Rina akhirnya bertemu Topan bukan karena rencana matang, tapi karena takdir iseng yang terlalu suka bikin Harlia panik.
Awalnya sederhana....
Topan menjemput Harlia di kantor dengan alasan makan malam yang biasa, sesuai kesepakatan. Harlia sudah lega setengah mati karena tidak perlu pura-pura mengerti menu berbahasa Prancis atau duduk tegak seperti orang kaya baru. Masalahnya, Rina ikut turun ke lobi. Bukan apa-apa, tapi sahabatnya itu selalu sensi kalo ia bercerita tentang Topan.
“Eh,” kata Rina sambil melirik jam. “Lo mau pulang bareng nggak, Har?”
Harlia membeku. Kalau menolak, berarti ia harus ngaku kalau akan dijemput Topan. Pasti muka Rina jadi pait. Baru mau ngomong, tiba-tiba Topan datang menghampirinya.
"Hai!”
Topan menyapa, tersenyum sopan pada kedua gadis itu.Rina menatap Topan dari ujung rambut sampai sepatu. Bukan tatapan kagum. Lebih seperti scanner bandara.
“Oh,” kata Rina. “Ini Topan.”
“Iya,” jawab Topan santai. “Rina, ya?”
Rina menyipitkan mata.
“Lo kok tau nama gue?”
“Har sering cerita,” jawab Topan tanpa ragu.
Harlia langsung tersedak udara.
"Uhuk! Uhuk!"
“CERITA APA?” tanya Rina nampak panik.
Jangan-jangan Topan tahu kalau dirinya demen nyurigain tuh cowok.Topan tersenyum.
“Cerita yang baik-baik.”
Rina mengangguk pelan.
“Woiya jelas, tapi sebenarnya gue nggak sebaik itu.”
Dan di situlah kesalahan besar terjadi.
Topan, dengan niat baik tapi timing buruk, berkata, “Mau ikut? Makan bareng.”
Harlia auto terasa tercekik. Rasanya ingin menghilang ke dimensi lain saja.
Sementara itu, Rina tersenyum lebar. Terlalu lebar, seperti joker yang tidak benar-benar tersenyum.
“Boleh,” jawab Rina. “Sekalian gue mau kenal.”
Nada suaranya ramah, tetapi matanya amat sangat tidak ramah.
Mereka makan di warung makan sederhana. Nasi, lauk, sambal. Tidak ada menu tanpa gambar. Tidak ada pelayan dengan celemek estetik. Harlia duduk di tengah. Seperti penonton pertandingan tinju. Topan duduk santai, menyingsingkan lengan kemeja. Rina duduk tegak, menyilangkan tangan.
“Jadi,” kata Rina sambil mengaduk es teh, “kerja di mana, Pan?”
“Di konsultan,” jawab Topan.
“Oh,” Rina mengangguk. “Konsultan apa?”
“Bisnis.”
“Bisnis apa?”
Topan tersenyum tipis. Ia orang yang peka, tahu kalau gadis ini sedang menyelidiki nya atau mencurigainya. Namun begitu, Topan tetap tenang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ia merasa lurus lurus saja.
“Macam-macam," jawabnya.
Rina tersenyum balik. Tipis juga. Tapi tidak lantas menyerah. Ia ingin menguliti orang ini. Satu saja jawaban yang keluar membuatnya ragu, maka akan dijadikan senjata untuk menasehati Harlia supaya WASPADA.
"Macam-macam tuh luas," balas Rina.
Harlia meneguk air. Lalu menoyor lutut sahabatnya, “Rin…," bisiknya.
“Aku cuma nanya,” kata Rina manis. “Soalnya sekarang banyak yang pakai kata ‘bisnis’ buat nutupin kebingungan.”
Topan tertawa kecil. Kemudian dengan tenang menjawab, “Bisa jadi.”
Rina melirik Harlia. Lalu berbisik, “Dia tenang banget, Har.”
“Dia emang gitu,” jawab Harlia cepat juga berbisik.
“Iya,” kata Rina.
“Biasanya yang tenang itu udah siap jawab, atau siap ngibul.”
Topan meletakkan sedotan es teh.
“Kalau gue siap dua-duanya gimana?”
Rina tertawa.
“Nah,itu lo jujur.”
Harlia memijat pelipis.
“Kalian kok jadi debat?”
“Kami ngobrol,” jawab mereka berbarengan.
Makanan sederhana yang tadi dipesan akhirnya datang. Nasi gudeg lengkap dengan lauk, nasi campur, dan nasi liwet.Topan makan dengan santai. Tidak jijik. Tidak sok. Membuatnya mendapatkan poin plus di mata Harlia maupun Rina.
Rina memperhatikan. Tidak seperti yang diceritakan oleh Harlia, pikirnya. Cara makan Topan seperti rakyat jelata, hanya saja yang ini bersih dan rapi tidak ngecap.
“Lo sering makan di tempat kayak gini?” tanya Rina.
“Sering,” jawab Topan. “Gue suka yang sederhana.”
Rina mengangguk.
“Sederhana tuh kata favorit orang yang hidupnya nggak sederhana.”
