadi pagi masih utuh di saku celananya, basah kuyup karena hujan menembus celana jeans-nya.

Banyu mengambil uang lecek itu. Ia menatapnya.

Tadi pagi ia ingin membuangnya karena harga diri. Sekarang, setelah hampir mati, ia sadar harga diri tidak bisa dimakan.

Ia berjalan ke gerobak ketoprak di pinggir jalan.

"Bang, satu. Pedas," isyaratnya dengan jari.

Banyu makan dengan lahap di pinggir trotoar, ditemani deru knalpot dan sisa gerimis. Ia masih hidup. Ia masih punya pekerjaan. Dan untuk hari ini, itu sudah cukup.

Matanya kembali melirik spion motornya yang terparkir di sebelahnya. Spion itu retak sedikit di bagian ujungnya, mungkin terkena kerikil saat truk tadi lewat. Retakan kecil di kaca, sama seperti retakan-retakan kecil di hatinya yang ia tambal setiap hari dengan kesabaran.

"Besok spionnya harus diganti," batin Banyu. "Mata nggak boleh cacat. Cukup telinga saja."

Banyu menghabiskan suapan terakhirnya, lalu bersiap kembali ke jalanan. Pertarungan hari ini belum selesai. Matahari mulai condong ke barat, dan token listrik belum terbeli.