Mystery Of The Heart Wanita Nakal
2/30
Bab 2

Wanita Nakal

“Please, Kak Yu ... izinkan aku meminjam beberapa prajuritmu.” Shui Hu sudah memohon selama dua jam dengan berbagai cara, agar Kak Yu bisa meminjamkan beberapa prajuritnya.

Le Yu He merupakan teman masa kecil Shui Hu, dia tiga tahun lebih tua dari Shui Hu yang saat ini berusia 19 tahun. Berasal dari keluarga militer yang terkenal dengan tegas dan disiplin. Saat ini, dia memimpin pasukan Gagak Putih Kerajaan Zhou yang berjumlah 1.000 prajurit. Walaunpun begitu, dia seorang laki-laki tampan yang baik hati dan penuh perhatian, apalagi pada seorang wanita.

“Tidak bisa. Bagaimana kalau masalah ini diketahui ayahku? Bisa bahaya mereka.” Yu He sudah berkali-kali menolak permintaan adik kecilnya selama dua jam.

Namun, Shui Hu tidak menyerah begitu saja. Terus berusaha memohon agar Yu He bisa meminjam beberapa prajurit pasukan Gagak Putih. “Ya, sudah. Kalau Kak Yu tidak mau meminjamkan. Aku bakal tinggal di sini sampai pagi,” ujar Shui He sembari duduk di depan rumah Yu He dengan wajah cemberut.

Angin berhembus dengan kencang, membuat malam ini semakin dingin. Butuh beberapa helai sutra agar tubuh tetap terasa hangat. Suara jangkrik perlahan mulai berdering nyaring, menemani beberapa orang yang berlalu-lalang di malam hari. Pepohonan mulai bergoyang mengikuti arah angin berhembus, hingga mengeluarkan sedikit suara merdu yang membuat malam ini tidak terasa dingin.

Tidak angin melihat adik kecilnya terus mengoceh, Yu He menghembuskan nafasnya pelan-pelan, lalu berkata, “Sudah-sudah, Kak Yu pinjam 20 prajurit pilihan untuk mengawal rombongan bisnis ayahmu.”

Mata berbinar seperti mendapatkan harta karun ribuan tahun tak bisa disembunyikan Shui He. Dia menganggukkan kepalanya beberapa kali seperti hewan yang patuh pada majikannya. Tidak lupa dia mengucapkan terima kasih disertai beberapa pujian yang membuat Yu He malu-malu kucing.

Terima kasih, Kak Yu. Aku pasti akan membalas kesempatan ini suatu saat nanti.

“Sudah, sekarang cepetan pulang. Malam semakin dingin. Utusan ayahmu sudah menunggu di depan sedari tadi,” ucap Yu He memberitahu sembari menunjuk ke arah seorang pria tua yang ternyata Paman Fu, pelayan pribadi ayahnya Shui Hu.


Tepat pada pukul 06.00 pagi, matahari perlahan terbit menyinari dunia. Angin berhembus dengan tenang, membuat udara menjadi sejuk. Beberapa orang mulai menekuni kesibukannya masing-masing. Selamat datang di Provinsi Dongfang, salah satu provinsi tersibuk di Kerajaan Zhou.

20 pria dengan pakaian lusuh dan kotor berkumpul di depan rumah Keluarga Li. Mereka saling mengobrol satu sama lain, mengeluh karena beberapa hari ini harga pangan di Provinsi Dongfang sedang naik dratis.

Para pria yang berkumpul kompak membungkukkan tubuhnya masing-masing, memberikan hormat pada seorang pria tua berjenggot yang muncul dari balik gerbang rumah Keluarga Li, Li Jiang Xi.

“Bangun! Aku mohon pada kalian untuk mengawal rombongan bisnis Keluarga Li ke Provinsi Aolan dengan selamat,” pinta Li Jiang Xi sembari membungkukkan tubuhnya ke depan, kedua telapak tangannya saling menempel.

Shui Hu tiba-tiba muncul dari belakang punggung ayahnya. Kedua matanya bertanya-tanya, mengapa banyak pria lusuh dan kotor di depan rumah keluarganya. Dia pun bertanya, “Ayah, kenapa banyak pria lusuh di sini?”

Jiang Xi menghembuskan nafasnya sembari menggelengkan kepalanya beberapa kali, dia menjawab, “Mereka para prajurit pasukan Gagak Hitam yang dipimpin oleh Kakak Yu-mu itu. Bukankah ini permintaanmu?” dia bertanya balik.

Shui Hu hanya menyengir seperti kuda. “Kenapa mereka tidak memakai pakaian prajurit?” tanyanya yang masih penasaran.

