Ribuan Musim Bersamamu Dimana Semua Bermula
1/15
Bab 1

Dimana Semua Bermula

Desember 2075, Berchtesgaden, Bravaria – Jerman,

Seorang pria muda nampak memandang jauh ke arah pertunjukan rakyat yang ada di depannya. Dirinya berada di alun-alun kota kecil yang tak jauh berbeda dari 50 tahun lalu saat terakhir kali dia berada di sana bersama wanita yang begitu dirindukannya sekarang.

"50 musim dingin, Alexandria. Tidakkah kau ingin menemuiku disini sekarang seperti janjimu dulu?" lirihnya.

Pria muda itu lalu menghela nafas panjang dan memutuskan mungkin musim dingin kali ini belum saatnya mereka bertemu kembali. Dirinya lalu beranjak bangun dan akan meninggalkan tempat itu sebelum sebuah suara yang pada akhirnya membawa kembali memori indah berpuluh tahun yang lalu, berputar di benaknya.

"Gavin,"


November 1940 - London, Inggris

Seorang wanita muda menenteng keranjang belanja di satu tangan dan satu tangan lagi memegang sebotol susu. Dia berjalan sedikit tergesa menuju sebuah rumah di ujung jalan.

Tok.. Tok.. Tok..

"Grandma!"

Wanita itu mengetuk pintu sambil memanggil neneknya. Cukup lama dia menunggu sampai akhirnya pintu itu terbuka dan menampilkan sosok wanita tua dengan tubuh sedikit membungkuk disana.

"Lexie, kenapa baru pulang di jam ini?" Wanita tua itu menyambut cucunya dengan omelan.

"Ada kerumunan di ujung jalan sana. Orang-orang berebut untuk melihat berita tentang perang yang ditempel disana. Aku kesulitan menembus kerumunan itu." Jelas sang cucu sambil melangkah masuk ke dalam rumah dan menutup pintu di belakangnya.

Wanita muda itu, Alexandria Higgins adalah seorang yatim piatu yang saat ini tinggal bersama neneknya di salah satu sudut kota London. Perang yang sedang berkecamuk, sesungguhnya membuat hati wanita yang biasa dipanggil Lexie itu tak tenang saat harus meninggalkan neneknya sendiri di rumah.

Tapi dia tak punya pilihan, dia harus pergi bekerja demi menyambung hidup mereka berdua di tengah carut marutnya kondisi ekonomi akibat perang.

"Apa yang kau bawa itu, Lexie?" sang nenek bertanya saat melihat barang bawaan cucunya.

"Sedikit daging, sayuran dan beberapa makanan ringan. Cukup untuk satu minggu," jawabnya.

"Banyak sekali, apa kau punya uang?" tanya sang nenek.

"Bosku berbaik hati karena sedang sangat senang hari ini. Dia memberikan potongan harga untuk semua belanjaan ini," jelas Lexie.

"Memangnya ada hal baik apa?" sang nenek bertanya penasaran.

"Putranya baru saja kembali dari tugas militer dan walau terluka, setidaknya dia selamat," tukas Lexie.

"Wah, itu memang patut dirayakan walau Grandma berharap dia memberikan ini secara cuma-cuma," keluh sang nenek.

"Grandma! Sudah diberi malah meminta lebih," omel Lexie.

Sang nenek tertawa, "Grandma boleh berharap, bukan?"

"Ya, ya. Terserah Grandma saja," putus Lexie.

"Ganti pakaianmu lalu kembali kemari dan bantu Grandma menyiapkan makan malam," titah wanita tua itu setelah cucunya selesai menata belanjaan.

"Eum," sahut Lexie singkat.

Wanita muda itu lalu setengah berlari menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya secepat mungkin. Dia tahu sang nenek sudah kelaparan menunggunya sejak pagi karena kemarin mereka telah kehabisan bahan makanan.

Karena itulah Lexie sangat bersyukur atas kebaikan bosnya tadi, sekalipun dia tetap harus membayar setengah harga untuk semua belanjaannya dengan cara potong gaji. Setidaknya sampai seminggu kedepan neneknya tak akan kelaparan.

