Mystery Of The Heart Meresahkan Sekali, Huh!
5/30
Bab 5

Meresahkan Sekali, Huh!

BAB 5

Meresahkan Sekali, Huh!

Perlahan matahari tenggelam ke dalam bumi. Langit mulai terlihat merah kuning. Awan bergerak dengan pelan. Hewa-hewan memasuki sarangnya masing-masing. Air sungai mengalir dengan tenang. Hutan perlahan sunyi dan hening. Suana alam dan asri menyelimuti kampung Yunshan dengan hembusan angin yang begitu tenang.

Hari ini adalah malam dimana bulan punama muncul. Setiap tanggal 15 dan 16, kampung Yunshan memiliki tradisi untuk menyembah Dewa Bulan, agar kampung dianugerahi kemakmuran dan kesejahteraan, atau biasa disebut Festival Bulan Purnama.

Sejak siang hari, warga kampung Yunshan sudah mempersiapkan persembahan untuk Dewa Bulan, dimulai dari tumbuhan hingga berbagai macam daging hewan. Pada hari pertama, mereka akan melakukan persembahan, sedangkan hari kedua mereka akan melakukan pelepasan lentera disertai dengan doa dan harapan masing-masing warga.

“An an, cepat sebentar lagi festival akan dimulai,” sahut Qingzhao dengan nada tinggi memanggil anaknya, Fang An.

Laki-laki yang memiliki rambut panjang dengan sanggul sederhana, muncul dari balik pintu dengan pakaian serba hitam seperti di siang hari. Sebuah senyum manis terukir di wajahnya, menyapa sang ayah dengan penuh hangat dan kasih sayang.

“Fang An! Ini festival Bulan Purnama, setidaknya kau harus sedikit mengubah pakaianmu, paham tidak?!” emosi Qingzhao perlahan mulai naik, melihat anaknya yang selalu berpakaian hitam hampir setiap hari.

“Ada apa ini? Kok ribut mulu sih. Bisa tidak jangan bertengkar terus demi ibu.” Seorang wanita paruh baya dengan pakaian sederhana muncul dari balik kamar. Ia adalah ibunya Fang An, Yi Ze.

“Yi Ze, lihat anakmu ini. Sudah dewasa begini, masih saja memakai pakaian serba hitam. Bagaimana para wanita tertarik padanya.” Qingzhao mengeluhkan anaknya sendiri pada sang istri.

Yi Ze menutup mulutnya menggunakan tangan kanannya sembari menahan tawanya. Dia memeluk sang suami, Qingzhao, berusaha meredakan amarahnya agar tidak meledak lagi. “Sudahlah, Pah. Biarkan An an berpakaian sesuka hati. Mau bagaimanapun, dia adalah anakmu,” ucapnya dengan nada lembut.

Ucapan sang ibu, membuat Fang An kembali meledek ayahnya.

Yi Ze melanjutkan ucapannya, “Bukankah dulu kau juga sama? Hampir setiap hari memakai pakaian putih, tapi Yi Ze tetap menyukaimu. Pasti Fang An juga begitu.”

Qingzhao hanya berdecak kesal, memalingkan mukanya dari sang anak. “Itu dulu. Sekarang sudah beda lagi. Sekarang wanita-wanita hanya menyukai laki-laki tampan yang penuh dengan gaya,” ucapnya memberitahu Yi Ze perbedaan zaman.

Fang An menggelengkan kepalanya. Menggaruk-garuk kepala belakangnya. Dia sudah tidak paham lagi dengan ucapan ayahnya. “Ya, sudah. An an pergi duluan, daripada bertengkar terus dengan ayah, huh!”

Fang memutar tubuhnya. Kedua kakinya melangkah keluar rumah menuju lapangan, tempat festival Bulan Purnama diadakan. Qingzhao dan Yi Ze menyusul setelah anaknya melangkah beberapa meter dari rumah.

Selama berjalan kaki, Fang An memiliki kebiasaan bersiul. Siulannya seperti memiliki irama hingga mencipta melodi indah yang enak didengar. Tidak sedikit orang yang berhenti sejenak, hanya untuk mendengarkan siulannya.

“Lapor, ketua!” tiba-tiba Gong Sun muncul di depan Fang An.

Fang An terkejut dan hampir saja tersungkur ke tanah. “Sial! Mengagetkan saja kau, Gong Sun!” umpatnya dengan suara pelan.

“Maaf, Ketua! Ada situasi mendesak.” Gong Sun melapor dengan tegas, tubuhnya berdiri tegak layaknya seorang prajurit yang mematuhi sang komandan.

Fang An bertanya dengan nada kesal. “Ada apa?”