Topan tersenyum.
“Dan iri kata favorit orang yang hidupnya selalu curiga.”
“Eh?” Harlia bersuara. “Jangan berantem!”
“Kami nggak berantem,” kata Rina. “Kami cuma pemanasan doang.”
Topan menatap Rina.
“Gue tau lo protektif.”
“Oh, lo tau?” Rina menyuap nasi. “Bagus.”
“Dan gue ngerti kenapa,” lanjut Topan. “Har orangnya gampang berharap, kan?”
Harlia tersedak sambal.
"Uhuk! Uhuk!"
Disambarnya air putih dingin lalu menenggak nya sampai tenggorokannya lega.
“PAN?!” Harlia menegur.
Rina berhenti makan. Menatap Topan tajam.
“Lo sadar ngomong itu di depan orangnya?” protes Rina.
Topan mengangguk.
“Justru itu," balas Topan. "Jujur dan terbuka apa lagi?" katanya dan kini terlihat agak songong.
Harlia ingin tenggelam di kuah sayur. Jika seperti ini, tampaknya Rina tidak akan merestui hubungannya dengan Topan. Sahabatnya dan crush nya bagaikan Tom and Jerry.
Setelah makan, mereka bertiga berjalan sebentar. Namun, Rina tidak melepas posisi interogator.
“Mobil lo bagus,” kata Rina.
“Makasih.”
“Milik sendiri?”
“Iya.”
“Cicilan?”
Topan tertawa.
“Enggak.”
“Oh.”
Rina mengangguk.
“Tabungan?”
“Sebagian.”
Rina berhenti berjalan.
“Sebagian?”
Topan ikut berhenti.
“Gue kerja lama, Rin. Gue nabung. Gue juga pernah hidup susah.”
Rina terdiam. Sedikit ada rasa bersalah tapi cuma sedikit.
Harlia menatap mereka, jantungnya ikut deg-degan. Seumur-umur belum pernah jadi wasit debat calon bupati.
“Gue nggak masalah lo kaya,” kata Rina akhirnya. “Gue masalah kalau lo bikin Har ngerasa kecil.”
Topan menoleh ke Harlia.
“Gue pernah bikin lo ngerasa kecil, Har?”
Harlia membuka mulut. Menutup lagi. Gadis itu dalam kebingungan kadang menatap Rina, kadang menatap Topan.
“Kadang,” jawab Harlia jujur.
Topan mengangguk.
“Baiklah, itu kesalahan gue.”
Rina terkejut.
“Lah?!”
Topan tersenyum kecil.
“Gue terlalu terbiasa hidup di ritme gue sendiri.”
Rina menyilangkan tangan.
“Dan lo pikir Har harus ngikutin?”
“Nggak,” jawab Topan cepat. “Justru gue belajar nurunin tempo.”
Harlia menatap Topan. Ada sesuatu di wajahnya yang manusiawi. Tidak mengilap. Tidak hedon. Capek, tapi jujur.Rina mendesah panjang.
“Gue bukan benci lo.”
“Gue tau,” jawab Topan.
“Gue cuma takut Har ke-GR-an.”
Harlia protes, “Eh?!”
Topan tersenyum.
“Dia emang gampang GR.”
“Halo?!!!” Harlia melotot.
“Tapi,” lanjut Topan, “itu karena dia tulus.”
Rina menatap Topan lama. Pantes Harlia klepek-klepek, cowok ini jago berceloteh. Omongannya kayak caleg DPRD.
“Lo pinter ngomong,” kata Rina.
Topan mengangkat bahu.
“Resiko kerjaan.”
“Dan itu juga bahaya,” balas Rina.Topan tertawa.
“Fair.”
Mereka diam sebentar. Tampaknya sudah tidak ada lagi yang hendak diperdebatkan atau belum ada.
Akhirnya Rina berkata, “Oke.”
“Oke apa?” tanya Harlia.
“Oke gue kasih lo satu poin,” kata Rina ke Topan. “Bukan karena harta. Tapi karena lo nggak defensif.”
Topan mengangguk.
“Gue terima.”
Rina menoleh ke Harlia.
“Tapi lo—”
“Iya,” kata Harlia cepat. “Gue akan hati-hati.”
Saat berpisah, Rina menepuk bahu Topan.
“Jangan macem-macem,” pesan Rina terdengar seperti peringatan.
Topan tersenyum.
“Gue lebih takut sama lo daripada Har.”
“Bagus,” jawab Rina.
Rina pergi setelah memanggil tukang ojek pangkalan yang mangkal di daerah sana.Tinggal lah Harlia dan Topan berdiri berdua.
“Maaf,” kata Harlia. “Dia emang nyebelin.”
Topan tertawa.
“Dia sayang lo.”
“Iya.”
Topan menatap Harlia lembut.
“Dan gue nggak mau jadi alasan lo ngerasa nggak cukup.”
Harlia menelan ludah.
“Gue masih belajar.”
“Kita sama,” jawab Topan.
Harlia tersenyum.
Malam itu, untuk pertama kalinya, kilau Topan sedikit meredup.Dan anehnya…Itu justru membuatnya terasa lebih nyata.