Brak! Sialan! Minuman dalam baki itu tumpah akibat kaki lelaki itu menyandung sesuatu.
Terdengar derai tawa dari seseorang yang ternyata dengan sengaja telah mengulurkan kakinya hingga Elang terjatuh.
"Enak hah! Dasar blagu!" Suara Jordan membahana dalam cafe yang tak begitu ramai.
Mendengar ada kegaduhan, keluarlah Bos Erik dari ruang kerjanya. Segera menghampiri Elang dan menariknya dari hadapan Jordi.
"Maafkan karyawan kami yang tak becus, Tuan. Mungkin lain kali tak akan terulang lagi." Bos Erik menunduk hormat pada pelanggan tersebut.
"Bos! Dia yang membuatku terjatuh." Elang membela dirinya.
"Diamlah, Elang!" bentak Bos Erik.
Elang menatap Jordi, tapi justru Jordi sedang menatapnya dalam kebencian.
"Lebih baik kau pecat karyawan bodohmu itu, tak ada gunanya, paham?!" Jordi langsung bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan cafe tersebut.
Bos Erik langsung mendelik pada Elang.
"Kau ini! Selalu tak becus bekerja, benar saja kata orang tadi. Keluarlah dari cafeku."
"Bos, kau memecatku?"
"Iya, tapi sebelumnya, bersihkan ini semua! Jangan membuatku berubah pikiran, pergi hari ini juga!"
Elang memandang punggung bosnya yang sudah masuk ke dalam ruang kerjanya. Elang dengan kesal, ia pun membersihkan minuman yang tadi tumpah karena insiden tadi.
Shit! Elang hanya bisa memaki dalam hatinya. Ini sudah ke dua kalinya dia dipecat dengan tak hormat, bukan karena kesalahannya tapi karena ulah Jordi.
Siapa Jordi?
Berjalan lelaki yang tadi telah memorak-porandakan kerja Elang, tawanya tak lepas dari bibirnya.
"Rasakan! Itu balasan untuk manusia sok suci. Aku tuh masih dendam padamu, gara-gara kau! Aku dikeluarkan dari sekolah!" gerutunya kesal dan menendang tiang listrik yang dilewatinya.
Kasus itu terjadi setahun yang lalu, disaat mereka masih dalam satu almamater, SMA Harapan satu. Jordi masih teringat kala itu, sekolah sedang mengadakan sidak. Dalam gudang, Elang melihat Jordi menyimpan semua obat koplonya dalam kaus kakinya. Nampaknya, hal itu menggelitik Elang untuk melaporkan pada guru BK-nya. Alhasil, Jordi dan dua orang temannya langsung dikeluarkan dari sekolah. Jordi merasa justru Elang lah yang paling bersalah dalam hal ini. Dendamnya tak habis-habis. Hingga anak orang kaya nomor satu di kotanya itu, selalu membayangi setiap langkah Elang.
Elang kini sudah menenteng tas ranselnya. Pasti ibunya sudah menunggunya di rumah, dirinya tadi tak meninggalkan beberapa uang belanja untuk ibunya, Ah, aku harus cari uang di mana lagi? simpanan hari ini untuk makan sudah tak ada.
Dikayuhnya sepeda bututnya, hingga ke sebuah lapangan dekat pasar buah. Mungkin Paman Rudi bisa membantuku hari ini.
Belum sempat sepedanya sampai di depan kedai milik Paman Rudi, sebuah panggilan khas terdengar dari seseorang.
"Hai wong chino!!!"
Elang langsung membelokkan arah sepedanya pada ruko yang belum sepenuhnya terbuka. Nampak, wajah mungil dan imut berdiri sambil tersenyum.
"Pagi anak nakal," sapa Elang menyapa gadis berperawakan mungil itu.
Ada senyum semburat tipis dan selanjutnya senyum itu menjadi manyun.
"Kau mau kemana?"
"Mau ke Paman Rudi. Ada apa kau memanggilku?"
"Hem, kau tak kerja? malas kali!"
"Hah, aku barusan dipecat, aku mau ke Paman Rudi, kali saja hari ini ada yang bisa aku bantu." Dengan cepat Elang memutarkan sepedanya dan berpamitan pada gadis itu.
Sherlyn namanya, wajah imut itu hanya terdiam memandang kepergian Elang.
'Dipecat?!' hah, lagi?' heran deh, ada masalah apa dengan dia?
"Paman!" Panggil Elang pada lelaki setengah tua yang sedang membelah-belah buah semangka dan memasukkannya ke dalam plastik ukuran sedang.
"Ada apa? Mengapa kau tak kerja?"
"Aku dipecat lagi, Paman. Bolehlah aku membantumu hari ini? ibu belum makan. setidaknya aku ...." Belum sempat Elang menyelesaikan kalimatnya, Paman Rudi langsung menghentikan kegiatannya. Melepas celemeknya, lalu menyerahkan pisau pada Elang, "gantikan aku, potong semangka ini, masukkan dalam plastik, dan antarkan pada Mang Udin, semuanya berjumlah tiga puluh."
Elang hanya diam saja lalu mengikat celemek pada pinggangnya dan melihat Pamannya berlalu dengan mengendarai sepeda Elang.
