Akan tetapi, seorang pria menyadari dirinya sedang diawasi, lalu melangkah menuju kamar tempat bocah tadi.
“Kau mau ke mana, Bocah Kecil?”
“Aku ... aku mau pulang, Pak.”
“Lantas, rumahmu mana?”
“Entah. Aku tak bisa mengingat semuanya.”
“Sebaiknya kau tinggal di sini untuk sementara waktu. Setelah ingatanmu kembali lagi, aku akan mengantarkanmu pulang ke orang tuamu,” ucap seorang perempuan, melangkah dari ruangan sebelah.
Bocah perempuan itu pun bingung dengan apa yang terjadi padanya. Dia hanya ingat, sebelum tubuhnya menjadi kecil, dia sempat disuntik oleh orang tak dikenal, yaitu penjahat yang berniat membunuhnya. Sehingga, tak mungkin menjelaskan hal itu pada mereka berdua, mungkin jalan satu-satunya, dia harus berbohong.
“Sebaiknya kau jangan tanyakan hal itu padanya, sepertinya dia masih shock,” saran pria berkumis yang memakai pakaian formal.
“Kak? Bagaimana bisa aku di sini?” tanya bocah tadi.
“Selama dua hari, kau dirawat di rumah sakit. Kebetulan masih satu ruang dengan ayahku yang tangannya dirawat karena terkilir.”
“Oh, jadi begitu ya,” ucapnya menyimpulkan kejadian yang menimpanya. Ia pun melihat ke tubuhnya sendiri dan baru menyadari satu hal.
Bocah perempuan tadi rupanya adalah Rodhif yang masih hidup, hanya saja, tubuhnya menyusut menjadi anak perempuan yang berusia sepuluh tahun. Setelah itu, ia melirik ke arah gadis SMA tadi, seperti ada rasa familier.
‘Lho, bukankah perempuan itu adalah adik kelasku, ya?’ batin Rodhif, baru menyadari setelah melihat seorang perempuan yang pernah ia kenal dulu. Mereka berdua pernah dekat, sebatas idola dan penggemar.
“Tenang saja, kami berdua bukan orang jahat,” ujar perempuan itu, “aku Rania, dia bapakku Romy, seorang detektif swasta. Lalu, kau sendiri?”
Rodhif pun bimbang, dia harus bagaimana? Apakah dia harus mengungkap semua tentang identitasnya? Namun, ia menganggap, hal itu terlalu berisiko.
“Aku ....” Rodhif pun masih bingung. Dia melihat boneka imut dengan tulisan ‘Dinda’ di pitanya yang terletak tak jauh darinya.
“Panggil aku, Dinda. Iya, Dinda,” ujar Rodhif kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mungkin, itu merupakan keputusan terbaik agar perempuan tadi tak tahu dengan identitas aslinya.
“Dinda? Namamu mirip dengan boneka kesayanganku. Ih, gemes!” celetuk Rania sambil mencubit pipinya. Rodhif kecil tidak menolaknya. Saat perempuan itu mencubit kedua pipinya, dia melihat sebuah gundukan putih di sela-sela bajunya. Otomatis, dia menelan ludahnya.
“Dinda siapa? Pasti ada sambungannya, bukan?” sela Romy.
“Dinda ... Dinda Kirana, Paman.”
“Baik, sekarang aku punya adik perempuan yang menggemaskan,” ujar Rania dengan suka cita.
‘Rania, andai saja kau tahu kalau aku ini Rodhif, apa yang akan kamu lakukan setelah lama kita tak jumpa?’ batinnya sambil curi pandang ke arah Rania.
“Tapi, dia akan merepotkan kita kalau tak segera dikembalikan ke orang tuanya,” sela Romy.
“Jangan begitu, Ayah. Kasihan dia belum menemukan orang tuanya,” ujar Rania. Dinda mengangguk sopan sambil tersenyum tipis.
“Benar, sepertinya aku akan merepotkan kalian, mungkin aku akan pergi mencari orang tuaku sendiri saja, Paman,” kata Dinda.
“Eh, jangan! Dia cuman bercanda, kau boleh tinggal bersama kami, Kok.”
“Tapi aku tak mau merepotkan kalian berdua.”
“Eh, jangan. Kau masih kecil, di luar sana mungkin masih ada bahaya mengintaimu. Kau bisa tinggal di sini, kok.”
“Benar itu, Kak?”
“Iya, Benar.”
Setelah itu, ada telepon berdering. Segera, Romy menjawab telepon itu dengan ekspresi gembira karena sudah dipastikan ia mendapat klien untuk memecahkan kasus.
“Yay! Pasti ada rezeki datang!” celetuknya.
Sementara itu, Rania menatap ayahnya dengan ekspresi jelek. Setiap hari, dia selalu melihat ayahnya seperti itu yang kelakuannya aneh dan tak bisa diprediksi.
Romy pun berbicara dengan seseorang dari balik telepon. Sepertinya, ada yang mengundangnya untuk menyelesaikan suatu kasus.
Setelah telepon itu dimatikan, dia bersiap untuk pergi.
