TERJERAT PESONA GADIS GUNUNG Sang Penjaga Rimba
1/25
Bab 1

Sang Penjaga Rimba

Kabut pagi selalu datang lebih dulu sebelum matahari. Ia menyusup perlahan dari celah-celah lembah, merayap seperti makhluk hidup yang mengenali setiap lipatan tanah. Martina mengenali langkah-langkahnya—bagaimana kabut menyentuh pucuk cemara hingga bergetar pelan, bagaimana ia menggantung di udara sebelum akhirnya jatuh menjadi embun yang dingin di kulit. Rambut hitamnya yang panjang segera basah di ujung-ujungnya ketika ia melangkah keluar rumah, menyusuri teras-teras ladang yang masih terlelap.

Udara pagi menggigit, namun Martina tak pernah mengeluh. Tubuhnya telah belajar menerima dingin sebagai bagian dari kehidupan. Punggungnya kuat, bukan karena ingin terlihat demikian, melainkan karena gunung membentuknya. Setiap hari adalah latihan tanpa sadar: memikul kayu bakar, mengangkut hasil kebun, menanam kembali bibit-bibit pohon di tanah yang mulai kehilangan nafasnya. Kakinya paham betul ritme tanah—kapan ia licin karena lumut, kapan rapuh karena hujan semalam, kapan keras dan dapat diandalkan.

Wajah Martina memantulkan keteguhan yang sunyi. Tidak ada riasan, tidak ada usaha untuk mempercantik diri. Kecantikannya lahir dari kesederhanaan: kulit kecokelatan yang ditempa matahari, sorot mata yang jernih, dan rahang yang mengeras dan pemikiran tegas. Orang-orang desa sering berkata bahwa Martina terlihat seperti gunung itu sendiri—diam, kokoh, dan tak mudah goyah.

Di lereng Gunung Arjuno Martina tumbuh, bukan hanya sebagai manusia, tetapi sebagai bagian dari alam. Sejak kecil ia belajar membaca cuaca dari bau angin: angin basah yang membawa hujan dari timur, angin kering yang menandakan kemarau panjang. Ia memahami tanah dari retak-retaknya, dari warna cokelatnya yang berubah setelah hujan, dari suara langkahnya sendiri ketika menapak. Tanah selalu berbicara, kata ayahnya dulu, dan Martina mendengarkan dengan saksama.

Setiap mata air memiliki nama. Ada Sendang Lirih, yang airnya dingin dan tenang, tempat ibunya dulu mencuci pakaian sambil bersenandung pelan. Ada Pancuran Batu, yang mengalir deras dari celah tebing, tempat Martina sering berhenti untuk membasuh wajahnya. Ada air terjun Larangan yang suhunya bisa membekukan. Setiap jalur hutan punya cerita—tentang pemburu yang tersesat, tentang pohon tua yang tumbang saat badai, tentang doa-doa yang pernah dipanjatkan di bawah langit yang sama. Bagi Martina, gunung bukan sekadar tanah. Ia adalah rumah.

Pagi itu, Martina memanggul dua keranjang anyaman berisi bibit pohon di pundaknya. Akar-akar kecil terbungkus tanah lembap, dijaga seolah-olah bayi yang rapuh. Ia berjalan menyusuri jalur sempit menuju bagian hutan yang beberapa bulan terakhir mulai gundul. Ada bekas roda truk di sana, bekas luka yang tak bisa disembunyikan. Setiap kali melihatnya, dada Martina terasa sesak, seolah ada sesuatu yang dicabut paksa dari dirinya.

Ia berhenti sejenak, menatap lereng yang terbuka. Kabut masih menggantung, namun matahari mulai menyelinap, memantulkan cahaya keemasan di sela-sela dedaunan. Martina menunduk, menempelkan telapak tangannya ke tanah. Dingin, namun hidup. Ia menarik napas dalam-dalam.

“Aku di sini,” gumamnya, bukan kepada siapa pun, tetapi kepada gunung.

Martina bukan sekadar gadis desa biasa. Namanya dikenal di lereng Arjuno sebagai angin yang membawa kabar baik bagi hutan. Ia sering terlihat berjalan sendirian, rambut hitam panjangnya diikat seadanya dengan akar rotan, tergerai bebas saat ia memanggul hasil kebun atau membawa bibit pohon. Anak-anak kecil memandangnya dengan kagum, orang-orang tua mengangguk hormat, dan para pendatang sering bertanya-tanya siapa gadis pendiam itu.

