MABUK DOLAR DI KAPAL PESIAR VANCOUVER, CANADA
2/11
Bab 2

VANCOUVER, CANADA

Kanada merupakan tempat transit sebelum bergabung dengan kapal pesiar Rotterdam. Dari tempat ini pula nantinya saya harus kembali ke Tanah Air. Begitulah seperti tertulis di lembar tiket pesawat yang saya pegang. Bagi awak kapal yang bekerja ke luar negeri, selain paspor dan buku pelaut, harus tersedia pula tiket pergi-pulang, agar ada jaminan bahwa yang bersangkutan akan kembali ke Indonesia, bukan menjadi gelandangan di luar negeri.

Sebelum keluar dari bandara, saya dan rombongan menjalani pemeriksaan imigrasi dari petugas bandara, lengkap dengan anjing pelacak K-9 yang tinggi besar itu. Agak tegang juga, ketika K-9 yang tinggi besar itu melewati barisan sambil mengendus-endus barang bawaan. Tentu saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari barang bawaan yang saya bawa. Isinya tak lebih dari baju, celana panjang, kolor yang sudah tidak baru lagi, obat-obatan ringan, serta foto kekasih. Maklum, masih pendatang baru yang belum punya modal buat beli barang sebanyak itu. Anjing itu pun berlalu tanpa permisi, lebih dari itu: tidak menggonggong. Andai dia menggonggong setelah mengendus tas bawaan saya, tentu masalah bisa jadi panjang.

Keluar dari bandara saya coba hirup udara Kanada dalam-dalam melalui hidung, masuk ke dalam paru-paru. Ada aroma khas yang belum pernah saya temukan ketika di Indonesia. Inikah yang di sebut luar negeri? Tepat di pelataran parkir bandara saya sempatkan ambil foto untuk kenang-kenangan. Sebagai bukti pendaratan pertama di luar negeri.

Dengan naik mobil jemputan saya dan rombongan segera meluncur ke hotel yang terletak di Dursmuir St. tempat kami menginap, sebelum besoknya bergabung dengan kapal pesiar Rotterdam. Jalanan di sepanjang rute ke arah hotel tak terlalu padat dengan lalu lintas kendaraan. Jalan raya pertama yang dilalui adalah Granville St. yang terbagi dalam beberapa avenue atau blok. Sempat saya lihat bus listrik, atau lebih dikenal dengan sebutan trem, melintas di kanan kiri jalan Granville. Sempat pula saya lihat ada seseorang berdiri di tepi jalan sambil mengacungkan ibu jari ke arah kota. Pemandangan seperti itu sering saya jumpai di film-film Hollywood ketika seseorang bermaksud mendapatkan tumpangan gratis dari mobil seseorang yang sedang melintas. Dari Granville, mobil berbelok kanan ke arah Seymour St. sebelum sampai di Dursmuir St. tempat saya menginap di sebuah hotel kamar 411.

Vancouver masih menyisakan sore, ketika habis mandi saya keluar jalan-jalan menyusuri pusat kota. Hawa sejuk genit mencubit kulit. Anehnya saya tidak merasa terlalu kedinginan dengan hawa seperti itu. Mungkin sudah terbiasa dengan hawa pegunungan Tawangmangu, kampung halaman saya yang sejuk segar itu. Bersama beberapa teman, saya susuri kota sambil berfoto di beberapa tempat yang kiranya bisa menunjukkan pada dunia bahwa ”we were here.” Biasalah, godaan narsis khas Indonesia, berfoto dengan latar belakang obyek yang menunjukkan di mana kita berada. Beda dengan perilaku bangsa barat yang lebih suka mengambil foto langsung kepada obyek yang menarik menurut mereka, tanpa harus memaksakan diri mereka hadir dalam bidang obyek foto. Orang Indonesia lebih senang memotret diri sendiri, sementara kamera milik bule lebih suka membidik objek yang menarik.

Di samping kiri jalan, terlihat deretan alat parkir otomatis yang akan mencatat secara otomatis berapa lama sebuah mobil parkir di situ. Caranya adalah dengan memasukkan coin dan mesin penghitung akan berputar secara otomatis. Lewat waktu yang ditentukan, mesin akan mengeluarkan bunyi sebagai tanda waktu telah lewat. Jika lewat waktu yang telah ditentukan dan mobil yang diparkir masih saja ada di situ, maka dapat segera dipastikan mobil patroli akan menderek mobil dan membawanya ke kantor polisi. Maklum, kota moderen tidak menyisakan ruang luas dan lebar buat berlama-lama seorang diri. Waktu adalah uang.

