Pacarku Menikah dengan Orang Lain Hamil?
3/20
Bab 3

Hamil?

Satu minggu berlalu. Langit pagi terasa sama seperti biasanya, tapi dada Arema selalu terasa sesak setiap kali membuka mata. Setiap hari ia menatap layar ponsel, menunggu nama yang tak kunjung muncul di notifikasi. Nama Rino seakan lenyap ditelan bumi.

Pesan-pesan yang ia kirim hanya centang satu, lalu dua, tapi tak pernah berubah warna biru. Telepon? Tak pernah diangkat. Namun yang paling menyakitkan, status Rino selalu online.

Setiap kali melihat tanda hijau kecil di bawah foto profil Rino, hatinya bergetar. Ia tahu pria itu ada, ia tahu ponselnya aktif, tapi mengapa seolah Rino sudah tidak ingin berhubungan lagi?

"Kenapa sih, Rin? Apa salahku?" gumam Arema lirih sambil menatap foto profil mereka berdua yang masih terpampang di ponselnya. Ia belum sanggup menghapusnya.

Beberapa kali ia mencoba berpikir positif. Mungkin Rino sedang sibuk. Mungkin sinyalnya jelek. Mungkin ponselnya rusak. Tapi seminggu berlalu, dan alasan-alasan itu mulai terdengar seperti kebohongan yang ia buat sendiri untuk menenangkan hatinya.

**

Hari itu, langit cerah, matahari bersinar ramah. Tapi tidak bagi Arema. Ia duduk di depan kios martabak yang belum dibuka, memandangi kompor, tepung, dan kaleng susu kental manis yang belum disentuh sejak pagi.

Ia menggigit bibir. Sudah cukup. Ia tidak bisa terus seperti ini.

Dengan cepat, Arema menutup pintu kios dan mengambil kunci motor maticnya. "Aku harus tahu kenapa dia berubah," desisnya. "Aku gak mau nebak-nebak lagi."

Angin menerpa wajahnya saat motor melaju di jalan kecil menuju rumah Rino. Jalan itu sudah sangat familiar.

Dulu, setiap minggu, ia selalu datang membawa martabak hangat kesukaan Rino, setengah cokelat, setengah keju, tanpa kacang. Tapi kali ini berbeda. Tidak ada senyum, tidak ada tawa. Yang ada hanya kecemasan dan rasa takut.

Rumah Rino tidak jauh, sekitar dua puluh menit perjalanan. Sebuah rumah sederhana di gang kecil dengan pagar besi yang sudah berkarat. Dari luar, rumah itu tampak sepi. Tapi saat ia memarkir motor di depan pagar, Arema mendengar sesuatu.

Sebuah suara lembut seorang wanita. Arema spontan menahan napas. Ia berdiri diam, berusaha menangkap kata demi kata. Dan yang ia dengar membuat tubuhnya membeku di tempat.

"Mas, aku telat, aku hamil dua bulan, kamu harus tanggung jawab!"

Suara itu jelas. Tidak asing. Jantung Arema berdegup kencang, napasnya mulai tersengal. Suara Rino kemudian terdengar pelan, seperti orang bingung.

"Iya, aku tau, Vher. Tapi tolong kasih aku waktu buat ngumpulin uang dulu. Biaya nikah kan gak dikit."

Vher. Nama itu menghantam telinga Arema seperti petir.

"Vher?" bibirnya bergetar, matanya membulat. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak. "Jadi, yang kemarin di telepon itu, bukan temen?"

Ia melangkah perlahan ke arah pintu. Tubuhnya gemetar hebat. Tanpa sadar, ia mendekat ke lubang kunci dan mengintip ke dalam. Dan di sanalah ia melihatnya.

Rino duduk di kursi ruang tamu, berhadapan dengan seorang gadis berambut ikal pendek, berkulit sawo matang, wanita yang tempo hari membeli martabak lalu memarahinya karena rasa asin.

Arema mundur selangkah, nyaris jatuh. Matanya panas, air mata langsung menetes tanpa bisa ditahan. "Jangan-jangan itu yang di HP Rino. Vheronika," bisiknya parau. "Jahat kamu, Rin, ternyata selama ini kamu selingkuh sama cewek lain, sampai hamil?"

Tangannya menutup mulut agar isaknya tidak terdengar. Lututnya lemas. Dunia seakan berputar.

