Cermin Kematian Halusinasi
4/40
Bab 4

Halusinasi

Bagaimana jadinya jika kamu melihat dua orang yang sama, di tempat yang sama, dalam waktu yang bersamaan? Bukan kembar, tetapi dua orang yang sama sekali berbeda. Pernahkah kamu berpikir bahwa salah satu di antara mereka, mungkin saja sosok tak kasat mata yang sedang menyamar menjadi manusia?

"Loh... Mama?" Suara Sarah melemas saat melihat sosok sang mama yang kini berada di balik pintu utama. Ia bahkan menatap Gina dengan sangat terkejut dan tidak percaya.

"Iya sayang? Kenapa kamu kaget gitu?" tanya Gina, yang kemudian perlahan mendekati Sarah.

Secara otomatis, Sarah malah memundurkan langkahnya sedikit takut. "B-bukannya Mama lagi makan bareng Sarah barusan?"

Gina mengernyitkan dahinya bingung. "Hah? Kamu baru bangun tidur ya? Seharian ini kan Mama sama papa ada urusan di luar."

***Deg!

Tubuh Sarah mendadak lemas, dia pun jatuh terduduk di lantai.

"Sarah!" Gina langsung berjongkok dan memeluk tubuh Sarah.

"Astaga.... Kamu kenapa, Nak? Ayo Papa gendong ke dalam aja. Kita bicara di dalam, jangan di depan pintu seperti ini, pamali." Mauro, sang papa, langsung mengangkat tubuh Sarah ke dalam pelukannya.

Di ruang tamu. Sarah yang masih tidak bisa mencerna kejadian barusan, masih saja melamun dengan tubuhnya yang dibaringkan ke atas sofa.

"Ini, minum dulu biar tenang," ucap Gina sambil membawakan segelas air putih di tangannya.

Dengan bantuan sang papa, Sarah perlahan mengubah posisinya menjadi setengah duduk dan mengambil gelas yang diberikan oleh sang mama, lalu meminumnya.

"Kamu sakit?" tanya Mauro yang terlihat sangat khawatir pada putri semata wayangnya itu.

"Eng-enggak. Enggak apa-apa kok, Pa," jawab Sarah sambil memaksakan senyumnya.

"Benar?" tanya Mauro kembali memastikan.

Sarah mengangguk pelan. "I-iya. Mama... habis dari dapur?" Atensi Sarah kini dialihkan ke arah sang mama, yang juga sedang menatapnya dengan penuh kekhawatiran.

"Iya sayang. Apa ada yang mau kamu makan atau minum? Biar Mama ambilkan di lemari es."

"Eng-enggak usah. Tadi... apa Mama lihat meja makannya?" tanya Sarah ragu-ragu.

Gina mengernyitkan dahinya bingung. "Meja makan?"

Sarah mengangguk pelan. "Iya. Ada piring dan lauk di sana, kan?"

Gina semakin dibuat bingung oleh putrinya sendiri. "Hah? Enggak ada sayang, meja makannya kosong. Mama kan hari ini gak masak apa-apa. Apa kamu tadi pesan makanan lewat online?"

***Deg!

Sarah terdiam sejenak, sebelum akhirnya menyibak selimut yang sedari tadi menyelimuti tubuhnya. "K-kalau gitu, Sarah pamit ke kamar dulu."

Gina dan Mauro saling bertatapan penuh kebingungan.

"Maaf Ma, Pa. Tapi Sarah mendadak ngantuk," ucap Sarah berbohong.

Mauro menghela napasnya, lalu tersenyum. "Ya sudah kalau begitu. Selamat istirahat ya."

Sarah mengangguk, lalu bergegas pergi ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya.

"Enggak masuk akal! G-gimana bisa? Jelas-jelas tadi mama lagi makan bareng gue, kan? Terus kenapa meja makannya kosong? Mama sama papa juga beneran baru pulang?" Sarah mengacak rambutnya frustasi.

Sesaat kemudian, kedua tangannya berhenti mengacak rambut, lalu perlahan turun. "Bener juga. Mama sama papa kan emang izin bakal seharian di luar hari ini. Kenapa gue bisa lupa?"

"Tapi... yang tadi ngetok pintu kamar terus nyuruh gue makan siapa dong?"

Sarah terdiam sejenak. Bulu kuduknya mendadak berdiri secara bersamaan. Pikiran-pikiran aneh kini mulai menyelimuti dirinya.

"Enggak, Sarah. Enggak mungkin! Lo cuma lagi banyak pikiran aja makanya bisa berhalusinasi kayak tadi. Sekarang, mendingan lo tidur!"

Usai bermonolog, Sarah bergegas naik ke atas kasur dan langsung menarik selimutnya, lalu memaksa matanya untuk terpejam. Kemudian, baru saja dua menit berlalu, tiba-tiba muncul suara aneh yang tidak tahu sumbernya dari mana.

"Sarah...."

"Ugh.... Mama?" Sarah yang belum terlelap dan hanya memejamkan matanya, perlahan menyibak selimut yang menutupi bagian tubuh atasnya.

