Pagi itu, embun beku masih menempel di kaca jendela ketika Yui berdiri di halaman samping rumah. Pandangannya tertuju pada sebuah bangunan kecil di ujung halaman. Sebuah rumah kaca sederhana yang sudah lama tak terurus. Kaca-kaca transparan yang dulunya berkilau kini buram ditutupi lumut. Beberapa rangka besi berkarat, dan pintunya miring seolah akan roboh. Namun meski tampak menyedihkan, di mata Yui bangunan itu menyimpan begitu banyak kenangan.
“Rumah kaca…” bisiknya.
Ayahnya dulu yang membangunnya dengan tangan sendiri. Meski sederhana, rumah kaca itu memungkinkan mereka menanam sayur di tengah musim dingin panjang Hokkaido. Bunga-bunga kecil yang ditanam ibunya pun bisa mekar sepanjang tahun. Yui teringat saat kecil dulu, ayahnya sering mengajaknya menanam tomat kecil berwarna merah cerah.
“Tanaman juga butuh kasih sayang, Yui,” begitu ayahnya selalu berkata. “Kalau kau merawatnya dengan hati, mereka akan tumbuh subur.”
Kini, berdiri di hadapan rumah kaca yang lusuh itu, Yui merasa seolah ayahnya masih ada di sisinya.
…
Siang harinya, Yui menyampaikan niatnya pada Obaasan Miyako.
“Obaasan, aku ingin membersihkan rumah kaca itu. Kalau bisa, aku ingin memperbaikinya sebelum musim semi. Ayah pasti senang kalau aku bisa menanami sayur lagi di sana.”
Miyako mengangguk penuh pengertian. “Itu ide bagus, Yui-chan. Tapi rumah kaca itu sudah lama kosong, rangkanya juga banyak yang rusak. Kau sebaiknya memanggil tukang saja.”
Yui sempat ingin menolak, sama seperti saat Miyako menyarankan memanggil tukang untuk rumah utama. Namun kali ini Yui sadar, membetulkan rumah kaca bukan pekerjaan ringan. Kalau ia paksakan sendiri, mungkin akan berbahaya.
“Baiklah, Obaasan,” Yui akhirnya mengalah. “Kalau Obaasan tahu seseorang yang bisa dipercaya, aku akan memanggilnya.”
…
Dua hari kemudian, sebuah mobil pick-up berhenti di depan rumah Yui. Yui yang melihat mobil itu buru-buru keluar, menunggu siapa yang akan turun. Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun, bertubuh tegap meski rambutnya sudah memutih sebagian, turun dari mobil. Senyumnya ramah.
“Selamat siang. Kau pasti Aoyama Yui?” tanyanya sambil mengulurkan tangan.
Yui mengangguk sopan. “Ya, saya Yui. Dan Anda…?”
“Saya Takeda Masanori,” jawab pria itu. “Saya tukang yang diminta Obaasan Miyako untuk memperbaiki rumah kaca.”
Nama itu membuat Yui sejenak tertegun. ‘Takeda,’ itu nama keluarga yang ia kenal.
Benar saja, dari sisi mobil muncul sosok yang membuat jantungnya berdebar tanpa aba-aba. Haruto melompat turun, membawa kotak perkakas besar.
“Yui?” Suara terkejut itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
Yui mematung, nyaris kehilangan kata-kata. “H-Haruto… apa yang kau lakukan di sini?!” tanya Yui kaget sekaligus bingung.
“Dia anak saya,” ujar Masanori sambil terkekeh bangga. “Setiap kali saya bekerja di desa ini, Haruto sering ikut membantu. Katanya, kerja jadi lebih ringan jika dilakukan berdua.”
Haruto tersenyum agak canggung, lalu menunduk sedikit. “Aku tidak tahu kau yang memanggil Ayah. Jadi… kebetulan kita bertemu lagi.”
Mereka bertiga kemudian berjalan menuju rumah kaca. Masanori langsung memeriksa kerangka besi yang miring, sementara Haruto mengeluarkan alat-alat dari kotak. Yui berdiri agak jauh, merasa aneh dengan situasi itu. Hatinya masih belum terbiasa menghadapi Haruto, apalagi setelah pertemuan canggung mereka di toserba beberapa hari lalu. Namun Masanori tampaknya tidak menyadari ketegangan di antara mereka. Dengan suara hangat, ia berkata pada Yui, “Kau tahu, Yui-chan? Haruto sering sekali bercerita tentangmu di rumah. Katanya, kau teman masa kecil yang selalu ia kagumi.”
Yui menoleh kaget. “Eh…?!”
Pipi Haruto langsung memerah. “Ayah! Jangan bilang hal-hal aneh begitu.”
