Cermin Kematian Pembawa Sial
5/40
Bab 5

Pembawa Sial

Percaya tidak percaya, manusia memang ditakdirkan hidup berdampingan dengan makhluk tak kasat mata. Hanya saja, tidak semua manusia bisa merasakan atau bahkan bisa melihat 'mereka' dengan jelas.

Biasanya, 'mereka' akan menampakkan diri saat manusia sedang merasa takut, gelisah, atau bahkan saat manusia itu sendiri yang menantang 'mereka'. Tak jarang juga, 'mereka' sengaja hadir hanya karena ingin menjahili manusia, atau membalas dendam.


"Loh?! Itu kan cermin Sarah! Mama dapet dari mana?"

Mata Sarah membelalak tidak percaya pada apa yang dia lihat. Cermin yang ia kira sudah hilang dengan sendirinya, justru berada di tangan sang mama.

"Loh kamu lupa? Bukannya kamu yang kasih ke Mama semalam?"

Sarah mengernyitkan alisnya bingung. "Hah? Sarah semalem langsung tidur kok yang setelah pamitan sama Mama papa di ruang tamu."

Gina tertawa kecil. "Jangan bercanda ah. Tengah malam loh kamu ketuk pintu kamar Mama. Katanya kelupaan kasih cermin ini ke Mama," ucapnya sambil tersenyum dan mengusap ukiran cermin tersebut.

"Buat apa Sarah ngasih itu ke Mama?"

"Kan kamu yang bilang sendiri semalam kalau ini oleh-oleh kamu pulang jalan-jalan kemarin."

Sarah menggelengkan kepalanya pelan. "Enggak... Kan Sarah gak sempet beli oleh-oleh karena kejadian yang menimpa temen-temen Sarah..."

"Loh? Terus ini apa?"

Sarah merebut cermin dari tangan sang mama dengan paksa. "Apa sebelumnya Mama udah pernah ngaca pakai cermin ini?"

"Hm... semalam Mama emang sempat ngaca sih. Kenapa gitu?"

"A-apa Mama lihat sesuatu yang aneh?"

Sarah berpindah tempat duduk ke samping Gina. Jantungnya berdegup kencang, raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran sekaligus harap akan jawaban sang mama.

"Sesuatu yang aneh?" Gina mengernyitkan alisnya, lalu terdiam selama beberapa detik berusaha mengingat kejadian semalam.

"Hm... iya deh kayaknya."

***Deg!

"S-serius, Ma?"

Wajah Sarah semakin maju mendekat, matanya mulai berair karena terlampau khawatir. Namun, jawaban Gina berikutnya malah membuat Sarah menghela napas berat sambil memutar bola matanya malas.

"Iya, Mama jadi tambah cantik." Gina membentuk pose bunga dengan kedua tangan ke wajahnya, sambil tersenyum manis.

Sarah refleks memukul pelan tangan Gina. "Ih serius, Ma!"

"Hahaha udah ah. Enggak ada yang aneh-aneh kok. Mama berangkat kerja dulu ya. Udah kesiangan nih," ucap Gina sambil merapikan tasnya dan beranjak dari tempat duduknya. "Nanti kamu jangan lupa kunci pintu kalau mau berangkat. Mama bawa kunci cadangan."

Sarah menghela napas panjang, lalu menganggukkan kepala. "Iya hati-hati di jalan, Ma."

Gina mengangguk sambil mengusap kepala Sarah, sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah.

"Fyuh... syukurlah. Gue juga harus cepetan nih makannya. Kelas mulai satu jam lagi," gumam Sarah sambil mengunyah makanan di mulutnya dengan lebih cepat.


Pukul 10:05 di Universitas Freesia.

"Hah... hah.... Selamat pagi, Pak. Maaf saya terlambat," ucap Sarah yang baru saja tiba di kelas dengan napas yang terengah-engah.

Dosen yang sedang duduk di mejanya menoleh ke arah jam dinding dan ke arah Sarah secara bergantian. "Terlambat lima menit masih saya maafkan. Silakan langsung duduk."

"Baik, Pak. Terima kasih." Sarah menundukkan sedikit kepalanya sambil tersenyum, lalu berjalan ke salah satu bangku kosong di belakang kelas.

Saat Sarah duduk di bangkunya, terdengar bisik-bisik dari teman sekelasnya. Beberapa ada yang berbisik sambil menutup mulut mereka dengan telapak tangan, ada juga yang terang-terangan bersumpah serapah terhadapnya. Sementara sisanya, ada yang hanya diam atau sekedar melirik ke arah Sarah dengan tajam.

"Apa sih?" gumam Sarah sambil menaruh tasnya ke atas meja dan meraih buku catatan miliknya.

90 menit kemudian.

"Baiklah. Pertemuan hari ini cukup sampai di sini. Jangan lupa siapkan presentasi minggu depan dengan baik!"

"Baik, Pak."