Semua kenangan bersama Rino menari di kepalanya, makan apel bersama, janji-janji manis, tawa, pelukan, semua itu kini terasa seperti sandiwara murahan.

Ia menunduk, lalu berbalik dengan langkah gemetar. Setiap langkah terasa berat, seperti membawa seluruh luka di dunia.

Arema naik ke motornya, tapi matanya buram oleh air mata. Ia menyalakan mesin dengan tangan bergetar dan melaju cepat tanpa tujuan selain pulang.

Rumahnya terasa dingin. Bahkan suara burung di halaman pun seolah terdiam ketika Arema masuk dengan wajah basah air mata. Ia menendang sandal ke pojok ruangan dan berlari menuju kamarnya.

"Lho, Ma, itu anak kita kenapa?" tanya Wawan heran, menatap bayangan Arema yang baru lewat begitu saja.

"Entahlah," jawab Salma sambil menaruh sapu. "Dari mukanya kayak orang baru putus cinta. Kamu lihat matanya tadi? Bengkak."

"Paling masalah cowok," gumam Wawan ringan. "Biasalah anak muda."

Salma mendengus, tapi tidak menjawab. Ia tahu anaknya bukan tipe yang gampang drama. Kalau sampai menangis begitu parah, pasti ada luka besar yang disembunyikan.

Sementara itu, di kamar, Arema terhempas di kasur. Ia menangis sekencang-kencangnya kali ini, tanpa peduli didengar siapa pun.

"Kenapa, Rin? Kenapa kamu tega?" Suaranya pecah. "Aku gak pernah nyakitin kamu, aku selalu percaya, aku bela kamu waktu orang lain ngeremehin kamu, tapi kenapa balesannya kayak gini?"

Ia meraih bantal, memeluknya seolah memeluk seseorang yang sudah tidak ada.

Air mata tak berhenti mengalir. Ia berusaha mengingat masa-masa bahagia dulu, tapi setiap kenangan justru terasa menohok.

Bagaimana Rino dulu begitu perhatian, begitu lembut, begitu meyakinkan. Dan kini semua itu hanya kebohongan.

Teleponnya bergetar di meja. Arema langsung menoleh dengan harapan terakhir, semoga itu Rino.

Namun ketika dilihat, ternyata bukan. Pesan dari pelanggan tetap, menanyakan apakah kios martabak buka sore ini.

Arema menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah. "Aku gak sanggup jualan hari ini," ucapnya pelan. Ia menutup ponsel dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.

Di luar kamar, Bu Salma mengetuk perlahan. "Rema, makan dulu, Nak. Nanti sakit kalau gak makan."

Tak ada jawaban. Hanya suara isak tertahan di balik pintu. Salma menunduk, hatinya ikut perih. Ia tidak tahu apa yang sedang dialami anak gadisnya, tapi nalurinya sebagai ibu tahu, luka itu berasal dari cinta.

Wawan menghampiri dan menepuk bahu istrinya. "Biarin aja dulu, Bun. Kalau udah tenang nanti juga cerita."

Salma hanya mengangguk. "Aku cuma takut, Yah. Dia bukan tipe anak yang kuat nahan kecewa. Kadang orang yang kelihatan sabar justru yang paling hancur kalau hatinya disakiti."

Malam datang dengan sunyi yang menyesakkan. Arema belum juga keluar kamar. Ponselnya terus dipegang, menatap layar kosong tanpa pesan.

Dalam diam, ia menulis sesuatu di catatan ponsel, bukan untuk dikirim, hanya untuk melampiaskan luka.

"Rin, kalau kamu memang cinta sama dia, aku gak akan ganggu. Tapi tolong, sedikit aja kasih aku alasan. Biar aku tahu kenapa aku harus berhenti berharap."

Jari-jarinya gemetar. Ia menyimpan catatan itu lalu meletakkan ponsel di dada.

Tangisnya mereda, berganti dengan perasaan kosong. Ia memejamkan mata, berharap bisa tidur, berharap besok pagi semua ini hanya mimpi. Tapi sayangnya, rasa sakit itu nyata.

Di balik kelopak matanya, suara Rino dan Vheronika masih bergema.

"Mas, aku hamil, kamu harus tanggung jawab."

Arema memeluk dirinya sendiri, menahan napas yang berat.

