Ada tiga detik yang selalu aku tunggu setiap pagi. Tiga detik yang krusial, rapuh, dan menipu.
Itu adalah momen transisi. Tepat ketika kesadaranku baru saja ditarik paksa dari dunia mimpi, namun kelopak mataku belum sepenuhnya terbuka. Dalam jeda waktu yang sangat singkat itu, otakku mengalami amnesia parsial yang membahagiakan.
Dalam tiga detik itu, aku lupa.
Aku lupa bahwa sisi kiri tempat tidurku sudah dingin selama tiga minggu. Aku lupa bahwa sikat gigi berwarna merah muda di kamar mandi sudah kering kerontang. Aku lupa pada pesan singkat berisi lima kata yang menghancurkan hidupku di sebuah sore yang mendung: "Kita nggak bisa lanjut lagi."
Untuk tiga detik, aku adalah Arya yang utuh. Arya yang masih memiliki Luna.
Lalu, detik keempat datang menghantam seperti truk bermuatan beton.
Mataku terbuka. Cahaya matahari Jakarta yang kejam menerobos masuk melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat, menyorot debu-debu halus yang melayang di udara kamar. Hening. Keheningan di apartemen ini bukan sekadar ketiadaan suara, melainkan sebuah kehadiran fisik yang menekan gendang telinga. Keheningan yang berat, seolah udara di ruangan ini telah dipadatkan oleh kesedihan.
Aku menarik napas panjang, bersiap menghadapi hari yang sama persis dengan kemarin.
Namun, saat itulah aroma itu menyapa hidungku.
Bau kopi.
Bukan kopi instan sasetan yang biasa kuseduh saat dikejar deadline. Ini aroma biji kopi Arabika Gayo yang digiling manual, diseduh dengan teknik V60 yang presisi, menghasilkan jejak aroma fruity dan sedikit nutty yang menggantung di udara. Aroma yang sangat spesifik. Aroma buatan Luna.
Jantungku melompat. Logikaku yang baru bangun tidur berteriak, Apakah dia pulang? Apakah dia berubah pikiran?
Aku melempar selimut, kaki telanjangku mendarat di lantai parket yang dingin. Tanpa mempedulikan rambut yang berantakan atau wajah bantal, aku berjalan cepat keluar kamar. Langkahku terburu-buru, dipacu oleh harapan bodoh yang seharusnya sudah kubunuh sejak minggu lalu.
"Lun?" panggilku. Suaraku parau, pecah di ujung kata.
Aku berbelok ke ruang tengah yang menyatu dengan dapur kecilku.
Dan di sanalah dia.
Duduk di sofa velvet biru tua—sofa yang kami beli dengan cara patungan dua tahun lalu di sebuah pameran furnitur. Luna ada di sana.
Dia mengenakan kaus band The 1975 milikku yang ukurannya kebesaran di tubuh mungilnya. Warna hitam kaus itu sudah memudar menjadi abu-abu gelap, dan kerah lehernya sedikit melar karena sering ditarik. Kakinya yang jenjang ditekuk naik ke atas sofa, lututnya menjadi tumpuan dagu.
Di tangannya, sebuah buku tebal bersampul cokelat tua terbuka lebar.
Dia terlihat begitu nyata. Begitu solid. Cahaya matahari pagi membasuh kulitnya yang sawo matang, menciptakan pendar keemasan di lengannya. Rambutnya diikat asal-asalan dengan jepit jedai, menyisakan anak-anak rambut yang jatuh menutupi leher jenjangnya.
Dadaku sesak. Rasa lega dan sakit bercampur aduk menjadi gumpalan panas di tenggorokan.
"Kamu pulang..." bisikku, melangkah perlahan mendekatinya seolah dia adalah burung liar yang akan terbang jika aku bergerak terlalu cepat. "Kenapa nggak ngabarin? Kunci kamu bukannya udah dibalikin?"
Luna tidak menjawab.
Dia tidak menoleh. Dia tidak berkedip. Dia bahkan tidak menghela napas.
Fokus matanya terpaku pada halaman buku itu. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum tipis—senyum "tiga sentimeter" yang dulu selalu menjadi pemandangan favoritku saat dia sedang tenggelam dalam dunia fiksi. Senyum yang damai. Senyum yang seolah berkata bahwa dunia ini baik-baik saja.
Aku berdiri tepat di samping sofa sekarang. Jarak kami hanya sejengkal. Aroma kopi itu semakin kuat, bercampur dengan wangi sampo vanilla yang biasa dia pakai.
