Bus antar kota yang kutumpangi berhenti dengan desis rem yang berat di persimpangan jalan desa yang masih berkabut. Udara subuh di sini terasa jauh lebih murni dibandingkan udara di kota yang telah tercemar oleh bau kekalahan Aris di depan mesin judi. Aku turun dengan perlahan, menggendong Cahaya yang masih terlelap, sementara Bumi dan Bintang menjinjing tas plastik berisi pakaian mereka dengan mata merah karena mengantuk.
Aku menatap jalan setapak menuju rumah kayu yang sangat kukenal. Rumah Bapak Sugeng dan Emak Maryam.
Sejak usiaku tujuh belas tahun, aku sudah tahu bahwa aku bukan darah daging mereka. Mereka menceritakan segalanya dengan jujur—bahwa aku adalah bayi yang dititipkan seorang kawan lama yang bekerja di luar negeri. Aris pun tahu fakta itu sejak awal. Saat kami masih pacaran dulu, Aris sering menjadikannya senjata rayuan. "Lis, meski dunia tidak menganggapmu, bagiku kamu adalah segalanya. Aku akan menjadi keluarga yang sesungguhnya bagimu," katanya kala itu.
Betapa naifnya aku mempercayai kata-kata pria yang kini justru membuang masa depan keluarganya demi deposit lima puluh ribu rupiah.
"Ibu, itu rumah Kakek?" tanya Bumi lirih, memecah lamunanku.
"Iya, Nak. Kita sudah sampai," jawabku sambil mengusap air mataku yang mengering.
Kami melangkah masuk ke halaman rumah. Bapak Sugeng terlihat sedang menyiram tanaman cabai di depan rumah. Sapu lidinya terjatuh saat matanya menangkap sosokku. Ia tertegun, melihat dasterku yang sedikit robek dan pipiku yang membiru—lebam yang kini mulai berubah warna menjadi ungu kehitaman.
"Lisna?" suara Bapak bergetar.
Aku tidak sanggup berkata apa-apa. Aku hanya berlari dan jatuh berlutut di depan kakinya, memeluk lutut pria tua yang telah membesarkanku lebih baik dari ayah biologis mana pun. Tangisku pecah di sana, di atas tanah merah halaman rumah bapak.
"Astaghfirullah, Lisna! Ada apa, Nak? Kenapa wajahmu seperti ini?" Emak Maryam keluar dari dapur, langsung menghambur memelukku.
"Aris, Mak... Aris..." hanya itu yang mampu keluar dari mulutku di sela isak tangis yang menyesakkan.
Emak tidak banyak bertanya. Ia segera mengambil alih Cahaya dari gendonganku dan menuntun Bumi serta Bintang masuk ke dalam rumah. Sementara Bapak, aku bisa melihat rahangnya mengeras. Jemarinya yang kasar karena mencangkul sawah mengepal kuat. Namun, ia memilih untuk mengusap kepalaku dengan lembut.
"Sudah, Lis. Kamu aman di sini. Jangan takut lagi. Rumah ini tetap milikmu, meski kamu bukan anak yang lahir dari rahim Emakmu," bisik Bapak dengan nada yang sangat teduh.
Tiga hari berlalu sejak kepulanganku. Selama tiga hari itu pula, ponselku terus berdering. Ada puluhan panggilan dari Aris dan ratusan pesan WhatsApp yang isinya berganti-ganti antara makian, ancaman, hingga permohonan maaf yang menjijikkan.
“Lisna! Pulang kamu! Aku sudah menang 2 juta hari ini! Aku mau ajak kamu makan enak, jangan jadi istri sombong!”
Lalu satu jam kemudian: “Dasar wanita pembawa sial! Gara-gara kamu kabur, saldoku habis semua! Kamu pasti bawa uang tabungan yang aku cari dengan susah payah kan?”
Aku menatap layar ponsel itu dengan rasa mual. Susah payah? Dia menyebut mencuri uang tabungan sekolah anaknya sendiri sebagai "susah payah"? Aku langsung mematikan ponsel itu dan mencabut kartunya. Aku tidak ingin masa laluku terus menghantui ketenangan orang tuaku.
Namun, kenyataan pahit tetap menghantuiku. Aku adalah seorang ibu dengan tiga anak. Aku tidak bisa selamanya menumpang pada Bapak dan Emak yang hanya petani kecil. Aku harus bekerja. Dulu, sebelum menikah, aku adalah "Ratu Kue" di pasar desa ini. Aku bisa membuat donat yang sangat empuk dan risol yang renyah. Tapi sekarang, dengan Cahaya yang masih bayi dan tidak adanya modal, aku merasa buntu.
"Lis, coba kamu lihat si Rini, anak Pak RT sebelah," kata Emak suatu sore saat kami sedang memetik daun singkong. "Dia sekarang kerja di dalam kamar saja, tapi setiap minggu bisa kasih uang ke ibunya buat beli emas."
"Kerja apa, Mak?" tanyaku heran.
"Katanya main HP, Lis. Live-live gitu. Emak nggak paham, tapi dia cuma dandan cantik, lalu ngobrol sama orang banyak di layar. Katanya dia dapat hadiah dari orang-orang."
Aku terdiam. Aku pernah mendengar tentang live streaming, tapi selama ini aku menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak mungkin kulakukan. Aku hanyalah seorang IRT yang selama sepuluh tahun hanya tahu cara mencuci baju dan melayani suami pecandu.
Malamnya, saat semua orang sudah tidur, aku mencoba mengunduh sebuah aplikasi bernama "ZoraLive". Dengan sisa bedak dan lipstik yang kubawa, aku mencoba memoles wajahku. Lebam di pipiku masih ada, meski sudah mulai memudar. Aku menutupinya dengan sedikit concealer seadanya.