Dan malam itu, dalam kesunyian kamarnya yang gelap, seorang gadis yang dulunya ceria, belajar arti kehilangan untuk pertama kalinya.Satu minggu berlalu. Langit pagi terasa sama seperti biasanya, tapi dada Arema selalu terasa sesak setiap kali membuka mata. Setiap hari ia menatap layar ponsel, menunggu nama yang tak kunjung muncul di notifikasi. Nama Rino seakan lenyap ditelan bumi.

Pesan-pesan yang ia kirim hanya centang satu, lalu dua, tapi tak pernah berubah warna biru. Telepon? Tak pernah diangkat. Namun yang paling menyakitkan, status Rino selalu online.

Setiap kali melihat tanda hijau kecil di bawah foto profil Rino, hatinya bergetar. Ia tahu pria itu ada, ia tahu ponselnya aktif, tapi mengapa seolah Rino sudah tidak ingin berhubungan lagi?

"Kenapa sih, Rin? Apa salahku?" gumam Arema lirih sambil menatap foto profil mereka berdua yang masih terpampang di ponselnya. Ia belum sanggup menghapusnya.

Beberapa kali ia mencoba berpikir positif. Mungkin Rino sedang sibuk. Mungkin sinyalnya jelek. Mungkin ponselnya rusak. Tapi seminggu berlalu, dan alasan-alasan itu mulai terdengar seperti kebohongan yang ia buat sendiri untuk menenangkan hatinya.

**

Hari itu, langit cerah, matahari bersinar ramah. Tapi tidak bagi Arema. Ia duduk di depan kios martabak yang belum dibuka, memandangi kompor, tepung, dan kaleng susu kental manis yang belum disentuh sejak pagi.

Ia menggigit bibir. Sudah cukup. Ia tidak bisa terus seperti ini.

Dengan cepat, Arema menutup pintu kios dan mengambil kunci motor maticnya. "Aku harus tahu kenapa dia berubah," desisnya. "Aku gak mau nebak-nebak lagi."

Angin menerpa wajahnya saat motor melaju di jalan kecil menuju rumah Rino. Jalan itu sudah sangat familiar.

Dulu, setiap minggu, ia selalu datang membawa martabak hangat kesukaan Rino, setengah cokelat, setengah keju, tanpa kacang. Tapi kali ini berbeda. Tidak ada senyum, tidak ada tawa. Yang ada hanya kecemasan dan rasa takut.

Rumah Rino tidak jauh, sekitar dua puluh menit perjalanan. Sebuah rumah sederhana di gang kecil dengan pagar besi yang sudah berkarat. Dari luar, rumah itu tampak sepi. Tapi saat ia memarkir motor di depan pagar, Arema mendengar sesuatu.

Sebuah suara lembut seorang wanita. Arema spontan menahan napas. Ia berdiri diam, berusaha menangkap kata demi kata. Dan yang ia dengar membuat tubuhnya membeku di tempat.

"Mas, aku telat, aku hamil dua bulan, kamu harus tanggung jawab!"

Suara itu jelas. Tidak asing. Jantung Arema berdegup kencang, napasnya mulai tersengal. Suara Rino kemudian terdengar pelan, seperti orang bingung.

"Iya, aku tau, Vher. Tapi tolong kasih aku waktu buat ngumpulin uang dulu. Biaya nikah kan gak dikit."

Vher. Nama itu menghantam telinga Arema seperti petir.

"Vher?" bibirnya bergetar, matanya membulat. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak. "Jadi, yang kemarin di telepon itu, bukan temen?"

Ia melangkah perlahan ke arah pintu. Tubuhnya gemetar hebat. Tanpa sadar, ia mendekat ke lubang kunci dan mengintip ke dalam. Dan di sanalah ia melihatnya.

Rino duduk di kursi ruang tamu, berhadapan dengan seorang gadis berambut ikal pendek, berkulit sawo matang, wanita yang tempo hari membeli martabak lalu memarahinya karena rasa asin.

Arema mundur selangkah, nyaris jatuh. Matanya panas, air mata langsung menetes tanpa bisa ditahan. "Jangan-jangan itu yang di HP Rino. Vheronika," bisiknya parau. "Jahat kamu, Rin, ternyata selama ini kamu selingkuh sama cewek lain, sampai hamil?"

Tangannya menutup mulut agar isaknya tidak terdengar. Lututnya lemas. Dunia seakan berputar.

