Penantian Terlarang Tekanan yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi
3/4
Bab 3

Tekanan yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

Alvara mulai menyadari bahwa tekanan tidak selalu datang dalam bentuk larangan atau bentakan. Kadang ia hadir dengan cara yang jauh lebih halus. Dalam bentuk pertanyaan berulang. Perbandingan kecil. Kalimat yang terdengar seperti nasihat, tapi pelan-pelan mengikis keyakinan.

Ia mengalaminya hampir setiap hari.

“Teman Mama anaknya baru nikah,” kata ibunya suatu pagi sambil menyeduh teh. “Usianya enggak jauh dari kamu.”

Alvara mengangguk sambil membuka ponsel, pura-pura sibuk.

“Laki-lakinya mapan,” lanjut ibunya. “Orang tuanya juga baik.”

“Iya, Ma.”

Ibunya menatapnya sekilas. “Kamu enggak kepikiran ke arah sana?”

Pertanyaan itu tidak lagi membuat Alvara terkejut. Yang membuatnya lelah adalah kenyataan bahwa ia harus terus menjawab dengan hati-hati, seolah satu kata salah bisa memicu konflik panjang.

“Aku belum kepikiran nikah,” jawabnya akhirnya.

Ibunya tersenyum tipis. “Bukan berarti enggak boleh mulai mikir.”

Kalimat itu terdengar ringan, tapi Alvara tahu maksudnya. Selalu begitu. Tidak pernah ada paksaan langsung, tapi arah pembicaraan selalu sama.

Masa depan. Stabilitas. Pasangan yang aman.

Dan Raka tidak pernah masuk dalam definisi itu.


Di luar rumah, Alvara masih menjadi dirinya yang tenang. Di kampus, ia menyelesaikan tugas tepat waktu. Di tempat magang, ia bekerja dengan penuh tanggung jawab. Banyak yang menyukainya. Banyak yang mengaguminya.

“Kamu kelihatan dewasa,” kata seorang senior suatu hari. “Kayak sudah tahu mau ke mana.”

Alvara tersenyum. Jika saja orang tahu betapa sering ia merasa tersesat.

Di tengah semua itu, Raka tetap menjadi tempatnya pulang. Setiap kali dunia terasa berat, suara Raka selalu menenangkan.

“Kamu jangan simpan sendiri,” kata Raka suatu malam. “Aku ada.”

“Aku enggak mau kamu ikut capek,” jawab Alvara.

Raka tertawa kecil. “Capek bareng itu masih lebih enak daripada capek sendirian.”

Kalimat itu membuat Alvara terdiam lama. Ada hangat, tapi juga rasa bersalah yang ikut tumbuh.

Ia tahu Raka berusaha keras. Ia melihatnya. Mendengar cerita tentang kegagalan kecil, tentang hari-hari yang tidak berjalan sesuai rencana. Dan ia tahu, di balik semua itu, Raka tetap memilih bertahan.

Justru karena itu, Alvara mulai mempertanyakan dirinya sendiri.

“Apa aku pantas ditunggu sejauh ini?” pikirnya.

Tekanan keluarga mulai meningkat tanpa ia sadari. Ayahnya yang biasanya jarang ikut campur, kini mulai lebih sering mengomentari hidupnya.

“Kamu sudah besar,” katanya suatu malam di meja makan. “Sudah waktunya mikir lebih jauh.”

“Aku mikir, Pa.”

“Kalau begitu, Papa mau tahu. Laki-laki yang sama kamu itu, rencananya apa?”

Alvara mengangkat wajahnya. “Dia berusaha.”

Ayahnya mengangguk pelan. “Berusaha itu penting. Tapi hasil juga penting.”

Ibunya ikut menimpali dengan nada lembut. “Kami cuma enggak mau kamu kecewa di kemudian hari.”

Kata kecewa itu terasa ironis. Alvara justru takut mengecewakan dirinya sendiri jika ia menyerah sekarang.

Malam itu, ia masuk ke kamar dengan kepala penuh. Ia menutup pintu, duduk di tepi ranjang, dan menatap foto lama di ponselnya. Foto dirinya dan Raka di sebuah sudut kota, tersenyum sederhana, tanpa latar mewah.

“Itu bahagia,” gumamnya. “Kenapa orang lain enggak bisa lihat itu?”

Ia mengirim pesan pada Raka tanpa banyak berpikir.

“Rak, kamu pernah ngerasa enggak cukup?”

Balasan Raka datang tidak lama kemudian.

“Hampir setiap hari.”

Alvara menelan ludah.

“Tapi aku belajar berdamai sama itu,” lanjut Raka. “Selama aku tahu aku berjuang jujur.”

Kejujuran itu membuat dada Alvara sesak. Ia ingin memeluk Raka saat itu juga, tapi yang bisa ia lakukan hanya memeluk ponselnya.

