Malam berlalu seperti mimpi buruk yang enggan pergi. Bagi Arunika, setiap kali ia memejamkan mata, yang ia lihat bukanlah kegelapan yang menenangkan, melainkan sepasang mata elang milik pria bernama Barra. Ia terbangun di sepertiga malam dengan keringat dingin membasahi keningnya. Kamarnya yang biasanya terasa seperti surga kecil penuh buku dan aroma terapi, mendadak terasa sempit dan mencekam.
Arunika bersujud di atas sajadah birunya, cukup lama. Ia mengadu pada Sang Pemilik Nyawa tentang rasa takut yang tak masuk akal ini. Ia merasa seolah- kemeja hitam yang berlumuran darah itu masih membayang di sudut matanya.
"Ya Allah, jika ia adalah ujian, kuatkan aku. Jika ia adalah jiwa yang tersesat, tunjukkanlah jalan pulang-Mu," bisiknya lirih di antara isak tangis yang tertahan.
Keesokan harinya, Arunika mencoba kembali ke rutinitas. Ia duduk di kantor penerbitan "Gema Wahyu", berusaha memfokuskan pikirannya pada naskah baru yang harus segera naik cetak. Namun, jemarinya di atas keyboard membeku. Kalimat-kalimat puitis yang biasanya mengalir deras kini buntu, tersumbat oleh memori tentang suara bariton yang menyebut dirinya sendiri iblis.
"Nika, kamu melamun lagi?" suara Fatimah, editor sekaligus sahabat terdekatnya, memecah lamunan. "Kopi ini sudah dingin, sama seperti tatapanmu sejak pagi. Ada apa? Apa acara bedah buku kemarin terlalu melelahkan?"
Arunika memaksakan senyum di balik cadarnya. "Hanya sedikit kurang istirahat, Fat. Mungkin efek ganti cuaca."
"Atau efek ada penggemar rahasia yang terlalu agresif?" Fatimah menggoda, namun matanya menunjukkan kekhawatiran yang tulus. "Kamu tahu kan, kalau ada apa-apa, kamu harus bicara."
Arunika hanya mengangguk. Ia tidak mungkin menyeret Fatimah ke dalam masalah ini. Ini bukan sekadar tentang penggemar yang fanatik, ini tentang dunia gelap yang tak sengaja ia intip pintunya.
Sore harinya, saat mentari mulai condong ke barat dan langit Jakarta berubah warna menjadi jingga keunguan, Arunika melangkah keluar dari gedung kantor. Ia berencana pulang dengan transportasi online, namun langkahnya terhenti di trotoar.
Sebuah mobil sedan hitam mengkilap dengan kaca yang sangat gelap berhenti tepat di depannya. Pintu belakang terbuka, dan seorang pria berbadan tegap dengan jas hitam rapi keluar. Ia tidak terlihat seperti polisi, lebih seperti algojo yang menyamar menjadi pengawal pribadi.
"Nona Arunika Cahaya?" pria itu bertanya dengan nada yang tidak menerima penolakan.
"Ya, ada apa?" Arunika mengeratkan pegangan pada tasnya. Jantungnya mulai berpacu liar.
"Tuan saya ingin bertemu. Beliau tidak suka menunggu, dan beliau sangat tidak suka ditolak."
"Siapa tuanmu? Saya punya banyak urusan," Arunika mencoba berani, namun ia menyadari ada dua pria lain yang memperhatikan dari dalam mobil.
"Tuan Barra. Beliau ingin mendiskusikan... 'hidayah' yang Nona sebutkan semalam."
Darah Arunika rasanya mendadak beku. Pria itu mencarinya. Pria itu tahu di mana ia bekerja. Tanpa menunggu jawaban, pria itu membukakan pintu mobil. Secara implisit, itu adalah sebuah perintah, bukan tawaran. Arunika tahu, melarikan diri hanya akan membuat predator itu semakin haus. Dengan bismillah, ia masuk ke dalam mobil.
Perjalanan itu sunyi. Arunika dibawa ke sebuah gedung apartemen mewah di jantung kota yang dikenal sebagai hunian para konglomerat dan pejabat. Lift membawanya langsung ke penthouse di lantai paling atas.
Begitu pintu lift terbuka, Arunika disuguhi pemandangan yang kontras. Ruangan itu sangat luas, didominasi warna hitam, abu-abu, dan kaca. Tidak ada hiasan dinding religi, tidak ada kehangatan. Hanya kemewahan yang terasa dingin dan mati. Di ujung ruangan, menghadap dinding kaca raksasa yang menampilkan kemacetan Jakarta, Barra duduk di sebuah kursi kulit besar.
Ia tidak lagi mengenakan kemeja berdarah. Kali ini ia memakai kaos polo hitam yang memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Di atas meja marmer di depannya, tergeletak novel milik Arunika yang semalam terkena bercak darah. Noda itu sudah mengering, meninggalkan bekas kecokelatan yang mengerikan di atas sampul putih yang suci.
"Duduk," ucap Barra tanpa menoleh. Suaranya rendah, bergema di ruangan yang sepi itu.
Arunika duduk di sofa seberangnya, menjaga jarak sejauh mungkin. Ia bisa mencium aroma tembakau mahal dan parfum maskulin yang kuat.
