Suasana ruang keluarga keluarga Baron dipenuhi aroma kopi hangat dan ketegangan yang nyaris bisa diraba. Di balik kemegahan rumah besar itu, percakapan yang terjadi begitu tajam dan menusuk. Aaren Baron duduk tegak di kursi utama, bersandar namun wajahnya menunjukkan ketegasan. Di hadapannya ada ayahnya—Leopold Baron—menatap tajam sementara ibunya duduk dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Kita sudah bicara soal ini, Aaren," ujar Leopold dengan suara berat. "Keluarga Damian bukan hanya sekadar kolega lama, mereka penyelamat perusahaan ini saat krisis sepuluh tahun lalu. Mengikat hubungan dengan mereka melalui pernikahan adalah keputusan terbaik untuk memperkuat kembali bisnis keluarga."
Aaren mendengus pelan, menatap lurus tanpa gentar. "Aku tidak akan menikahi Luna hanya karena sejarah bisnis masa lalu. Aku tidak mencintainya, Ayah."
Sang ibu bernama Helena Baron, menyela dengan suara lembut tapi tegas. "Cinta bisa tumbuh seiring waktu, Aaren. Yang penting sekarang adalah menyelamatkan reputasi keluarga kita. Lagi pula kalian sudah berteman sejak kecil, perasaan akan mudah untuk tumbuh. Kau tahu, musuh bebuyutan kita, keluarga Vargas, sedang mencari celah. Mereka tahu perusahaan kita sedang dalam negosiasi merger dengan klien dari Singapura. Jika mereka tahu kamu membatalkan pertunangan ini, mereka akan memanfaatkannya."
"Aku tidak peduli dengan permainan taktik mereka. Jika mereka ingin menjatuhkan Baron Group, maka aku akan berdiri melawan mereka, bukan menjual masa depanku demi kepentingan politik keluarga!" Aaren membalas dengan nada yang lebih tinggi.
Leopold mengepalkan tangan. "Kau pikir ini hanya tentang dirimu, Aaren? Seluruh dewan direksi telah tahu soal rencana pernikahanmu dengan Luna. Membatalkannya bisa menyebabkan saham kita anjlok!"
Aaren berdiri dengan tubuh yang menegang. "Aku siap menanggung semua akibatnya. Tapi aku tidak akan menikahi wanita yang tidak kucintai. Dan aku tidak akan membiarkan orang lain menentukan hidupku, Ayah."
Helena menghela napas, wajahnya berubah muram. "Kami hanya ingin yang terbaik untukmu, Nak. Dan kami tahu, wanita bernama Chiara itu, bukanlah pilihan yang tepat."
Mata Aaren menyipit. "Jangan bawa-bawa Chiara ke dalam ini. Dia wanita terhormat yang membesarkan anakku dengan susah payah selama dua tahun. Dia jauh lebih kuat daripada yang kalian kira."
Leopold menyandarkan tubuhnya, ekspresinya tajam. "Wanita itu menyembunyikan anakmu, Aaren. Dia membohongimu dan memanipulasi cerita. Apa kau yakin bisa mempercayai dia sepenuhnya?"
Aaren terdiam sejenak, rahangnya mengeras. "Aku tahu apa yang kulakukan. Dan aku tahu siapa yang kupercayai. Jika kalian tidak bisa menerimanya, maka aku akan memimpin perusahaan ini dengan caraku sendiri."
Helena menatap Leopold yang kini hanya menatap anaknya tanpa kata. Ada kekecewaan di sana, tapi juga perasaan takut.
Setelah pertemuan itu, Aaren berjalan keluar dari ruang utama dengan kepala tegak. Namun dadanya bergetar. Ia tahu,l keputusannya menolak pernikahan yang diatur keluarga bukan hanya soal cinta. Ini soal kepercayaannya terhadap Chiara, terhadap Lauren dan juga terhadap dirinya sendiri. Tapi satu hal yang belum dia ketahui, musuh keluarga mereka, Vargas, ternyata sudah mulai menyusup, tak hanya ke dalam bisnis tetapi juga ke dalam kehidupan pribadi Aaren.
Dan mereka tahu kelemahan terbesar Aaren saat ini adalah seorang wanita bernama Chiara Evolet.
Lorong rumah sakit tampak lebih sepi dari biasanya. Aaren berdiri bersandar di dinding, menunggu dokter keluar dari ruang perawatan Lauren. Setelah semalaman penuh ketegangan, akhirnya pagi ini sang dokter menyampaikan kabar melegakan bahwa Lauren sudah diperbolehkan pulang.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.
“Chiara, aku sudah menyuruh orang menyiapkan apartemenku. Kalian akan tinggal di sana untuk sementara waktu,” ucap Aaren tegas dan tanpa nada diskusi.
Chiara yang sedang mengepak perlengkapan Lauren ke dalam tas kecil berwarna kuning cerah, menghentikan gerakannya. “Maaf, apa katamu barusan?”
Aaren maju beberapa langkah dengan suaranya yang tetap datar namun penuh tekanan, “Aku tak ingin Lauren kembali ke rumah itu. Sudah jelas ada orang yang ingin mencelakai kalian. Setidaknya sampai aku tahu siapa pelakunya dan apa motifnya, kalian akan aman di bawah pengawasanku.”