Tuk.. Tuk.. Tuk..

Suara sang nenek yang sedang mencincang sayuran, menyambut Lexie saat dia masuk ke area dapur. Sambil menguncir rambutnya, wanita muda itu dengan sigap mengambil sepotong daging dan mulai memotongnya.

Hanya butuh waktu sekitar 20 menit, nenek dan cucunya itu telah menyelesaikan masakan mereka dan mulai menikmati makanan itu sambil berbincang.

"Jadi seperti apa putra bos mu itu sekarang? Dulu kau bilang dia sangat tampan, bagaimana sekarang?" goda sang nenek.

"Entahlah, grandma. Aku belum bertemu dengannya. Aku hanya mendengar dari bosku bahwa dia dikirim pulang karena luka-lukanya," tutur Lexie.

"Pria malang," tukas sang nenek dengan ekspresi prihatin.

"Setidaknya dia kembali dalam keadaan hidup bukan sekedar peti mati dengan ukiran namanya diatasnya," tukas Lexie.

Sang nenek menghela nafasnya, "Kau memang benar, tapi Lexie terkadang luka yang tak terlihat jauh lebih buruk dari kematian itu sendiri. Dia mungkin hidup tapi bisa jadi dia kehilangan dirinya."

"Apa maksud Grandma? Aku tak mengerti," sahut Lexie bingung.

Wanita tua didepannya itu tersenyum lembut, "Kau mungkin tak mengerti sekarang, tapi suatu saat nanti bisa jadi kau lah yang akan paling memahami arti kata-kata Grandma barusan."


Lexie terbangun saat mendengar suara keributan di luar jendela kamarnya yang menghadap ke jalanan. Dia mendudukkan dirinya sambil mengusap wajahnya kasar.

Dengan sedikit bersungut karena tidurnya terganggu, Lexie beranjak turun dari ranjang, mengambil sebuah selendang untuk disampirkannya ke bahu sebelum keluar dari kamar itu.

"Grandma, ada apa sebenarnya? Kenapa ribut sekali di luar?" tanya Lexie saat mendapati sang nenek juga telah keluar dari kamarnya dan memandang keluar jendela ruang tengah.

"Entahlah, Grandma tak bisa mendengar mereka dengan jelas," sahut wanita tua itu.

"Tunggu sebentar. Aku akan keluar dan mencari tahu." Tukas Lexie yang lalu melanjutkan kembali langkahnya menuju keluar rumah.

Saat keluar, dia sedikit mengernyit heran saat mendapati sekumpulan orang berkumpul di ujung jalan. Mereka tampak saling berdebat dan gelisah.

Lexie memutuskan melangkah menghampiri mereka untuk bertanya, "Permisi, Nyonya. Bisakah saya tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya?"

"Kabar baru masuk, musuh melanggar aturan gencatan senjata dan mulai menyerang secara agresif zona demiliterisasi," tukas wanita yang berdiri tak jauh dari kerumunan itu.

"Bukankah jaraknya cukup dekat dari sini?" gumam Lexie saat mengingat posisi mereka yang berada di perbatasan kota.

"Kau benar, karena itulah mereka semua kebingungan untuk memutuskan mengungsi atau bertahan," wanita itu berkata menimpali gumaman Lexie.

"Mereka bisa saja tinggal tapi jika musuh sampai kemari, itu lebih buruk dari kematian," ujarnya lagi.

Lexie terdiam sejenak, "Anda benar. Terimakasih telah menjawab pertanyaan saya, Nyonya. Saya pamit dulu, semoga keberuntungan menyertai Anda."

Wanita muda itu lalu berbalik dan melangkah kembali menuju rumah sang nenek. Dia sedikit tergesa sekarang, dalam pikirannya lebih baik dia membawa sang nenek menjauh dari lokasi itu.

"Grandma! Kita harus pergi!" Lexie langsung berkata lantang begitu masuk dan mendapati sang nenek menyambutnya.

"Apa maksudmu? Pergi kemana? Memangnya kau punya uang? Apa yang terjadi, Lexie?" sang nenek mencecarnya.