Tepat setelah sang dosen meninggalkan kelas, riuh mulai terdengar. Ada yang berbincang dengan teman sebelahnya, ada yang berjalan ke luar kelas dan pergi ke perpustakaan, ada pula yang memilih untuk mengganggu temannya yang lain.

"Eh Sarah! Apa lo gak malu ke kampus hari ini?" Tari, mahasiswi termodis yang juga terkenal suka ikut campur dengan urusan orang lain, menggebrak meja Sarah.

Sarah mengernyitkan alisnya. "Malu? Kenapa harus malu?"

Belum sempat Tari menjawab, Nana, sahabatnya, sudah lebih dulu ikut perbincangan mereka berdua.

"Lo kan pembawa sial! Bisa-bisanya Kenji dan Dilla meninggal, tapi lo masih keliatan santai dan berani dateng ke kampus hari ini?"

"Bener. Apalagi Reza juga jadi tersangka atas kematian Dilla. Gue denger-denger, lo itu dari dulu emang suka bawa sial," timpal Tari.

"Bukan salah gue mereka kayak gitu! Gue-"

"Udah lah! Nggak usah ngeles!"

Nana merangkul lengan Tari. "Tar, udah yuk. Nanti bisa-bisa kita kena sial juga."

"Ups, bener juga. Kelamaan ngobrol sama anak ini emang nggak bagus kan. Bisa-bisa nanti malah ketularan sialnya," balas Tari sambil tersenyum miring.

Mereka pun berjalan ke luar kelas, meninggalkan Sarah yang mulai berlinang air mata.

"Padahal semenjak masuk kuliah, rumor itu udah nggak pernah gue denger lagi," gumam Sarah sambil menenggelamkan wajahnya ke atas meja.

Beberapa saat kemudian, terdengar langkah yang mendekat kembali ke meja Sarah.

"Hai, Sarah."

Sarah mengangkat kepalanya, lalu mendapati teman kelasnya yang lain sudah berdiri di samping mejanya.

"Mia? Ada apa?" tanya Sarah sambil menyeka air matanya yang hampir mengering.

"Setelah kelas bahasa Inggris, enggak ada kelas lagi, kan? Mau ke kantin bareng kah?"

Sarah terdiam sejenak, lalu membenarkan posisi duduknya. "Eng-enggak ada sih. Tapi, lo gak takut bareng gue? Anak-anak yang lain dari tadi keliatan menghindar. Tari sama Nana juga barusan bilang gue pembawa sial."

Mia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Jangan terlalu diambil hati. Gak ada yang namanya pembawa sial. Gue pribadi gak percaya kok sama apa yang dibilang mereka. Lagian berteman mah sama siapa aja gak sih?"

Sarah terdiam beberapa saat. Sebenarnya, ini kali pertama Mia mengajaknya pergi ke kantin hanya berdua saja. Karena biasanya, Sarah selalu pergi bersama Dilla. Sementara Mia, pergi bersama temannya yang lain.

Apakah Mia ada maksud tersembunyi? Atau memang ia hanya sekedar kasihan dengan Sarah dan ingin menghiburnya karena kehilangan dua temannya?

"Kenapa lo tiba-tiba kayak gini, Mi? Biasanya lo gak pernah ngajak gue ke kantin berdua kayak gini," tanya Sarah yang suaranya semakin mengecil di akhir kalimatnya.

Mia terkekeh pelan, lalu menarik bangku kosong di sebelahnya. "Tenang aja, gue gak ada maksud jahat ke lo kok. Sebelumnya gue turut berduka cita ya. Gue tau lo lagi sedih banget sekarang, makanya gue gak mau biarin lo sendirian. Lagi pula, gue gak mau kayak yang lain, yang malah ngucilin lo di sini."

Mata Sarah berkaca-kaca. "Makasih banyak, Mi. Gue sebenernya gak mau masuk kuliah dulu hari ini. Gue masih sedih banget karena kehilangan Dilla sama Ken. Apalagi, Reza juga di penjara," ucap Sarah dengan air matanya yang akhirnya pecah.

"Tapi absen gue udah banyak banget dan gue gak mau telat lulus cuma karena kurang absen. Gue gak mau ngecewain orang tua gue," tambahnya berusaha menjelaskan.

Mia tersenyum. "Iya, gue tau kok. Lagian, gak boleh sedih lama-lama. Nanti lo malah stres dan jadi sakit." Mia beranjak dari tempat duduknya, lalu menaruh cokelat ke atas meja Sarah. "Semoga mood lo membaik ya. Jangan lupa nanti ke kantin bareng."

Sarah mengangguk sambil menyeka air matanya. "Makasih ya, Mi."

Mia hanya tersenyum dan memberikan ibu jarinya sebagai jawaban. Ia pun kembali ke tempat duduknya.

Sementara itu, Sarah menggenggam erat cokelat yang diberikan oleh Mia, lalu menaruhnya ke dalam saku kemeja. Senyumnya perlahan mengembang, meskipun cokelat itu belum ia makan.

Sarah tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kejadian mengerikan yang berulang, terjadi di kampusnya juga hari ini.