Penantian Terlarang Tumbuhnya Cinta yang Tidak Pernah Benar-Benar Aman
2/4
Bab 2

Tumbuhnya Cinta yang Tidak Pernah Benar-Benar Aman

Alvara baru sadar satu hal setelah hubungan mereka melewati tahun pertama.

Cinta ternyata tidak selalu datang dengan ledakan. Tidak selalu dengan rasa berbunga yang membuat orang lupa diri. Cinta juga bisa tumbuh pelan, seperti kebiasaan kecil yang awalnya tidak disadari, lalu suatu hari terasa mustahil dilepaskan.

Raka menjadi bagian dari rutinitas itu.

Pesan pagi yang sederhana, menanyakan apakah ia sudah sarapan. Telepon singkat di sela jam kerja. Obrolan larut malam tentang hal-hal yang tampaknya tidak penting, tapi selalu membuat Alvara tertawa. Tidak ada janji besar, tapi ada kehadiran yang konsisten.

Dan bagi Alvara, itu sangat berarti.

Tahun kedua hubungan mereka berjalan dengan ritme yang tenang. Tidak selalu romantis, tapi terasa nyata. Mereka mulai lebih sering bertemu, meski tidak pernah terlalu lama. Raka memahami batasan Alvara. Ia tidak menuntut dikenalkan ke keluarga. Tidak memaksa masuk ke dunia yang jelas belum sepenuhnya menerima dirinya.

“Aku enggak mau bikin kamu serba salah,” katanya suatu kali.

Kalimat itu membuat Alvara terdiam lama.

“Kenapa kamu selalu mikirin aku dulu?” tanyanya.

Raka hanya tersenyum kecil. “Karena kamu penting.”

Alvara sering bertanya-tanya, apakah cinta memang seharusnya sesederhana itu.


Di luar hubungan mereka, hidup Alvara terus bergerak. Ia mulai dikenal di lingkungan kampus dan kerja magangnya. Sikapnya yang tenang, cara bicaranya yang lembut, dan kebiasaan mendengarkan membuat banyak orang merasa nyaman di dekatnya.

Perhatian mulai berdatangan.

“Kamu itu tipe yang bikin orang betah,” kata seorang rekan kerja suatu sore.

Alvara tertawa kecil. “Kamu lebay.”

“Tapi serius. Kamu sadar enggak sih, banyak yang suka sama kamu?”

Alvara tidak menanggapi. Ia tidak merasa perlu. Hatinya sudah terisi.

Namun dunia tidak pernah berhenti memberi pilihan.

Beberapa laki-laki mulai mendekat. Cara mereka berbeda. Lebih berani, lebih terang-terangan. Ada yang menawarkan makan malam, ada yang mengajak jalan dengan nada percaya diri.

Alvara menolak dengan sopan. Selalu.

“Aku sudah punya pacar,” jawabnya setiap kali.

Dan setiap kali itu pula, ia merasakan tatapan heran.

“Masih pacaran aja?” tanya salah satu dari mereka. “Enggak takut nunggu terlalu lama?”

Pertanyaan itu tidak langsung ia jawab. Tapi malamnya, ketika sendirian, kalimat itu kembali terngiang.

“Menunggu terlalu lama.”

Apakah ia sedang menunggu, atau sebenarnya sudah memilih?

Raka mulai merasakan jarak yang halus. Bukan jarak fisik, tapi jarak yang tidak bisa dijelaskan. Alvara masih sama. Masih hangat. Masih perhatian. Tapi ada sesuatu di balik suaranya yang berubah.

“Kamu lagi mikir apa?” tanya Raka di telepon.

“Biasa,” jawab Alvara. “Capek aja.”

“Kamu capek sama aku?”

Pertanyaan itu selalu membuat Alvara terdiam.

“Enggak,” jawabnya cepat. “Jangan mikir aneh-aneh.”

Tapi Raka tahu, tidak semua hal bisa diselesaikan dengan jawaban cepat.

Ia sendiri sedang berada di fase hidup yang tidak mudah. Pekerjaannya belum stabil. Rencana-rencananya sering berubah. Ada hari-hari di mana ia merasa tertinggal, terutama ketika melihat Alvara yang semakin matang, semakin bersinar.

“Aku takut kamu bosan nunggu,” katanya suatu malam, jujur.

Alvara terdiam.

“Aku enggak ngerasa nunggu,” jawabnya akhirnya. “Aku milih.”

Kalimat itu membuat Raka tersenyum, meski hatinya tetap diliputi cemas.


