BAB 5
Malam ini Lucas benar – benar tiba bersama dokter Marcus.
Hagan masih terjaga meski malam sudah semakin larut. Lucas mengetuk pintu dua kali kemudian langsung masuk begitu saja ke kamar tuannya.
“Selamat malam, Tuan Muda.” Lucas berdiri dengan dokter Marcus di belakangnya. Keduanya tampak membungkukkan badan hampir bersamaan untuk menunjukkan rasa hormat mereka. Meski Hagan tidak akan melihat mereka.
Hagan dengan kepayahan berusaha bangun dari posisi tidurnya. Dan hal itu tentu saja membuat Lucas dan juga Marcus benar – benar terkejut karena tuan mereka bisa bangun sendiri tanpa bantuan siapa pun meski telihat masih sangat kesulitan.
“Tuan,” tegur Lucas mengingatkan dengan raut wajah panik dan hampir mendekat untuk membantu Hagan. Namun dokter Marcus menahannya.
“Aku bisa melakukannya.” Hagan kemudian berusaha mengangkat tubuhnya sendiri menggunakan dua tangan dan mundur hingga dirinya bisa bersandar di gunungan ranjang mewahnya.
Marcus mendekat, dokter itu kemudian mulai memeriksa beberapa kondisi tubuh Hagan dan menanyakan apa saja perubahan yang terjadi.
Ini benar – benar di luar perkiraannya sebagai seorang dokter. Hagan bisa bangun dengan waktu yang cukup singkat.
“Apa Tuan masih merasa ada hal yang aneh di tubuh Tuan?” tanya Marcus mulai melakukan tanya jawab untuk memulai pengamatannya.
“Hanya mataku masih terasa sangat gelap dan terkadang lelah. Juga kakiku masih belum bisa bergerak,” jawabnya jujur. Memang dia merasa kali ini punggungnya sudah terasa lebih ringan karena hampir setiap hari dia melatihnya untuk bergerak dan berusaha bangun.
Marcus mencatat semua apa yang dikatakan oleh Hagan. Memeriksa obat apakah masih cukup dan kemudian beralih Lucas yang mendekat untuk berbicara dengan tuannya.
“Tuan, apakah Tuan sudah benar – benar merasa lebih baik?” tanya Lucas terdengar sangat khawatir.
“Antarkan Dokter Marcus lebih dulu. Ini sudah malam,” titahnya terdengar tidak bisa ditolak oleh Lucas.
“Baik, Tuan.”
Lucas melakukan apa yang diperintahkan oleh Hagan. Lelaki itu mengantarkan Marcus sampai ke pintu depan dan meminta salah satu supir keluarga Pras untuk mengantarnya pulang.
Setelah memastikan Dokter Marcus pergi, Lucas kembali naik dan menemui Hagan.
“Tuan, Dokter Marcus sudah pulang,” beri tahu Lucas sambil berjalan mendekat ke arah Hagan.
“Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan.” Hagan terlihat sedikit gelisah. Terlihat jelas di raut wajah tampannya yang masih terlihat pucat karena tidak pernah terkena sinar mata hari sedikitpun.
“Anda bisa katakan, Tuan. Saya akan menjawab selagi saya bisa menjawabnya,” jawab Lucas sopan sambil sesekali menundukkan kepalanya.
Sungguh melihat Hagan terkapar seperti saat ini adalah hal yang paling mengerikan baginya. Orang sehebat dan semengerikan Hagan saja bisa tumbang karena ulah seseorang. Lalu bagaimana dengan dirinya? Bukankah itu akan semakin mudah andai seseorang akan menghabisi nyawanya?
“Apa ibuku tahu soal malam ini?” tanya Hagan tampak kembali khawatir.
“Belum, Tuan. Saya lembur malam ini dan tidak sempat memberi tahu Dominic,” jawab Lucas jujur.
“Jangan beritahu dia. Aku tidak mau dia rewel dan akan terlalu sering datang ke rumah ini. Itu membuatku pusing,” pintanya kemudian.
Sasmita memang hanya ibu tirinya, tapi Hagan merasa perhatian Sasmita terhadap dirinya sangatlah berlebihan. Itu membuatnya tidak nyaman.
Namun meski begitu, Hagan tidak bisa menolak kedatangan wanita sosialita itu. Dia tidak tega menyakiti ibu yang telah membantu merawat dirinya sejak masih kecil.
“Siap, Tuan.”
“Dan ….”
Lucas mengerutkan dahi. Merasa ada yang aneh dengan tuannya saat ini.
“Ada hal yang sedang Tuan pikirkan?” tanya Lucas mendahului. Karena Hagan tidak kunjung melanjutkan kalimatnya.