'Pasti kau langsung mendatangi ibu 'kan?' batin Elang sambil tersenyum. Sejak kematian Erin adiknya, ibu menjadi hilang ingatan. Kecelakaan itu merenggut nyawa ayah dan Erin, adik Elang satu-satunya. Ibu mengalami benturan hebat pada bagian belakang kepalanya. Lalu siapa Paman Rudi? Dia yang paling sayang pada ibu. Bukan siapa-siapa, bukan pula kekasih ataupun selingkuhan, tapi persahabatan antara ayah, ibu dan Paman Rudi sudah terjalin dengan baik.
Elang meneruskan apa yang Paman Rudi perintahkan.
Di rumah yang sederhana, khas rumah milik orang keturunan China pinggiran. Terlihat Paman Rudi sudah berada di sana, di atas meja sudah ada roti dan beberapa botol susu dalam kemasan besar.
"Dari siapa ini, Jiang?" tanya Paman Rudi, masih suka memanggil nama kecil wanita yang berparas ayu tapi terlihat pucat.
"Ada yang kasih, gadis bermata emas. cantik sekali. Sudah sering dia kasih makanan padaku."
"Gadis bermata emas? Siapa Jiang? Apa kau sudah memakannya?" Diliriknya bungkus roti itu yang sudah terbuka dan sepertinya memang sudah dimakan sebagian.
"Kau pikir aku akan diracun, lagian untuk apa? Lihat dia juga bawa beras satu karung." Jiang memperlihatkan beras itu.
"Lihat ...." Tak lupa Jian buka pula lemari esnya, di sana sudah terisi penuh dengan sayuran, daging, telur dan yang lainnya.
Jiang menutup kembali dan duduk di hadapan Rudi.
"Sepertinya dia suka pada Elang, dia bilang itu bonus karena Elang rajin bekerja."
"Apa!"
Rudi tak habis pikir, siapa gadis bermata emas ini? Agaknya Jiang tak tahu keadaan sebenarnya. Segera dirinya keluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkan pada Jiang, ibunya Elang.
"Terima uang ini, untuk keperluan beberapa hari ke depan."
Jiang dengan tenang, mengurungkan kembali uang tersebut, penolakan yang sangat halus.
"Bawalah kembali uang itu, bila aku butuh, pasti aku akan menghubungi kamu. Itu pesan dari suamiku."
"Jiang, Nugros sudah meninggal, juga Erin."
Ucapan Rudi membuat Jiang memandang Rudi dengan tajam.
"Kata siapa?! Mereka sedang tidur dengan lelap di kamar."
"Jiang, sadarlah, kasihan Elang, dia butuh dirimu."
Jiang terdiam, wajahnya semakin kaku.
"Suamiku belum mati, Erin juga. mereka sedang tidur, lihatlah mereka ada di kamar," Jiang mulai ngelantur. Kata-katanya sudah tak berarah, gelisah melanda. Jiang bangkit dari duduknya.
"Pergilah, Rud, nanti istrimu mencarimu."
"Syarah sudah pergi, Jiang. Mengapa tak kau ingat? Sadarlah. Tunggu. Jiang, jangan usir aku. Kau akan baik-baik saja bukan? Jangan melakukan hal yang bodoh lagi, masih ada Elang." Rudi berdiri dan berjalan sesuai dorongan tangan Jiang yang menyuruhnya pergi
"Pergilah, aku tak apa-apa, percayalah. aku pun menunggu suami dan anak gadisku bangun."
"Ingat jangan lakukan hal bodoh, Jiang!"
Brak! pintu rumah utama akhirnya ditutup Jiang. Rudi hanya melongo di depan rumah Jiang. Dirinya dan Jiang tumbuh bersama, karena ibu mereka yang saling bersahabat. Sejak Jiang dan Siok, kedua kakak beradik itu datang bersama seorang wanita yang dalam keadaan tak punya apa-apa.
Rudi sudah menganggap keduanya adalah sodaranya. Siok meninggal saat menginjak usia remaja, dia mengalami sakit yang tak terobati. Tak lama, ibu Jiang pun meninggal, disusul ibu Rudi. Saat keduanya sudah dalam keadaan sudah menikah dengan pasangannya masing-masing.
Syarah, istri Rudi, meninggal saat melahirkan dengan membawa anaknya serta, hingga saat ini Rudi tak kembali membuka hatinya untuk menikah lagi. Keadaan semakin buruk saat sebuah kecelakaan keluarga Jiang itu terjadi.
Berulang kali Jiang akan melakukan bunuh diri, tapi selalu gagal. Dokter mengatakan ada gangguan kejiwaan pada Jiang.
Rudi segera mengayuh sepeda milik Elang.
"Pulanglah, ibumu menunggumu," kata Rudi pada Elang setelah sampai di lapak. "sudah kau antar buahnya?"
"Sudah Paman."
"Pulanglah, jangan khawatir, aku sudah meninggalkan beberapa uang di meja. ibumu sedang kalut."
"Paman, ibu ...."
"Kata Jiang, ada gadis bermata emas, datang membawa banyak makanan dan keperluan rumah, agaknya ibumu sangat menyukainya."
"Gadis bermata emas?" bisik Elang bingung.