Mystery Of The Heart Tak Bisa Dipercaya!
4/30
Bab 4

Tak Bisa Dipercaya!

BAB 4

Tak Bisa Dipercaya!

“Apa?!” Semua teman-teman Fang An terkejut, saat mengetahui kalau orang yang melawan Fang An adalah seorang wanita.

“Tapi dia kelihatannya bukan seperti seorang wanita, Ketua,” ujar Gong Sun dari atas pohon.

Fang An meminta Gong Zhong untuk membantu wanita bernama Shui Hu ini berdiri. Gong Zhong langsung mengiyakan perintah ketuanya. Dia memegang kedua bahu sang wanita, lalu memegangnya sambil berdiri.

Fang An melepaskan pita yang mengikat rambut Shui Hu. Rambut hitam lebat mengurai hingga ke bahu. “Apa sekarang kalian percaya?” tanyanya dengan nada pelan.

Kompak teman-teman Fang An menjawab, “Percaya, Ketua!”

Fang An meminta Gong Zhong dan Gong Shi untuk mengikat wanita ini jauh dari sini. Namun, Gong Zhong tidak ingin melakukannya, dia berkata, “Ini tidak baik kan, Ketua?”

Gong Shi bantu mempertegas perkataan patnernya, “Betul, Ketua. Dia kan wanita. Kenapa tidak kita bawa saja?”

“Tidak! Tujuan kita jadi bandit bukan untuk menculik orang,” tegas Fang An mengingatkan kedua teman andalannya.

Gong Sun turun dari dahan pohon tempat ia berjongkok. Dia berkata dengan nada pelan, “Kita bawa saja dulu, Ketua. Setelah sadar kita lepaskan dia.”

Namun, Fang An keukeuh dengan pendiriannya. Menculik orang, apalagi seorang wanita bukanlah tujuannya menjadi bandit. Dia tidak ingin wanita mengetahui rahasia mereka menjadi bandit.

“Kita tidak tahu, dia asal muasal wanita ini. Apakah dia seorang bangsawan atau bukan. Terlalu bahaya untuk kampung kita,” jelas Fang An memberitahu teman-temannya.

“Bagaimana kalau sebelum melepaskannya, kita ancam dulu dia. Siapa tahu, dia bisa menjaga rahasia kampung kita, Ketua,” ucap Gong Shi memberika ide cermelangnya.

Semua mata tertuju pada Fang An seperti meminta permohonan dengan mata berbinar-binar. Ntah apa alasan mereka, begitu ingin membawa wanita ini.

“Baiklah.” Fang An menyetujui keinginan teman-temannya. Atas dasar melindungi wanita dari bahaya, itulah yang menjadi dasar dirinya menyetujui permintaan teman-temannya.

Setelah mengumpulkan semua makanan dan beras dalam waktu beberapa menit. Para bandit bersiap pulang ke markas sekaligus kampung rahasia mereka. Masing-masing membawa barang bawaannya sendiri, kecuali Fang An sang ketua yang tidak selalu membawa apa-apa. Kali ini, Fang An mau tidak mau harus menggendong Shui Hu yang masih dalam keadaan pingsan, karena teman-temannya sudah membawa banyak makanan dan beras.

Suara nyaring nan merdu begitu terdengar enak di telinga. Dikombinasikan dengan suara hembusan angin, sehingga membentuk irama nada musik hutan sunyi yang tenang dan anggun. Ditambah suara air sungai yang terus mengalir, menambah keindahan seni suara yang tidak bisa dilewatkan.

Karena suara inilah, membuat Shui Hu setengah sadar. Samar-samar kedua matanya melihat pemandangan yang begitu indah dibawah teriknya sinar matahari. “Di mana aku?” tanyanya dengan nada pelan dalam keadaan setengah sadar.

Kedua mata Fang An terbelalak. Hah?! Dia sudah sadar? Secepat inikah? Jangan sampai, dia bertingkah. Aku harus memikirkan cara. Maaf aku harus membuatmu pingsan lagi. Dia menggunakan tangan kanannya untuk memukul Shui Hu hingga benar-benar pingsan kembali.

Setelah melewati berbagai rawa dan sungai, para bandit sampai di kampung Yunshan dalam waktu satu jam. Beberapa orang tua yang sudah berumur menyambut kedatangan mereka dengan penuh gembira.