Tahun ketiga datang tanpa perayaan khusus. Mereka tidak pernah menghitung hari jadian dengan detail. Tapi Alvara tahu, waktu telah membawa mereka ke tempat yang berbeda.

Hubungan ini bukan lagi tentang nyaman. Ini tentang bertahan.

Tekanan dari rumah mulai terasa lebih nyata. Tidak lagi berupa pertanyaan ringan, tapi perbandingan yang mulai terang-terangan.

“Kamu tahu anaknya Bu Mira?” tanya ibunya suatu sore. “Sekarang sudah tunangan. Laki-lakinya kerja di luar negeri.”

Alvara hanya mengangguk.

“Kamu enggak kepikiran ke arah sana?” lanjut ibunya.

“Arah mana?”

“Masa depan.”

Kata itu kembali muncul. Selalu masa depan. Seolah masa kini tidak cukup berarti.

Ayahnya menimpali dengan nada datar. “Papa cuma enggak mau kamu salah pilih.”

Alvara menunduk. Tangannya mengepal pelan.

“Papa enggak kenal Raka,” katanya akhirnya.

“Justru itu,” jawab ayahnya. “Dan Papa juga belum melihat apa yang bisa dia tawarkan.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Alvara duga.

Malam itu, ia menangis sendirian di kamar. Bukan karena Raka tidak cukup. Tapi karena dunia seolah menuntutnya memilih sesuatu yang tidak ia inginkan.

“Apa aku naif?” tanyanya pada dirinya sendiri.


Di tengah semua itu, Raka tetap hadir dengan caranya sendiri. Ia tidak menghilang. Tidak menjauh. Bahkan ketika Alvara mulai lebih sering diam, Raka tetap menunggu.

“Aku di sini,” katanya sederhana. “Kapan pun kamu mau cerita.”

Kesabaran itu justru membuat Alvara semakin merasa bersalah.

Suatu malam, setelah percakapan panjang tentang hal-hal kecil, Alvara tiba-tiba berkata, “Rak, kamu enggak pernah kepikiran cari yang lain?”

Raka terdiam.

“Maksud kamu?”

“Perempuan lain,” lanjut Alvara. “Yang hidupnya lebih sederhana. Yang enggak ribet, kayak aku.”

Raka tersenyum kecil, meski Alvara tidak bisa melihatnya.

“Aku enggak ngerasa kamu ribet. Sebenarnya kalau dideketin sih pernah,” jawabnya jujur. “Tapi kalau hatiku maunya sama kamu, gimana dong?”

Alvara menelan ludah.

“Gombal!” Sahut Alvara pelan.

“Itu fakta, Alvara. Hati aku udah milih kamu.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi berat.

Alvara menutup mata. Ada hangat yang menjalar, tapi juga rasa takut yang ikut tumbuh.

“Kalau suatu hari aku berubah,” katanya lirih. “Kalau aku enggak sekuat sekarang.”

“Aku tetap di sini,” jawab Raka tanpa ragu.

Dan di situlah Alvara mulai sadar, hubungan ini tidak hanya soal cinta. Ini soal keberanian untuk melawan arus, sesuatu yang belum pernah benar-benar ia lakukan sepanjang hidupnya.


Beberapa hari kemudian, ibunya menyebut nama lain di meja makan.

“Papa punya kenalan,” katanya santai. “Anaknya sudah mapan. Karier jelas. Orangnya baik.”

Alvara membeku.

“Kita cuma ngobrol,” lanjut ibunya cepat. “Enggak ada salahnya kenal.”

“Aku sudah punya pacar,” jawab Alvara, suaranya bergetar.

Ibunya menatapnya lama. “Pacar itu belum tentu jadi masa depan.”

Kalimat itu kembali. Selalu kalimat itu.

Malam itu, Alvara mengirim pesan pada Raka.

“Rak.”

“Iya.”

“Apa menurutmu cinta itu cukup?”

Balasan Raka lama. Sangat lama.

“Aku enggak tahu,” tulisnya akhirnya. “Tapi aku tahu aku enggak mau nyerah tanpa berjuang.”

Alvara memeluk ponselnya. Dadanya terasa penuh.

Ia mencintai Raka. Itu tidak pernah ia ragukan. Tapi untuk pertama kalinya, ia juga mulai merasakan takut kehilangan dunia yang selama ini membesarkannya.

Dua hal yang sama-sama penting dan dua pilihan yang sama-sama menyakitkan.

Cinta mereka tumbuh. Menguat. Mengakar. Tapi dunia di sekitar mereka mulai bertanya, sampai kapan mereka bisa bertahan seperti ini. Pertanyaan itu menggantung. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu jawabannya.