Hai?
“Joyaa!”
Syifa kembali menggedor jendela kamar Zoya yang sedari tadi dipanggilnya. Sepertinya kalaupun terjadi gempa, Zoya yang sudah terlanjur tidur tidak akan bisa terbangun.
“Joy gue duluan, ya! Gue nggak mau telat cuma karena bangunin lo yang kek kebo!”
Sejak pukul setengah tujuh pagi Syifa sudah ada di depan kost-an sahabatnya. Dan pagi ini dia sudah menghabiskan 15 menitnya untuk membangunkan Zoya yang ketika tidur sudah seperti mati suri.
“Astaghfirullah, ni bocah kenapa nggak bangun-bangun, sih! Mana udah mau jam tujuh,” ucap Syifa gusar, sembari bolak-balik melihat penunjuk waktu di ponselnya.
“Gue tinggal aja kali, ya?” batin Syifa jengah
Karena sudah terlalu lama menunggu, Syifa memutuskan untuk berangkat lebih dulu. Dia tidak peduli jika nanti dia mendapat makian dari Zoya karena berangkat tanpanya dan tidak dapat contekan Matematika. Yang terpenting sekarang adalah dia tidak mau terlambat ke sekolah.
Memulai perjalanannya yang lumayan mulus karena tidak ada drama macet-macetan seperti biasa, Syifa hanya menghabiskan waktu 20 menit untuk sampai ke gerbang besar bertuliskan ”SMA Merah Putih”.
“Alhamdulillah, gerbang masih lebar.”
Ia memarkirkan motor matic kesayangannya. Lalu, berjalan santai menuju kelasnya yang ada di lantai dua. Beberapa sapaan kecil Syifa dapati dari teman dan adik kelasnya saat berada di lorong menuju kelas.
“Faa! Udah ngerjain tugas Matematika belum?” tanya Michie—teman yang duduk dibelakang bangkunya—begitu Ia masuk kedalam kelas. Syifa mendaratkan bokongnya di bangku. Membuka tasnya dan mengeluarkan buku tugas Matematikanya.
“Wah, lo mau kasih gue contekan, Fa?!” seru Michie kegirangan.
“Nih, cek sendiri,” ujar Syifa seraya memberikan bukunya cuma-Cuma. Buru-buru Michie merebut buku tulis itu dari tangan Syifa. Tapi apalah daya ketika Syifa kembali menjahilinya.
“Sialan, lo!” umpatnya sembari melempar kembali buku tugas itu ke tangan pemiliknya.
“Hahahaha, makan tuh tugas! Lagian lo aneh banget deh, nanyain tugas ke gue,” timpal Syifa puas melihat wajah masam Michie.
Gadis itu memainkan ponselnya selagi bel masuk belum berbunyi. Di sekolahnya memang tidak ada larangan membawa ponsel, asal tidak digunakan ketika jam pelajaran berlangsung.
Drrtt… drrtt…
Getaran disertai notifikasi di jendela ponsel membuat Syifa menarik sudut mulutnya setelah membaca nama orang yang mengiriminya chat. Buru-buru ia membuka aplikasi WhatsApp untuk menertawakannya.
Aneska Zoya Raveena:
“WOY! KOCAK, KURANG AJAR LO NINGGALIN GUE!”
Syifa Adnin Ivana:
“Gue udah bangunin lo, ya! Sampe serek nih, tenggorokan gue.”
Aneska Zoya Raveena:
“Pokoknya pulang sekolah lo traktir gue makan di cafe baru yang depan SMA Pelita!”
Syifa menggeleng tidak habis pikir dengan teman sebangkunya ini. Padahal dia yakin posisi Zoya saat ini masih berdesakan dengan penumpang angkot, dan masih sempat-sempatnya memalak virtual padanya.
Gadis itu mematikan data seluler ponselnya kemudian menyimpan dalam tas. Dan benar saja, tidak lama kemudian bel berbunyi dan semua siswa bersiap untuk memulai pelajaran jam pertama.
Kringg
Bel istirahat berbunyi. Dan dua jam pelajaran pagi hari itu sangat-sangat menguras otak. Guru Matematika yang super killer itu memberikan tugas tambahan kepada siswa-siswinya yang tidak mengerjakan tugas kemarin. Alhasil, nama Syifa Adnin Ivana pun turut dipanggil untuk mengerjakan tugas tambahan langsung di papan tulis.
“Astaga, otak gue ngebul, Fa!” sungut Michie yang pindah duduk di sampingnya karena Zoya tidak ada.
“Kebanyakan ngemil micin sih, lo, makannya lemot,” sahut Syifa santai sembari merapihkan peralat tulisnya.