Jiang Xi kembali menggelengkan kepalanya. “Karena mereka pasukan khusus, bukan pasukan biasa. Kaisar melarang memakai pakaian prajurit pasukan khusus, jika ingin membantu rakyat. Mereka harus menyamar sebagai pengemis, agar tidak dikenali oleh musuh.”

Shui Hu menganggukan kepalanya, tanda mengerti apa yang dijelaskan oleh ayahnya.

Jiang Xi mengucapkan beberapa patah kata untuk para pengawal rombongan bisnis keluargnya. Dia menasehati, memberikan semangat, sekaligus memohon untuk mengantarkan rombongan bisnis Keluarga Li dengan selamat. Setelah itu, rombongan bisnis Keluarga Li mulai berangkat bersama para pengawalnya.

Saat rombongan bisnis keluarganya sudah berangkat, Shui Hu langsung kembali ke kamarnya tanpa memberitahu ayahnya.

“Shui’er cepat ke sini,” pinta Jiang Xi pada anaknya dengan nada pelan.

“Maaf, Tuan. Nona Shui’er sudah kembali ke dalam rumah,” jawab Paman Fu memberitahu tuannya.

Jiang Xi sedikit kaget sembari menggelengkan kepalanya.


“Nona, anda yakin? Mau menyamar sebagai laki-laki?” tanya Mei-Yin khawatir. Dia merupakan pelayan setia Shui Hu sejak kecil.

“Sudah jangan banyak tanya. Kau diam di sini, bantu mengatasi ayahku. Jangan sampai beliau khawatir,” ujar Shui Hu sembari bersiap-siap berangkat dengan pakaian laki-laki.

Wajah yang penuh khawatir tidak bisa disembunyikan lagi. Mei-Yin hanya bisa patuh menganggukkan kepalanya, tidak ada cara lain untuk mencegah majikannya yang keras kepala.

Kedua kakinya melangkah dengan cepat keluar dari kamarnya, lalu melompat melewati dinding rumah Keluarga Li sebelah timur. Shui Hu terbang melompati beberapa rumah untuk mengejar rombongan bisnis keluarganya.

Kali ini, ia ingin mengarungi luasnya dunia dengan mata kepalanya sendiri. Selama ini, ayahnya tidak pernah mengizinkannya keluar rumah. Walaupun, Shui Hu memiliki energi qi yang cukup banyak untuk melakukan bela diri. Oleh sebab itu, menyamar sebagai laki-laki adalah satu-satunya cara agar bisa keluar rumah tanpa sepengetahuan ayahnya.

Hanya dalam hitungan menit, Shui Hu berhenti di depan rombongan bisnis keluarganya. Para pengawal rombongan, bersiap mengayunkan pedangnya masing-masing. Mereka menyangka Shui Hu adalah orang yang akan merampok beras dan makanan Keluarga Li.

Sebuah benda lingkaran yang dipenuhi dengan hiasan emas perak, keluar dari pakaian Shui Hu. Dia memperlihatkan plat keluarganya pada para pengawal.

Para pengawal kompak memberikan hormat saat plat Keluarga Li diperlihatkan.

“Aku Hu’er, utusan Nona Shui Hu. Aku diutus untuk memimpin rombongan oleh Nonaku,” ucapnya dengan tegas.

Para pengawal kompak menjawab, “Baik!”

Shui Hu berusaha menahan tawa kecilnya, agar para pengawal dan beberapa orang rombongan tidak mengenali dirinya. Semoga mereka tidak pernah menyadarinya.

Rombongan bisnis Keluarga Li kembali melanjutkan perlajanan mereka menuju Provinsi Aolan. Kali ini, Shui Hu dengan menyamar memimpin sendiri rombongan bisnis keluarganya. Dia berjalan di depan rombongan menggunakan kuda kesayangannya.

Seorang pria berpakaian serba hitam, sedari tadi terus mengamati rombonga bisnis Keluarga Li. Kedua matanya melirik pada beberapa pengawal. Walaupun sudah berpakaian lusuh dan kotor, ia menyadari kalau pengawal sekarang bukanlah pengawal biasa, melainkan para prajurit pasukan Gagak Putih.

Ketika sudah mengamati selama beberapa menit, pria berpakaian hitam ini segera mengubah pakaian menjadi sama persis seperti para pengawal rombongan. Dengan langkah pelan, ia mengikuti rombongan bisnis Keluarga Li dari belakang. Tidak ada seorang pun yang menyadarinya.

Ketika rombongan bisnis Keluarga Li mulai memasuki hutan. Pria tadi langsung melangkah ke belakang dengan cepat, lalu menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Lagi-lagi tidak ada satu pun pengawal di belakang yang menyadarinya.