“Soal Jess,” sahutnya cepat namun dia tidak langsung melanjutkan kalimatnya lagi. Itu benar – benar membuat Lucas semakin penasaran.
“Jess?” ulang Lucas sambil memiringkan kepalanya.
“Ya, apa dia benar – benar hanya seorang pelayan? Kau benar – benar mendapatkan dia sendiri?” tanya Hagan tampak tidak percaya.
“Ya, Tuan. Saya yakin dia hanya seorang yang biasa dan dari keluarga biasa,” jawab Lucas yakin se yakin yakinnya.
Dalam hati Lucas pun merasa aneh. Kenapa tuannya menanyakan hal ini berulang kali dan … ini sama sekali bukan tipe dari Tuan Muda.
“Aku merasa dia berbeda. Dia benar – benar bisa membungkamku saat kami berbicara. Terkadang aku tidak menyukainya. Aku merasa dia terlalu mendominasiku, aku tidak suka.”
Hagan menceritakan apa yang dia rasakan saat bersama Jess.
“Apa saya harus menggantinya? Bukan hal yang sulit untuk mengusirnya dari sini, Tuan.”
“Tidak!” sahut Hagan cepat. Hagan terlihat tidak senang saat Lucas mengatakan akan mengusir Jess dari rumahnya.
Dan ini sungguh membuat Lucas semakin bingung. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh tuannya kali ini?
“Bukan masalah untuk mencari perawat yang baru dan bisa melayani anda dengan baik, Tuan. Kita sudah berganti pelayan bahkan sampai ratusan kali.”
“Aku katakan aku tidak ingin menggantinya. Hanya saja aku merasa … aku merasa … dia … aku sungguh tidak tahu bagaimana cara menceritakannya padamu, sial!”
Hagan terlihat kesal, juga gusar dalam satu momen bersamaan.
“Apa perlu saya menyelidikinya lebih dalam dan … menguji apakah dia memang perawat yang tepat untuk melayani anda, Tuan?” tanya Lucas sepertinya mulai mengerti apa yang saat ini dipikirkan oleh tuannya.
“Ya! Aku rasa kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?”
Lucas hanya menganggukkan kepalanya. Meski heran, namun dia tidak bisa menolak perintah dari tuannya.
Dia hanya akan melakukannya.
“Apa dia tidur di kamar pelayan, Tuan?” tanya Lucas memastikan.
“Tidak, aku menyuruh Mutia untuk menyiapkan kamar kosong di sebelah untuk dia tinggal.”
Lucas lagi – lagi mengerutkan dahi.
‘Sejak kapan ada perawat yang diberikan kamar yang berada di lantai yang sama dengan Tuan Mudanya?’
“Tuan yakin? Dia mendapatkan kamar di atas?” tanya Lucas memastikan lagi apakah dia salah dengar.
Andai benar dia salah dengar, sepertinya dia harus segera memeriksakan telinganya yang sering salah dengar malam ini saat berbicara dengan Hagan.
Bahkan tuannya itu membunyai suara bariton yang tidak bisa berbicara pelan. Andai dia salah dengar, pasti ada masalah dengan telinganya.
“Ya, aku pikir bisa saja aku tengah malam terbangun dan membutuhkan dirinya,” jawab Hagan terdengar seperti hanya sebuah alasan saja.
Nada bicaranya pun terbata seperti bukan seorang Hagan yang selalu tegas dan lugas saat berbicara.
“Ah, ya! Bukan masalah besar, Tuan. Tapi apakah Nyonya Sasmita ….”
“Ya, tentu saja dia sudah tahu. Kalau dia tidak tahu, aku hanya akan mendengarnya mengomel sepanjang hari,” pungkasnya bahkan sebelum Lucas menyelesaikan kalimat, Hagan sudah tahu ke mana arah pembicaraan asisten pribadinya itu.
“Baiklah, saya rasa tidak akan ada masalah. Saya akan membuat beberapa hal untuk menguji kejujuran gadis itu, Tuan bisa melihat hasilnya sekitar satu bulan kedepan kalau dia masih bertahan di sini.”
“Baiklah, aku selalu mengandalkanmu.”
“Saya hanya melakukan pekerjaan saya seperti biasa, Tuan. Tidak ada yang bisa Tuan andalkan, kecuali Tuan sendiri. Jadi lekaslah pulih dan kembali ke tempat Tuan berada. Ranjang bukan tempat yang tepat untuk anda.”
"Tentu saja aku akan segera membunuh mereka yang telah berani membuatku sampai seperti ini!"
Bersambung,