Gadis di Halaman 42 Gravitasi Nol
3/10
Bab 3

Gravitasi Nol

Kelaparan adalah alarm biologis yang paling tidak sopan. Dia tidak peduli pada patah hati, tidak peduli pada depresi, dan sama sekali tidak peduli pada hantu yang duduk manis di ruang tamu.

Sudah pukul dua siang di hari Selasa—atau mungkin Rabu, aku sudah kehilangan kemampuan melacak hari. Perutku berbunyi nyaring, suara gemuruh memalukan yang memecah keheningan sakral apartemenku.

Aku meletakkan kuas kecilku di atas meja kerja. Mataku perih karena terlalu lama menatap retakan mikroskopis pada piring keramik kuno yang sedang kurestorasi.

Dengan langkah gontai, aku berjalan menuju dapur. Aku membuka pintu kulkas. Cahaya kuning redup dari dalam lemari pendingin itu menyinari pemandangan yang menyedihkan: sebotol air mineral yang tinggal setengah, toples selai kacang yang sudah dikeruk sampai bersih, dan satu buah lemon yang kulitnya sudah keriput dan mengeras seperti mumi.

Kosong.

Stok logistikku habis total.

Aku menghela napas, menutup pintu kulkas, lalu menoleh ke arah ruang tengah.

Luna masih di sana. Tentu saja.

Dia tidak butuh makan. Dia tidak butuh minum. Dia hidup dari energi melankolis dan penyangkalanku. Hari ini dia terlihat sedikit berbeda—cahaya matahari sore yang masuk dari jendela barat membuatnya terlihat lebih transparan, seolah-olah dia terbuat dari kaca tipis yang rapuh. Tapi senyum itu masih ada. Buku itu masih terbuka. Halaman 42.

"Enak ya jadi kamu," gumamku sambil menyandar di pintu kulkas. "Nggak perlu mikirin stok mie instan."

Dia tidak menjawab. Hanya suara krek pelan saat dia membalik halaman.

Aku kembali ke meja kerja, berniat mengabaikan rasa lapar ini dengan bekerja. Klienku, seorang kolektor tua yang cerewet, sudah meneror emailku sejak pagi menanyakan progres restorasi vas bunga Dinasti Qing yang pecah minggu lalu.

Aku mengambil botol kaca kecil bertuliskan Paraloid B-72—sejenis resin akrilik yang biasa kugunakan sebagai perekat dan pelapis. Aku mengguncang botolnya.

Kosong. Hanya tersisa endapan kering di dasar botol.

Jantungku berdegup kencang. Bukan karena takut dimarahi klien, tapi karena implikasi dari botol kosong ini.

Aku membongkar laci-laci meja kerjaku dengan panik. Mengeluarkan semua kotak peralatan, kuas, kapas, hingga sampah struk belanja tahun lalu. Nihil. Stok resin utamaku habis. Tanpa bahan ini, aku tidak bisa bekerja. Dan jika aku tidak bekerja, aku hanya akan duduk diam menatap hantu Luna, yang lambat laun akan membuatku gila sungguhan.

Aku menyambar ponsel, membuka aplikasi marketplace dengan jari gemetar. Aku mengetik nama bahan kimia itu.

Stok Habis.

Pre-Order 14 Hari.

Tersedia: Pengiriman via Ojek Online (Toko Tutup jam 15.00).

Aku melirik jam dinding. Pukul 14.15.

Satu-satunya toko seni dan restorasi yang menjual bahan spesifik ini secara ready stock adalah "Toko Seni Pak Seno" di kawasan Cikini. Toko tua yang tidak melayani pengiriman instan karena pemiliknya gaptek dan tidak percaya pada kurir motor.

Pilihannya sederhana tapi mengerikan: Menunggu dua minggu dalam ketidakberdayaan, atau keluar rumah sekarang juga.

Keluar rumah.

Dua kata itu terdengar seperti vonis hukuman mati.

Keluar rumah berarti meninggalkan zona amanku. Keluar rumah berarti menghadapi Jakarta yang bising, panas, dan penuh dengan kenangan yang bertebaran di setiap sudut jalan seperti ranjau darat. Dan yang paling menakutkan: keluar rumah berarti meninggalkan dia sendirian di sini.

Aku menatap Hantu Luna. Bagaimana kalau dia hilang saat aku pergi? Bagaimana kalau mantra—atau kegilaan—ini hanya bekerja jika aku ada di dekatnya? Bagaimana kalau saat aku pulang nanti, sofa itu benar-benar kosong?

"Aku harus pergi sebentar, Lun," kataku. Suaraku terdengar seperti seorang ayah yang berpamitan pada anaknya yang sedang tidur. "Cuma beli resin. Nggak lama. Paling dua jam."

Luna tetap membaca. Dia tidak peduli aku pergi atau mati membusuk di sini.

Aku menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang kupunya. Aku berlari ke kamar mandi, mencuci muka, mengganti celana pendekku dengan jeans, dan menyambar jaket hoodie abu-abu. Aku memakai topi dan masker, bukan karena protokol kesehatan, tapi sebagai perisai. Aku ingin menjadi anonim. Aku ingin menjadi hantu di dunia nyata, sama seperti Luna menjadi hantu di duniaku.

