TERJERAT PESONA GADIS GUNUNG Retakan di Dinding Hati
4/25
Bab 4

Retakan di Dinding Hati

Hari-hari berikutnya menjadi medan perang urat saraf. Namun, semakin sering Herda berdebat dengan Martina, semakin ia terobsesi. Ia mulai sering melihat Martina dari jauh—melihat bagaimana gadis itu berbicara dengan pepohonan, bagaimana ia dengan telaten mengobati sayap burung yang terluka, dan bagaimana kegigihannya mempertahankan prinsip meski ditekan banyak pihak.

Herda menjadi lebih sering berjalan kaki. Ia mencatat aliran air, mendengar cerita longsor masa lalu dari warga yang ditemuinya, merasakan dingin yang menyelusup. Ia melihat Martina tertawa dengan anak-anak desa, bekerja tanpa mengeluh. Kekaguman tumbuh, tak diundang. Kecantikan Martina bukan sekadar rupa, melainkan keberanian untuk berkata tidak. Herda mulai mempertanyakan peta bisnisnya sendiri.

Sore itu, hujan turun tanpa aba-aba. Langit yang semula cerah mendadak gelap, dan angin membawa bau tanah basah yang pekat. Herda sedang menyusuri lereng ketika ia berpapasan dengan Martina di sebuah tebing.

“Masih mencatat?” tanya Martina singkat, menatap buku kecil di tangan Herda.

“Masih mencoba mengerti,” jawab Herda jujur.

Martina menatapnya sejenak, lalu berjalan ke arah tebing yang dipenuhi bekas tanah runtuh. Ia menunjuk dinding tanah yang menganga, akar-akar pohon mencuat seperti tulang patah.

“Ini bekas longsor lama,” katanya. “Akibat pembukaan lahan yang salah. Tidak besar, tapi cukup untuk mengajarkan kami satu hal.”

“Apa?” tanya Herda pelan.

“Bahwa gunung tidak pernah lupa.”

Herda terdiam.

Hari menggelap di lereng gunung. Angin dingin dan basah mengandung air. Martina tidak bisa mengambil resiko meninggalkan Herda dan kembali ke desa secepatnya. Laki-laki itu juga tidak memahami medan. Setapak lereng itu curam dan licin. Terlalu beresiko turun ke desa dalam keadaan hujan karena jalanan licin dan gelap. Satu-satunya tempat berlindung dari badai adalah gua kecil yang tertutup rimbun semak. Mencapai pondok terdekat pun harus memutar dan memakan waktu lebih lama, tanah longsor dahulu menutup akses jalannya.

Hari dengan cepat berubah gelap. Kabut turun tebal, menutup pandangan. Martina menatap langit, lalu lereng di bawah.

“Kita tidak bisa turun sekarang,” katanya tegas. “Setapak ini terlalu licin. Salah langkah, jurang menunggu. Ada goa di balik semak itu. Tidak luas, tapi cukup untuk berlindung dari badai.”

Herda mengangguk, meski ia sama sekali tidak paham medan. Ia mengira petualangan di alam selalu punya jalan keluar yang mudah. Ia salah.

Herda melangkah terlalu cepat.

Tanah di bawah kakinya amblas tanpa peringatan. Dalam satu tarikan napas, tubuhnya terperosok. Ia terpelanting, nyaris jatuh ke jurang gelap. Kemejanya tersangkut pada patahan batu dan akar pohon. Tubuhnya tergantung, setengah melayang, hujan menghantam wajahnya tanpa ampun.

Saat itulah kepanikan datang. Tangannya gemetar. Otot-ototnya menegang. Ia tidak tahu berapa lama kain itu akan menahan tubuhnya. Tidak ada pijakan. Tidak ada logika. Hanya rasa takut yang telanjang—takut kehilangan nyawa di tempat yang bahkan tidak ia anggap penting sebelumnya.

“Martina!” teriaknya, suaranya pecah oleh hujan.

Jawaban datang bukan dalam kata, melainkan dalam tindakan.

Martina muncul menembus badai, wajahnya basah, rambutnya menempel di pipi. Tanpa ragu, ia merayap mendekat, mengikat tali darurat dari ranselnya ke batang pohon terdekat. Tangannya cekatan, matanya fokus. Tidak ada ruang untuk emosi.

“Pegang ini,” perintahnya.

Dengan sisa tenaga, Herda menurut. Martina menarik, sedikit demi sedikit, hingga akhirnya tubuh Herda terhempas ke tanah dengan napas terengah.