Barra memutar kursinya, menatap Arunika dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilat kemarahan, tapi juga rasa penasaran yang besar di sana. "Aku sudah tahu segalanya tentangmu dalam waktu dua jam. Arunika Cahaya. Penulis yang dianggap 'suci' oleh pembacanya. Ayahmu seorang guru mengaji yang jujur, ibumu sudah tiada. Hidupmu monoton, membosankan, dan penuh dengan kata 'amin'."
Arunika menarik napas panjang. "Kenapa Tuan repot-repot menyelidiki orang 'membosankan' sepertiku?"
Barra berdiri, berjalan perlahan mendekati Arunika. Setiap langkah bot kulitnya di atas lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan Arunika. Ia berhenti tepat di depan meja, mengambil novel itu, dan melemparnya ke pangkuan Arunika.
"Aku tidak percaya pada orang suci, Nika. Di duniaku, orang yang terlalu banyak bicara soal Tuhan biasanya adalah orang yang paling lihai menyembunyikan bangkai," Barra membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran sofa, mengurung Arunika dalam ruang geraknya. "Katakan padaku, siapa yang mengirimmu? Sindikat Utara? Atau kau bekerja untuk kepolisian?"
"Aku tidak bekerja untuk siapa pun kecuali nuraniku sendiri!" suara Arunika meninggi, ia tidak mau kalah oleh intimidasi itu. "Tuan mungkin terbiasa melihat orang sebagai alat atau ancaman, tapi aku melihat Tuan sebagai manusia yang sedang tersesat dan ketakutan."
Barra tertawa hambar. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari cadar Arunika. "Aku? Ketakutan? Aku adalah ketakutan itu sendiri bagi musuh-musuhku."
"Orang yang benar-benar kuat tidak perlu menyakiti orang yang sudah lemah untuk membuktikannya," balas Arunika tajam. "Pria di gang itu... dia memohon ampun padamu."
Mendengar kata 'ampun', rahang Barra mengeras. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah tasbih kayu hitam yang talinya sudah hampir putus. Ia melempar benda itu ke meja dengan kasar.
"Itu milik Anwar, pria semalam. Dia pencuri yang berkedok agama. Dia membawa benda ini ke mana-mana, memutar butirannya setiap hari, tapi dia tetap merampok uang anak buahku untuk berjudi," Barra menatap tasbih itu dengan penuh kebencian. "Benda ini, doamu, dan cadarmu itu... semuanya hanya omong kosong. Dunia ini digerakkan oleh uang dan kekuasaan, bukan oleh sujud di atas kain."
Arunika mengambil tasbih itu dengan tangan gemetar. Ia merasa perih melihat bagaimana benda ibadah itu dijadikan alasan bagi Barra untuk membenci Tuhan.
"Tasbih ini tidak salah, Tuan. Manusia bisa saja berkhianat pada Tuhannya, tapi itu bukan alasan bagi Tuan untuk merasa lebih tinggi dari pencipta Tuan," Arunika berdiri, menentang tatapan mata elang itu. "Tuan membenci Tuhan karena Tuan takut jika Tuhan itu benar-benar ada, maka Tuan harus mempertanggungjawabkan semua noda darah di tangan Tuan."
Suasana ruangan itu mendadak mendingin. Barra mencengkeram lengan Arunika, tidak cukup kuat untuk mematahkan, tapi cukup untuk menunjukkan dominasinya. Matanya berkilat penuh amarah yang tertahan.
"Jangan pernah mencoba menceramahiku lagi di rumahku sendiri, Nona Penulis. Aku membawamu ke sini bukan untuk mendengar khotbah, tapi untuk memperingatkanmu. Mulai detik ini, hidupmu adalah milikku. Setiap langkahmu, setiap kata yang kau tulis, akan kuawasi."
Arunika tidak memalingkan wajah. Keberanian yang ia sendiri tidak tahu dari mana asalnya kini meluap. Ia merasa ada tanggung jawab moral untuk menghadapi pria ini.
"Kau bisa mengawasi ragaku, Tuan Barra. Kau bisa mengancam nyawaku seolah kau adalah pemiliknya," Arunika berkata dengan nada yang sangat tenang namun menusuk.
Ia melangkah maju satu tindak, membuat Barra justru sedikit terkesiap oleh keberanian gadis kecil ini. Arunika menatap langsung ke dalam manik mata Barra yang gelap, seolah sedang mencari sisa-sisa kemanusiaan di sana.
"Silakan awasi aku sepuasmu. Tapi jangan salahkan aku jika suatu saat nanti, bukan polisi yang menangkapmu, melainkan doa-doaku yang akan meruntuhkan kesombonganmu dan memaksamu bersujud di hadapan-Nya."
Barra terdiam. Cengkeramannya di lengan Arunika perlahan mengendur. Ada sesuatu dalam suara Arunika, sebuah keyakinan yang begitu absolut, yang membuat jantung Barra berdenyut dengan cara yang tidak ia sukai. Ia segera membuang muka, menunjuk pintu keluar dengan kasar.
"Keluar. Sebelum aku berubah pikiran dan membuatmu kehilangan kemampuan untuk bicara selamanya."
Arunika berbalik tanpa kata, membawa tasbih rusak itu di genggamannya. Ia berjalan menuju lift dengan punggung tegak, sementara Barra berdiri diam di tepi dinding kaca, memperhatikan bayangan Arunika yang menjauh, merasa bahwa untuk pertama kalinya dalam hidup, ada seseorang yang berani menantang kegelapannya dengan cahaya.