Ruangan penuh dengan kerabat dan teman yang menyaksikan momen penting itu terasa hening seakan udara pun ikut menahan napas.
Lily melangkah perlahan. Gaun pengantin putih berpotongan sederhana namun elegan terulur mengikuti setiap gerakan kakinya. Setiap hentakan kecil tumit sepatunya beradu dengan lantai marmer, menciptakan gema halus yang seirama dengan degup jantungnya. Jari-jarinya yang gemetar menggenggam erat buket mawar putih di tangan, seolah mencari pegangan agar tidak runtuh di hadapan semua orang.
Di depan sana, Agam berdiri tegak dalam balutan setelan putih bersih. Bahunya lebar, wajahnya tenang, namun tatapan matanya mengandung sesuatu yang sulit dijelaskan—tajam, penuh kendali.
Saat Lily tiba di hadapannya, ia menunduk hormat, tangan mungilnya terulur dengan ragu.
Agung menyerahkan tangan Lily ke Agam. Agam menyambutnya. Genggaman itu hangat, mantap, tapi tidak menekan. Kirana terkejut dengan sensasi tersebut—seolah genggaman itu mencoba menyalurkan keyakinan padanya. Setiap kata bergulir seperti palu yang mengetuk hatinya.
Semua tamu menahan napas, menyaksikan momen itu. Mereka tahu, pernikahan ini bukanlah pernikahan biasa. Namun begitu doa terakhir terucap, ikatan itu resmi—di mata agama, hukum, dan keluarga. Lily sadar, mulai saat itu, hidupnya telah berubah selamanya. Agam, pria yang dulu hanya ia anggap paman dari mantan tunangannya, kini adalah suaminya.
Usai acara, Agam membawa Lily ke rumah utama keluarga Bamantara. Kamar pengantin di lantai empat membuat Lily sempat terbelalak. Ruangan itu begitu luas, dengan jendela besar tertutup tirai tebal berwarna krem. Sebuah ranjang king size berlapis seprai putih bersih berdiri megah di tengah ruangan, sementara wangi kayu cendana samar menguar, menenangkan sekaligus asing di hidung Lily.
Pandangan Lily jatuh pada koper pink miliknya di sisi ranjang. Ia segera menghampiri, ingin berganti pakaian. Sejak subuh ia duduk berjam-jam di depan cermin rias, dan meski tidak ada resepsi, tubuhnya terasa remuk dan kepalanya berat.
“Om, bukankah aku membawa dua koper? Yang satunya di mana?” tanyanya penuh selidik, matanya menatap Agam yang sedang duduk di kursi kerja, menyalakan MacBook dengan tenang.
Agam menoleh sekilas. “Di rumah kita. Besok aku bawa kamu pindah ke sana.”
Lily hampir mengangguk, namun kalimat berikutnya membuat darahnya naik ke wajah.
“Kalau kamu lebih suka tinggal di sini… mungkin supaya bisa bertemu Rafael setiap hari?”
Wajah Lily menegang. Tatapannya langsung berubah sinis.
“Kita baru menikah, Om. Jangan memicu pertengkaran,” balasnya ketus. Ia berbalik dan melangkah cepat ke kamar mandi, menutup pintu keras hingga bunyi kayu bergema.
Di tempat lain, di rumah keluarga Agung, tawa sinis pecah. Emma duduk bersebelahan dengan ibunya, Iris, wajah mereka dipenuhi kepuasan yang sulit disembunyikan.
“Sekarang semua harta Ayah bisa Mama gunakan sesuka hati Mama,” ucap Emma dengan mata berbinar.
“Tentu saja,” jawab Iris sambil menyeruput teh hangat, senyum licik tersungging di bibirnya. “Tak ada lagi yang akan menghalangi. Agung begitu mencintaiku. Aku akan minta sertifikat rumah segera diganti atas namaku.”
Emma menyeringai puas. “Jangan cuma itu, Ma. Kita juga butuh saham. Saham Lily tidak boleh lebih banyak daripada kita.”
