Perlahan matahari mulai naik ke atas, hingga membuat bayangan manusia sama tingginya dengan manusia asli. Cahaya matahari semakin bersinar hingga penjuru dunia. Panasnya sinar matahari perlahan mulai meningkat, hingga menimbulkan keringat di tubuh manusia. Orang-orang yang sedang beraktivitas beristirahat sebentar hanya untuk meneguk seteguk air untuk menghilangkan dahaga.
Namun, hal ini tidak berlaku bagi orang-orang yang sedang berada di hutan. Pohon-pohon besar dengan daun lebatnya, membantu manusia menghalangi cahaya sinar matahari yang berlebihan.
Seorang laki-laki tampan dengan hidung mancung, pakaian longgar berwarna serba hitam, dan sebilah pedang yang menyerong di punggungnya, sedari tadi berjongkok di atas dahan pohon yang cukup besar, bersembunyi di balik daun-daun yang lebat bersama teman-temannya.
“Lapor ketua!” tiba-tiba seorang laki-laki berpakaian hitam muncul di depan laki-laki dengan rambut hitam lebat yang disanggul sederhana.
“Astaga! Kau mengagetkan saja, Gong Sun.” Fang An selalu terkejut saat Gong Sun muncul secara tiba-tiba. “Bagaimana? Rombongan mana hari ini?” tanyanya penasaran.
“Masih rombongan Keluarga Li,” jawabnya pelan dengan emosi sedikit khawatir.
Tidak seperti biasanya, hari ini Gong Sun menjawab dengan penuh kekhawatiran. Fang An kembali bertanya dengan nada pelan, “Apa yang terjadi, Gong Sun? Ceritakan saja.”
“Orang-orang yang mengawal hari ini, bukanlah pengawal biasa. Kita harus berhati-hati, Ketua.” Gong Sun memperlihatkan sebuah robekan kain yang lusuh dan kotor. Dia memberikan robekan kain pada Fang An.
Hanya dengan melihat saja, Fang An sudah menangkap maksud temannya. “Aku mengerti. Tenang saja, mereka tidak sehebat prajurit pasukan Harimau Hitam Utara,” jawabnya menenangkan Gong Sun.
Fang An memanggil teman-temanya dengan nada tinggi. “Teman-teman dengarkan aku!”
Teman-teman yang mengikuti Fang An dari belakang kompak menjawab, “Siap, Ketua?!”
Fang An membuang nafasnya dalam sekali tarikan sebelum berbicara. “Jika kalian tidak bisa mengalahkan mereka, mundur saja. Biar aku yang menyelesaikannya sendiri.”
Teman-temannya kembali menjawab kompak. “Siap, Ketua!!”
Sebuah suara telapak kaki dan gelindingan roda kereta sama-samar terdengar oleh telinga kanan Fang An. Fang An mengangkat tangannya, mengancungkan jari telunjuknya memberikan intruksi bersiap, karena mangsa mereka sebentar lagi akan segera muncul.
Hari semakin siang. Panasnya matahari semakin tidak bisa dihindari, perlahan mulai menusuk menyinari pendalaman hutan. Beberapa burung mulai berkicau dengan suara khasnya masing-masing, menandakan sebentar lagi menuju sore hari.
Shui Hu dengan tenang mengendalikan kuda kesayangannya. Kepalanya tidak pernah berhenti melirik ke kanan kiri untuk melihat situasi dan kondisi di sekitar. Dia memiliki penglihatan yang tajam. Sekecil apa pun objek, tidak akan pernah lepas dari kejelian matanya.
Menyadari ada yang aneh dengan beberapa pohon besar. Shui Hu tersenyum licik. Mengangkat tangannya, memberikan intruksi berhenti pada rombongan. Menyuruh para pengawal siap-siap bertarung. “Ada beberapa bandit yang siap menerkam kita. Hati-hati!” ujarnya dengan nada pelan.
Fang An yang bisa mendengar suara sekecil apa pun, terkejut saat mendengar ucapan pemimpin rombongan. Matanya terbelalak seakan tidak percaya. Selama ini, tidak ada yang pernah menyadari tempat persembunyian mereka.
Tidak ada gunanya lagi bersembunyi. Fang An melompat turun dari pohon tepat di depan Shui Hu. Gong Zhong dan Gong Shi juga menyusulnya turun dari pohon. Sisanya tetap bersembunyi di beberapa pohon. Dan hanya menunggu kesempatan mengambil makanan dan beras datang.
Fang An tertawa kecil sembari memuji pemimpin rombongan bisnis Keluarga Li. “Ternyata anda Tuan Muda. Dengan usia Anda. Tuan Muda cukup berani memimpin rombongan sebesar ini. Apakah Tuan Muda tidak takut?” tanyanya meledek. Sebuah senyuman jahat terukir diwajahnya.
Sebelum menjawab, Shui Hu berusaha meniru suara seorang laki-laki. Shui Hu balas tertawa kecil, dan mengejek pemimpin bandit yang memiliki wajah tampan ini. “Ternyata selama ini, Tuan yang merampok makanan dan beras para rombongan yang melewati hutan ini, ya? Ganteng-ganteng kok merampok sih? Pasti tidak ada wanita yang mau sama Tuan, ya?”
