Lampu kristal di lobi hotel bintang lima di kawasan Sudirman ini memantulkan cahaya yang begitu menyilaukan, hampir sama menyilaukannya dengan perubahan hidup yang sedang kujalani. Aku berdiri di depan cermin setinggi plafon yang ada di lorong menuju lift. Aku terpaku selama beberapa menit, menatap bayangan seorang wanita yang tampak begitu asing, namun sangat berkelas.
Rambutku—yang selama sepuluh tahun pernikahan dengan Aris selalu kuikat asal-asalan karena takut helaiannya jatuh ke adonan kue atau terganggu saat mencuci tumpukan baju—kini tergerai dengan sangat indah. Alif membawaku ke seorang penata rambut ternama kemarin sore. Rambut hitamku yang semula kusam kini berkilau sehat setelah menjalani perawatan intensif. Potongan soft layer-nya jatuh dengan sempurna di bahu, memberikan kesan anggun sekaligus modern. Aku tidak mengenakan hijab; rambutku adalah simbol pertama dari kemerdekaanku yang selama ini terkekang oleh aturan sepihak Aris yang melarangku berdandan namun tak pernah memberiku modal untuk merawat diri.
Aku mengenakan setelan blazer berwarna sand beige yang pas di badan, dipadukan dengan celana kain berpotongan tinggi yang membuat kakiku tampak jenjang. Di bawahnya, sepasang sepatu hak tinggi berwarna nude melengkapi penampilanku. Riasan wajahku hari ini sangat berbeda; minimalis glam. Penata rias menekankan pada ketajaman mataku, menyembunyikan lelah yang bertahun-tahun mengerak, dan memoles bibirku dengan warna cokelat lembut yang elegan.
"Ibu... Ibu benar-benar seperti orang lain," celetuk Bintang yang berdiri di sampingku, memegang erat jemariku.
Aku berjongkok, menyamakan tinggiku dengan putra keduaku itu. Aku merapikan rambutnya yang juga sudah rapi. "Ibu masih orang yang sama, Sayang. Hanya saja, sekarang Ibu sudah menemukan kembali bagian dari diri Ibu yang sempat hilang."
Ponsel di dalam tas tanganku bergetar. Sebuah pesan singkat dari Alif: "Aku sudah menunggu di lobi bawah. Mobil sudah siap. Tarik napas yang dalam, Lisna. Hari ini adalah harimu."
Aku menarik napas panjang, aroma parfum bunga yang lembut terhirup, memberikan ketenangan instan. Aku menuntun anak-anak menuju lift. Saat pintu lift terbuka di lobi bawah, aku melihat Alif berdiri bersandar di dekat pilar besar. Ia mengenakan kemeja biru navy yang lengannya digulung sedikit, tampak sangat rapi dan profesional.
Saat langkahku mendekat, Alif mendongak. Aku melihat perubahan ekspresi di wajahnya. Pria yang biasanya selalu tenang dan memiliki kendali penuh atas emosinya itu, kali ini tampak kehilangan kata-kata. Matanya menyusuri penampilanku dari ujung rambut hingga ujung sepatu, lalu kembali menatap mataku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Lisna..." suaranya rendah, ada nada kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan. "Kamu... kamu sangat memukau. Aku hampir tidak mengenalimu."
Aku tersenyum tipis, merasakan sedikit rona merah di pipiku. "Terima kasih, Mas. Aku hanya mencoba tampil layak untuk pertemuan sebesar ini."
"Bukan hanya layak," sahut Alif sambil membukakan pintu mobil untukku. "Kamu tampak seperti seseorang yang memang seharusnya berada di sini, di puncak kesuksesan ini."
Perjalanan menuju kantor rumah produksi di Jakarta Selatan itu dipenuhi dengan percakapan tentang skenario. Namun, pikiranku sesekali melayang. Aku melihat gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang menjulang tinggi di balik jendela mobil. Pemandangan ini sangat kontras dengan pemandangan pasar subuh di Pekanbaru tempat aku dulu menjajakan kue dengan daster yang sudah tipis kainnya.