“Telepon dari siapa, Ayah?” tanya Rania.
“Dari klien, katanya disuruh mengatasi masalah uang hilang di Taman Kanak-kanak.”
Mendengar ada kasus, Dinda pun penasaran ingin ikut ke sana. Dia ingin melakukan debut awal sebagai detektif imut yang akan memecahkan kasus.
“Paman, boleh aku ikut?” pinta Dinda.
“Apa tujuanmu ikut aku?”
“Aku hanya ingin melihat-lihat saja.”
“Baik, asalkan jangan ikut campur urusan detektif!”
“Siap, Paman.”
“Eh sebentar!” ujar Rania melarang mereka pergi dulu, “Dinda, kau harus ganti baju. Itu baju siapa, kok kebesaran?”
Sontak, Dinda pun melihat ke dirinya sendiri dan tak tahu harus bagaimana menjawabnya.
“Entah, Kak. Sepertinya saat aku di tempat itu dan terpisah dari orang tuaku, ada yang memakaikannya padaku.”
Rania pun mengerutkan keningnya karena jawaban Dinda tak masuk akal. Namun, dia hanya diam saja sambil mengambil pakaian kecil yang untungnya ada. Rupanya, sebuah setelan seragam olahraga waktu dia SD.
“Kau boleh pakai ini.”
“Tapi, Kak. Aku ...?”
“Enggak apa-apa, daripada kau memakai pakaian yang tak seukuran tubuhmu, sudah kotor dan lusuh lagi! Nanti aku cuci.”
“Baiklah, Kak.”
Mau tak mau, Dinda pun memakainya. Dia terlihat agak feminin karena memakai baju olahraga milik perempuan dengan tubuh perempuannya pula, sehingga ia harus mampu beradaptasi dengan tubuh barunya itu.
Pada akhirnya, Dinda atau Rodhif kecil ikut bersama Detektif Romy.
“Dengar ya, Bocah! Kau tidak boleh masuk ke TKP!”
“Baik, Paman.”
Sebenarnya Dinda sangat tertarik dengan kasus kejahatan, karena dia adalah mahasiswa fakultas Kriminologi Forensik. Dengan hal itu, dia ingin punya pengalaman untuk terjun langsung ke sebuah kasus.
Tujuan lain Dinda ikut Detektif Romy adalah untuk melihat posisi dia ada di mana. Setelah berjalan menelusuri kompleks perumahan, Dinda baru menyadari sesuatu, yaitu tempat Detektif Romy tidaklah jauh dari rumahnya sendiri dan tempat tinggal pamannya. Sehingga, ada cara untuk pergi ke tempat Paman Agus untuk meminta bantuan.
Membuang semua pemikiran tadi, Dinda fokus berjalan mengikuti Detektif Romy. Rupanya, tempat kejadian itu tidaklah terlalu jauh dari tempat tinggal Romy. Di depannya ada tulisan besar, “Taman Kanak-kanak Aisya” terpampang dengan jelas.
“Selamat datang, Pak Detektif. Di sini ada masalah besar,” ungkap seorang pria dengan badan cukup gemuk dan berpenampilan PNS. Dia adalah kepala sekolah, bernama Bapak Dharma.
“Eh, siapa bocah kecil yang ikut denganmu?” sambungnya.
“Eh, dia ... lupakan saja, dia cuman bocah yang menginap di rumahku” ucap Detektif Romy sambil mendorong Dinda untuk menjauh, “aku sudah tahu kronologinya, bahwa Anda kehilangan uang kas sebesar sepuluh juta, benar itu?”
“Iya, benar.”
“Lantas, kenapa kau tidak memanggil polisi juga, untuk menangani masalah ini?”
“Tadinya, tapi kuharap Pak Detektif bisa mengungkapkan semuanya tanpa bantuan polisi. Bagaimana? Apa Pak Detektif bersedia mengungkap siapa pencurinya?”
Detektif Romy berpikir panjang, dia sebenarnya bingung. Karena kasus-kasus sebelumnya, dia tak bisa menangani dengan tepat tanpa bantuan polisi. Namun, kalau polisi datang, upahnya akan melayang.
“Baik, aku akan melakukan tugasku,” ujar Detektif Romy yang sebenarnya penuh kebimbangan.
“Oke, silakan ditindaklanjuti. Aku mau pergi dulu.”
“Eh! Anda tidak boleh pergi, sebelum kasus ini terselesaikan!” larang Detektif Romy.
“Kenapa tidak boleh pergi? Aset ini punyaku semua, kau mencurigaiku mencurinya?!” sangkal Pak Dharma.
“Bukan begitu, Pak. Aku ingin Anda tetap di sini sebagai saksi. Lantas, siapa saja yang memiliki akses keuangan, atau punya kunci tempat penyimpanan uang?”
“Aku dan bendahara sekolah yang merupakan istriku sendiri, tapi tidak menutup kemungkinan ada orang lain yang patut dicurigai,” ujar Pak Dharma.
“Segera bawa mereka berempat ke sini! Selagi aku melakukan investigasi!”