Masanori hanya tertawa kecil. “Aku tidak bohong, kan? Bahkan setelah kau pindah ke Tokyo, Haruto masih sering bertanya-tanya bagaimana kabarmu.”
Yui merasakan jantungnya berdetak cepat. Ia berusaha menahan wajahnya agar tetap tenang, tapi sulit. Suasana jadi semakin canggung, seolah udara dingin di dalam rumah kaca bertambah tebal.
Meski begitu, pekerjaan tetap berjalan. Masanori dengan cekatan memperbaiki rangka besi yang longgar, sementara Haruto membantu mengganti beberapa kaca yang pecah. Sesekali, Yui diminta memegang papan kayu atau membersihkan pecahan kaca. Ia menuruti dengan patuh, meski masih canggung setiap kali berdekatan dengan Haruto.
…
Menjelang sore, rumah kaca itu mulai tampak lebih rapi. Kaca-kaca sudah diganti, pintu diperbaiki, dan rangkanya kembali tegak. Meski belum sempurna, bangunan itu seperti mendapatkan napas baru.
Masanori menyeka keringat di dahinya. “Masih perlu beberapa hari lagi untuk menyelesaikan semuanya, tapi aku yakin rumah kaca ini bisa dipakai lagi sebelum musim semi benar-benar tiba.”
Yui tersenyum tipis, hatinya hangat. “Terima kasih banyak, Pak Takeda. Rumah kaca ini… sangat berarti bagi keluarga saya.”
Masanori menepuk bahu Haruto. “Terima kasih juga pada anakku ini. Kalau tidak ada dia, pekerjaan pasti jauh lebih lambat.”
Haruto menggaruk tengkuknya yang memerah. “Aku cuma membantu sedikit saja…”
Yui menatapnya diam-diam. Ia ingin mengatakan sesuatu. Ucapan terima kasih yang lebih dalam, atau mungkin sekadar pengakuan bahwa kehadiran Haruto membuatnya tidak merasa sendirian hari itu. Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.
Masanori kemudian membereskan peralatan. “Kami pamit dulu, Yui-chan. Besok atau lusa aku akan kembali melanjutkan pekerjaan.”
Yui mengangguk sopan. “Baik, terima kasih banyak, Pak Takeda.”
Haruto sempat menatap Yui sejenak sebelum ikut naik ke mobil. Senyum kecilnya terbit, seolah ingin menyampaikan sesuatu yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Yui membalas dengan anggukan singkat.
Dan ketika mobil itu pergi, Yui berdiri di depan rumah kaca yang kini lebih terang. Hatinya masih penuh dengan rasa canggung, tapi juga ada sedikit harapan. Mungkin, seperti rumah kaca yang diperbaiki, hatinya juga perlahan bisa dibangun kembali.
…
Rumah kaca itu kini berdiri lebih tegak dari sebelumnya. Kaca-kaca buram yang pecah sudah diganti sebagian, dan pintu yang dulu nyaris lepas kini kembali bisa dibuka-tutup dengan baik. Namun bagi Yui, jelas pekerjaan belum selesai. Di beberapa sudut, celah kecil masih dibiarkan terbuka, rangka kayu di bagian bawah mulai lapuk, dan tanah di dalam rumah kaca keras karena lama tak disentuh. Yui berdiri di tengah bangunan itu, menggenggam kedua tangannya erat, seolah menimbang-nimbang apa langkah berikutnya.
Ayah Haruto - Takeda Masanori, menyeka peluh dari dahinya setelah memeriksa sisi rumah kaca. “Perbaikannya sudah lumayan, Yui-chan. Tapi kalau kau ingin benar-benar menggunakannya kembali, ada beberapa hal yang harus kau siapkan. Tanah harus diolah ulang, dan tentu saja, kau butuh bibit tanaman baru.”
“Bibit… ya,” gumam Yui pelan.
Masanori tersenyum ramah. “Kebetulan, minggu ini ada pasar awal musim semi di desa sebelah. Itu semacam tradisi tahunan. Banyak pedagang yang menjual bibit sayuran dan bunga dengan harga murah. Peralatan berkebun juga di diskon besar-besaran. Kau bisa dapat hampir semua yang kau butuhkan di sana.”
“Pasar awal musim semi?” Yui mengulang dengan nada ragu, berusaha mengingat.
“Ah, mungkin kau lupa. Kau lama di Tokyo, kan? Tapi dulu, saat kecil, kau pasti pernah diajak orangtuamu ke sana,” jelas Masanori. “Banyak keluarga di desa ini menunggu momen itu setiap tahun. Selain hemat, suasananya juga meriah. Semacam awal baru untuk semua orang sebelum musim tanam dimulai.”
