Malam Yang Tak Pernah Berakhir Kumpulan Cerpen_Homang
3/4
Bab 3

Kumpulan Cerpen_Homang

Part 2. Tiba-tiba, terjadi sebuah kehebohan. Diantara anggota ada yang berkelahi. Rupanya mereka berselisih dalam masalah pembagian pekerjaan.
Sunitri memanfaatkan situasi tersebut. Dirinya segera masuk ke dalam ruangan bawah tanah yang gelap, dengan indra penglihatan yang minim, Sunitri menyusuri ruangan gelap tersebut. Meraba dinding yang basah dan lembab. Pelan dirinya menggunakan feelingnya. Setiap langkahnya dia hitung hingga kini tepat di hadapannya , sebuah pintu berwarna merah yang tak boleh dimasuki semua anggota. Dibukanya pelan pintu tersebut. Ruangannya cukup luas. Dengan lampu berpijar terang. Bersih, dan wangi. Sunitri memberanikan dirinya masuk pelan-pelan, entahlah perasaan takut yang amat sangat tak dihiraukannya. Semakin dirinya melangkah masuk. Di sana terlihat beberapa wanita berdaster, mereka dalam keadaan hamil! dan diantaranya adalah, Murni adik Sunitri. "Murni ..." Tak sadar Sunitri menyebut nama adiknya. Wanita diantara mereka menengok ke sumber suara tersebut. Mereka kaget. Mengapa ada seseorang yang masuk selain Bu Darmaji. "Mbak Nitri." Murni langsung mengenali kakaknya tersebut. Mereka langsung mendekat ke arah Sunitri. Segera menarik perempuan kurus tersebut dan masukkan dalam sebuah tempat kosong, sepertinya tempat pakaian kotor mereka. "Tunggu, di situ saja Mbak." bisik Murni. Tak berselang lama, masuk Bu Darmaji dan seseorang wanita. "Selamat pagi, hari ini pemeriksaan rutin, kau, Murni, kemarilah. Waktunya kehamilanmu dikontrol." Murni mendekat pelan. Beberapa wanita yang lainnya, menunggu giliran. Hanya Murni yang terlihat dengan perut yang membesar. Mungkin wanita yang lainnya, baru sekitar usia kehamilan 4 sampai 6 bulan. Wanita yang dibawa Bu Darmaji, mulai memeriksa, tensi darah, berat badan, dan lain sebagainya. Mirip pemeriksaan di sebuah klinik. Bahkan Murni pun mendapat obat, dan beberapa makanan tambahan untuk dikonsumsi. Sunitri menahan napasnya agar tidak memburu. Hingga pemeriksaan pun selesai. "Silakan yang semalam susah tidurnya, bisa beristirahat sekarang," kata wanita yang dibawa Ibu Darmaji, dia adalah Bidan kepercayaan yang disewa Bu Darmaji. Keadaan kembali normal. Sunyi, hanya mereka saja. Pelan kotak itu terbuka. "Mbak Nitri, kenapa di sini Mbak?" Air mata Murni sudah mengalir. Sunitri berusaha keluar dari kotak baju kotor tersebut. Tubuhnya yang kurus bisa tanpa masalah masuk dan keluarnya. Murni menangis sesenggukan. "Aku mau pulang Mbak, aku takut di sini." "Kami juga, Mbak — kami telah salah jalan, tolong kami." Serentak mereka menangis bersamaan. Mereka pelan bercerita. Murni adik Sunitri tertipu mentah-mentah, kekasihnya, mengajaknya ikut Bu Darmaji, yang ternyata hanya untuk persembahan saja. Dirinya dinodai sang pacar dan dibayar sejumlah uang untuk pembelian seorang bayi dalam rahimnya. Sunitri terdiam, bebannya bukan hanya satu tapi kini ada lima wanita hamil yang harus di selamatkan. Mereka pun berembug untuk bisa keluar dari tempat tersebut. Malam ini, Sunitri paham pasti mereka sedang heboh karena salah satu anggota mereka yaitu Sunitri tak tampak ditempat. Betul saja dugaan Sunitri. Entah keberanian apa, Sunitri menerobos ruang altar, dan langsung membuka pintu itu dengan beraninya. Sepi. Tak ada satu orang pun. Segera rencana meringkus Mbok Darmi ditunda, mereka yang hamil segera keluar dari ruangan. Ruangan yang sepi membuat mereka melangkah dengan bebas, Sunitri semakin dalam kebingungan. Banyak darah berceceran di ruangan tengah, bahkan lampu depan