Hari demi hari, rasa bersalah dan cinta berjalan beriringan. Alvara mulai sering merasa lelah, bukan secara fisik, tapi emosional.

Ia mencintai Raka. Itu tidak berubah. Tapi ia juga mencintai keluarganya. Dan di antara dua cinta itu, ia mulai kehilangan dirinya sendiri.

Suatu sore, setelah percakapan panjang dengan ibunya tentang masa depan, Alvara keluar rumah tanpa tujuan. Ia duduk di taman kecil dekat rumah, memandangi anak-anak bermain.

“Apa hidup selalu harus seperti ini?” pikirnya. “Memilih salah satu, lalu kehilangan yang lain?”

Ponselnya bergetar. Raka menelepon.

“Kamu di mana?” tanya Raka.

“Di luar.”

“Kamu baik-baik saja?”

Alvara terdiam sejenak. “Enggak tahu.”

Raka tidak langsung bicara. Ia membiarkan keheningan itu ada.

“Kamu mau aku ke sana?” tanyanya pelan.

Alvara hampir mengatakan iya. Tapi bayangan wajah orang tuanya muncul di kepalanya.

“Enggak usah,” jawabnya akhirnya. “Aku cuma butuh waktu.”

“Aku tunggu,” kata Raka tanpa protes.

Dan lagi-lagi, kesabaran itu terasa seperti pisau bermata dua.

Malamnya, Alvara duduk di depan cermin, menatap wajahnya sendiri. Ia terlihat baik-baik saja. Tapi ia tahu, ada retakan yang mulai terbentuk.

“Apa aku mulai goyah?” tanyanya dalam hati.

Ia teringat semua momen bersama Raka. Tawa kecil. Keheningan yang nyaman. Cara Raka mendengarkan tanpa menghakimi.

Lalu ia teringat wajah ibunya yang khawatir. Ayahnya yang ingin ia aman.

Dua dunia. Dua versi kebahagiaan.

Dan ia berada di tengahnya, sendirian.

Alvara menyadari satu hal malam itu. Ia belum menyerah. Tapi ia juga tidak sekuat dulu.

Cinta itu masih ada. Bahkan mungkin semakin dalam. Tapi tekanan telah membuatnya lelah.

Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri dengan jujur.

“Sampai kapan aku bisa bertahan seperti ini?”

Pertanyaan itu tidak terjawab.

Alvara mematikan lampu kamar, tapi matanya tetap terbuka. Gelap tidak membuat pikirannya ikut tenang. Justru di keheningan itu, semua suara di kepalanya terdengar lebih jelas.

Ia membalikkan badan, memeluk bantal, mencoba mencari posisi nyaman yang biasanya mudah ia dapatkan. Kali ini tidak. Dadanya terasa penuh, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam tanpa tahu harus dikeluarkan ke mana.

Ia mengambil ponsel lagi. Nama Raka masih ada di layar terakhir. Percakapan mereka belum lama berakhir, tapi Alvara sudah rindu.

“Aku capek,” bisiknya pelan, seolah Raka bisa mendengar dari kejauhan. “Tapi aku juga enggak mau kehilangan kamu.”

Ia tahu Raka tidak pernah meminta lebih. Tidak pernah menuntut janji. Tidak pernah memaksanya memilih. Justru karena itu, beban di hatinya semakin berat.

“Andai kamu marah,” pikirnya. “Mungkin aku bisa lebih mudah pergi.”

Tapi Raka tidak seperti itu.

Alvara menghela napas panjang. Ia menatap langit-langit kamar yang samar terlihat dalam gelap. Ada rasa takut yang mulai tumbuh, bukan tentang masa depan, tapi tentang dirinya sendiri.

Takut suatu hari ia bangun dan merasa terlalu lelah untuk berjuang.

Takut ia berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak ia kenali.

Ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan masuk dari Raka.

“Aku tahu kamu lagi banyak pikiran. Jangan paksa diri kamu kuat terus. Kalau kamu jatuh, aku masih di sini.”

Kalimat sederhana itu membuat mata Alvara panas. Ia memejamkan mata, menahan sesuatu yang hampir tumpah.

“Kenapa kamu selalu baik banget sama aku?” gumamnya lirih.

Ia tidak membalas pesan itu. Bukan karena tidak mau, tapi karena ia takut jika mulai mengetik, semua yang ia pendam akan keluar bersamaan.

Malam itu, Alvara akhirnya tertidur dengan pikiran yang belum selesai. Dengan hati yang masih mencintai, tapi mulai kelelahan.

Dan tanpa ia sadari, kelelahan itu bukan sekadar lelah sementara. Itu adalah tanda awal dari badai yang perlahan mendekat, diam-diam, tanpa suara.