Haru No Omoide (Kenangan Musim Semi) 3. Kubis musim dingin
3/20
Bab 3

3. Kubis musim dingin

Pagi itu Hokkaido diselimuti kabut tipis. Embun masih menggantung di ujung rumput, berkilau seperti butiran kaca saat sinar matahari mencoba menembusnya. Dari kejauhan, hamparan sawah terlihat seperti lautan kosong tanpa tanaman, hanya tanah yang tidur menunggu disentuh kembali. Yui berdiri di tepi pematang, mengenakan jaket tipis dan celana panjang lusuh. Di tangannya ada cangkul tua peninggalan ayahnya. Ia menatap sawah itu lama, hatinya berdesir aneh.

Sawah ini dulu adalah pusat hidup keluarganya. Ayahnya akan bangun sebelum matahari terbit, membawa sarapan buatan ibu, lalu bekerja seharian hingga senja. Yui kecil sering berlari-lari di pematang, sesekali membantu dengan cara sederhana.

Kini, semuanya tinggal kenangan.

Yui menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah turun ke tanah sawah yang masih lembab. “Baiklah… ayo mulai,” gumamnya pada diri sendiri.

...

Pekerjaan pertama adalah menyiangi rumput yang tumbuh liar selama sawah itu terbengkalai. Yui jongkok, menarik satu demi satu dengan tangan. Awalnya mudah, tapi lama-lama ia merasakan perlawanan dari akar-akar kuat yang menancap dalam. Tangannya mulai memerah, dinginnya tanah bercampur dengan gesekan kasar rumput. Sesekali duri kecil menusuk kulitnya. Tapi Yui terus melanjutkan, menekan rasa perih dengan mengingat tujuan.

‘Sawah ini harus hidup lagi.’ batin Yui.

Setelah itu Yui mencoba mengairi sawah dengan membuka saluran kecil dari parit di sisi pematang. Air dingin mengalir, membentuk aliran tipis yang menyebar ke tanah kering. Yui berdiri menatapnya dengan napas terengah, merasa sedikit puas melihat tanah kembali basah. Namun tenaga yang terkuras mulai terasa. Punggungnya pegal, jari-jarinya kaku karena udara yang menggigit. Ia berhenti sejenak, bersandar pada gagang cangkul, memandang langit biru pucat yang terbentang di atasnya.

Menjelang siang, perutnya mulai lapar. Yui duduk di bawah pohon kecil di tepi sawah, membuka bekal sederhana yang ia bawa: dua buah onigiri berisi umeboshi, dibungkus kain kecil. Ia menatap onigiri itu sejenak sebelum menggigit perlahan. Rasa asam umeboshi bercampur nasi hangat membuat lidahnya bergetar. Sederhana, tapi mengenyangkan.

Yui tersenyum tipis. Onigiri ini mengingatkannya pada masa kecil, ketika ibunya selalu menyiapkan bekal untuk ayah di sawah. Kadang ia ikut duduk bersama mereka, bertiga makan dengan tangan masih kotor oleh tanah. Suasana itu hangat, meski sederhana. Kini, Yui makan seorang diri. Angin dingin bertiup, membuat ujung jarinya kaku. Ia memeluk lututnya, menggigit onigiri perlahan sambil menatap sawah yang sepi.

Keheningan membuat pikirannya melayang. ‘Jika ayah masih ada, ia pasti bangga melihatku mencoba melanjutkan ini. Jika ibu ada di sini, ia pasti akan menegurku karena bekerja terlalu keras sendirian.’

Air matanya hampir jatuh, namun Yui buru-buru mengedip, menahan rasa itu. Ia tidak boleh lemah. Sawah ini adalah satu-satunya warisan yang tersisa. Jika ia menyerah, maka kenangan keluarganya akan benar-benar hilang. Onigiri terakhir ia habiskan perlahan. Lalu, setelah beristirahat sebentar, Yui kembali berdiri, menepuk-nepuk tangannya yang kotor, dan melanjutkan pekerjaan.

...

Hari itu ia bekerja hingga matahari condong ke barat. Tangan dan kakinya lelah, kulit telapak tangannya perih dan bengkak, namun ada kepuasan kecil yang muncul di dalam dadanya. Sedikit demi sedikit, sawah itu mulai terlihat rapi, seolah menyambut sentuhan barunya. Saat senja tiba, Yui berdiri di pematang, memandang hasil kerjanya. Nafasnya berat, tapi bibirnya tersenyum samar.

