Telepon berdering tepat ketika Arga baru saja mematikan lampu kamar asramanya, hendak beristirahat. Ia mengambil ponselnya, lalu menjawab panggilan telepon tadi.
“Halo, Bu. Ada apa?”
Suara ibunya bergetar di seberang sana, seperti menahan sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan.
“Ga … pulanglah sekarang,” katanya pelan, dengan terisak.
Arga terdiam. Jantungnya memukul-mukul dada, firasat buruk merayap tanpa diminta. “Kenapa, Bu? Kok harus segera pulang?”
“Kakakmu, tadi pagi kecelakaan,” suara itu pecah, “awalnya kondisinya kritis, dan malam ini, nyawanya tak tertolong.”
“Apa?!”
Dunia Arga runtuh seketika. Lampu kamar yang gelap terasa semakin menelan dirinya. Segala suara di sekitar hilang, hanya napas ibunya yang tersengal dan gema satu kalimat mengerikan yang terus terputar di kepalanya.
Malam itu, tanpa benar-benar mengerti bagaimana caranya, Arga bergegas keluar dari asrama. Ia mengemas beberapa barang bawaan dan meletakkan di tas punggung. Setiap langkahnya terasa seperti menapaki bayangan terakhir seseorang yang tak akan pernah ia lihat lagi.
Ia berdiri halte, menunggu bus datang. Namun, tak jauh dari sana, tanpa sepengetahuannya, ada bayangan yang sedang mengintainya.
Beberapa menit kemudian, bus tujuan ke kota asal datang, ia segera naik, dan perjalanan pulang pun dimulai.
**
Sementara itu, di rumah sakit, Nabila yang baru saja menerima kenyataan bahwa penglihatannya tak berfungsi akibat kecelakaan tadi pagi bersama suaminya, kondisinya sangat memprihatinkan. Ia menjerit, meraba-raba sekitar, tangannya mencari sesuatu, seseorang yang tak mungkin bisa muncul lagi, yaitu Dirga. Namun, ia belum tahu kalau Dirga sebenarnya sudah tak bernyawa.
“Dirga! Kau Di mana? Aku mau ketemu kamu sekarang!” teriaknya dengan suara parau.
Mendengar suara dari anaknya, Tatik segera memeluk putrinya erat, berusaha menahan tubuh Nabila yang meronta. Air matanya jatuh, tapi ia tetap berusaha menenangkan. “Nak, tenanglah, jangan teriak-teriak begitu, suamimu akan ke sini nanti kok, tenang aja.”
Akan tetapi, semakin ditenangkan, semakin Nabila memberontak. Ketidakmampuannya melihat membuat rasa cemas dan putus asa semakin menjadi. Baginya, yang terpenting saat itu hanya satu, yaitu bertemu dengan suami terkasihnya. Ia tak tahu, bahwa lelaki yang terus ia sebut-sebut namanya itu, kini sudah terbaring di dalam tanah dan tak mungkin kembali lagi ke dunia.
Sementara itu, Fenny dan Tatik saling tatap.
“Kita harus bagaimana?” tanya Tatik.
Kedua wanita yang merupakan besan pun saling bertukar pikiran, mencari solusi bagaimana caranya agar Nabila bisa tenang. Sebab, saat itu, ia sudah menghabiskan obat penenang dalam jumlah banyak. Tak mungkin dokter memberikannya lagi karena akan over dosis.
Kini, belum ada solusi yang tepat. Perawat yang datang pun tak bisa melakukan apa-apa. Nabila terus berontak dan bersikukuh untuk bertemu suaminya apa pun yang terjadi. Rambutnya sudah acak-acakan dan kulit di wajahnya kemerahan, seakan ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya.
Beberapa orang yang mendengar keributan itu pun mengintip dari balik jendela, menjadikan hal itu tontonan gratis. Namun, Fenny dan Tatik merasa tak nyaman menjadi pusat perhatian, mereka pun menutup pintu dan jendela.
Suasana semakin kacau. Nabila masih meraung dan menjerit, tangannya meronta, tubuhnya bergetar tak terkendali seolah orang kesurupan meski kondisi tubuhnya masih terbaring. Selang infusnya sudah terlepas dari telapak tangannya karena gerakan kasar yang ia lakukan.
Perawat yang berada di sana tak bisa mengendalikan Nabila, ia berusaha menghubungi dokter untuk segera memeriksa kondisi Nabila, tapi dokter itu tak mengangkat teleponnya.
“Aku mau ketemu Dirga! Bawa aku ke Dirga sekarang! Jangan bohongi aku! Dia di kamar mana? Dirga tak mungkin luka parah!”
Tatik berusaha menahan tangis sambil memeluknya erat. “Sabar, Nak. Dirga pasti ke sini. Percayalah, dia sedang berjuang agar dirinya cepat pulih.”