Aku menarik napas panjang, menatap kamera ponselku.
[Lisna_Mommy sedang Siaran Langsung]
Awalnya, angka penonton tetap di angka nol. Aku merasa konyol bicara sendiri. Lima menit berlalu, lalu sepuluh menit. Tiba-tiba, angka penonton naik menjadi lima, lalu sepuluh.
“Halo, Kak. Cantik banget matanya, tapi kok sayu?” tulis seorang penonton bernama @User99.
"Halo... selamat malam," jawabku canggung. "Terima kasih sudah mampir. Saya... saya hanya ingin bercerita. Saya baru saja memulai hidup baru."
Entah karena rasa sedih yang sudah terlalu lama kupendam atau karena suasana malam yang sunyi, aku mulai bercerita. Bukan tentang judi slot Aris secara gamblang, tapi tentang perjuanganku sebagai seorang ibu. Aku mulai membacakan puisi-puisi pendek yang dulu sering kutulis di buku jurnal lamaku.
Tiba-tiba, layar ponselku berkedip terang. Sebuah animasi kapal pesiar mewah meluncur di tengah layar.
[Alif_Pratama mengirimkan 'Luxury Cruise']
"Eh? Apa ini?" tanyaku kaget.
Kolom komentar langsung ramai. “Wih! Itu gift mahal, Kak! Hampir sejuta itu nilainya!”
Jantungku hampir copot. Sejuta? Hanya karena aku membacakan puisi tentang kerinduan seorang ibu?
"Pak Alif... terima kasih. Saya tidak tahu harus bilang apa. Terima kasih banyak," suaraku bergetar. Air mataku jatuh tanpa bisa kubendung.
Sebuah pesan pribadi masuk ke kotak masuk aplikasiku tak lama setelah aku mengakhiri siaran.
Alif_Pratama: “Tulisanmu bukan sekadar puisi, Lisna. Itu adalah curahan hati yang punya struktur narasi yang sangat kuat. Kamu punya bakat menjadi penulis. Apakah kamu pernah berpikir untuk menseriusi naskah ceritamu?”
Aku tertegun membaca pesan itu. Menulis? Menjadi penulis adalah mimpi masa kecilku yang sudah kukubur dalam-dalam sejak Aris memintaku hanya fokus di dapur.
Selama seminggu kemudian, hubunganku dengan akun Alif_Pratama semakin intens. Dia tidak pernah memintaku melakukan hal-hal aneh di depan kamera. Dia justru memberiku bimbingan tentang cara menyusun alur cerita yang menarik. Lewat bantuan "saweran" darinya dan penonton lain yang mulai menyukai konten berceritaku, aku mulai bisa membelikan baju baru untuk anak-anak dan membantu belanja dapur Emak.
Penampilanku berubah. Kulitku yang kusam karena asap dapur mulai bercahaya lagi karena aku bisa membeli perawatan wajah sederhana. Sorot mataku yang dulu kosong kini penuh dengan ambisi.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Suatu sore, suara motor yang sangat kukenal menderu di depan rumah Bapak. Aku membeku di dapur saat mendengar suara teriakan yang menghancurkan hatiku.
"Lisna! Keluar kamu! Aku tahu kamu sembunyi di sini!" teriakan Aris terdengar kasar, disusul suara gebrakan pintu.
Aku berjalan ke depan, melihat Aris berdiri dengan baju kumal dan wajah yang tampak sangat berantakan. Dia tampak seperti orang yang tidak tidur berhari-hari. Matanya merah, mungkin karena kalah judi lagi.
"Mas... untuk apa kamu ke sini?" tanyaku dingin.
Aris tertegun melihatku. Dia menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dia terkejut melihatku mengenakan gamis yang rapi dan wajah yang tampak segar, sangat berbeda dengan Lisna yang dia tampar sepuluh hari lalu.
"Wah, hebat ya kamu! Kabur dari rumah ternyata buat dandan cantik dan cari laki-laki lain di HP?" Aris tertawa mengejek, matanya melirik ponsel yang kupegang. "Mana uangmu? Aku tahu kamu dapat banyak hadiah dari laki-laki di internet itu! Sini, berikan padaku! Aku butuh buat modal, Lis! Kali ini pasti JP, aku janji!"
Ia melangkah maju, hendak merampas ponselku. Namun, sebelum ia sempat menyentuhku, Bapak Sugeng sudah berdiri di depanku dengan parang di tangannya.
"Langkah satu senti lagi, Aris, dan parang ini akan bicara," suara Bapak rendah namun sangat mematikan.
Aris mundur teratur, wajahnya pucat. "Pak, saya ini suaminya! Dia harus ikut saya!"
"Suami macam apa yang mencuri uang sekolah anaknya sendiri?" balasku tajam. "Pulanglah, Mas. Urusan kita sudah selesai. Aku sudah mendaftarkan gugatan cerai lewat pengacaraku."
"Pengacara? Dari mana kamu punya uang buat pengacara?!" Aris ternganga.
"Dari harga diriku yang baru saja aku temukan kembali," jawabku mantap.
Saat Aris diusir pergi oleh Bapak, aku masuk kembali ke kamar. Hatiku memang masih bergetar, tapi bukan karena cinta, melainkan karena rasa lega. Aku membuka ponselku, melihat pesan terbaru dari Alif.
Alif_Pratama: “Naskah bab pertamamu sudah aku baca. Luar biasa. Aku sudah menghubungi penerbit kawanku. Mereka tertarik untuk mengontrakmu.”