"Mr. Constantine."
Lexie berujar lirih dengan mata melebar, sementara Gavin hanya tersenyum tipis padanya. Pria muda itu lalu menarik tangan Lexie dan setengah menyeretnya untuk ikut pergi dengannya.
"Masuk!" Titahnya sambil membuka pintu mobil mewahnya.
"A-Anda akan membawa saya kemana?" Lexie bertanya terbata.
"Pilihlah, tetap disini dan menjadi incaran para mafia itu karena kau adalah saksi tindakan kriminal mereka, atau ikut denganku," ujar Gavin tajam.
Lexie sontak langsung masuk ke dalam mobil setelah mendengar itu. Dia bahkan langsung meraih sabuk pengaman dan memasangnya.
Vrooom..
Gavin langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi begitu dia masuk ke kursi pengemudi. Pria itu menatap lurus ke jalanan didepannya tanpa menoleh pada Lexie yang menatapnya gugup sejak tadi.
"Mr. Constantine, Anda akan membawa saya kemana?" tanya Lexie.
"Mansionku" sahut Gavin singkat.
Lexie akhirnya mengalihkan atensinya keluar jendela setelah melihat ekspresi dingin di wajah sang CEO. Dia kehilangan keberanian untuk bertanya lagi setelahnya dan membiarkan saja pria itu membawanya kemana pun yang diinginkannya.
Gavin mengarahkan mobilnya masuk ke pekarangan sebuah mansion megah. Mata Lexie berbinar kagum melihat keindahan mansion itu. Dengan gaya mediterania namun dipadukan dengan desain kontemporer, mansion itu benar-benar membuatnya berdecak kagum.
"Ayo turun," ajak Gavin setelah memarkirkan mobilnya.
Lexie mengangguk, melepas sabuk pengamannya lalu membuka pintu dan melangkah keluar dari mobil.
"Ikuti aku," titah Gavin yang membuat Lexie dengan patuh mengikuti langkah pria itu.
Pria muda itu membawanya menuju ruang makan dimana berbagai makanan telah terhidang di atas meja.
"Makan bersamaku lalu aku akan menunjukkan kamarmu. Kau bisa beristirahat di sana malam ini, besok pagi akan kuantar kau kembali ke apartemenmu," tukas Gavin dengan nada final tak ingin dibantah.
Lexie dengan patuh menarik kursi lalu mendudukkan diri disana dan mulai mengambil makanan usai Gavin memulainya. Dia menikmati makan malam lezat itu dalam diam, tak berani bicara pada sang CEO yang juga terlihat fokus dengan makanannya.
Usai makan malam, Gavin menggiringnya ke lantai atas dan membawanya ke sebuah kamar yang sangat luas.
"Ini kamarmu. Handuk dan peralatan mandi sudah tersedia disana, istirahatlah." Tukas Gavin sambil menunjuk ke arah kamar mandi sebelum melangkah keluar dari kamar itu.
"Eum, Mr. Constantine." Panggil Lexie yang membuat pria itu menghentikan langkah dan menoleh padanya.
"Bisakah saya bertanya apa yang sedang anda lakukan di daerah itu tadi? Apakah anda terlibat masalah dengan orang-orang itu?" tanya Lexie yang sudah penasaran sejak tadi soal keberadaan pria itu disana.
"Bukan aku yang terlibat masalah, tapi mereka lah yang membuat masalah denganku. Bertransaksi obat terlarang sebagai kamuflase untuk melakukan pembunuhan di wilayahku sama saja mencari keributan. Aku di sana untuk membersihkan kekacauan," jelas Gavin dengan lugasnya.
"Pembunuhan?" Lexie mencicit tak mengerti.
Gavin hanya tersenyum penuh arti, "Kau mungkin akan melihat beritanya nanti."
Lexie terdiam dan memutuskan untuk tak lagi meneruskan pembahasan itu, "Terimakasih telah menyelamatkan saya, makan malam yang lezat dan tempat untuk bernaung malam ini."
Gavin hanya mengangguk, "Ya istirahatlah, Alexandria."
Lexie tertegun ketika mendengar Gavin tak lagi memanggilnya Miss Greco melainkan dengan nama depannya. Tak ingin ambil pusing lagi, pada akhirnya dia memutuskan segera membersihkan dirinya sebelum beranjak ke ranjang dan terlelap tak lama kemudian.
"Haaaaah..."
"Hosh.. hosh.."