Malam sebelum pulang kembali ke hotel buat istirahat, saya sempatkan makan malam di Mc Donald, beli big mac, french fries dan coke. Dengan bekal uang US $ 20 yang dibagikan untuk makan malam, saya kenyangkan perut dengan makanan junk food yang murah meriah itu. Sekali lagi terhirup aroma luar negeri ketika french fries dan coke masuk ke tenggorokan, menyisakan gelembung segar yang keluar lewat hidung, lepas ke udara. Di tengah-tengah pengunjung lain yang sedang duduk bergerombol melingkari meja makan, saya merasa lengkap sebagai makhluk yang sangat beruntung karena saya kini benarbenar sedang berada di luar negeri, duduk dan makan di tengah-tengah orang bule, berambut pirang, bermata biru, dan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris! Dan sebentar lagi mimpi keliling dunia dengan kapal pesiar akan segera terwujud, dan Kanada menjadi saksi pertama petualangan saya keliling dunia.

Inilah mimpi yang sejak dulu saya simpan di dada. Mimpi untuk berlayar menjelajah dunia telah saya pendam semenjak kecil. Gambaran dunia, di luar kenyataan keseharian desa, seakan tak pernah hilang dari ingatan. Saya masih ingat betul ketika masih duduk di bangku SD dulu, ibu selalu memberi tebakan nama ibukota negaranegara di dunia melalui peta lusuh peninggalan kakek. Dengan penuh percaya diri, saya selalu bisa menjawab bangga, ”Stockholm, Paris, Tokyo, London, Ankara, Roma, Bangkok!”

Penjelajahan dunia tidak hanya berhenti pada peta lusuh yang hampir setiap hari saya bolak-balik sambil membayangkan berada di satu titik hamparan dunia. Medium visual itu saya lengkapi dengan medium audio yang juga saya manfaatkan untuk penjelajahan dunia. Sebagai teman menyantap sarapan pagi sebelum berangkat sekolah, saya sempatkan memutar radio gelombang SW 1. Di sana saya selalu menunggu-nunggu suara penyiar radio dari saluran Voice of America yang disampaikan dalam bahasa Indonesia. Suara penyiar yang sedang mengudara lumayan tertangkap jelas di telinga, meskipun saya menyadari ada jarak yang maha panjang yang memisahkan negara Amerika dan Indonesia. Kini mimpi itu menjadi nyata, dan saya ingin sekali berbagi cerita serunya perjalanan saya keliling dunia dengan Anda. Saya menyebutnya sebagai jalan-jalan gratis, dan masih ditambah dengan uang saku yang saya peroleh dari bekerja. Nikmat bukan? Rasanya sangat pas kalau saya katakan, ”leisure while working,” liburan dan bersenang-senang sambil bekerja.

Namun demikian, kesempatan jalan-jalan sebagai kru kapal pesiar hanya berlangsung dalam waktu yang pendek. Anyway, saya harus tetap bisa menikmatinya. Kesempatan jalan-jalan itu saya peroleh pada saat mendapatkan free lunch. Ini adalah semacam hadiah yang digilir seminggu sekali buat para kru setelah breakfast hingga menjelang dinner. Jadi, waktu luang buat jalan-jalan adalah antara jam 10.00 pagi hingga 16.00 sore, atau praktis berkisar antara 5 sampai 6 jam.

Ada saatnya kesempatan jalan-jalan ini didapat secara paket, artinya memang bisa sehari semalam atau bahkan berhari-hari bisa dinikmati jika suatu kondisi tertentu terjadi. Tapi kondisi ini jarang-jarang terjadi. Dan saya termasuk orang yang paling beruntung di dunia, karena peristiwa yang jarang-jarang itu menimpa saya dengan sukarela. Hal ini pernah saya alami ketika saya harus pindah ke kapal pesiar lain. Dengan kepindahan itu artinya saya harus menempuh perjalanan udara dan darat, mensyaratkan saya untuk menginap di hotel sambil menunggu kedatangan kapal pesiar berikutnya. Di situlah kesempatan jalan-jalan gratis bisa saya nikmati dengan leluasa.

Petualangan pertama berikutnya adalah jelajah Alaska ...