"Lun, aku nanya," kataku lagi, sedikit lebih keras. "Kamu bikin kopi?"
Hening.
Hanya ada suara desing kulkas tua di dapur dan detak jam dinding yang terdengar seperti hitungan mundur bom waktu.
Perasaan janggal mulai merayap di tengkukku. Ada yang salah. Sesuatu yang sangat mendasar terasa keliru. Luna yang kukenal tidak pernah diam. Jika aku menyapanya saat dia membaca, dia biasanya akan menggerutu, melempar bantal, atau setidaknya melirik tajam. Luna adalah badai, bukan danau tenang.
Tapi sosok di depanku ini diam seperti patung lilin yang sangat presisi.
Tanganku terangkat. Jemariku gemetar. Aku ingin menyentuh bahunya, memastikan bahwa dia nyata, bahwa dia bukan sekadar residu dari otakku yang terlalu lelah merindukan dia.
"Lun..."
Ujung telunjukku menyentuh bahunya yang terbalut kain kaus.
Dan duniaku runtuh lagi.
Tidak ada kehangatan daging atau tulang. Tidak ada tekstur kain katun. Yang kurasakan adalah sensasi dingin yang menyengat. Sebuah kehampaan. Jari-jariku tidak berhenti di permukaan kulitnya, melainkan menembus masuk, melewati bahunya seolah dia terbuat dari asap atau hologram yang canggih.
Rasanya seperti mencelupkan tangan ke dalam bak berisi air es di tengah malam. Dingin yang menusuk sampai ke tulang, membuatku reflek menarik tangan sambil terlonjak mundur.
Aku menabrak meja kopi, membuat tumpukan majalah jatuh berantakan ke lantai. Brak!
Suara gaduh itu cukup keras untuk membangunkan tetangga. Tapi Luna? Dia bergeming. Dia tidak terkejut, tidak menoleh, tidak mempedulikan kekacauan yang kubuat. Dia hanya... ada.
Perlahan, tangannya bergerak. Gerakan yang kaku dan repetitif. Dia membalik halaman buku itu.
Krek.
Suara kertas bergesekan terdengar sangat jernih.
Aku menatap nomor halaman di pojok bawah buku itu. Halaman 42. Lalu dia membaca sebentar, matanya bergerak dari kiri ke kanan, dan tangannya kembali membalik halaman ke belakang. Kembali ke halaman 42.
Lagi. Dan lagi.
Sebuah loop. Sebuah rekaman rusak yang diputar ulang.
Aku mundur selangkah lagi, punggungku menabrak dinding dingin. Napasku memburu. Aku sadar sepenuhnya sekarang. Ini bukan Luna. Luna tidak ada di sini.
Wanita yang duduk di sofaku, memakai baju favoritku, dan tersenyum manis itu hanyalah sebuah echo. Sebuah gema visual. Hantu yang tidak tercipta dari kematian, melainkan dari ketiadaan.
Aku memejamkan mata, mengusap wajahku kasar. "Sialan," umpatku pelan. "Sialan, Arya. Lo udah gila. Lo beneran gila sekarang."
Aku berbalik badan, memunggungi hantu itu, dan berjalan cepat menuju dapur. Aku butuh air. Aku butuh sesuatu yang nyata.
Di dapur, teko listrik teronggok dingin di atas meja. Tidak ada ampas kopi di wastafel. Tidak ada cangkir kotor. Aroma kopi yang memenuhi apartemen tadi perlahan memudar, digantikan oleh bau apek samar dari ruangan yang jarang dibuka jendelanya. Aroma itu hanya halusinasi. Tipuan otakku yang putus asa mencari kenyamanan.
Aku menuang air dingin dari dispenser ke dalam gelas kaca, lalu meneguknya rakus sampai habis. Rasa dingin air itu nyata, membasuh tenggorokanku yang kering.
Setelah detak jantungku sedikit lebih tenang, aku melakukan ritual pagi yang paling menyiksa namun paling adiktif: mengecek ponsel.
Aku mengambil ponselku dari meja makan. Layarnya menyala, menampilkan notifikasi yang menumpuk. Email dari klien, tagihan internet, pesan dari Bagas yang belum kubalas. Aku mengabaikan semuanya dan langsung membuka Instagram.
Jari jempolku sudah hafal di luar kepala. Ketuk ikon kaca pembesar, ketik huruf 'L', dan akunnya langsung muncul paling atas.
Luna_Amara.
Ada lingkaran hijau di foto profilnya. Sebuah story baru.