Semua kenangan bersama Rino menari di kepalanya, makan apel bersama, janji-janji manis, tawa, pelukan, semua itu kini terasa seperti sandiwara murahan.

Ia menunduk, lalu berbalik dengan langkah gemetar. Setiap langkah terasa berat, seperti membawa seluruh luka di dunia.

Arema naik ke motornya, tapi matanya buram oleh air mata. Ia menyalakan mesin dengan tangan bergetar dan melaju cepat tanpa tujuan selain pulang.

Rumahnya terasa dingin. Bahkan suara burung di halaman pun seolah terdiam ketika Arema masuk dengan wajah basah air mata. Ia menendang sandal ke pojok ruangan dan berlari menuju kamarnya.

"Lho, Ma, itu anak kita kenapa?" tanya Wawan heran, menatap bayangan Arema yang baru lewat begitu saja.

"Entahlah," jawab Salma sambil menaruh sapu. "Dari mukanya kayak orang baru putus cinta. Kamu lihat matanya tadi? Bengkak."

"Paling masalah cowok," gumam Wawan ringan. "Biasalah anak muda."

Salma mendengus, tapi tidak menjawab. Ia tahu anaknya bukan tipe yang gampang drama. Kalau sampai menangis begitu parah, pasti ada luka besar yang disembunyikan.

Sementara itu, di kamar, Arema terhempas di kasur. Ia menangis sekencang-kencangnya kali ini, tanpa peduli didengar siapa pun.

"Kenapa, Rin? Kenapa kamu tega?" Suaranya pecah. "Aku gak pernah nyakitin kamu, aku selalu percaya, aku bela kamu waktu orang lain ngeremehin kamu, tapi kenapa balesannya kayak gini?"

Ia meraih bantal, memeluknya seolah memeluk seseorang yang sudah tidak ada.

Air mata tak berhenti mengalir. Ia berusaha mengingat masa-masa bahagia dulu, tapi setiap kenangan justru terasa menohok.

Bagaimana Rino dulu begitu perhatian, begitu lembut, begitu meyakinkan. Dan kini semua itu hanya kebohongan.

Teleponnya bergetar di meja. Arema langsung menoleh dengan harapan terakhir, semoga itu Rino.

Namun ketika dilihat, ternyata bukan. Pesan dari pelanggan tetap, menanyakan apakah kios martabak buka sore ini.

Arema menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah. "Aku gak sanggup jualan hari ini," ucapnya pelan. Ia menutup ponsel dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.

Di luar kamar, Bu Salma mengetuk perlahan. "Rema, makan dulu, Nak. Nanti sakit kalau gak makan."

Tak ada jawaban. Hanya suara isak tertahan di balik pintu. Salma menunduk, hatinya ikut perih. Ia tidak tahu apa yang sedang dialami anak gadisnya, tapi nalurinya sebagai ibu tahu, luka itu berasal dari cinta.

Wawan menghampiri dan menepuk bahu istrinya. "Biarin aja dulu, Bun. Kalau udah tenang nanti juga cerita."

Salma hanya mengangguk. "Aku cuma takut, Yah. Dia bukan tipe anak yang kuat nahan kecewa. Kadang orang yang kelihatan sabar justru yang paling hancur kalau hatinya disakiti."

Malam datang dengan sunyi yang menyesakkan. Arema belum juga keluar kamar. Ponselnya terus dipegang, menatap layar kosong tanpa pesan.

Dalam diam, ia menulis sesuatu di catatan ponsel, bukan untuk dikirim, hanya untuk melampiaskan luka.

"Rin, kalau kamu memang cinta sama dia, aku gak akan ganggu. Tapi tolong, sedikit aja kasih aku alasan. Biar aku tahu kenapa aku harus berhenti berharap."

Jari-jarinya gemetar. Ia menyimpan catatan itu lalu meletakkan ponsel di dada.

Tangisnya mereda, berganti dengan perasaan kosong. Ia memejamkan mata, berharap bisa tidur, berharap besok pagi semua ini hanya mimpi. Tapi sayangnya, rasa sakit itu nyata.

Di balik kelopak matanya, suara Rino dan Vheronika masih bergema.

"Mas, aku hamil, kamu harus tanggung jawab."

Arema memeluk dirinya sendiri, menahan napas yang berat.

Dan malam itu, dalam kesunyian kamarnya yang gelap, seorang gadis yang dulunya ceria, belajar arti kehilangan untuk pertama kalinya.