Iris menepuk tangan putrinya penuh keyakinan. “Itu sudah pasti. Dan kamu, cepat nikahi Rafael sebelum perutmu terlihat besar. Kita harus amankan semuanya sebelum terlambat.”
Emma mengangguk mantap. “Mama tenang saja. Tante Barbara sudah berpihak ke kita. Tak ada yang perlu ditakutkan.”
Tawa keduanya meledak, nyaring dan penuh keserakahan, seakan dunia kini berada dalam genggaman tangan mereka.
Lily keluar dari kamar mandi dengan kaos tipis dan celana pendek. Rambut hitamnya masih basah, tetes-tetes air menuruni bahunya. Ia berjalan melewati Agam yang masih sibuk menatap layar laptop, wajahnya serius diterangi cahaya biru dari layar.
Rasa kantuk yang berat membuat Lily langsung naik ke ranjang, menarik selimut hingga ke dada.
“Kamu nggak mau makan dulu?” tanya Agam tanpa menoleh.
“Aku ngantuk,” jawab Lily singkat, matanya sudah setengah terpejam.
“Aku mandi dulu. Setelah itu kita makan bersama,” ujar Agam, lalu bangkit menuju kamar mandi.
Lily tak peduli lagi. Tubuhnya menyerah pada lelah. Namun sebelum matanya benar-benar terpejam, suara ketukan pintu terdengar pelan, lalu semakin keras.
Dengan enggan, Lily bangkit. Ia menyeret langkah ke arah pintu, membuka dengan setengah hati. Namun wajah Rafael yang muncul di balik pintu membuat darahnya berdesir penuh muak.
Refleks, Lily hendak menutup pintu, tapi Rafael lebih cepat. Tangan kekarnya menahan, lalu mendorong keras hingga pintu terbuka lebar.
“Apa lagi maumu?” tanya Lily tajam, nadanya penuh kebencian.
Rafael tidak menjawab. Wajahnya gelap, matanya membara. Dalam sekejap ia menerjang, mendorong Lily hingga tubuhnya terhempas ke ranjang. Nafas Lily tercekat, tubuhnya gemetar hebat.
“Kamu milikku, Lily!” desis Rafael, menindih tubuhnya, memaksa mencium bibirnya dengan kasar.
Lily memberontak, kedua tangannya mendorong dada Rafael sekuat tenaga, tapi tubuh pria itu jauh lebih besar. Putus asa, ia menggigit bibir Rafael keras-keras hingga darah mengalir.
“Argh!” Rafael terpekik, lalu menampar pipi Lily. Suara tamparan keras menggema di kamar, meninggalkan bekas merah menyala di pipinya. Kepala Lily berdenyut, pandangannya berkunang-kunang.
Namun di tengah kabut kesadarannya, ia masih bisa berteriak lirih, “Om! Tolong!”
Rafael murka. “Dasar perempuan sialan!” Ia kembali berusaha mencium Lily dengan paksa.
Tiba-tiba, tubuhnya tersentak kuat. Agam muncul dari kamar mandi dengan wajah merah padam. Tanpa kata, ia meraih Rafael, menyeretnya kasar dari atas tubuh Lily. Tinju bertubi-tubi menghantam wajah Rafael, keras dan penuh amarah, hingga lelaki itu terhuyung.
Rafael jatuh terkulai di lantai, darah mengalir dari bibirnya. Agam menyeretnya keluar kamar, lalu membanting pintu keras hingga bergetar dan menguncinya rapat. Nafasnya memburu, matanya liar penuh bara amarah yang belum padam.
Ketika ia berbalik, pandangannya jatuh pada Lily yang terbaring lemas di ranjang. Rambutnya berantakan, pipinya memerah bekas tamparan, mata gadis itu setengah terpejam.
“Lily… bangun, Sayang. Bangun!” Agam berlari, memeluk tubuh mungil itu erat ke dadanya. Suaranya bergetar, hampir pecah—seakan ketakutan kehilangan sesuatu yang baru saja resmi menjadi miliknya.