Mereka terdiam lama, hanya suara hujan dan napas berat yang tersisa.

Di gua kecil itu, mereka berlindung. Dingin menggigit. Tubuh Herda menggigil, bukan hanya karena suhu, tetapi karena sisa ketakutan yang belum reda.

“Kenapa kamu menyelamatkanku?” tanyanya akhirnya, suaranya lirih, hampir tak terdengar.

Martina duduk membelakanginya, menatap hujan yang jatuh seperti tirai. “Karena gunung ini mengajarkanku melindungi nyawa,” jawabnya tenang. “Bukan menghancurkannya. Bahkan jika itu nyawa orang sepertimu.”

Kata-kata itu tidak menusuk. Justru itulah yang paling menyakitkan.

Herda menunduk. Untuk pertama kalinya, dinding ambisi yang ia bangun bertahun-tahun menunjukkan retakan. Ia sadar, di hadapan perempuan ini—dan di hadapan gunung—ia bukan penguasa. Ia hanya manusia yang nyaris mati karena kesombongannya sendiri.

Hujan terus turun.

Dan di dalam kesunyian gua kecil itu, sesuatu mulai berubah. Pelan. Tak terelakkan.

Hujan tidak segera reda. Di dalam gua kecil itu, waktu terasa mengental, seolah gunung sengaja menahan mereka lebih lama dari yang diperlukan. Martina menyalakan api kecil dengan kayu kering yang disimpannya di ransel. Api itu tidak besar, tetapi cukup untuk mengusir dingin yang menempel di tulang.

Herda memperhatikan setiap geraknya. Cara Martina mengatur napasnya, cara ia memastikan api aman dari hembusan angin, cara ia duduk tanpa gelisah—seakan alam adalah ruang tamu yang sudah ia kenal seumur hidup. Tidak ada kepanikan, tidak ada keluhan. Hanya kesiapan.

“Kau sering berada di situasi seperti ini?” tanya Herda pelan.

Martina mengangguk. “Gunung tidak selalu ramah. Tapi ia jujur. Jika kita salah langkah, ia langsung mengingatkan.”

Herda menatap api. Kata-kata itu terpatri lebih dalam daripada nasihat bisnis mana pun. Ia teringat bagaimana selama ini ia hidup—bermain di wilayah abu-abu, menunda dampak, menutup mata pada konsekuensi yang tidak langsung terlihat.

“Di kota,” katanya ragu, “kami menyebutnya risiko yang bisa dikelola.”

Martina tersenyum tipis, tanpa ejekan. “Di sini, kami menyebutnya nyawa.”

Api berderak pelan. Hujan tetap tak mereda. Herda merasakan sesuatu mengendur di dadanya—bukan lega, melainkan kesadaran yang menyakitkan. Ia menyadari betapa asingnya dirinya di tempat ini, dan betapa selama ini ia tidak pernah benar-benar hadir di mana pun.

Saat malam benar-benar turun, Martina berdiri. “Kita bisa turun besok pagi. Sekarang terlalu berbahaya.”

Herda mengangguk. Ia tidak membantah. Hujan semakin rapat, semakin berat, seolah langit perlahan membuka lapisan-lapisan amarahnya. Tetes air yang semula jatuh terpisah kini menyatu, menghantam tanah tanpa jeda. Bunyi hujan di atas daun pinus berubah dari bisik menjadi gemuruh rendah yang terus menerus, menekan telinga dan pikiran.

Angin mulai bergerak tidak teratur, awalnya hanya hembusan pendek, lalu datang dalam tarikan panjang yang dingin dan memaksa. Cabang-cabang pohon berderit pelan, seperti sedang menahan beban yang terus bertambah.

Semakin malam, hujan berubah menjadi tirai air yang nyaris tak tembus pandang. Setapak lereng menjelma aliran licin. Suara guntur terdengar jauh, lalu semakin dekat, bergema di balik perut gunung. Kilat menyambar sesekali, cahayanya singkat namun menyilaukan, memperlihatkan bayangan pohon yang terpuntir oleh angin.

Udara menjadi lebih dingin, lebih keras. Di saat itulah hujan tidak lagi sekadar hujan—ia menjadi badai, panjang dan tanpa ampun, seolah malam sendiri sedang menguji siapa yang sanggup bertahan.

Tubuh Herda bergetar dan menggigil.

Top of Form

Bottom of Form