Kampung Yunshan adalah kampungnya orang-orang yang tidak mempunyai rumah. Banyak anak-anak yatim piatu, dan banyak sekali orang yang cacat. Di sini manusia dan siluman hidup berdampingan saling bergantung satu sama lain. Mereka hidup sederhana dibawah atap rumah yang terbuat dari jerami. Banyak rumah yang sudah menghijau karena lumut.

Walaupun begitu, mereka hidup bahagia dan menikmati setiap momen indah yang terjadi di kampung Yunshan. Bahkan tidak lupa, mereka selalu berterima kasih setiap hari pada para bandit yang telah memberi mereka makan.

Di kampung inilah Fang An tumbuh dari kecil hingga sekarang beranjak usia ke 21. Dia dibesarkan oleh seorang ayah yang cacat kedua kakinya, dan seorang ibu yang berasal dari klan siluman. Walaupun hidup serba kekurangan, Fang An tidak pernah menyalahkan keadaan, dia selalu berusaha untuk selalu kuat setiap hari, agar bisa melindungi kampung halamannya.

Para bandit sampai di depan rumah besar yang memiliki dua lantai. Rumah ini merupakan dapur tempat memasak makanan. Mereka selalu memasak dalam jumlah, agar bisa dibagikan pada warga kampung Yunshan setiap hari.

Para bandit menyerahkan hasil buruan hari ini pada seorang wanita tua yang mengurus rumah dapur, agar segera diolah menjadi makanan yang bisa dinikmati oleh warga kampung Yunshan.

Fang An meminta Gong Zhong dan Gong Shi untuk membawa wanita ini ke gudang. “Ikat dia disana. Jangan lupa tutup mulutnya, agar tidak berisik,” tuturnya dengan nada rendah.

Tanpa basa-basi, Gong Zhong dan Gong Shi bergerak mematuhi perintah sang ketua.

Seorang laki-laki paruh baya menggunakan tongkat kayu, dengan susah payah berjalan kaki mendekati Fang An.

Menyadari sang ayah sedang mendekatinya, Fang An buru-buru berbalik ke belakang, melangkah mendekati ayahnya, lalu dia memapah ayahnya agar bisa berjalan dengan mudah. Bukannya berterima kasih, ayah Fang An memukul anaknya menggunakan tongkatnya.

Walaupun tidak terasa sakit, karena tenaga pukulannya lemah. Fang An hanya cengesan sembari meminta maaf, dan bertanya, “Apa salah anakmu, Tua Bangka?”

“Dasar anak durhaka! Kenapa kamu pulang-pulang bawa wanita, hah!? Mau kau apakan dia?” tanyanya dengan nada tinggi.

Sorot mata tajam Fang An mengincar pada Gong Sun. Gong Sun yang berdiri agak jauh dari Fang An meriding ketakutan. Tidak ingin membuat ketuanya marah, dia berjalan mendekati ketuanya sembari menelan ludah.

“Maaf, Pak Qingzhao. Itu keinginan kami, para bandit. Bukan keinginan ketua kami,” ucap Gong Sun sembari berseri-seri.

Qingzhao kemudian memukul kepala Gong Sun dengan sekuat tenaga. Namun, Gong Sun menghindar dengan sembari meminta maaf, lalu pergi meninggalkan Fang An dan ayahnya dengan cepat.

Fang An berdecak kesal dengan tingkah temannya. Dia meminta ayahnya agar tidak marah-marah lagi. “Biar anakmu yang durhaka ini menjelaskan di rumah, oke?” ucapnya berusaha menenangkan ayahnya.

Qingzhao berusaha meredakan amarahnya, menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan anaknya.

“Sekarang kita pulang dulu ke rumah. Ibu pasti sudah menungguku.” Fang An menyengir kuda saat mengucapkannya.

“Dasar anak durhaka!” cela Qingzhao yang selalu bercanda dengan anaknya seperti itu.

Fang An kembali memapah ayahnya agar bisa berjalan kaki dengan mudah. Walaupun ayahnya selalu memukulnya menggunakan tongkat, dia tidak pernah marah padanya, karena berkat pukulan tongkat ayahnya, semakin hari kekuatannya semakin meningkat.


“Cih! Dasar bandit sialan!” umpat Shui Hu saat dua orang yang mengantarnya ke gudang hilang dari pandangannya. Sial Aku harus memikirkan cara, agar bisa keluar dari tempat kotor ini. Kedua matanya melirik ke sekeliling ruangan. Walaupun ini gudang yang sudah tua, banyak kayu yang rapuh dimakan rayap, dan lumutan juga, tidak ada satu pun celah yang bisa dipakai kabur oleh Shui Hu. Apakah aku harus memakai cara itu?