Bruk!! Suara benda jatuh dari atas dan seseorang telah melompat dari pagar tembok rumah Elang. Seorang wanita, berjaket hitam, dalam keadaan berjongkok dan memegangi sesuatu.
"Siapa kau?" Elang sedikit takut atas penampilan dari penyusup ini.
Kemudian, sosok berjaket tersebut membalikkan badannya, sambil tersenyum.
"Sherly! kau!!"
"Hai wong Cino, maaf aku masuk rumahmu tanpa ijin, karena setan ini berusaha masuk rumahmu, dia berniat jahat!"
"Setan! Mana setan! Kau jangan menakutiku." Elang berjalan mendekati Sherlyn.
Ups! Sherlyn terlupa bahwa Elang tak bisa melihat makhluk tak kasat mata yang kini dalam cengkeraman tangan mungil gadis itu.
"Ayo perlihatkan wujudmu!! Agar pemilik rumah ini tahu tampang jelek kamu!!" ujar Sherlyn sambil mengguncang-guncang sesuatu yang tak terlihat di mata Elang.
Lama kelamaan, mata Elang melotot melihat sesuatu dalam genggaman Sherlyn, makhluk mirip tikus besar, bermoncong dan bertaring, warna hitam, berbulu lebat. Matanya merah menyala menatap Elang.
Tak dinyana, Elang jatuh pingsan!
"Hah, Cemeng, malah pingsan! Lihat manusia saja takut melihatmu, kini sesuai janjiku, bila kau datang ke rumah ini, aku tak akan memberi ampun lagi padamu, dan sekarang aku tahu siapa tuanmu."
"Shrkkkskrjljkkggajkkll." Suara mencicit tak jelas dari makhluk itu tak dimengerti oleh Sherlyn.
Gadis itu pun mulai meremas setan itu yang sudah dalam genggaman tangannya hingga tak berbentuk dan lebur seketika menjadi debu.
Elang menatap ibunya, gadis bermata emas? ibunya memanggil nama Sherlyn dengan gadis bermata emas. Setelah beberapa menit Elang sudah siuman dari pingsannya.
"Kau akan tahu nanti, sekarang kau tahu bahwa kini Elang adalah cucu dari Shang Fu. ibu tak tahu banyak tentang kakekmu. "
"Aku tahu, siapa Shang Fu." Tiba-tiba Sherlyn berujar dengan semangat.
Lelaki itu mundur dan melihat gadis mungil itu dengan waspada.
"Siapa kau sebenarnya, gadis nakal?"
Sherlyn tertawa, "Hanya kau yang menyebut aku gadis nakal, padahal aku tak pernah nakal padamu, iya kan?"
Jiang tersenyum. "Kini boleh aku tanya, mengapa kau suka melihat foto Elang waktu kecil dengan mata emasmu."
Sherlyn pun mendekat pada foto yang tergantung di dinding, melihat dengan bola mata emasnya dan meminta dengan hormat pada Elang untuk menurunkan foto yang bertahun-tahun tak pernah ada yang menyentuhnya.
Elang segera mengambil foto berbingkai tersebut. Sherlyn menerimanya, melihat sesaat wajah yang terpampang pada bingkai tersebut.
"Aku bisa melihat masa depanmu, juga masa lalumu," bisik Sherlyn.
"Maksudmu?"
Sherlyn mengembalikan foto tersebut, namun tiba-tiba dirinya melihat sebuah plakat yang tergeletak di ujung meja.
Segera Sherlyn mengambilnya, Mata emasnya semakin bersinar terang, semakin bercahaya, hingga plakat tersebut ikutan bergetar, tak lama tubuh Sherlyn luruh jatuh ke lantai.
"Sherlyn!!" Elang segera meraih tangan gadis itu.
Ternyata jiwa gadis bermata emas itu masuk dalam dimensi di mana plakat itu dibuat!
Di sebuah perkampungan kuno, di dataran Tiongkok di sebuah rumah mirip istana kecil. Berdiri seorang pria gagah dengan pakaian panglima berwarna hitam dan bertabur warna benang emas.
"Shang Fu!" Sebuah panggilan yang menjadikan lelaki itu menolehkan kepalanya, senyum manisnya tersirat mirip sekali dengan senyum Elang.
Napas Sherlyn semakin bergemuruh pasalnya, yang memanggil Shang Fu adalah seorang manusia berkepala monster!
Setelah itu, semakin ketakutan setelah tahu bahwa semua penduduk kota tersebut pun sama, bertubuh manusia tapi kepalanya monster, hanya lelaki gagah itu yang terlihat normal di mata Sherlyn.
Belum juga dia mendapatkan sesuatu yang menarik, tiba-tiba tubuhnya sudah tertarik lagi ke dalam sebuah dimensi ke alamnya sendiri.
"Aaaaa!" Teriakan Sherlyn membuat dia terjungkal pelan.
Matanya segera membuka, dilihatnya ibunya sedang duduk bersila.
