Malam Yang Tak Pernah Berakhir Kumpulan Cerpen_Homang
4/4
Bab 4

Kumpulan Cerpen_Homang

Part 3 (ending) Entah, apa dalam pikirannya . Kembali secepatnya membungkus perhiasan dengan kantong kresek, lalu menyimpannya kembali, ke dalam celana dalamnya. Saat ini, tempat itulah yang paling aman. Sunitri terdiam. Dan perhiasan dalam sakunya harus dijualnya untuk modal mereka hidup dan mencari sebuah rumah untuk tempat tinggal. Sunitripun sudah memikirkan biaya untuk adiknya bersalin. "Mbak! Mbak Nitri ... Mbak!" Suara Murni mengagetkan Sunitri. "Iya, Murni, ada apa?" "Apa kita akan duduk di pinggir jalan terus Mbak? badanku sakit semua, Mbak," keluh Murni adiknya. "Oh, maaf, kita jalan pelan-pelan ya, itu ... Ada Surau terdekat, kita duduk, dan istirahat sebentar di sana, semoga ada warga yang mau menolong kita." Mereka pun mengiyakan usul Sunitri. Disaat mereka berjalan pelan menuju Surau. Tak mereka sadari, betapa gemuruhnya, monyet-monyet tak kasat mata ini. Mengetahui apa yang akan mereka tuju. Tubuh mereka akan terbakar bila Sunitri dan rombongan akan masuk ke dalam Surau. Monyet ini bisa mempengaruhi jalan pikiran manusia, hingga salah satu dari tak kasat mata ini melompat ke pundak Sunitri dan tampak membisikkan sesuatu di telinga Sunitri. Tak lama ... "Eh ... Itu ada teras rumah warga, agak luas, bersih dan lebih terang lampunya, kita duduk dan istirahat dulu di situ, kakiku rasanya lelah sekali." kata Sunitri tiba-tiba. Rombongan Sunitripun mengiyakan, karena sebenarnya mereka pun sudah sangat letih, namun tak berani bilang karena merasa tak enak hati. Kembali monyet tak kasat mata tersebut bersorak kembali, dan mereka kembali bergelantung di punggung dan pundak para wanita hamil tersebut. Malam pun semakin larut. Dinginnya udara tak membuat gentar mereka untuk tetap merebahkan badan mereka yang lelah di lantai tanpa alas. Mata mereka terpejam untuk sekedar menghilangkan rasa lapar dan letih yang mendera mereka sejak siang tadi. Untung janin di dalam perut mereka cukup kuat. Sunitri memandang adiknya yang rebah di pangkuannya. Tak mungkin membawa adiknya pulang ke kampung. Sementara rumah yang mereka tempati dahulu sudah dikuasai istri baru Bapaknya. Tak tega rasanya mengatakan kenyataan yang sesungguhnya pada adiknya. Di belainya perut adiknya yang tampak membesar. Korban dirinya dengan kekasih bejatnya. Oh, wajah Murni memang lebih cantik dari pada Sunitri. Perbedaannya sangat jauh. Tubuh Sunitri yang kurus, membuat wajahnya tampak lebih tua dari usianya. Lagi-lagi, suara para monyet berbulu panjang itu mulai riuh rendah, bahkan dari mereka nampak mengelus perut Murni dengan tatapan ingin melahapnya. Tangan dan kaki monyet tersebut panjang, mata merah, terlihat giginya yang bertaring. Mereka berjumlah tujuh. Ada satu monyet yang agak besar tubuhnya selalu berada di dekat Sunitri. Pagi menjelang, wajah-wajah kuyu terpancar dari Sunitri , Murni dan yang lainnya. Mereka, Eka, Dewi, Lita, dan Nisa, rela mengikuti Sunitri. Mereka seakan terhipnotis tak ingin berpisah satu sama lainnya. "Apa masih kuat jalan? kita cari toko emas, kita jual perhiasan ini, kemudian kita cari tempat tinggal dan membeli beberapa makanan." "Kuat Mbak, aku kuat, ayo, Eka, Dewi, Lita, Nisa, yang semangat ya ." Ucap Marni merasakan mereka adalah bagian dari dirinya. Mereka mengangguk bersamaan. Segera Sunitri berjalan diikuti Murni dan teman-temannya. Berjalan menelusuri kota, dan akhirnya menemukan sebuah toko emas yang baru saja buka. Dengan nekat menjual perhiasan tanpa surat-surat tersebut. Dengan modal beberapa juta hasil penjualan perhiasan tersebut. Sunitri akhirnya menyewa tempat tinggal dekat perkampungan agar mendapat harga sedikit miring, membeli keperluan rumah lainnya dan beberapa makanan untuk beberapa hari ke depan. Rumah yang Sunitri sewa kebetulan mempunyai tiga kamar tidur, sebuah ruang tamu, ruang tengah, dapur dan sebuah kamar mandi. "Kalian, tinggal dulu di sini, aku akan balik lagi ke pasar, aku ada yang terlupa, aku belikan kalian beberapa daster saja untuk sekedarnya saja ya," cakap Sunitri. "Iya, Mbak, kami ucapkan terima kasih." "Tutup pintunya, menjelang Magrib, aku akan segera pulang." Murni