Lalu, bukan jawaban dari sang mama yang ia dapatkan, melainkan suara tawa seorang wanita yang menggelegar dan menyeramkan mengisi setiap sudut kamar.

"HAHAHAHAHA!"

"S-siapa kamu?!" Sarah kembali menarik selimut menyelimuti seluruh tubuhnya, hingga hanya menyisakan kedua matanya saja.

"Mamamu? HAHAHAHA! Sepertinya menyenangkan kalau yang selanjutnya mamamu ya?"

Sarah menyibak kembali selimutnya, ia bahkan langsung terduduk di atas kasur. Sarah terlihat panik, lalu mulai menggelengkan kepalanya kuat. "J-jangan! Jangan mama! JANGAAAAN!"

"HAHAHAHAHA!"

Sarah menutup kedua telinga sambil memejamkan matanya. Ia tidak ingin mendengar tawa yang amat menyeramkan itu. Tawa yang mengintimidasi, juga tawa yang menyesakkan diri.

Lalu beberapa saat kemudian, suara tersebut menghilang dalam sekejap, seolah dirampas oleh malam.

Menyadari keadaan kamarnya sudah aman, Sarah pun langsung melepaskan kedua tangannya dari telinga, dan juga perlahan membuka mata. Helaan napas kemudian terdengar samar, Sarah bisa bernapas lega sambil memperhatikan sekelilingnya.

"Oh iya, cermin. Di mana cerminnya?!" Sarah beranjak dari kasur, lalu berusaha mencari cerminnya, tetapi tidak ada di mana-mana.

"Perasaan tadi ada di meja belajar. Kok sekarang gak ada? Apa cerminnya hilang?" gumam Sarah sambil terus berusaha mencari cermin tersebut.

Lalu, tiba-tiba saja ia terdiam dan duduk di tepi kasur. "Tunggu, bukannya ini bagus? Gue gak perlu lagi terlibat sama cermin itu kan?" Senyum Sarah mengembang, ia pun kembali merebahkan dirinya ke atas kasur.

"Hahaha! Bener juga. Syukurlah kalau cermin itu beneran hilang." Sarah perlahan memejamkan matanya, lalu menarik selimut berwarna merah muda hingga menutupi dadanya.

Tidak lama setelahnya, terdengar bunyi derap langkah dari atas kamar Sarah. Padahal kamarnya terletak di lantai dua dan tidak ada lantai lagi di atasnya. Mustahil ada yang berjalan di atas atap rumahnya terlebih di jam malam seperti ini.

Sarah yang baru saja terpejam pun akhirnya kembali membuka mata. Ia merasa kesal karena terus diganggu oleh makhluk yang bahkan tidak bisa ia lihat tersebut.

"Ugh! Apalagi sekarang?!" batinnya.

Namun, karena Sarah baru saja mengalami hal-hal aneh hari ini, ia merasa takut dan enggan untuk bersuara seperti tadi. Akhirnya ia pun memutuskan untuk tidak memedulikan suara-suara aneh itu dan kembali memejamkan mata.


Keesokan paginya. Usai membasuh diri setelah bangun dari tidur, Sarah langsung membawa langkahnya menuju ke meja makan di mana sang mama berada.

"Pagi sayang. Tidurmu nyenyak?" sapa Gina sambil tersenyum ke arah putrinya yang baru saja tiba.

"Pagi, Ma. Yah, seperti biasa hehe. Papa udah berangkat kerja?" Sarah menarik bangku kosong di seberang Gina dan langsung menuangkan air putih ke dalam gelas kosong yang tersedia di atas meja.

"Iya udah berangkat dari sejam yang lalu. Mau ada meeting pagi katanya, makanya buru-buru berangkat. Kamu berangkat kuliah jam berapa?" tanya Gina sambil mematikan layar ponselnya dan mengambil sebuah tas yang ia letakkan di bangku samping.

"Jam 9, Ma. Kelasnya mulai jam 10 nanti," jawab Sarah yang kemudian meminum air putih dari gelas yang baru saja ia tuang.

Gina mengangguk paham, lalu kembali mengecek barang bawaannya sebelum ia juga berangkat bekerja pagi ini.

Hari ini merupakan hari senin, di mana semua aktivitas seperti bekerja, sekolah, kuliah, dilakukan kembali setelah libur selama dua hari terakhir. Keluarga Sarah, tanpa terkecuali, melakukan aktivitas tersebut hari ini.

"Ngomong-ngomong, Mama masak apa pagi ini?" tanya Sarah sambil membuka tutup saji yang menghalangi beberapa lauk di atas meja makan.

"Cumi asam manis dan capcay, soalnya papamu minta bawa bekal tadi. Tapi kalau kamu gak mau makan berat, nanti mama siapkan roti panggang sama susu ya?"

Sarah menggeleng. "Sarah mau makan berat aja, Ma."

Gina menghela napasnya sambil tersenyum. "Ya sudah." Ia kemudian mengeluarkan sebuah benda dari dalam tasnya yang mampu membuat Sarah sangat terkejut.

"Loh?! Itu kan-"