Fenny ikut menenangkan, menggenggam tangan menantunya erat. “Kamu harus kuat, Nabila. Dirga nggak mau lihat kamu begini.”
Tatik berusaha menenangkan. Ia tahu, belum lama Nabila kehilangan sosok ayahnya yang meninggal karena penyakit dalam. Sekarang, Nabila kembali kehilangan Dirga yang baru saja jadi suami sah secara agama. Ia tahu, hatinya pasti terguncang hebat.
Akan tetapi, semua usaha terasa sia-sia, karena Nabila terus menolak, terus menjerit.
Sampai akhirnya, pintu terbuka. Suara pintu di ruangan itu pun berderit. Arga masuk dengan wajah letih, tapi penuh keteguhan. Perlahan, ia melangkah menuju ke ibunya.
“Bu, maaf, aku baru bisa datang.”
Akan tetapi, begitu suara langkahnya terdengar, Nabila mendadak terdiam. Tangisnya mereda, tubuhnya yang semula menggeliat liar kini perlahan tenang. Ia menoleh ke arah sumber suara itu, meski matanya masih gelap. “Dirga … Dirga? Itukah kamu?”
Fenny dan Tatik saling berpandangan, heran sekaligus lega. Entah kenapa, kehadiran Arga seolah menjadi penawar bagi kegelisahan Nabila.
Arga melangkah mendekat, menatap wajah kakak iparnya yang hancur oleh tangis. Ia belum tahu, nantinya wanita itu adalah awal dari beban amanah yang dititipkan kakaknya untuk menjaga perempuan yang kini rapuh di hadapannya.
Nabila yang buta itu merasakan kehadiran Arga yang auranya seperti Dirga entah apa yang ia rasakan saat itu.
Begitu Arga mendekat, Nabila yang tadinya masih tersedu langsung mendongak, wajahnya basah oleh air mata. Bibirnya bergetar, lalu suara lirih keluar di sela isaknya.
“Dirga …? Kamu ke mana saja?”
Arga tersentak. Ia refleks menoleh ke arah ibunya, dengan sorot mata penuh kebingungan. “Bu, aku ...,” bisik Arga sambil mengelus kepala belakangnya.
Sementara itu, Fenny hanya diam saja, ingin tahu, reaksi apa yang akan terjadi selanjutnya.
Arga yang bingung itu pun berusaha menjauh. Namun, Nabila tak membiarkan hal itu terjadi. Ia meraih tangan Arga dengan erat, seolah menemukan pegangan hidupnya kembali. “Kamu datang juga akhirnya. Aku tahu kamu nggak mungkin ninggalin aku. Suaramu, aroma tubuhmu, aku bisa merasakannya, ini kamu, Dirga .…”
Arga terdiam, hatinya seperti diremas. Ia ingin menjelaskan, tapi kata-katanya tercekat. Hingga pada akhirnya, genggaman tangan Nabila terlepas, ia melangkah keluar ruangan tersebut. Namun, Fenny dan Tatik segera menyusulnya. Fenny meraih tangan anaknya, tak membiarkan Arga menjauh.
Setelah itu, Fenny berkata setengah berbisik di telinga Arga. “Nak, jangan membantah, ikuti kata Ibu. Kalau kamu membenarkan perkataan Nabila, dia akan makin tenang, karena hanya kamu yang bisa meredakan lukanya sekarang.”
Arga memandang ibunya, matanya goyah. “Aku enggak bisa.” Arga berusaha menolak, tapi karena tadi melihat kondisi Nabila, ia pun merasa iba. Juga, setelah melihat pesona tubuh Nabila, kini Arga dalam kebimbangan. Di sisi lain, ia punya pacar yang baik dan setia di tempat kuliah. Namun, ia juga sebenarnya tergoda dengan istri milik kakaknya.
Fenny menatap dalam, penuh keyakinan bercampur kesedihan. “Ini satu-satunya cara, demi kebaikan Nabila.”
Arga menelan ludah, pikirannya berada di antara bingung dan bimbang. Sementara itu, Tatik juga turut bicara. “Arga, kami tahu ini salah, tapi demi Nabila, kumohon kamu mau.”
Permintaan tulus dari Tatik membuat hati Arga bergetar, dadanya sesak. Ia tahu, di momen itu, perannya bukan lagi sekadar adik yang berduka, melainkan seseorang yang harus menjadi penopang bagi perempuan yang tidak tahu bahwa suaminya sudah tiada. Namun, hatinya masih dalam posisi kebimbangan. Ia merasa akan terbebani karena Nabila yang buta, tapi di sisi lain, ia merasa kasihan dengannya.
“Arga, kami mohon padamu, Nak. Ini demi, Nabila, kakakmu dan keluarga.”
Arga menatap Nabila sebentar, menggeleng pelan. “Tapi, Bu. Aku ....”