Chiara berdiri tegak, matanya menyala. “Kau pikir kau bisa mengatur segalanya begitu saja, Aaren? Aku ibu dari Lauren, dan aku tahu apa yang terbaik untuk anakku!”
Aaren membalas tatapannya. “Dan aku ayahnya. Kau sendiri yang menyembunyikan fakta itu dariku selama dua tahun. Sekarang, biarkan aku menjalankan tanggung jawabku.”
Chiara tertawa getir. “Kau menyuruhku menggugurkannya waktu itu! Dan sekarang setelah kau tahu dia hidup, kau tiba-tiba ingin menjadi pelindung? Jangan bersikap seperti pahlawan sekarang, Aaren.”
Ketegangan di antara mereka memuncak. Suara Chiara sedikit meninggi, namun tetap mencoba menahan agar Lauren tak terbangun.
“Aku tahu aku bersalah, Chiara. Tapi kali ini aku tak akan membiarkan siapa pun menyentuh Lauren. Bahkan kau tak bisa menghentikanku untuk melindunginya.”
Chiara menggeleng pelan, air matanya mengambang. “Ini bukan tentang siapa yang lebih punya hak, Aaren. Ini tentang kenyamanan dan ketenangan Lauren. Kau akan menyeret kami ke dalam konflik keluargamu, ke dalam duniamu yang penuh dengan tekanan dan ambisi!”
Aaren menatapnya dengan wajah yang menegang. “Justru karena itulah aku ingin kalian bersamaku. Di tempat yang lebih aman. Kau tak tahu seberapa besar ancaman itu sekarang.”
Mereka terdiam beberapa saat, saling menatap dalam diam yang penuh luka dan kemarahan yang tak terucapkan. Lauren yang masih tidur di ranjang kecilnya seolah menjadi pusat dari semua yang sedang mereka pertaruhkan.
Chiara menghela napas dalam, seolah berusaha meredam segala gejolak di dadanya. Dia melirik Lauren yang masih terlelap dengan selang infus menempel di tangan mungilnya. Tubuh kecil itu terlalu rapuh untuk menjadi pusat dari tarik-menarik ego dan emosi yang melibatkan dua dunia berbeda.
“Aku tidak ingin Lauren tumbuh di bawah bayang-bayang ketegangan, Aaren,” ucap Chiara pelan namun mantap. “Aku tahu kau mengkhawatirkan kami. Tapi kau juga harus tahu, aku sudah membesarkannya sendiri selama dua tahun. Aku tahu bagaimana menjaganya.”
Aaren melangkah mendekat, matanya menatap dalam ke arah wanita yang kini berdiri di hadapannya dengan keberanian yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Aku tidak menyangkal semua yang telah kau lakukan. Tapi sekarang bukan saatnya memisahkan diri. Musuh keluargaku sudah menargetkan Lauren. Kau pikir mereka akan berhenti? Mereka bisa saja masuk ke rumahmu lagi. Menyusup, menyamar, bahkan membahayakan nyawa kalian tanpa kau sadari. Apartemenku punya sistem keamanan. Satpam 24 jam. Aku akan menambah bodyguard kalau perlu.”
Chiara tersenyum getir, namun matanya memancarkan kepiluan yang tajam. “Lalu bagaimana dengan kehidupan kami? Haruskah kami tinggal di tempat asing, diatur olehmu, seolah kami tidak punya pilihan lain?”
“Ini bukan tentang mengatur. Ini soal keselamatan,” balas Aaren cepat.
“Tidak, Aaren. Ini juga tentang harga diri,” jawab Chiara tegas. “Aku tidak mau Lauren merasa seperti barang milik dua orang dewasa yang sibuk saling membuktikan kekuasaan.”
Aaren menatapnya tajam, wajahnya menegang. Ia hendak membuka mulut, namun Lauren menggeliat pelan dan mengerang pelan dalam tidurnya. Spontan mereka berdua menoleh dan mendekat. Seketika itu juga ketegangan seolah surut.
Chiara menyelimuti tubuh kecil putrinya, membetulkan posisi kepalanya dengan lembut.
Aaren menatap mereka. “Setidaknya, beri aku waktu beberapa hari. Hanya sampai aku pastikan siapa dalang di balik semua ini. Setelah itu, kau bebas membawa Lauren kembali ke tempat yang kau pilih. Aku tidak akan memaksakan apa pun.”
Chiara terdiam cukup lama. Hatinya berkecamuk. Logikanya mengiyakan permintaan Aaren—untuk sementara, itu memang lebih aman. Tapi egonya terluka. Ia merasa seperti dipaksa menyerahkan segalanya lagi setelah dua tahun berjuang sendirian.
Akhirnya dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berkata, “Baiklah. Tapi hanya untuk beberapa hari saja. Dan jangan sekali pun kau menganggap ini berarti aku memaafkan semua yang telah terjadi.”
Aaren menunduk sedikit, menghela napas lega. “Terima kasih, Chiara.”
Namun di balik ucapan itu, ia tahu badai yang sesungguhnya belum berakhir. Tinggal satu atap dengan Chiara dan Lauren, akan menjadi ujian yang tak mudah—bagi dirinya, bagi Chiara dan bagi semua luka masa lalu yang belum sempat disembuhkan.