“Halah, kayak lo pinter aja...,” Sarkas Michie sengit. Memang kenyataannya begitu. Syifa sering mendapatkan nilai bagus karena Zoya. Mereka saling pandang dengan tatapan sinis untuk beberapa saat, tetapi beberapa detik kemudia tawa mereka pecah menertawakan kebodohan masing-masing. Indahnya masa putih abu-abu.
Sekolah usai pukul setengah dua siang. Syifa sudah sampai dirumahnya sejak sepuluh menit yang lalu. Cewek itu merebahkan tubuhnya sejenak di kasur. Pukul tiga sore nanti, ia ada janji dengan sahabatnya untuk pergi ke toko buku mencari novel incaran mereka sejak lama. Ya, walaupun untuk membeli novel itu mereka rela tidak menggunakan uang jajan supaya bisa terkumpul untuk membeli novel.
“Kok gue tiba-tiba inget dia, ya?” Syifa menerawang langit-langit kamarnya. Bayang-bayang tentang masa lalunya saat bersama seseorang muncul seperti slide yang berganti-ganti dikepalanya.
“Ih, lupain-lupain, dia udah punya pacar kali!” serunya tersadar, mencoba menghapus rangkaian film hitam-putih itu.
Syifa bangun dari tempat tidur. Memilih baju yang akan dipakainya nanti karena ponselnya sudah bergetar sejak tadi. Ia yakin itu notifikasi spam dari Zoya.
Aneska Zoya Raveena:
“P.”
“Syifaaaa.”
“Buruan kesinii.”
“Keburu sore tau!”
Syifa Adnin Ivana:
“Sabar, Joy, lima menit gue nyampe.”
Syifa menaruh ponselnya di nakas setelah membalas pesan sahabatnya. Menjatuhkan pilihannya pada kaos putih polos dipadu dengan jeans panjang senada. Gadis itu memoles sedikit wajahnya agar tidak terlihat pucat. Rambut panjang kecoklatannya dibiarkan tergerai bebas.
“Ibu! Kaos kaki Anin yang putih mana?” Syifa mengacak lemarinya mencari kaos kaki yang dimaksud.
Kaos kaki pendek hadiah dari sang mantan dulu. Dari pada ngikutin orang yang kalau putus membuang semua barang dari mantan, Syifa lebih memilih untuk tetap menyimpan dan memakainya. Dibuang sayang, itu katanya.
“Astaghfirullah, Anin! Ini kenapa kamar kayak kapal pecah gini!” seru ibu Syifa saat mendapati kamar putrinya tidak berbentuk dihadapannya.
Syifa menutup telinganya karena ibunya berteriak keras di ambang pintu kamar nya. “Ibu jangan marah-marah dulu, bantuin Anin dong, ah!”
“Liat aja kalo ibu yang nyari ketemu.” Syakirah masuk ke dalam kamar putrinya dan mulai menunjukkan the power of emak-emak. Dan setelah beberapa saat mencari di lemari, Syakirah sudah menenteng sepasang kaos kaki putih bergambar kelinci ditangannya.
“Ini apa?”
“Hehe.” Syifa menyengir lebar sambil menunjukkan dua jarinya membentuk huruf 'V'.
“Peace, damai bu, damai.”
Syakirah menghembuskan napas jengah. Setiap hari ada saja kelakuannya yang bikin naik darah.
“beresin kamarnya sebelum pergi,” ujar Syakirah seraya meninggalkan anak gadisnya.
“Siap, bundahara!” Syifa membuat gerakan hormat yang membuat ibunya mengelus dada.
Gadis itu mulai merapikan lemari yang berantakan setelah ibunya pergi dari kamar. Dengan gerakan super kilat, Syifa berhasil merapihkan lemarinya dalam waktu kurang dari lima menit.
“Saatnya berangkaat!”
Menaruh ponsel dalam tas kecilnya, gadis itu melangkah keluar dari kamar dan menguncinya dari luar. Kali ini Ia akan lebih berhati-hati jika hendak pergi keluar rumah. Tidak akan Ia biarkan adik kecil manis yang menyebalkan itu mengacak-acak kamarnya.
Drrttt... Drrttt...
“Astaghfirullah, nggak sabaran banget sih, si Joy. Nyepam mulu.”
Syifa mengurungkan niatnya untuk mengeluarkan motor dari dalam rumah. Dirumah Syifa memang tidak ada garasi karena memang hanya ada dua kendaraan roda dua saja yang dimiliki oleh keluarganya.
Gadis itu meraih ponselnya yang sempat bergetar beberapa kali dari dalam tasnya. Setelah membuka WhatsApp, barulah nampak tertera nomor tanpa nama disana.
Unknown:
“Hai.”
“Ini Mikaeel. Masih inget?