“Besok aku akan kembali lagi,” katanya pelan, seolah berbicara pada ayahnya yang mungkin sedang tersenyum dari langit.

...

Sore itu langit kembali dipenuhi awan kelabu, seolah hujan bisa turun kapan saja. Yui duduk di beranda rumahnya, membersihkan tangan yang masih perih setelah seharian bekerja di sawah. Jemarinya memerah, sebagian kulitnya tergores oleh rumput liar. Angin dingin membuat rasa nyeri dan perih pada tangannya semakin menusuk, namun ia tetap menatap tenang ke arah kebun yang perlahan mulai tertata.

Tiba-tiba, suara langkah mendekat terdengar dari jalan setapak di depan rumah. Yui mengangkat kepala, terkejut ketika melihat sosok yang sudah tak asing lagi muncul dengan senyum lebar dan kantong belanja di tangannya.

“Yui!”

Suara itu riang, meski membuat jantung Yui sedikit berdebar.

“Haruto?” Yui bangkit pelan, kaget sekaligus bingung. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Haruto berjalan mendekat, menurunkan tas belanja berisi; sayuran segar, tahu, dan seikat daun bawang. “Aku lewat dekat sini setelah pulang dari kota. Jadi kupikir, kenapa tidak mampir sebentar? Lagi pula…” Ia menepuk kantong belanja itu, “Aku ingat kau suka nikujaga. Jadi kubawakan bahan tambahan. Kau bisa masak kapan saja kalau ingin.”

Yui terdiam, menatap kantong belanja itu dengan campuran rasa terharu dan canggung. “Kau… tidak perlu repot-repot.”

“Repot? Tidak sama sekali,” jawab Haruto cepat, masih dengan senyum hangat. “Lagipula, aku senang bisa melakukannya.”

Yui menunduk, lalu mengambil kantong itu dengan hati-hati. “Terima kasih… Haruto.” Suaranya pelan, hampir berbisik.

Haruto menatap sekeliling rumah, mengamati cat dinding yang mulai terkelupas, jendela yang sudah berdebu, dan halaman yang dipenuhi daun kering. “Kau benar-benar tinggal sendirian di sini, ya?”

“Ya. Rumah ini peninggalan keluarga. Aku ingin merawatnya sendiri,” jawab Yui.

Haruto mengangguk pelan, lalu tersenyum samar. “Aku bisa membantumu merenovasi. Atau paling tidak, membersihkan halaman. Tidak baik membiarkanmu melakukan semuanya seorang diri.”

Yui terkejut, buru-buru menggeleng. “Tidak, tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri.”

“Tapi…” Haruto menatapnya, nada suaranya tulus. “Aku tidak tega melihatmu kelelahan. Tanganmu bahkan sampai memerah. Itu pasti kamu dapatkan karena mencoba membersihkan rumah ini sendirian. Jika dibiarkan, nanti kamu akan sakit.”

Yui menahan napas. Kata-katanya benar, tapi ia tak ingin menerima bantuan. Ia takut kehilangan kendali atas kenangan yang tersisa di rumah ini. “Haruto… aku tahu kau berniat baik, tapi rumah ini penuh kenangan. Aku ingin menyentuh semuanya sendiri. Kalau ada orang lain, mereka mungkin akan membuang sesuatu yang begitu berharga.”

Haruto terdiam sesaat, menatap Yui dengan mata yang dalam. Ia bisa merasakan luka di balik kata-kata itu. Perlahan, ia mengangguk. “Baiklah. Aku tidak akan memaksamu.”

Yui menarik napas lega, tapi disisi lain, ia merasa bersalah.

Namun Haruto tidak menyerah begitu saja. Ia menoleh ke halaman, lalu tersenyum nakal. “Kalau begitu… bagaimana kalau aku hanya membantu mengumpulkan ranting di halaman? Aku janji tidak akan membuang apa pun tanpa izinmu.”

Yui tertegun, ingin menolak lagi, tapi melihat wajah Haruto yang begitu penuh semangat, ia tidak tega. “Kau ini keras kepala sekali.”

“Ya, begitulah aku sejak kecil.” Haruto terkekeh. “Kau sudah tahu itu, kan?”

Yui menunduk, bibirnya tanpa sadar melengkung sedikit. Ia memang ingat Haruto kecil selalu keras kepala, selalu muncul dengan ide aneh, dan tak pernah menyerah meski ditolak. Akhirnya, Yui menghela nafas panjang. “Baiklah,” ucap Yui memberi izin pada Haruto.

“Siap, nyonya besar!” Haruto berdiri tegak sambil memberi hormat main-main.