Saat tanganku memegang gagang pintu apartemen, aku berhenti. Aku menoleh sekali lagi ke belakang.

"Jaga rumah," bisikku.

Lalu aku membuka pintu, melangkah keluar, dan menutupnya cepat-cepat.

Dunia luar adalah serangan sensorik yang brutal.

Begitu aku melangkah keluar dari lobi apartemen, udara Jakarta yang panas dan lembap langsung menampar wajahku. Bau knalpot, aspal panas, dan gorengan pinggir jalan bercampur menjadi satu, mendesak masuk ke hidungku yang sudah terbiasa dengan aroma steril AC dan kopi imajiner.

Suara klakson bersahutan. Teriakan tukang parkir. Deru mesin motor. Semuanya terlalu keras. Terlalu tajam. Rasanya seperti seseorang memutar volume televisi ke tingkat maksimal tepat di telingaku.

Selama tiga minggu terakhir, aku hidup dalam kapsul waktu yang sunyi. Sekarang, aku merasa seperti astronaut yang dipaksa melepas helm di planet asing yang atmosfernya beracun.

Aku memesan ojek online. Sepanjang perjalanan menuju Cikini, aku memejamkan mata di balik helm.

Setiap kali motor melintasi jalanan familiar, otaku memutar proyektor kenangan.

Itu kedai es krim tempat kami kencan pertama.

Itu jembatan penyeberangan tempat dia pernah menangis karena dompetnya hilang.

Itu halte bus tempat kami berteduh saat hujan deras dan ciuman pertama kami terjadi.

Kota ini bukan sekadar kumpulan beton dan aspal. Kota ini adalah museum kenangan kami yang sudah tutup, tapi pamerannya masih dipajang di mana-mana. Aku merasa mual. Mual fisik yang nyata.

"Mas, sudah sampai," suara pengemudi ojek menyentakku.

Aku turun di depan ruko tua bercat krem yang sudah mengelupas. Papan nama kayunya sudah miring: Toko Seni & Bahan Antik Seno.

Aku membayar dan buru-buru masuk ke dalam.

Di dalam, suasananya sedikit lebih baik. Bau kertas tua, cat minyak, dan terpentin menyambutku. Toko ini sepi, hanya ada deretan rak tinggi yang dipenuhi botol-botol kaca berdebu dan gulungan kanvas.

"Eh, Mas Arya!"

Seorang pria tua berkacamata tebal muncul dari balik meja kasir. Pak Seno. Rambut putihnya berantakan seperti biasa, dan celemeknya penuh noda cat.

"Tumben mampir langsung, Mas? Biasanya pesen lewat telepon," sapa Pak Seno ramah.

"Iya, Pak. Butuh Paraloid mendadak. Stok di rumah habis," jawabku singkat, berusaha tidak melakukan kontak mata terlalu lama. Aku berjalan langsung ke rak bagian zat pelarut dan perekat.

"Lagi ngerjain apa sekarang? Keramik Ming lagi?" tanya Pak Seno, mengikutiku dari belakang. Orang tua ini memang suka mengobrol, sesuatu yang paling kuhindari saat ini.

"Qing, Pak. Vas bunga." Aku mengambil dua botol besar resin. Lebih baik beli banyak biar aku tidak perlu keluar lagi setahun ke depan.

"Wah, mantap. Eh, ngomong-ngomong..." Pak Seno celingukan, melihat ke arah pintu masuk toko. "Neng Luna mana? Tumben nggak ikut? Biasanya dia yang paling semangat milihin kuas."

Pertanyaan itu datang tanpa aba-aba. Menusuk tepat di ulu hati.

Tanganku yang memegang botol resin membeku.

Bagi Pak Seno, Luna dan aku adalah satu paket. Seperti kuas dan kanvas. Dia tidak tahu bahwa kanvasnya sudah robek dan kuasnya sudah patah.

"Dia... lagi sibuk, Pak," jawabku. Suaraku datar, tanpa emosi.

"Oh, kerjaan kantor ya? Salam ya buat Neng Luna. Bilang, stok cat air Winsor & Newton yang dia cari bulan lalu udah masuk. Siapa tau dia mau ngelukis lagi."

"Iya, Pak. Nanti saya sampaikan."

Kebohongan itu terasa pahit di lidah. Nanti saya sampaikan. Sampaikan pada siapa? Pada hantu di sofa yang tidak bisa mendengar? Atau pada akun Instagram yang sedang pamer makan ramen di Tokyo?

Aku membayar dengan cepat, tidak mengambil uang kembalian receh, dan langsung bergegas keluar toko. Aku butuh udara. Meskipun udaranya penuh polusi, setidaknya di luar tidak ada yang bertanya tentang Luna.

Aku berjalan cepat menyusuri trotoar Cikini, memeluk kantong belanjaan di dada. Tujuanku adalah segera pulang. Kembali ke kapsulku. Kembali ke ilusi amanku.