Sorot mata Fang An menatap tajam ke arah Shui Hu. “Kalau iya kenapa? Kalau bukan kenapa?” tanyanya dengan nada sinis.
Melihat pakaian serba hitam, serta hanya sebilah pedang saja. Shui Hu berdiri di atas kudanya, lalu melompat sembari mengeluarkan sebilah pedang. Mengayunkan pedangnya pada sang pemimpin bandit.
Suara nyaring yang begitu indah dan merdu tercipta akibat benturan antara dua pedang dengan kualitas tinggi.
Fang An membuang wajahnya yang selalu tersenyum. Ekspresinya berubah menjadi datar. Kedua matanya menyorot tajam ke arah Shui Hu. Dia menahan tebasan Shui Hu dengan enteng.
Shui Hu memerintahkan para pengawalnya untuk menyerang dan membasmi para bandit. Sebuah pertarungan tiga melawan kurang lebih 20 pengawal pun terjadi. Fang An hanya melawan Shui Hu. Sedangkan Gong Zhong dan Gong Shi masing-masing melawan sepuluh pengawal.
Shui Hu dan Fang An sama-sama mundur. Masing-masing melakukanl kuda-kuda berpedang ciri khasnya tersendiri. Kedua mata Shui Hu fokus melihat gerakan Fang An yang sedang bersiap menyerang.
Fang An memejamkan kedua matanya, memposisikan pedangnya sejajar dengan wajahnya, tubuhnya sedikit menyerong sambil sedikit menekuk lututnya. Dia melakukan kuda-kuda yang dilakukan oleh seorang legendaris dari Pahlawan Perang Jenderal Chi.
Saat melihat kuda-kuda berpedang yang dilakukan oleh sang pemimpin bandit, kedua mata Shui Hu terbelalak tidak percaya. Bagaimana pemuda ini bisa melakukan kuda-kuda sesempurna ini? Siapa dia sebenarnya?
Tidak ingin menunggu lama-lama. Shui Hu menggunakan energi qi, mendorong tubuhnya maju ke depan dengan cepat. Kedua tangannya kembali mengayunkan pedangnya pada Fang An. Fang An hanya memutar tubuhnya ke belakang untuk menghindari tebasan Shui Hu.
Dengan cepat Shui Hu memutar tubuhnya sembari mengayunkan pedangnya dari bawah ke atas, dia mengincar dada Fang An. Namun, lagi-lagi Fang An hanya menghindar tanpa menyerang. Kedua matanya tetap terpejam meski sedang diserang.
Shui Hu berdecak kesal karena dua tebasannya tidak pernah mengenainya, karena terburu-buru dia mulai melakukan beberapa serangan tebasan pada Fang An berkali-kali tanpa berhenti. Dia tidak memberikan Fang An kesempatan untuk mengambil nafasnya.
Fang An hanya terus menghindar dan menghindar dengan mata terpejam.
Merasa diremehkan, Shui Hu mengeluarkan semua energi qi-nya yang tersimpan selama ini. Kaki kanannya menyerong ke kanan, lalu meloncat, kedua tangannya datang dari langit menebaskan sebilah pedang pada kepala Fang An.
Dengan cepat, Fang An tiba-tiba berada di belakang Shui Hu. Tanpa ampun melakukan satu kali tebasan kejam pada Shui Hu, hingga membuatnya tersungkur ke tanah dan pingsan saat itu juga.
Gong Zhong dan Gong Shi baru selesai menyelesaikan masalah masing-masing. Gong Zhong terkejut saat melihat Fang An melakukan salah satu serangan andalannya.
“Kau tidak membunuhnya kan, Ketua?” tanya Gong Zhong khawatir.
Fang An kembali tersenyum sinis. “Tentu saja tidak. Dia tidak layak menjadi mayat pedangku,” ucapnya dengan nada sinis.
Melihat pemimpinnya jatuh pingsan. Para rombongan hanya bisa berlutut memohon ampun. Fang An menyuruh teman-temannya keluar. “Cepat ambil makanan dan berasnya!” perintahnya dengan tegas.
Satu persatu para bandit bermunculan mengambil makanan dan beras milik Keluarga Li. Para rombongan hanya bisa pasrah, karena sudah tidak ada lagi yang bisa melawan mereka.
“Jangan lupa! Seperti biasa, ikat mereka di batang pohon dan lepaskan pakaian mereka.” Fang An kembali memberikan perintah kedua kalinya dengan tegas.
Fang mendekati Shui Hu yang dalam keadaan pingsan. Dia memutar tubuhnya, lalu mulai melepaskan pakaiannya satu persatu. Secara tidak sengaja kedua tangannya menyentuh sebuah benda empuk yang tidak seharusnya disentuh oleh pria belum menikah. Dia buru-buru kembali memakaikan pakaian Shui Hu.
“Ketua kenapa kau memakaikan kembali pakaiannya?” tanya Gong Shi penasaran.
Fang An berdecak kesal. Otaknya berpikir seribu alasan, tapi tetap saja tidak bisa menemukan alasan yang cocok. Dia terpaksa berkata jujur, “Dia seorang wanita,” ucapnya dengan pelan.
“Hah?!”