Malam menjalar semakin pekat ketika Lauren akhirnya tertidur dengan bantuan infus dan perawatan intensif. Chiara duduk di tepi ranjang putrinya sambil menggenggam tangan mungil itu dengan mata yang sembab.
Aaren berdiri di balik kaca luar ruang ICU, berbicara singkat melalui telepon genggamnya.
“Selidiki makanan yang dimakan Lauren siang tadi. Lacak siapa yang memberikannya. Aku ingin nama, wajah dan alasan kenapa dia sampai melakukan ini.” Suaranya dingin dan penuh kendali. “Gunakan semua koneksi kita!"
“Baik, Tuan Baron.”
Aaren memutus panggilan itu kemudian berjalan masuk perlahan. Ia berhenti beberapa langkah dari tempat Chiara duduk, menatap gadis itu dengan ekspresi rumit.
Mata Aaren menyipit. “Itu bukan kebetulan. Ataupun salah sasaran!"
Chiara akhirnya menoleh, curiga. “Apa maksudmu?”
“Jika seseorang cukup berani mencelakai Lauren, berarti mereka tahu siapa dia sebenarnya.”
Diam. Sunyi. Namun satu kesimpulan mulai menjalar di antara mereka, ini bukan insiden biasa.
“Lauren tidak hanya dalam bahaya, Chiara,” lanjut Aaren dengan nadanya yang menajam. “Ini bisa jadi bentuk ancaman padaku—atau padamu.”
Chiara menegang. Untuk pertama kalinya, ketakutan di hatinya bukan hanya tentang kesehatan Lauren tapi tentang siapa yang sedang mengincar nyawa anak mereka.
Dan babak gelap itu baru saja terbuka.
Pagi itu kantor Baron Industries terasa lebih dingin dari biasanya. Para karyawan bergerak gelisah sejak kedatangan seorang wanita bergaun mewah berwarna marun, dengan langkah cepat dan dagu terangkat tinggi.
“Mana Aaren?” tanya Luna Damian dengan nada menusuk.
“Dia sedang dalam meeting, Nona Damian,” jawab sekretarisnya gugup.
“Suruh dia keluar. Sekarang.”
Tak sampai lima menit, Aaren keluar dari ruangannya, dengan mengenakan kemeja hitam yang masih tampak berantakan setelah semalaman menjaga Lauren di rumah sakit. Matanya menyipit begitu melihat siapa yang datang.
“Ada urusan apa kamu ke sini, Luna?”
Luna menepis rambut panjangnya ke belakang bahu. “Kau tak datang semalam di acara makan malam keluarga. Semua orang bertanya-tanya. Mereka bicara tentang tanggal pertunangan dan kau bahkan tak memberi kabar.”
Aaren menyandarkan punggung ke kusen pintu. “Aku tidak tertarik. Harusnya kau paham itu sejak lama, Luna.”
Luna melipat tangan di dada, tersenyum sinis. “Karena perempuan itu, ya? Chiara Evolet?”
Aaren langsung menegang. “Ini bukan soal siapa pun. Ini soal aku tidak mencintaimu. Pertunangan ini adalah hasil dari permainan orangtua kita. Aku tidak mau ikut bermain.”
Luna melangkah mendekat, suaranya berubah tajam. “Jadi kau pilih wanita biasa yang menghilang dua tahun lalu tanpa kabar? Kau bahkan tak tahu siapa dia sebenarnya!”
Aaren menarik napas panjang. “Aku tahu siapa dia. Dan aku tahu dia ibu dari putriku.”
Mata Luna membulat. Rahangnya terkatup. “Putri?”
Namun Aaren tak berkata lagi. Dia masuk kembali ke ruangannya dan menutup pintu perlahan. Seketika sekitar pun menjadi hening, dingin dan tegas.
Siang harinya Aaren kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi Lauren yang mulai membaik. Chiara tengah duduk di samping ranjang anaknya, menyanyikan lagu lembut sambil membelai rambut putrinya.
Namun suasana damai itu seketika pecah ketika pintu ruang perawatan terbuka keras. Luna berdiri di ambang pintu, mata membara dengan amarah yang tak tertahan.
“Jadi ini benar!” serunya lantang. “Kau benar-benar punya anak darinya!”
Chiara langsung berdiri, bingung sekaligus waspada. “Maaf, siapa—”
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Chiara. Suara telaknya menggema dan membuat Lauren terbangun menangis ketakutan.
“Jangan pernah dekati Aaren lagi, dasar perempuan murahan!” teriak Luna dengan mata berkaca.
Chiara tersentak, memegang pipinya yang memerah. Matanya menatap Lauren yang menangis sambil memanggilnya, lalu menoleh pada Luna dengan rahang yang bergetar menahan marah dan sakit.
Namun sebelum ia sempat membalas, Aaren sudah berdiri di pintu dan langsung menatap tajam pada Luna.
“Keluar dari sini, Luna.”
Suara Aaren datar, tapi mengandung ancaman.
“Aaren, kau harusnya sadar dia hanya memanfaatkanmu! Dia menipumu dua tahun lalu dan sekarang muncul membawa anak yang katanya milikmu!”
Aaren melangkah masuk, berdiri di antara Luna dan Chiara. Tubuhnya menjadi benteng antara dua wanita itu.
“Kau tidak punya hak menyentuhnya. Dan ya, anak itu memang milikku. Jangan pernah ragukan itu.”
Luna menahan napas. Tatapannya berganti luka. “Kau memilih dia, setelah semua yang kulakukan?”
Aaren menatapnya tanpa ampun. “Aku tak pernah memintamu melakukan apa pun. Sejak awal, kau tahu aku tidak mencintaimu. Ini bukan tentang Chiara. Ini tentang aku yang akhirnya sadar, tidak akan membiarkan hidupku dikendalikan lagi.”
Tangis tertahan pecah dari mata Luna. Ia mengangguk pelan, lalu berbalik dan pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Setelah Luna keluar, Aaren berbalik menatap Chiara.
Chiara masih berdiri mematung, air matanya mengalir tanpa suara. Pipinya memerah akibat tamparan itu. Lauren kini kembali tidur karena kelelahan menangis.
“Maaf,” bisik Aaren serak.
Chiara menggeleng, suaranya pelan. “Sudahlah, aku baik-baik saja.”
Tapi Aaren tahu dia terluka. Bukan hanya fisik. Tapi harga dirinya.
Aaren menatap wajahnya dengan rasa bersalah. “Aku janji tak akan ada satu orang pun lagi yang menyakitimu lagi. Termasuk Luna.”
Chiara tak menjawab. Hanya menatap Lauren dengan penuh kasih. “Aku tidak peduli siapa yang akan bersamamu, Aaren. Tapi jangan bawa Lauren ke dalam pertarungan kalian.”
Aaren mengangguk pelan. “Tapi aku ingin bersama kalian. Bukan karena aku merasa bersalah, tapi karena aku ingin memperbaiki semuanya.”
Untuk pertama kalinya mata mereka saling menatap tanpa penghalang. Ada luka. Ada amarah. Tapi juga ada sesuatu yang lebih dalam—kejujuran yang tak bisa lagi disembunyikan.
Dan di ruang rumah sakit itu, cinta yang selama ini terkubur perlahan mulai menemukan jalannya keluar.