Ada yang mengatakan Martina keras kepala. Ada pula yang menyebutnya penjaga rimba, setengah bercanda, setengah percaya. Ia terlalu sering berada di hutan, terlalu peduli pada pohon-pohon yang bahkan tidak bisa berbicara. Namun Martina tidak pernah membela diri. Baginya, tidak semua hal perlu dijelaskan. Alam mengerti, itu sudah cukup.

Ayahnya pernah berkata, sebelum tanah menelannya bertahun-tahun lalu, bahwa manusia hanyalah tamu di gunung. “Kalau kita lupa diri,” katanya, “gunung akan mengingatkan.” Kata-kata itu melekat di benak Martina, menjadi kompas yang membimbing setiap langkahnya.

Ia mulai menanam. Satu demi satu bibit dimasukkan ke dalam lubang kecil yang telah disiapkan. Tangannya cekatan, namun lembut. Setiap kali menimbun tanah, ia menepuknya perlahan, seolah menenangkan sesuatu yang hidup. Waktu berjalan tanpa terasa. Kabut perlahan menipis, digantikan cahaya pagi yang hangat.

Namun di kejauhan, suara asing memecah kesunyian. Suara logam beradu, suara mesin yang tak seharusnya ada di sana. Martina berhenti. Tubuhnya menegang. Ia menoleh ke arah suara itu, matanya menyipit, hatinya berdegup lebih cepat. Ada sesuatu yang berubah.

Angin membawa bau yang berbeda—bau solar, bau besi panas. Martina berdiri, mengusap tanah dari tangannya, dan memandang hutan dengan perasaan yang tak bisa ia jelaskan sepenuhnya. Ia tahu, seperti halnya kabut yang selalu datang sebelum matahari, pertanda selalu datang sebelum perubahan besar. Dan Martina, Sang Penjaga Rimba, tidak berniat berpaling.

Martina melangkah perlahan menuju sumber suara. Setiap langkahnya terukur, seolah tanah sendiri memberi aba-aba kapan ia boleh bergerak. Ia menyibakkan semak dengan hati-hati, tubuhnya merendah, napasnya ditahan. Dari balik batang pinus tua, ia melihatnya—dua pria dengan rompi lusuh, membawa alat ukur dan peta yang digelar di atas batu besar. Salah satu dari mereka tertawa kecil, menunjuk ke arah lereng yang baru saja ia tanami.

Martina mengepalkan tangan. Bukan marah yang muncul terlebih dahulu, melainkan duka. Ia mengenali tanda-tanda itu. Ia pernah melihatnya bertahun-tahun lalu, sebelum sebagian hutan di sisi barat menghilang dan tak pernah kembali utuh. Tanda-tanda awal selalu sama: pengukuran, penandaan, lalu suara mesin yang semakin hari semakin dekat.

Ia mundur perlahan, tidak ingin terlihat. Bukan karena takut, tetapi karena ia tahu, kekuatan tidak selalu datang dari perlawanan yang terang-terangan. Ia menunduk, memungut sehelai daun kering, meremasnya di antara jari-jarinya hingga hancur. Gunung, pikirnya, sedang diuji.

Langkah Martina berbalik menuju desa. Sepanjang jalan, ingatannya berkelebat—tentang ibunya yang selalu berdoa setiap kali hujan turun terlalu lama, tentang ayahnya yang mengajarinya menanam pohon bukan untuk dipanen sendiri, melainkan untuk anak cucu yang belum lahir. Semua itu kini terasa seperti warisan yang diletakkan di pundaknya seorang diri.

Saat atap-atap rumah mulai terlihat dari kejauhan, Martina berhenti. Ia menoleh sekali lagi ke arah hutan, ke arah kabut yang kini telah sepenuhnya menghilang. Cahaya matahari siang menyinari lereng dengan jujur, tanpa rahasia. Ia tahu, setelah hari ini, banyak hal tak akan lagi tersembunyi.

“Aku tidak akan diam,” bisiknya, suaranya tenggelam di antara desir angin dan suara dedaunan.

Gunung Arjuno berdiri seperti biasa—tenang, agung, dan seolah tak tergoyahkan. Namun Martina merasakan getarnya, halus tapi nyata, seperti jantung yang mulai berdetak lebih cepat sebelum badai datang. Dan di dalam dadanya, tekad itu mengeras, bersiap menghadapi apa pun yang akan mencoba merenggut rumahnya.