Lagi-lagi Lexie terbangun di tengah malam setelah mendapatkan mimpi, kali ini bukan kilas memori hidup Alexandria Greco melainkan kilas hidupnya sebagai Hera Visser dan Susan Curtis.
"Tidak mungkin, tidak mungkin itu dia," lirih Lexie saat mengingat kembali apa mimpinya.
Dalam mimpi itu, Lexie akhirnya mengingatnya. Alasan mengapa dia merasa tak asing dengan sosok Gavin. Pria itu ada di sana, 80 tahun lalu di tahun 1945 saat dirinya menjadi Hera Visser dan 50 tahun lalu di tahun 1975 saat dia adalah Susan Curtis.
Ckiit..
Gavin menghentikan mobilnya tepat di depan gedung apartemen Lexie. Dia menunggu sampai wanita itu turun sebelum bersiap menjalankan lagi kendaraannya.
"Kau tak perlu masuk hari ini, aku akan mengurus cutimu. Liburlah untuk satu hari dan kembalilah ke kantor besok." Ujar Gavin tegas sebelum melajukan mobilnya pergi.
Lexie menatap kepergiannya dengan raut tak terbaca. Dia sungguh bingung sekarang. Setelah mimpinya semalam, dia semakin yakin bahwa Gavin Constantine memang adalah pria yang sama dengan yang pernah ditemuinya dulu.
"Jika itu benar dia, bagaimana bisa?" lirihnya tanpa melanjutkan kata-katanya.
"Ah, entahlah aku pusing," gumamnya lagi yang lalu melangkah masuk ke dalam gedung apartemen itu.
Seharian itu akhirnya dihabiskan Lexie dengan bergelung di ranjang dalam selimut hangatnya. Dia jarang sekali mendapat libur sedamai ini, jadi dia akan memanfaatkannya sebaik mungkin dengan tidur sepanjang waktu.
Saat waktu menunjukkan pukul 6 sore, Lexie baru keluar dari kamar tidurnya menuju dapur untuk mencari makanan dan merutuki dirinya sendiri saat melihat isi kulkasnya yang kosong melompong.
"Dasar bodoh kau, Lexie," umpatnya.
Dia lalu kembali ke kamar untuk mengambil jaket, dompet dan ponselnya sebelum keluar dari apartemen itu menuju sebuah supermarket di dekat sana. Dengan cepat dia langsung meraih trolly dan memilih semua yang ingin dibelinya tanpa banyak berpikir atau memilih. Dia ingin segera kembali sebelum hari semakin gelap.
Usai berbelanja, Lexie kembali ke apartemen dengan langkah lebih cepat dari biasanya. Dia memilih jalan yang ramai walau sedikit memutar kali ini, kejadian semalam sungguh masih sangat membekas di ingatannya.
"Huft, syukurlah tak terjadi apa-apa," batinnya lega saat dia telah kembali sampai di dalam apartemennya.
Dengan cekatan, Lexie mengeluarkan dan menata belanjaannya lalu mulai memasak makan malamnya. Usai makan malam, wanita cantik itu duduk di sofa ruang tengah dan mulai menyalakan televisi.
Beberapa saat menggonta-ganti channel, dia berhenti saat mendapati salah satu saluran berita yang mengadakan siaran langsung dari sebuah tempat yang tak asing baginya.
Sesosok jasad ditemukan tak jauh dari area pemukiman, jasad itu adalah seorang wanita usia pertengahan 30 tahun dengan rambut hitam legam sepunggung. Wanita itu mengenakan seragam petugas kebersihan dari salah satu perusahaan penyedia layanan kesehatan tak jauh dari lokasi penemuan jasadnya.
Informasi awal yang kami peroleh dari polisi, wanita ini adalah korban pelecehan dan tewas dengan luka tembak di kepala dan dadanya. Polisi sedang melakukan penyelidikan dan memeriksa area ini secara menyeluruh.
Beberapa petugas koroner juga telah didatangkan untuk memeriksa TKP, kami juga mendapati adanya beberapa orang berlencana FBI yang telah datang ke tempat kejadian.
*Menurut salah satu saksi mata, saksi mendengar suara tembakan beberapa kali dari arah taman tempat jasad itu ditemukan, namun tak berani mengeceknya. Saksi mata ini juga lah yang menelpon 911 melaporkan suara tembakan itu. *
Waktu kejadian diperkirakan sekitar pukul 9 atau 10 malam. Lokasi kejadian memang dikenal sebagai tempat yang sangat sepi dan cukup rawan di malam hari. Kami menghimbau pemirsa untuk tak berkeliaran di malam hari seorang diri terutama di area yang sepi.