“Wanita yang kita culik siang tadi, dia sekarang sedang pingsan, Ketua. Dan menurut tabib, sebentar lagi dia akan meninggal dunia, karena kekurangan darah.” Gong sun melaporkan laporannya dengan cukup detail dan tegas.

Fang An memijit keningnya. Sialan! Lagian kenapa aku dengan bodohnya, malah menyetujui keinginan orang-orang gabut sialan! Huh!.

“Ya, sudah. Kalau dia beneran meninggal. Biarkan, buang saja ke sungai. Biarkan mayatnya mengalir ke laut,” ucapnya sembari melangkah melewati Gong Sun.

Namun, Gong Sun segera menghalangi langkah Fang An. “Kami tidak bisa melakukannya ketua. Leluhur kampung Yunshan pernah berkata, ‘Jangan pernah membuat orang lain meninggal, jika dia bukan orang jahat.’ Sepertinya wanita itu bukanlah orang jahat. Jadi, kami tidak bisa melakukanya.”

“Argh!!!” Fang An semakin frustasi. Dasar peraturan bodoh macam apa ini. Ketua kampung sialan!

“Kalau begitu, apa yang harus kulakukan?” tanyanya dengan postur cool.

“Tabib kampung bilang, ‘Kita perlu mentransfer energi spiritual untuknya. Agar peredaran darahnya berjalan lancar.’ Begitu katanya. Jadi, hanya ketua yang bisa melakukannya,” jelas Gong Sun masih dengan nada tegasnya.

Fang An kembali berdecak kesal. “Ya, sudah. Kita ke sana sekarang,” jawabnya dengan kesal.

Fang An tidak akan pernah menang jika terus berdebat dengan Gong Sun, karena dia adalah orang ahli dalam berkomunikasi dan pengintaian.

Fang An dan Gong Sun segera bergerak menuju gudang tempat Shui Hu berada. Melewati beberapa orang yang bersiap melakukan ritual persembahan di lapangan kampung Yunshan. Keduanya berjalan dengan cepat, karena nyawa seseorang dalam bahaya.

Butuh waktu 30 menit untuk sampai di gudang tua dari dekat rumah Fang An.

Fang An melangkah mendekati tabib kampung yang sudah berumur. “Tabib Wu, aku harus melakukan apa?” tanyanya dengan tenang.

Tabib Wu memberitahu Fang An, kalau dia harus mentrasfer sedikit energi spiritual di dalam tubuhnya pada wanita ini, agar nyawanya selamat.

“Lapor, ketua! Maafkan kami yang tidak mengawasinya dengan baik. Kami kira wanita ini akan makan sore, ternyata dia melewatkan dan membuang makanannya,” kata Gong Zong ditemani Gong Shi sembari menunduk.

Fang menepuk bahu kedua temannya, lalu berkata, “Sudah tenang saja. Biar kuselesaikan masalahnya.”

Fang meminta Gong Sun untuk memposisikan tubuh Shui Hu dalam posisi duduk. Gong Sun segera melakukan perintahnya. Dia mengambil sebuah kursi, meletakannya di depan Shui Hu, lalu membangunkan Shui Hu, dan menyenderkan kepalanya pada kursi, sehingga Shui Hu seperti dalam keadaan posisi duduk.

Tabib Wu meminta semua orang keluar dari ruangan. Sebab mentransfer energi spiritual ke dalam tubuh orang lain membutuhkan ketenangan dan fokus tinggi. Satu persatu orang-orang keluar mematuhi ucapan tabib Wu.

Pertama-tama, Fang An mulai membuka pakaian luar Shui Hu, meletakannya di samping. Kulit putih yang begitu mulus dan lembut terlihat oleh kedua matanya, Fang An berusaha mengendalikan nafsunya.

Kedua tangan Fang An mulai bergerak melakukan beberapa gerakan proses kultivasi. Kedua telapak tangannya mulai terhubung satu sama lain, memutarnya dengan pelan, lalu membukanya dengan cepat, dan menempelkannya pada bahu Shui Hu.

Fang An memejamkan kedua matanya dengan cepat, kedua bibirnya perlahan komat-kamit mengucapkan beberapa kata ritual. Perlahan dia mulai merasakan kekuatan energi spiritualnya mulai memasuki tubuh Shui Hu. Dia juga merasakan aliran darah Shui Hu yang mulai mengalir dengan tenang.

Perlahan Shui Hu membuka kedua matanya samar-samar. Merasakan sebuah energi spiritual besar memasuki tubuhnya. Dia juga merasakan kekuatannya meningkat dua kali lipat dari sebelumnya. Dia tak pernah menyangka akan terjadi seperti. Ini diluar rencanaku. Sebenarnya siapa dia? Kenapa bisa memiliki energi spiritual yang begitu besar?!