Yui menggeleng, tapi kali ini ada senyum samar di wajahnya.

Mereka akhirnya menghabiskan waktu sore itu di halaman. Haruto benar-benar hanya mengumpulkan ranting dan daun kering, sementara Yui menyapu pelan. Sesekali Haruto mencoba bercanda untuk mencairkan suasana.

“Lihat, aku menemukan ranting berbentuk hati. Mungkin ini pertanda baik?” katanya sambil mengangkat ranting kecil.

Yui menoleh cepat, wajahnya memanas. “Kau ini… benar-benar konyol.”

“Tapi kau tersenyum, kan?” jawab Haruto cepat.

Yui pura-pura tidak menggubris, padahal senyumnya memang sempat muncul tanpa sadar. Saat matahari mulai tenggelam, halaman depan rumah terlihat lebih rapi. Daun-daun kering sudah terkumpul, ranting tersusun di sudut, dan udara terasa sedikit lebih segar. Yui berdiri di beranda, memandang hasil kerja mereka.

“Terima kasih… meski aku sebenarnya tidak ingin merepotkanmu.”

“Tidak apa-apa,” balas Haruto sambil menepuk tangannya yang kotor. “Aku senang bisa membantu, sekecil apa pun itu.”

Saat Haruto bersiap pulang, ia menoleh sekali lagi pada Yui. Senyumnya lembut, namun sorot matanya penuh tekad. “Aku tahu kau ingin melakukan semuanya sendiri, Yui. Tapi aku juga tahu… setiap orang butuh seseorang di sisinya. Jadi… jangan heran kalau aku akan terus datang, meski kau menolak.”

Yui terdiam, jantungnya berdebar tanpa bisa dikendalikan. Ada bagian dalam dirinya yang ingin berkata ‘jangan datang’, tapi ada juga bagian lain yang justru merasa lega dengan kehadiran Haruto. Ia akhirnya hanya mengangguk pelan. “Hati-hati di jalan, Haruto.”

Haruto mengangkat tangan, melambaikan salam. “Sampai jumpa, Yui.”

Dan saat punggung Haruto menghilang di jalan setapak, Yui masih berdiri di beranda, menatap kosong ke arah senja. Hatinya kacau, antara ingin tetap sendiri, dan takut jika kehangatan dari Haruto perlahan menggerus dinding yang susah payah ia bangun.

...

Yui baru saja masuk dan kemudian menutup pintu rumah. Udara dingin masih menempel di kulitnya, tapi kehangatan percakapan singkat tadi membuat hatinya terasa aneh. Campuran lega, bingung, dan sedikit gelisah. Ia baru saja hendak kembali ke dapur ketika terdengar suara langkah pelan di depan rumah, yang dibarengi dengan suara tongkat kayu beradu dengan tanah. Hal tersebut membuat Yui langsung mengenalinya.

“Obaasan Miyako…” gumamnya pelan sambil membuka pintu kembali.

Ternyata benar, tetangga tuanya itu berdiri dengan keranjang anyaman besar di tangan. Wajahnya ramah, meski keriputnya semakin dalam. “Yui-chan, aku baru panen kubis di kebun. Rasanya sayang kalau hanya dimakan sendiri. Jadi kubawakan untukmu.”

Miyako menyerahkan keranjang penuh kubis segar. Daunnya hijau pucat, masih dingin dengan embun beku yang menempel.

Yui membelalakkan mata. “Sebanyak ini? Obaasan, aku tinggal sendirian. Bagaimana aku bisa menghabiskan semuanya?”

Miyako terkekeh kecil. “Kubis musim dingin tidak sama dengan kubis biasa. Rasanya manis, renyah, dan tahan lama kalau disimpan baik-baik. Makanlah pelan-pelan. Kau akan tahu bedanya.”

Yui menerima keranjang itu dengan ragu. “Terima kasih banyak, Obaasan… tapi sungguh, ini terlalu banyak.”

Miyako menepuk lengan Yui lembut. “Tidak apa-apa. Anggap saja hadiah penyambutan untukmu yang kembali ke desa ini.” Senyumnya hangat, lalu ia pamit pulang, meninggalkan Yui dengan keranjang kubis yang terlalu besar untuk ditangani seorang diri.

Di dapur, Yui meletakkan keranjang itu di meja. Kubis-kubis hijau menatapnya seolah menuntut jawaban.

“Aku… harus bagaimana dengan semua ini?” gumam Yui sambil menopang dagu.