Yui terdiam sejenak. Ada sesuatu dalam kata “awal baru” yang menyentuh hatinya. Ia memandangi rumah kaca yang penuh kenangan akan ayahnya. Mungkin benar, untuk memulai sesuatu, ia butuh langkah kecil seperti membeli bibit.
“Aku… akan pergi ke pasar itu,” katanya akhirnya.
…
Dua hari kemudian, Yui benar-benar pergi ke pasar yang dimaksudkan oleh ayah Haruto. Pagi di desa, dipenuhi hiruk-pikuk penduduk yang jarang Yui lihat. Jalan utama menuju pasar dipadati orang-orang, mulai dari petani dengan gerobak, ibu-ibu yang membawa keranjang, hingga anak-anak yang berlari-lari kecil sambil tertawa. Yui mengayuh sepedanya perlahan menuju pasar. Udara masih dingin, tapi aroma tanah basah bercampur bunga liar di pinggir jalan memberi tanda musim semi mulai datang. Sepanjang perjalanan, ia merasa dadanya berdebar. Entah karena keramaian yang sudah lama tidak ia lihat, atau karena rasa penasaran tentang apa yang akan ditemuinya di sana.
Begitu tiba, pasar itu jauh lebih meriah daripada yang Yui bayangkan.
Deretan tenda warna-warni berjajar rapi. Ada yang penuh dengan bibit sayuran seperti; tomat, paprika, mentimun, bahkan melon kecil. Ada pula tenda yang menjual aneka bunga, kelopak berwarna-warni menebarkan aroma segar. Di sisi lain, pedagang menawarkan cangkul, pot, sarung tangan berkebun, sampai pupuk organik.
Suara pedagang bersahutan, memanggil pembeli dengan tawaran diskon.
“Bibit tomat! Tiga pot seharga seratus yen!”
“Alat semprot air diskon setengah harga!”
“Beli dua kantong pupuk, gratis satu!”
Suasananya hidup, hangat, seolah seluruh desa bersiap menyambut kehidupan baru.
Yui berjalan menyusuri tenda-tenda para pedagang. Matanya berbinar sekaligus bingung. Semua terlihat menarik. Namun dalam pikirannya, ia mencoba mengingat apa saja yang dulu sering ditanam ayahnya. Yui berhenti di sebuah tenda bibit sayur. Seorang pedagang tua tersenyum ramah. “Ayo, nona, pilihlah! Tomat manis, terong ungu, atau mungkin paprika merah?”
Yui menunduk, memandangi bibit-bibit itu. Daun-daun kecil berwarna hijau segar seolah melambai padanya. Tangannya terulur, menyentuh lembut salah satu pot bibit tomat. Ingatan masa kecil kembali muncul: dirinya dan ayahnya menanam tomat bersama, menunggu buahnya berubah merah.
“Aku akan ambil tomat,” katanya, suaranya nyaris bergetar oleh kenangan.
Pedagang mengangguk. “Pilihan yang bagus! Tomat selalu jadi favorit keluarga.”
Yui melanjutkan langkahnya, membeli beberapa bibit lain: selada, bayam, dan satu pot kecil bunga matahari yang membuatnya tersenyum tanpa sadar. Di tenda lain, Yui menemukan rak-rak penuh peralatan berkebun. Tangannya meraba sebuah cangkul kecil baru, berbeda jauh dari milik ayahnya yang sudah berkarat di gudang. Ada rasa getir, tapi juga tekad baru.
“Kalau ingin memulai dengan baik, kau butuh alat yang tepat,” ucap pedagang dengan suara mantap. “Hari ini semua diskon lima puluh persen.”
Tergiur oleh iming-iming sang pedagang yang memberikan diskon besar, Yui akhirnya membeli; cangkul, sarung tangan, dan semprotan air kecil. Keranjangnya semakin berat, tapi hatinya terasa ringan.
Saat matahari mulai naik, pasar semakin ramai. Bau makanan dari warung kecil di pinggir tenda bercampur dengan aroma bunga dan tanah basah. Anak-anak tertawa, orang-orang bercakap hangat, dan Yui berdiri di tengah keramaian itu dengan senyum kecil. Sudah lama ia tidak merasa seperti bagian dari sesuatu. Seolah pasar itu bukan hanya tempat berbelanja, tapi juga sebuah perayaan kecil kehidupan.
Membawa bibit dan alat-alat baru, Yui membayangkan rumah kaca tuanya kembali penuh warna. Tomat merah bergantung di tangkai, selada hijau tumbuh subur, bunga matahari menatap langit, dan di antara itu semua, bayangan ayahnya yang tersenyum bangga. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke desa, Yui merasa masa depan tidak lagi sepenuhnya kosong. Ada sesuatu yang bisa ia rawat, sesuatu yang bisa ia tunggu tumbuh. Awal baru, seperti kata ayah Haruto.