Namun, takdir punya selera humor yang buruk.

Saat aku melewati sebuah toko buku besar—salah satu toko buku modern dengan kafe di dalamnya—langkahku terhenti.

Di etalase kaca depan, terpajang deretan buku best-seller. Dan di sana, di rak paling depan, ada buku itu.

Buku dengan sampul cokelat tua dan ilustrasi pohon kering.

Buku yang sama persis dengan yang dibaca Hantu Luna di apartemenku.

Aku terpaku di trotoar, dihalangi oleh lalu lalang pejalan kaki yang menggerutu karena aku menghalangi jalan. Mataku terkunci pada buku itu.

Selama ini, aku tidak pernah benar-benar membaca buku itu. Itu buku milik Luna. Dia membawanya saat pindahan ke apartemenku, dan dia sering membacanya sebelum tidur. Aku hanya tahu dia selalu terlihat serius saat membacanya. Aku selalu menganggap buku itu adalah simbol kecerdasannya, kedalaman jiwanya yang melankolis—sifat yang membuatku jatuh cinta padanya.

Sebuah dorongan impulsif muncul.

Jika aku membeli buku itu... jika aku membacanya... mungkin aku bisa mengerti apa yang ada di kepalanya. Mungkin aku bisa merasa lebih dekat dengan dia yang asli, bukan hanya bayangannya.

Tanpa sadar, kakiku berbelok masuk ke toko buku itu.

Dingin AC menyambutku. Aroma kertas baru dan kopi mahal menguar. Toko buku ini cukup ramai oleh anak muda yang sedang bekerja dengan laptop atau pasangan yang sedang berkencan.

Aku mengambil buku itu dari rak. Judulnya puitis, ditulis oleh penulis sastra terkenal. Aku membaliknya, membaca sinopsis di belakang. Tentang kehilangan dan pencarian jati diri. Sangat Luna sekali.

Aku membawa buku itu ke kasir, membayarnya, dan membiarkan kasir memasukkannya ke dalam kantong kertas cokelat.

Sekarang aku punya dua alasan untuk pulang: resin untuk pekerjaanku, dan buku ini untuk "menemani" Hantu Luna membaca. Ide yang romantis, sekaligus menyedihkan.

Aku berbalik hendak keluar dari toko buku.

Tapi saat itulah aku melihatnya.

Di sudut kafe yang menyatu dengan toko buku, duduk seorang wanita.

Rambutnya dipotong pendek sebatas bahu—model bob yang rapi. Dia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku dan celana kain formal. Di depannya ada laptop terbuka dan segelas iced americano.

Dia sedang tertawa. Tawa yang sopan, berbicara dengan seorang pria berjas rapi di depannya.

Jantungku berhenti berdetak.

Wajah itu.

Meskipun potongan rambutnya berbeda. Meskipun gaya berpakaiannya jauh lebih dewasa daripada kaus band gombrong yang biasa dia pakai di apartemenku. Aku kenal tarikan garis rahang itu. Aku kenal cara matanya menyipit saat tersenyum.

Luna.

Luna yang asli.

Otakku mengalami korsleting. Bukannya dia di Tokyo? Instagram-nya bilang dia di Jepang. Kenapa dia ada di toko buku di Jakarta Pusat, sedang meeting dengan pria asing?

Kakiku lemas. Kantong belanjaan di tanganku terasa berat seperti batu.

Aku ingin lari. Insting pertamaku adalah kabur secepat mungkin sebelum dia melihatku. Aku tidak siap. Aku belum mandi dengan benar, mataku bengkak, dan aku membawa kantong plastik berisi resin bau. Aku terlihat seperti sampah, sementara dia terlihat... bersinar.

Tapi kakiku terpaku.

Dan di detik itulah, seolah merasakan tatapan intens dari arah pintu, Luna menoleh.

Mata kami bertemu.

Waktu berhenti. Suara musik jazz di kafe, suara mesin kopi, suara obrolan orang-orang—semuanya lenyap.

Hanya ada aku, dan dia.

Tidak ada hantu transparan. Tidak ada halaman 42.

Ini adalah Luna yang memiliki daging, tulang, dan tatapan mata yang hidup.

Ekspresinya berubah. Senyum sopan di wajahnya memudar perlahan, digantikan oleh keterkejutan. Matanya membulat sedikit. Bukan ketakutan, bukan kebencian. Hanya kaget.

"Arya?"

Gerakan bibirnya membentuk namaku. Dia tidak berteriak, tapi aku bisa membacanya dengan jelas.

Duniaku, yang selama ini kutopang dengan susah payah menggunakan pilar-pilar imajinasi dan penyangkalan, mulai retak.

Aku berdiri mematung di ambang pintu toko buku, memegang buku yang sama dengan yang dibaca hantunya di rumah, berhadapan dengan wanita yang seharusnya sudah menjadi masa lalu.

Dan hal yang paling menakutkan bukan karena dia ada di sini.

Hal yang paling menakutkan adalah: Dia tidak terlihat sedih sama sekali melihatku.