MATA UNTUK TUAN MUDA MUTM 4
4/6
Bab 4

MUTM 4

Dengan sangat hati – hati, Jess mengusap badan Hagan mulai dari kedua tangan pria itu. Hagan pun tidak menolak atau merasa tidak nyaman. Tangan Jess terasa sangat lembut dan benar – benar membuat dirinya nyaman.

Bahkan saat ini Hagan merasa lebih baik dirawat oleh Jess dari pada Lucas, asisten pribadinya yang saat ini sedang sangat sibuk di kantor untuk menggantikan semua pekerjaannya.

Jess melakukannya dengan sangat tulus. Mungkin karena itu yang membuat Hagan merasa nyaman saat Jess menyentuh dirinya.

Jess bahkan tidak merasa jijik saat harus mengusap kedua kaki Hagan yang besar dan berotot itu. Bulu halus yang terkena usapan handuk basah, membuat kulit cerah Hagan semakin terlihat eksotis di mata Jess.

Semuanya telah selesai. Jess melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Gadis itu baru saja selesai mengeringkan tubuh tuannya menggunakan handuk.

Memasangkan pakaian bersih, dan kini saatnya Jess mengambil makan untuk Hagan agar bisa segera meminum obatnya.

Tidak ada amarah atau protes seperti yang diceritakan oleh Mutia sebelumnya. Jess sudah merasa bisa melakukan pekerjaannya sendiri.

Karena di dalam pikirannya memang hal terberat yang terbayang di dalam isi kepalanya adalah saat memandikan majikannya itu.

Namun nyatanya untuk pertama kali dia melakukannya, dia merasa tidak ada kendala atau kesulitan sedikit pun. Meski sungguh tubuhnya terasa sangat lelah karena harus berulang kali mengangkat tubuh Hagan yang besar dan berotot.

_

“Bu Mutia, apa makan malam untuk Tuan Muda sudah siap?” tanya Jess saat dirinya telah sampai di dapur.

“Jess, ini sudah hampir jam tujuh malam. Kenapa kamu baru turun?” tanya Mutia tampak sedikit tidak ramah kepada Jess.

Tentu saja hal itu terjadi karena Mutia tidak ingin terjadi masalah pada dirinya karena telat memberi makan malam untuk tuan muda.

Bu Sasmita adalah orang yang paling rewel soal hal ini. Meski beliau tidak tinggal satu atap dengan Hagan, namun wanita itu seperti hantu yang terkadang tiba – tiba muncul tanpa memberi tahu kedatangannya lebih dulu.

Tentu saja Sasmita berhak melakukan apa pun. Dia adalah istri sah kedua dari mendiang Pras Yudantoro, ayah kandung Hagan.

Ya, Sasmita adalah ibu tiri Hagan yang sangat overprotektif akan putra tiri satu – satunya itu.

“Saya juga tidak tahu, Bu Mutia. Saya hanya berbicara dengan Tuan Muda, memandikan dan menggantikan pakaiannya. Saya tidak menyadari bahwa hal itu memakan waktu lebih dari tiga jam,” jawabnya dengan kalimat penuh kebohongan.

Jelas dirinya tidak mungkin mengatakan soal kondisi tuan mudanya yang menyembunyikan ponsel, menghubungi Lucas dan banyak lagi.

Bahkan saat ini Jess merasa menjadi teman bagi Hagan. Tidak tahu diri memang Jess ini.

“Kamu tahu? Kalau sampai Bu Sasmita tahu. Ini pasti akan menjadi masalah besar. Jam minum obat Tuan Muda jadi berantakan.” Mutia terus menggerutu mengomeli juniornya yang dia anggap tidak kompeten dalam melakukan pekerjaan.

“Maafkan saya, Bu Mutia. Saya akan melakukan pekerjaan saya lebih baik lagi. Mungkin ini karena hari pertama saya bekerja merawat seseorang,” sahut Jess lagi sungguh tidak ingin disalahkan oleh Mutia.

Karena jelas yang dilakukannya adalah hal yang berkepentingan dengan Tuan Muda. Dia tidak merasa bersantai atau melakukan hal bodoh lainnya.

“Ya sudah! Ini bawa ke atas dan ingat! Setengah jam setelah makan, kamu baru berikan obat untuk Tuan Muda,” ucap Mutia pada akhirnya.

Dia berusaha menelan kekesalannya. Dia tidak mau membuat Jess yang tampak diterima tuannya itu justru menjadi tidak betah bekerja karena dirinya.