Di kantor rumah produksi, suasananya sangat formal namun hangat. Aku disambut oleh Bu Sarah, produser eksekutif yang memiliki pengaruh besar di industri film Indonesia. Di meja rapat kayu jati yang panjang, aku duduk di samping Alif, berhadapan dengan tim penulis skenario senior dan sutradara.
"Novelmu, Sisa Aroma Dapur, bukan sekadar cerita tentang pengkhianatan, Lisna," ujar Bu Sarah sambil membuka naskah yang sudah penuh dengan coretan catatan. "Ini adalah otopsi tentang bagaimana sebuah rumah tangga hancur karena ego, dan bagaimana seorang wanita merakit kembali kepingan dirinya. Kami ingin kamu tetap menjadi 'ruh' dalam skenario ini. Kami tidak ingin drama ini menjadi sinetron picisan. Kami ingin ini menjadi masterpiece yang mengedukasi."
Aku mendengarkan dengan seksama. Aku memberikan masukan tentang karakter utama pria—sosok Aris yang kutuliskan bukan sebagai iblis murni, melainkan sebagai manusia yang lemah dan kalah oleh candu. Aku ingin penonton melihat bahwa kehancuran bukan hanya soal kemiskinan, tapi soal hilangnya kehormatan.
Pertemuan itu berakhir dengan penandatanganan addendum kontrak yang angkanya cukup untuk membuatku terdiam lama di kursi. Nilai royalti dan kontrak skenario itu melebihi apa yang bisa dihasilkan Aris dari judi slot seumur hidupnya, bahkan jika dia menang setiap hari.
"Selamat, Lisna. Kamu resmi menjadi bagian dari industri ini," kata Alif sambil menjabat tanganku setelah kami keluar dari gedung.
Kami memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran fine dining yang privat di kawasan Senopati. Alif tampaknya ingin merayakan keberhasilan ini. Namun, di tengah suasana romantis dan tenang itu, Alif menaruh ponselnya di meja dengan wajah yang mendadak serius.
"Lisna, ada perkembangan tentang Hartono," katanya pelan.
Jantungku seperti berhenti berdetak sesaat. "Ayah kandungku?"
"Ya. Tim hukumnya mulai mencari tahu siapa penulis di balik nama pena 'Lisna'. Dia adalah pria yang sangat menjaga reputasi. Apalagi sekarang dia sedang mengincar posisi di jajaran menteri tahun depan. Munculnya dirimu—seorang anak yang ia buang dan sekarang menjadi sorotan publik—adalah ancaman nyata baginya."
Aku menggenggam gelas kristal di depanku. "Aku tidak pernah berniat mengusiknya, Mas. Aku hanya ingin menjalani hidupku."
"Masalahnya, orang seperti Hartono tidak percaya pada kebetulan. Dia akan menganggapmu sebagai senjata yang disiapkan lawan politiknya untuk menjatuhkannya. Dia mungkin akan mencoba menghubungimu, atau yang lebih buruk, mencoba membungkammu dengan cara yang halus."
"Membungkam?" aku tertawa getir. "Setelah dia membuangku ke desa terpencil selama tiga puluh tahun, sekarang dia takut padaku?"
Alif menggenggam punggung tanganku, sebuah gerakan spontan yang membuatku tersentak sedikit namun merasa tenang. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Tapi kamu harus siap. Dunia yang kamu masuki sekarang jauh lebih kejam daripada meja judi Aris."
Sementara itu, ribuan kilometer dari kemewahan Jakarta, di sebuah warung internet yang pengap di pinggiran Pekanbaru, Aris duduk dengan mata merah yang melotot ke layar monitor. Dia baru saja menemukan akun media sosial terbaru milikku. Di sana, ada fotoku yang sedang turun dari mobil mewah di Jakarta, dengan rambut terurai indah dan pakaian yang tampak sangat mahal.
"Sialan!" Aris menggebrak meja kayu warnet, membuat penjaga warnet menoleh dengan wajah kesal. "Dia foya-foya di sana! Dia pakai uang itu buat dandan dan jalan-jalan sama laki-laki itu!"