Kami sedang menunggu konfirmasi lebih lanjut dari petugas kepolisian mengenai identitas wanita itu, jika di antara anda semua ada yang kehilangan anggota keluarga malam ini, tolong hubungi .....
Lexie memandang dengan tatapan tak percaya pada siaran berita malam itu. Lokasi penemuan jasad itu benar-benar berada hanya beberapa ratus meter dari gedung apartemennya. Ingatannya kembali terlempar ke kejadian malam kemarin.
"Mungkinkah suara tembakan semalam adalah kasus ini," batinnya.
"Sial! Aku bisa saja mati semalam," gumamnya.
Lexie lalu teringat pembicaraannya dengan Gavin saat pria itu mengatakan dia akan segera mendapat berita soal penembakan itu.
"Gila, yang dikatakannya benar. Jangan-jangan yang menembak itu..."
"Tidak.. tidak.. jangan berpikiran aneh-aneh, Lexie. Jika Mr. Constantine adalah sang pembunuh, dia tak akan membawamu ke mansionnya dan akan langsung membunuhmu disana," Lexie bermonolog.
Dengan pikiran yang mendadak kusut dan hati yang tak tenang, Lexie mematikan televisi itu sebelum beranjak menuju kamarnya dan memejamkan mata mencoba untuk tidur.
"Haa.. aku tak bisa tidur." Keluhnya sambil beranjak bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang.
"Gavin Constantine, dokter Constantine. Bahkan di tahun 1945 pun dia menggunakan nama yang sama, bagaimana mungkin tak ada orang yang menyadari dia masih hidup dengan sosok yang sama sekali tak menua sejak saat itu?" Lexie bermonolog.
"Haruskah kutanyakan ini padanya? Aku sungguh penasaran. Sial! Bahkan di kehidupan ini pun aku tak bisa tenang."
"Lexie! Kau sudah sehat?" Vivi yang melihatnya masuk ke dalam lift, menyusulnya dan langsung menanyainya.
"Sehat?" Lexie bertanya heran.
"Bukankah kau sakit kemarin? Personalia yang mengabarkan pada kami saat aku bertanya kau kemana, bahkan Asistenmu pun juga mengatakan kau sakit," tukas Vivi.
"Ah, ya. Aku demam kemarin, maaf aku masih sedikit linglung efek demam," ujar Lexie yang langsung menyesuaikan diri dengan sedikit kebohongan.
"Kau sungguh sudah baik-baik saja sekarang?" tanya Vivi sangsi.
"Ya, aku sudah baik-baik saja. Jangan khawatir." Tukas Lexie dengan senyum meyakinkan.
DING ..
"Aku duluan, Vivi. Sampai jumpa nanti," Lexie berkata lagi sebelum keluar dari lift itu ketika sampai di lantainya.
Seharian itu, Lexie nyaris tak bisa konsentrasi bekerja. Pikirannya selalu mengarah pada misteri dibalik keberadaan Gavin di tahun 1945.
"Aku bisa mati penasaran kalau begini," keluhnya.
Dia lalu meraih gagang telpon dan menghubungi Sekretaris sang CEO, "Halo, apa Mr. Constantine ada di ruangannya?"
"Ah, apa ini Miss Greco? Mr. Constantine berpesan pada saya jika Anda ingin menemuinya, Anda bisa langsung datang saja," tukas sang Sekretaris.
Lexie sontak mengerutkan keningnya mendengar itu, "Ah, baiklah. Terimakasih."
Dan disinilah dia sekarang, di depan pria yang menjadi sumber rasa penasarannya sejak kemarin. Pria yang menatapnya dengan kaki menyilang dan senyum miring.
"Jadi, apa kau sudah siap untuk memberi jawaban pertanyaanku?" tanyanya.
Lexie menghela nafas, "Sebelum itu, Mr. Constantine. Tolong jawab pertanyaan saya lebih dulu."
"Apa itu?" tanya Gavin.
Tarikan nafas Lexie terdengar berat sebelum wanita itu mengeluarkan pertanyaan di benaknya sejak kemarin.
"Siapa Anda sebenarnya? Tidak lebih tepatnya, Anda ini apa?"