"Ah, untung saja bisa aku tarik dirimu, Sher!"
"Ibu! Maaf! "
"Jangan lakukan itu lagi, kau akan tersesat bila tak didampingi."
"Aku tak tahu Bu, dimensi itu terbuka sendiri, dan aku bisa memasukinya dengan mudah."
"Tadi Elang tergopoh-gopoh ke toko, memberitahu ibu kau pingsan di sini." Ibu Sherlyn yang berpakaian gipsy tampak memandang Jiang tanpa berkedip.
"Maafkan aku, Bu."
"Ayo pulang!" seru Ibu Sherlyn.
Elang dan Jiang hanya diam saja, tahu diri bahwa kastanya tak sebanding dengan keluarga Sherlyn.
"Kau harus panggil dukun, untuk menghilangkan setan dalam ibumu, ada yang ingin mencelakainya." tiba-tiba, ibu Sherlyn berkata seperti itu pada Elang.
Pandangan ibu Sherlyn tampak berbeda dan terlihat mengangguk dengan sopan pada Elang.
Elang jadi serba kikuk sendiri. Jiang hanya diam dan menunduk.
Dalam perjalanan pulang terjadi sebuah perbincangan kecil antara Sherlyn dan ibunya.
"Dia keturunan panglima besar, dalam tubuhnya ada api yang hebat," kata Ibu Sherlyn.
"Betul, Bu. Dalam dimensi itu aku lihat orang yang sama persis dengan wajah Elang. ada yang aneh. Aku seperti mengenal kota yang dalam dimensi itu Bu?"
ibunya langsung terdiam, "Itu hanya perasaanmu saja mungkin."
"Tapi, Bu, kepala mereka monster, mirip dalam mimpi ibu!"
"Jangan gunakan mata emasmu sembarangan Sherlyn!"
Gadis mungil itu terdiam, dan terus mengikuti langkah ibunya yang cepat.
Lagi-lagi orang-orang perusuh datang ke rumah Elang. Rupanya masalah mereka belum tuntas, Tapi kali ini ada Elang yang belum berangkat kerja.
Hingga sebuah perseteruan pun terjadi Elang yang tak punya keahlian bela diri mencoba melawan mereka dengan sekuat tenaga, ibunya hanya bisa berteriak histeris setiap pukulan mengenai tubuh anaknya.
"Maunya kalian apa hah!?" Jiang meringsak maju dan mendorong lelaki bertubuh besar yang hendak memukul perut Elang yang sudah lemah.
Jiang langsung melindungi tubuh Elang.
"Minggir! anakmu harus merasakan bagaimana tergeletak di rumah sakit seperti anak majikanku."
"Itu salah dia sendiri!" teriak Jiang. "kalau tidak mengganggu anakku pasti Elang tak membalas kekejiannya!"
"Diam! Seharusnya kau ikut mati saja dalam kecelakaan itu, dasar wanita tak ada guna!"
Jiang mendapatkan tendangan pada perutnya.
"Ibu!!!!" Melihat ibunya mendapat perlakuan kasar, Elang langsung menarik rambut pria berotot itu hingga mendongak ke atas, saat itu juga kaki Elang langsung menekuk, dan memberi pukulan lututnya pada punggung si lawan, terdengar suara "Krek" seketika.
Elang melempar tubuh besar lawannya begitu saja. Beberapa orang yang datang bersama pria besar itu hanya melongo saja, tatkala melihat temannya sudah terdiam tak berkutik, darah menyembur mulutnya.
Jiang melihat Elang dengan tatapan tak percaya. Tenaganya besar sekali, sekali pukul bisa merontokkan tulang. kali ini, Jiang menatap tiga orang yang masih berdiri mematung melihat jagoannya sudah koit.
"kalian tutup mulut! Bila hal ini terbongkar, semuanya akan tahu akibatnya, Elang tak akan segan menghilangkan nyawamu!" ancam Jiang dengan mata mendelik.
"Bawa temanmu dari sini, jangan kotori rumahku dengan darah tak berarti dari kalian!"
Secepat kilat mereka langsung membopong pria yang sudah terkapar di sudut pintu.
Elang menatap ibunya, "Bu!"
Jiang tersadar, dan langsung menyuruh Elang untuk pergi dari rumahnya.
"Pergilah sejauh mungkin dari kota ini, Elang dan bawa ini." Jiang langsung memberikan plakat bertuliskan Shang Fu pada Elang.
Pria muda yang masih shock dengan apa yang terjadi itu hanya bisa menatap ibunya tak mengerti.
"Ibu, aku harus kemana?"
"Bersembunyilah, keadaan ini sangat berbahaya untukmu."
"Ibu sebenarnya ada apa? Ibu jelaskan padaku."
"Pergilah! Secepatnya sebelum ada polisi datang kemari!"
Jiang langsung bergerak mengambil kain pel dan mengelap bekas darah yang tersisa di lantai rumahnya.
"Cepat Elang!!"