pun belum dinyalakan. Sunitri dan ke lima wanita hamil termasuk adiknya keluar pelan-pelan hingga sampai di pagar rumah depan yang ternyata sudah dibatasi jangan melintas oleh pihak Kepolisian. Masih dalam pertanyaan. Pelan Sunitri duduk di antara rumah penduduk dan bertanya. "Maaf, nyuwun sewu Ibu, mengapa rumah besar tersebut Bu?" "Oh, terjadi pembantaian Mbak, dari para pekerja yang berselisih mereka saling bacok. Hampir semuanya meninggal, dan pemilik rumah bunuh diri, ternyata Bu Darmaji adalah dukun cabul, Mbaknya dari mana ya? Kok rombongan pada mau kemana malam-malam?" "Eh, Saya, cuma lewat saja Bu, ini saudara saya semua , mari Bu, permisi." Sunitri segera menggandeng tangan adiknya diikuti empat orang lainnya. Dari jauh, terlihat, sosok berbulu hitam, mata merah, menatap mereka dengan kejam. "Tak akan aku lepas makananku , kemanapun kau pergi, aku akan datang. Dalam perutmu sudah menjadi jatahku. Kalian tak bisa lepas dari intaianku." Suaranya parau dan terbang mengikuti Sunitri dan rombongan. Mereka semua tak menyadari atas hal tersebut. Bahkan di belakang tubuh Murni, bergelayut, sosok makhluk astral berwujud monyet kecil, dan monyet yang lainnya, asyik hinggap di punggung masing-masing wanita yang hamil tersebut. Sunitri berjalan pelan bersama adiknya Murni dan ke empat teman adiknya yang semuanya dalam keadaan hamil. Malam semakin larut. Entah mengapa, mereka menuruti semua perintah Sunitri. "Pokoknya aku ikut kakak kamu, Murni. Keselamatanku ... Entahlah? Untuk kembali ke orang tuaku, rasanya tak mungkin, pasti mereka akan marah dan mengusirku. Kalau mereka tahu keadaanku sekarang seperti ini," sela Nisa. "Aku juga ...." sambung mereka. Sunitri terdiam, memang niatnya, menyelamatkan adiknya, dan semua ini adalah di luar dugaannya. "Baiklah, kalau kalian ingin ikut denganku, kuharap kalian menurut padaku ya, saat ini yang aku pikirkan keadaan Murni , kehamilannya sudah mapan, mungkin dalam seminggu lagi Murni akan melahirkan." "Iya Mbak ..." kontan mereka menjawab bersamaan. Terlihat Murni sedikit gelisah, dan mengelus perutnya yang membesar. Apa yang ada dalam pikiran Murni pun sangat di pahami oleh Sunitri. Sunitri masih menggenggam sesuatu dalam sakunya, ah masih ada, semoga ini bisa mengatasi segalanya. Dalam sakunya, segenggam perhiasan, yang sempat Sunitri ambil tanpa sepengetahuan si empunya dari kamar Bu Darmaji. Teringat Sunitri waktu itu, disuruh Bu Darmaji mengambilkan sebuah baki persembahan yang sudah di siapkan Bu Darmaji dalam kamarnya. Di dalam kamar majikannya itu, Sumitro melihat sesuatu yang menyilaukan. Dan mata Sunitri terbelalak melihat semangkok besar perhiasan ada di kamar majikannya tersebut. Tak ada niat dirinya untuk mencuri perhiasan tersebut, namun hatinya yang silau akan kemilaunya, menggerakkan tangannya untuk mereyok perhiasan tersebut dengan cepat. Untuk menghilangkan jejak, beberapa perhiasan itu langsung dimasukkan ke dalam (maaf) celana dalamnya, dan Sunitri keluar dari kamar, tanpa ada yang mencurigai sama sekali. Selama proses, persembahan bayi itu pun, Sunitri masih aman, benda yang dia curi tak membuat geger. Walau hatinya kacau balau. Malamnya pun tidur tak nyenyak. Baru keesokan harinya, disaat dirinya ke kamar mandi, Sunitri baru bisa mengecek perhiasan tersebut, tiga buah kalung ukuran besar, lima buah cincin, dan sebuah gelang kaki. Sepertinya ini emas murni dan mahal. Entah, apa dalam pikirannya . Kembali secepatnya membungkus perhiasan dengan kantong kresek, lalu menyimpannya kembali, ke dalam celana dalamnya. Saat ini, tempat itulah yang paling aman.