Mutia menyadari bahwa seharian ini Hagan tidak berteriak sedikit pun. Tidak seperti sebelum – sebelumnya. Bahkan dirinya hampir kenyang dengan kalimat umpatan yang keluar dari mulut tuan mudanya itu. Dan hari ini, dirinya merasa sangat damai.

“Baik, Bu Mutia. Saya akan berusaha lebih baik dan lebih keras lagi.”

“Sudah, lupakan saja. Aku minta maaf akan sikapku barusan. Aku hanya tidak mau kita terkena masalah besar dari Bu Sasmita. Kamu tidak tahu bagaimana mengerikannya beliau saat murka. Kamu harus lebih hati – hati ya?!”

Mutia dengan perasaan yang sudah membaik memberikan wejangan kepada juniornya itu.

Jess hanya tersenyum lalu mengangguk. Dia tidak mengambil hati perkataan pedas dari Mutia kepadanya baru saja. Karena dia menyadari posisi Mutia memang serba salah.

Dia tidak bisa lagi leluasa keluar masuk kamar tuan mudanya. Dan dia hanya bisa menunggu dirinya sendiri turun untuk mengambil menu makan malam untuk majikan mereka.

Belum lagi kalau Bu Sasmita marah seperti yang dikatakan oleh Mutia. Itu pasti hanya akan menambah masalah saja.

Dan ujungnya apa? Dia akan kehilangan gaji besar yang akan menyelamatkan hidupnya dari kemiskinan.

Sepanjang perjalanannya menuju lantai atas untuk mengantarkan makanan, Jess melamunkan banyak hal termasuk keluarga majikannya yang menurutnya sangat aneh ini.


Di sebuah kediaman yang tidak kalah mewah seperti rumah yang ditinggali oleh Hagan, saat ini Sasmita sedang selesai menelan suapan terakhir makan malamnya.

Wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tidak lagi muda itu sedang melamunkan sesuatu hal.

“Dom! Dominic!” seru Sasmita memanggil ajudan setianya.

“Saya, Bu.” Lelaki yang masih tampak sangat muda itu tergopoh – gopoh datang dari arah depan.

“Kamu sudah pastikan siapa Jess Liora itu? Namanya cukup bagus untuk kalangan orang menengah kebawah, bukan?”

Sasmita rupanya mencurigai Jess.

“Saya sudah memeriksa semuanya sebelum gadis itu tiba di kediaman Tuan Muda, Bu. Saya yakin dia hanya rakyat biasa. Ibunya pedagang makanan kecil di pasar dan saat ini Jess sedang cuti kuliah karena keterbatasan biaya. Saya sudah cek itu sampai ke universitas tempat Jess kuliah.”

“Bagus, aku hanya khawatir seseoang sengaja mengutus dirinya untuk men-sabotase Hagan. Dia benar – benar masih sangat lemah dan tidak berdaya.”

Sasmita menenggak minumannya. Menghabiskan segelas air bening itu hingga tandas.

“Sepertinya memang Lucas hanya kebetulan menemukan gadis itu, Bu. Dia baru saja ditolak oleh sebuah perusahaan kecil, dan gadis itu hampir tertabrak mobil yang dikendarai Lucas dengan cv di tangannya.”

“Baiklah, tidak ada hal lain yang aku takutkan untuk saat ini. Bagaimana dengan Mila? Apa Rubah itu masih melakukan banyak pergerakan untuk mengambil alih proyek baru milik Hagan?” tanya Sasmita lagi.

“Sepertinya wanita itu sedang sibuk dengan keluarganya, Bu. Putra Bu Mila sedang dalam masa masuk perguruan tinggi di London. Mereka juga masih bersenang – senang di sana. Tidak ada hal yang mengancam.”

Sasmita hanya menganggukkan kepalanya. Wanita itu memilih beranjak dan segera masuk ke dalam kamarnya.

Sementara Dom, dia harus melakukan pekerjaannya di sesi terakhir malam ini. Ya, dia harus patroli setiap sudut luar rumah. Memastikan apakah penjaga yang sedang bertugas benar – benar melakukan tugasnya dengan baik atau tidak.

_

“Tuan, saya tidak tahu kemana barang – barang saya dibawa pergi. Boleh saya keluar sebentar? Saya juga harus mandi dan membersihkan diri.”

“Kau merasa kotor setelah memandikanku?!”

Bersambung,