dan ke empat temannya segera mengangguk. Sunitri tersenyum, untung mereka menurut semua. Sebenarnya dirinya tak menyadari, keadaannya memang disetir oleh monyet-monyet tak kasat mata tersebut yang memang bisa mempengaruhi jiwa dan pikiran manusia. Murni dan ke empat temannya pun tak merasakan lagi bagaimana perasaan mereka dalam keadaan hamil. Karena monyet tersebut menginginkan keadaan bayi mereka utuh, sebagai santapan yang istimewa. Tak berapa lama, benar saja menjelang magrib, Sunitri sudah kembali dengan beberapa kasur busa, dan peralatan dapur. Sunitri juga membeli beberapa daster untuk mereka. Juga tak lupa membeli beberapa pakaian bayi untuk anak dalam kandungan Murni. Hari berganti hari, keadaan Sunitri dan rombongan semakin membaik. Mereka bekerja sama membuat makanan ringan untuk dijual di pasar. Sunitri yang bertugas menjualnya ke pasar. Disaat Sunitri sedang berjualan. Murni mengalami kontraksi hebat. Dalam kecemasan dan kepanikan mereka, tak bisa berpikir secara logis. Monyet-monyet itu mempengaruhi batin dan akal pikiran para wanita hamil tersebut. "Ayo Murni, kau pasti bisa melahirkan, sini aku bantu." Kata Nisa. "Betul Murni, bukankah kita sudah diajari untuk bisa saling bantu saat melahirkan dulu waktu di rumah juragan Darmaji," sela Dewi. Yang lainya sigap dengan kain-kain dan seember air hangat. "Aduh ... Tapi perutku sakit sekali ..." Murni semakin menjerit tak karuan. Disaat erangan dan sakitnya Murni. Justru monyet-monyet itu semakin ramai suaranya. Suara mereka mirip dengan suara Sunitri, bahkan ada juga yang mirip dengan suara Bu Darmaji , ya ... monyet-monyet tersebut bisa menirukan suara-suara mirip manusia yang mereka kenal. Hanya mereka yang mau dipengaruhi monyet tersebut yang bisa mendengarnya, tapi dalam batin dan bawah sadarnya. Darah sudah berlumuran di lantai. Dengan sekuat tenaga Murni mengejan. Dalam satu jam perjuangan Murni, akhirnya melahirkan dengan selamat, walaupun disaat situasi berbahaya bagi dirinya. Dengan peralatan seadanya.
Tangisan bayi siang itu memecah keramaian dan sorak-sorai dari monyet berbulu panjang tersebut. Namun, kericuhan tersebut tiba-tiba terhenti tatkala mereka melihat salah satu bangsa mereka, kali ini, monyet tersebut berpenampilan berbeda, berdiri layaknya manusia. Tubuhnya penuh bulu, bermata merah dan menyeringai memperlihatkan taringnya dengan seram.
Ditatapnya bayi yang baru dilahirkan Murni. Aromanya membuat monyet bertubuh besar itu semakin mendekat pelan. Terlihat, bayi montok berkelamin laki-laki tersebut, yang sedang dibersihkan Nisa. Dengan cekatan, Nisa, membereskan semuanya. Mengepel lantai yang bersimbah darah. Dan ... Murni tampak terdiam memejamkan matanya rapat. Karena ketakutan hal buruk akan terjadi, Eka segera pergi ke pasar memberitahukan keadaan Murni pada Sunitri. Hampir setengah jam, akhirnya Sunitri datang tergopoh-gopoh, kendaraan umum disewanya dari pasar untuk membawa Murni ke rumah sakit terdekat. Dalam segala kepanikan. Karena Murni belum juga siuman. Tak ayal semua rombongan pun mengikuti Sunitri dalam mobil tersebut, dan melupakan bayi Murni yang baru saja dilahirkan. Bayi tersebut masih dalam balutan kain seadanya. Sungguh sebuah kesempatan yang istimewa bagi kawanan monyet tak kasat mata tersebut. Karena melihat makanan yang melesatkan bagi mereka. Yaitu bayi Murni. Sunitri, akhirnya harus berbohong, kalau adiknya telah membuang bayinya. Agar pihak rumah sakit tak berbelit-belit memberi pertanyaan. Murni pun bungkam. Tak bicara sepatah kata pun. Rupanya, pada saat Murni mengejan, ada salah satu urat sarafnya tertarik di bagian lehernya. Kata dokter, beberapa hari akan pulih kembali. Sunitri pun paham, pasti urusan Murni tidak berhenti di rumah sakit saja, karena kebohongannya, pasti pihak berwajib akan menangani kasusnya. Tentang pembuangan bayi. Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan. Rumah mereka kini lantainya bersimbah darah di mana-mana. Kain pembungkus bayi tersebut pun sudah koyak rusak. Diantara dinding-dinding rumah masih ada para monyet bertengger dan tersenyum penuh kepuasan. Bayi Murni sudah menjadi santapan terlezat bagi siluman Homang yang tak kasat mata itu.