"Perang akan sampai disini. Kita harus segera pergi. Tak perlu khawatirkan soal uang, aku punya tabungan yang cukup untuk kita bertahan sementara waktu," tutur Lexie.

Dia memang sudah cukup lama mengkhawatirkan kemungkinan bahwa perang pada akhirnya akan mencapai area tempatnya bernaung. Karena itu lah dia menabung sedikit demi sedikit untuk mempersiapkan yang terburuk.

"Waktu kita tak banyak. Semua orang tak bisa memperkirakan kapan serangan terjadi," kata-kata Lexie menyentak sang nenek dari lamunannya.

"Ah, baiklah. Tunggu Grandma harus mengambil tas darurat dan bekal untuk kita lebih dulu," tukas wanita tua itu.

Lexie mengangguk lalu bergegas menuju kamarnya sendiri dan mengambil tas serta sejumlah uang yang sudah disiapkannya jika sewaktu-waktu mereka harus mengungsi.

Tok.. Tok.. Tok..

"Lexie!" Suara wanita yang sangat dikenalnya membuat Lexie bergegas menuju pintu dan membukanya.

"Mereka meminta kita berkumpul sebentar," ujar wanita yang adalah tetangga sebelah mereka.

"Sekarang?" tanya Lexie tak percaya.

"Ya, apa kau akan pergi?" tanya wanita itu lagi.

"Rencananya begitu." Tukas Lexie yang lalu melangkah keluar mengikuti wanita itu menuju tempat pertemuan diadakan.

Ketika mereka sampai, warga sudah berdesakan di tempat itu, menunggu dengan cemas apa lagi yang ingin dibahasnya kali ini.

"Kalian pasti sudah dengar bahwa mereka menyerang zona demiliterisasi." Seorang pria berusia sekitar 55 tahun dengan seragamnya berkata tegas pada semua warga disana.

"Kami mendapat perintah untuk melakukan evakuasi sekarang juga," lanjutnya lagi.

Ketika warga mulai berdengung memprotes, pria itu mulai berteriak karena kesal isi pesannya justru disepelekan begitu saja. BRAK..

"APA KALIAN SEMUA MAU MATI ?! JIKA YA, MAKA SILAHKAN TETAP DI SINI DAN TEMUI AJAL KALIAN DENGAN SENANG HATI!"

Pria berseragam itu sudah tak lagi bisa mengontrol emosinya dan meledak marah setelah menggebrak keras meja di depannya.

Seketika suara berdengung yang awalnya terdengar, berangsur menghilang dan akhirnya berhenti. Pria itu menatap tajam semua warga disana sebelum beralih ke prajuritnya.

"Bantu dan giring warga yang patuh ke camp pengungsian lalu tinggalkan yang bertingkah. Kita tak perlu warga yang tak ingin diselamatkan!" titahnya.

NGUUUNG...

Belum sempat sang prajurit menjalankan perintah itu, suara sirine tanda mereka harus segera berlindung dari serangan, membuat semua yang ada disana sontak berebut untuk keluar.

"Aahk!"

"Brengsek! Perhatikan jalanmu!"

"SEMUANYA TOLONG JANGAN BEREBUT DAN KELUAR DENGAN TENANG!" Seorang prajurit lain berkata lantang saat mendengar suara kesakitan dan sumpah serapah saling bersahutan.

Lexie sendiri terjebak dalam arus manusia itu, untungnya dia tak sampai jatuh dan terinjak-injak disana. Dia mengikuti rombongan sampai keluar sebelum berlari secepat yang dia bisa menuju rumah.

SIIING..

Keheningan yang menyergap membuat Lexie menghentikan larinya. Dia lalu menatap ke arah langit dan matanya seketika membelalak saat mendapati sebuah misil bergerak tepat ke arah rumahnya.

Lexie lalu mengalihkan pandang dan mendapati sang nenek berada di ambang pintu rumahnya. Wanita muda itu kembali berlari dengan tangan terulur, bermaksud menarik sang nenek.

DUARRRR..