Yui duduk lama di kursi, menatap daun-daun kubis yang bertumpuk. Bayangan berbagai kemungkinan berkelebat: sup kubis, tumisan, salad. Tapi jumlahnya terlalu banyak untuk dirinya seorang. Tangannya tanpa sadar terulur, mengambil selembar kecil daun paling luar. Ia menatapnya sejenak, lalu entah kenapa mencobanya begitu saja.

‘Kriuk...!’

Rasa manis lembut segera menyebar di mulut. Tidak seperti sayuran biasa yang hambar, kubis ini membawa kesegaran dingin, seolah menyimpan rahasia musim panjang yang baru saja berlalu. Yui terdiam. Ingatan tiba-tiba menyeruak. “Yui, kau tahu kenapa kubis musim dingin terasa manis?” suara ibunya bergema jelas. Karena mereka bertahan di bawah salju yang dingin berbulan-bulan. Mereka menyimpan gula untuk melindungi diri dari beku. Itu sebabnya rasanya manis sekali saat dimakan.”

Yui menutup mata. Kata-kata ibunya berputar di kepalanya, membuat dadanya hangat sekaligus nyeri. ‘Seperti aku, mungkin… mencoba bertahan dari musim dingin panjang dalam hidupku,’ batin Yui.

Yui membuka mata, lalu segera mengambil buku resep tua dari rak. Halaman demi halaman ia buka, jari-jarinya berhenti pada sebuah catatan kecil: Takoyaki sederhana. Tulisan tangan ibunya melingkar rapi. Di samping resep itu ada catatan tambahan dengan pensil: ‘Kalau tidak ada cumi-cumi, bisa diganti dengan bahan lain. Intinya adalah adonan yang lembut dan hangat.’

Yui menarik napas panjang, lalu mengangguk. “Baiklah… malam ini aku akan membuat takoyaki.”

Namun begitu ia membuka kulkas, ekspresi wajah Yui seketika berubah menjadi kecewa. Tidak ada cumi-cumi. Hanya ada beberapa potong sosis, daging sapi tipis sisa nikujaga kemarin, dan sedikit keju. Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum samar. ‘Ibu pasti akan bilang: gunakan apa yang ada. Yang penting, masak dengan hati.’ Yui pun menyiapkan semua bahan seadanya. Kubis ia cincang halus, mencampurnya dengan adonan tepung dan telur. Sosis ia potong kecil, daging sapi diiris tipis-tipis.

Takoyaki pan peninggalan ibunya masih tersimpan di lemari. Sedikit berkarat di bagian pinggir, tapi masih kokoh. Yui membersihkannya pelan, lalu memanaskannya di atas api. Aroma logam yang hangat memenuhi dapur. Saat adonan dituang ke cetakan, suara ‘cessshhh’ menggema, menimbulkan aroma harum yang segera bercampur dengan wangi kubis segar. Yui memasukkan potongan sosis dan daging sapi ke dalam setiap lubang pan, lalu memutar adonan dengan tusuk bambu, berusaha menirukan gerakan luwes ibunya dulu.

Bentuknya tidak sempurna, beberapa bahkan terlalu besar untuk ukuran takoyaki normal, beberapa agak gosong di sisi, tapi Yui terus berusaha. Setiap putaran tusuk bambu membuatnya merasa lebih dekat dengan ibunya. Setelah beberapa kali percobaan, bulatan takoyaki akhirnya matang dengan warna keemasan yang cantik. Ia menuangkannya ke piring, menambahkan saus kental dan taburan katsuobushi yang masih tersisa.

Ruang makan sederhana kembali dipenuhi aroma yang hangat. Yui duduk, menatap piring takoyaki di depannya. Bulatan-bulatan kecil itu terlihat berbeda dari takoyaki asli. Tidak ada cumi-cumi, hanya kubis, sosis, dan daging sapi seadanya. Tapi bagi Yui, justru itulah yang membuatnya istimewa.

Yui mengambil sepotong, meniupnya pelan, lalu menggigit. Kriuk lembut kubis bercampur dengan gurihnya daging dan asin manis dari saus. Rasa sederhana itu membuat dadanya hangat. Meski tidak sama dengan buatan ibunya, ada perasaan bahwa makanan ini tetap membawa cinta yang sama. Air matanya hampir jatuh lagi, namun kali ini Yui tersenyum.

“Terima kasih, Ibu… bahkan dengan bahan seadanya, aku bisa membuat sesuatu yang hangat.” Malam itu, Yui makan takoyaki seorang diri, tapi hatinya terasa sedikit lebih penuh.