Aku tahu aku seharusnya tidak melihatnya. Para psikolog di YouTube, artikel-artikel motivasi, bahkan Bagas, semuanya bilang hal yang sama: No contact. Block. Delete. Itu satu-satunya cara untuk sembuh.
Tapi aku adalah seorang Restorator. Pekerjaanku adalah menyelamatkan hal-hal tua dari kehancuran. Aku terbiasa mengumpulkan serpihan keramik pecah, membersihkan lukisan yang tertutup debu tahunan, dan menolak membiarkan sejarah hilang begitu saja. Sifat itu tertanam terlalu dalam. Aku tidak bisa membiarkan sejarah kami hilang, meskipun sejarah itu kini menyakitkan.
Aku menekan lingkaran hijau itu.
Layar ponselku penuh dengan warna-warni lampu neon. Sebuah video pendek berdurasi lima belas detik.
Lokasinya di Shinjuku, Tokyo. Kamera berputar, menampilkan keramaian jalanan malam hari yang hidup. Suara tawa Luna terdengar renyah di latar belakang—tawa yang lepas, keras, dan sedikit serak. Bukan senyum sopan tiga sentimeter seperti hantu di ruang tamuku.
Lalu wajahnya muncul di layar. Pipi merona merah, mungkin karena udara dingin atau sedikit alkohol. Matanya menyipit bahagia.
"Gila, ramen di sini enak banget! Worth it antre satu jam!" serunya ke arah kamera.
Di sudut video, terlihat bahu seseorang berjaket kulit hitam. Tangan orang itu terulur, merapikan poni Luna yang tertiup angin. Luna tidak menepisnya. Dia justru memiringkan kepalanya, menyambut sentuhan itu.
Video berakhir. Layar menjadi gelap.
Aku menunduk, menatap pantulan wajahku sendiri di layar hitam ponsel. Wajah yang lelah, mata yang berkantung, dan rahang yang mengeras menahan tangis.
Di video itu, waktu berjalan maju. Luna bergerak, tertawa, makan, hidup. Dia ada di Tokyo, ribuan kilometer dari sini, menciptakan kenangan baru dengan orang-orang baru. Dia hidup di masa depan.
Sementara aku?
Aku menoleh pelan ke arah ruang tengah.
Hantu Luna masih di sana. Cahaya matahari semakin tinggi, membuat bayangannya memanjang di lantai karpet. Dia baru saja menyelesaikan kalimat terakhir di halaman 42, dan dengan gerakan anggun yang sama, dia membalik halaman itu kembali ke awal.
Dia terjebak di sini. Di apartemen sempit di Jakarta Selatan, di dalam kepala mantannya yang menyedihkan. Dia terjebak dalam memori di mana dia masih mencintaiku, di mana dia masih merasa nyaman duduk diam membaca buku di dekatku.
Ironisnya, hantu palsu ini memberikan kenyamanan yang lebih besar daripada kenyataan di layar ponselku.
Hantu ini tidak akan pergi ke Tokyo. Hantu ini tidak akan membiarkan orang lain merapikan poninya. Hantu ini tidak akan pernah berkata, "Arya, kamu terlalu membosankan buat aku."
Hantu ini aman.
Aku meletakkan ponselku dengan posisi layar menghadap ke bawah di atas meja makan. Seolah dengan begitu, aku bisa menutup portal ke dunia nyata di mana aku sudah tidak dibutuhkan lagi.
Aku mengambil gelas airku yang sudah kosong, lalu berjalan kembali ke ruang tengah.
Alih-alih mengusirnya atau lari keluar apartemen karena ketakutan, aku melakukan hal yang paling logis bagi seorang pengecut.
Aku duduk di lantai, bersandar pada kaki sofa, tepat di bawah kaki hantu Luna yang menggantung.
Udaranya dingin di sekitar sini, radius satu meter dari tubuhnya terasa seperti berada di dalam freezer. Tapi aku tidak peduli. Aku memeluk lututku sendiri, menatap debu-debu yang menari dalam sorot cahaya matahari.
"Buku itu bagus ya, Lun?" tanyaku pelan pada ruang kosong.
Krek.
Suara halaman dibalik menjadi satu-satunya jawaban.
"Aku juga suka bagian itu," dustaku. Aku bahkan lupa buku apa yang sedang dia baca.
Aku memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam kebohongan ini. Untuk saat ini, biarlah begini. Biarkan dunia luar berjalan dengan waktunya yang kejam. Di sini, di ruang tamu ini, waktu berhenti di halaman 42. Dan itu sudah cukup untuk membuatku bertahan hidup satu hari lagi.