Aris merasa harga dirinya terinjak-injak. Dia merasa bahwa kesuksesanku adalah pengkhianatan terhadap "perjuangan" pernikahan kami. Di otaknya yang sudah rusak oleh pola pikir penjudi, dia merasa bahwa setiap rupiah yang kudapatkan adalah milik bersama karena kami belum resmi bercerai.
"Dia pikir dia bisa buang aku begitu saja?" gumam Aris dengan nada mengancam. "Dia masih istriku. Semua kontrak yang dia tanda tangani itu harus ada persetujuanku!"
Aris mulai mencari tahu lokasi hotel tempatku menginap melalui petunjuk-petunjuk kecil di siaran langsungku. Dia meminjam uang lagi pada temannya—seorang preman pasar—dengan janji akan membayar sepuluh kali lipat setelah dia mendapatkan "harta gono-gini" dariku di Jakarta. Dengan sisa uang itu, dia membeli tiket bus kelas ekonomi tujuan Jakarta.
Malam harinya di Jakarta, aku melakukan live streaming dari balkon hotel. Langit Jakarta malam itu bertabur lampu kota yang berkelap-kelip. Aku duduk di kursi rotan, rambut hitamku yang panjang sesekali tertiup angin malam.
"Halo semuanya... terima kasih sudah bergabung malam ini," sapaku pada tiga puluh ribu penonton yang langsung menyerbu kolom komentar.
Aku membacakan potongan bab terbaru dari novelku, sebuah adegan tentang bagaimana sang tokoh utama akhirnya berani menatap masa lalunya tanpa rasa takut. Hadiah virtual berupa 'Istana', 'Singa', hingga 'Paus' membanjiri layar, menghasilkan pundi-pundi rupiah yang terus mengalir.
Namun, di tengah gelombang cinta dari penggemar, sebuah komentar muncul dan langsung disematkan oleh sistem karena mengandung kata-kata yang memicu reaksi keras.
@Aris_Suami_Tersakiti: "Cantik sekali rambutmu, Lisna. Pakai uang siapa buat salon? Ingat, kamu masih istriku. Kamu kabur bawa anak-anak dan uang rumah tangga. Tunggu aku di Jakarta, kita selesaikan ini secara jantan. Jangan cuma berani sembunyi di balik ketiak laki-laki kaya itu!"
Ribuan komentar pembelaan langsung membanjiri, menyerang akun tersebut. Namun, melihat nama itu, tanganku mendadak dingin. Ketakutan lama itu mencoba merayap kembali. Bayangan tamparan dan makian Aris seolah kembali terngiang.
Aku menatap kamera. Aku melihat bayanganku sendiri di layar ponsel—seorang wanita yang sudah bertransformasi, yang sudah memiliki kekuatan sendiri. Aku tidak boleh jatuh lagi ke lubang yang sama.
Aku tersenyum tipis ke arah kamera. Senyuman yang tenang, elegan, namun sangat tajam.
"Ada seseorang yang bicara tentang hak suami di sini," kataku dengan suara yang jernih, terdengar oleh puluhan ribu orang. "Hak suami itu diberikan oleh Tuhan sepaket dengan kewajibannya. Jika kewajiban memberi nafkah, menjaga kehormatan istri, dan melindungi anak-anak tidak dilakukan, maka hak itu gugur dengan sendirinya. Bagi Anda yang sedang menuju Jakarta... silakan datang. Pintu hukum sudah terbuka lebar untuk menyambut laporan pemerasan dan KDRT yang selama ini saya simpan."
Aku mengakhiri siaran itu dengan anggun. Aku berdiri di balkon, menatap kemegahan Jakarta. Aku bukan lagi rumput liar yang bisa diinjak-injak. Aku adalah bunga yang tumbuh di celah beton, yang hanya akan semakin kuat meski badai mencoba menumbangkannya.
Aris mungkin sedang dalam perjalanan, dan Hartono mungkin sedang mengintai di kegelapan. Tapi malam ini, aku tahu satu hal: Aku sudah tidak bisa lagi dihancurkan.